Memancing 1

1877 Words
Dante membukakan pintu mobil untuk Max dan Dalila yang akan berangkat, memulai perjalanan mereka untuk menyelesaikan misi yang sudah mereka terima. Tentu saja mereka akan berangkat terlebih dahulu ke gedung asosiasi, karena di sanalah titik keberangkatan mereka. Dalila dan Max kini sudah berpakaian rapi. Tentu saja pakaian nyaman untuk berpergian. Dalila tidak lagi mengenakan gaun rumahan yang memang biasanya ia kenakan selama tinggal di mansion tersebut, tetapi menganakan celana panjang yang ketat dan kemeja longgar yang semakin membuat tubuhnya terlihat mungil. Max juga berpakaian nyaman, menggunakan kaos polos, celana jins dan jaket kulit yang membuat dirinya tampil lebih maskulin daripada biasanya. Keduanya jelas terlihat menawan sekaligus sangat serasi sebagai pasangan suami istri. Siapa pun yang melihat keduanya jelas merasa iri pada mereka yang terlalu sempurna. Max sendiri kini diam-diam memainkan ujung rambut istrinya yang diikat dengan gaya ponytail. Dalila memang sengaja memilih model tersebut agar dirinya tidak perlu repot mengatur lagi rambutnya yang panjang. Jadi ia memilih untuk meminta Sia mengikat satu rambutnya tinggi-tinggi. Dalila tentu saja bisa merasakan jika saat ini Max tengah memainkan ujung helaian rambutnya. Namun, Dalila tidak mengambil tindakan apa pun. Karena hal itu belum terasa mengganggu. Sementara para pelayan dan pengawal yang kebetulan melihat hal tersebut membuat mereka tidak bisa menahan diri untuk mengulum senyum. Jelas mereka semua bisa menyadari betapa dekatnya hubungan Dalila dan Max saat ini. Bahkan Max tidak bisa menahan diri untuk melakukan kontak fisik atau interaksi manis dengan istrinya yang cantik itu. “Mulai hari ini, kutitipkan daerah kekuasaan kita padamu. Tolong jaga dan pastikan jika semuanya berada dalam kondisi baik-baik saja. Jika ada hal yang mendesak, tidak perlu ragu untuk menghubungiku dengan cara menggunakan hewan pengantar pesan. Karena itu akan mengantarkan pesan lebih akurat dan tepat waktu,” ucap Max pada Dante. Jelas sebagat Beta dari kaum serigala, Dante akan mendapatkan tugas sebagai seorang pemimpin ketika Max tidak berada di tempat. Karena situasi yang saat ini tengah terjadi sangat genting, Max sebagai seorang Alpha sekaligus seorang calon tetua, harus turun tangan secara langsung untuk menyelesaikan permasalahan yang tengah terjadi. Sebab itulah, Dante memang harus tetap berada di daerah kekuasaan manusia serigala untuk menjaga kursi kekuasaaan agar tidak sepenuhnya kosong selama Max masih menjalankan tugasnya di lur daerah kekuasaan nantinya. “Baik, Tuan. Saya akan menjalankan tugas ini dengan sebaik mungkin,” ucap Dante menerima tugas tersebut dengan senang hati. Mendengar jawaban tersebut, Max pun mengangguk puas. Ia pun memberikan waktu pada Dalila untuk mengatakan sesuatu pada pelayannya. Dalila menatap Sia dan tersenyum lembut. “Jaga dirimu dan bantu Dante untuk menjaga daerah kekuasaan kita, Sia. Semoga kita bisa segera bertemu kembali,” ucap Dalila. “Baik, Nyonya. Semoga Nyonya dan Tuan juga senantiasa diberi keselamatan serta kesehatan di perjalanan, hingga bisa kembali secepatnya ke daerah kekuasaan kita,” ucap Sia sembari memberikan hormat pada sang nyonya dan sang tuan. Dalila pun dihela oleh Max memasuki mobil, sebelum Max sendiri yang memasuki mobil tersebut. Lalu Dante menutup pintu mobil dan memberikan hormat bersama para bawahan yang lain. “Selamat jalan Tuan dan Nyonya. Kami akan menunggu dengan setia di sini,” ucap semua orang dengan seruan penuh ketulusan. Max sendiri yang mengemudikan mobil tersebut, dan tidak membutuhkan waktu lama Max pu mengemudikan mobil tersebut untuk melaju menuju gedung Asosiasi Kaum Immortal. Tentu saja ada dua mobil yang mengikuti mobil yang dikemudikan oleh Max. Mobil tersebut digunakan oleh para pemuda dan pemudi kaum manusia serigala yang terpilih oleh Mx untuk terlibat dalam perjalanan yang berbahaya tersebut. Meskipun berbahaya dan terhitung akan mempertaruhkan nyawa mereka dalam perjalanan tersebut, mereka sama sekali tidak merasa takut. Mereka malah merasa sangat senang. Karena ini artinya kemampuan mereka sebagai manusia serigala sudah diakui oleh Max sebagai pemimpin kaum. Jelas, ini adalah hal yang sangat membanggakan. Hanya terpilih sekitar delapan orang dari kaum serigala yang benar-benar dipilih oleh Max, atas kemampuan mereka. Tentu saja, meskipun merasa bahagia, mereka juga sadar jika kini mereka memiliki tanggung jawab yang sangat besar di sini. Hal itu tak lain adalah fakta bahwa mereka jelas harus memberikan kontribusi dalam perjalanan yang membawa misi sangat penting ini. Kembali kepada Max dan Dalila yang berada di satu mobil yang sama, Max yang tengah berkonsentrasi mengemudi, melirik pada Dalila yang tengah duduk dengan nyaman di kursi penumpang yang berada di sisinya. Tentu saja Max bisa melihat jika ada jejak rasa gugup dalam diri Dalila saat ini. Rasanya, rasa gugup Dalila saat ini memang sangat wajar. Mengingat jika ini adalah perjalanan pertama Dalila untuk menjalankan misi seperti ini. Karena itulah Max pun bertanya dengan lembut, “Apa kau masih merasa gugup?” Dalila yang mendapatkan pertanyaan tersebut, menghela apas panjang. Sebab jawaban pertanyaan yang diajukan Max tentu saja sangat jelas. “Bagaimana mungkin aku tidak merasa gugup? Rasanya akan sangat aneh jika aku tidak merasa gugup,” ucap Dalila membuat Max mengulurkan tangannya pada sang istri. Dalila tentu saja tahu apa yang diinginkan oleh Max. Ia pun meletakkan tangannya pada tangan Max. Secara spontan, Max pun menggenggam tangan Dalila dengan lembut. Lalu Dalila mencium punggung tangan Dalila dengan lembut. Berniat untuk menenangkan istrinya itu. “Tenanglah. Semuanya pasti akan berjalan dengan lancar. Tidak perlu mencemaskan apa pun,” ucap Max. “Aku takut jika pada akhirnya apa yang dikatakan oleh Julion akan menjadi kenyataan. Aku tidak bisa memberikan kontribusi dan malah menjadi beban karena belum bisa sepenuhnya menguasi kekuatan yang kumiliki,” ucap Dalila sembari menghela napas panjang. Max yang mendengar hal itu pun mengernyitkan keningnya. Jelas Max tidak senang karena ternyata pada akhirnya Dalila pun terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh Julion pada tempo hari. Padahal, Max selama ini sudah susah payah membantu Dalila untuk membangun rasa percaya diri serta semangatnya. Namun, satu patah kata dari Julion membuat usaha Max dan Dalila selama ini menjadi buyar begitu saja. Tentu saja hal itu sangat menjengkelkan. “Tenanglah. Yakin pada dirimu sendiri, Dalila. Karena kau tidak akan menjadi beban, atau apa pun yang sebelumnya kau sebutkan, sebab kau memiliki kemampuan. Kemampuan yang kau miliki jelas bisa kau gunakan setidaknya untuk melindungi dirimu sendiri,” ucap Max lalu kembali mengecup punggung istrinya secara berkali-kali. Hal itu membuat Dalila mencubit tangan suaminya itu dengan gemas. “Jangan mengecupi tanganku seperti itu lagi. Kau benar-benar bertingkah konyol,” ucap Dalila. Max yang mendengar perkataan itu jelas menggeleng. “Aku tidak pernah  merasa jika tindakanku sebelumnya adalah hal yang konyol. Sebab itu adalah caraku untuk menunjukkan perasaanku. Ini carak untuk mengekspresikan cintaku,” ucap Max penuh percaya diri. Dalila pun kehabisan kata-kata menghadapi suaminya yang memang sangat tidak bisa ia prediksi. Pada akhirnya Dalila pun memilih untuk membiarkan apa pun yang ingin dilakukan oleh Max tersebut. Lalu tak lama rombongan mereka pun tiba di gedung Asosiasi Kaum Immortal yang memang menjadi tempat berkumpul sebelum keberangkatan mereka. Max memarkirkan mobilnya sebelum ke luar lebih dulu dan membukakan pintu untuk sang istri. Gedung Asosiasi Kaum Immortal yang biasanya selalu ramai karena menjadi pusat dari segala kegiatan yang berkaitan dengan segala urusan kaum immortal tersebut, kini sudah tidak terlihat ramai seperti biasanya. Sebab hari ini, para tetua yang menjadi pemimpin Asosiasi memilih untuk mengkhusukan beberapa jam gedung tersebut agar steril dan digunakan untuk tempat berkumpulnya pasukan khusus, sebelum mereka memulai perjalanan panjang mereka yang jelas berbahaya. Tentu saja hal ini harus dilakukan karena Max dan para tetua akan memberikan arahan. “Kalian sudah sampai?” tanya Arfel. Max yang masih menggenggam tangan Dalila pun mengangguk. “Aku dan para bawahanku memang sudah tiba. Tetapi sepertinya yang lain sama sekali belum terlihat batang hidungnya. Padahal, aku sudah memberikan perintah jika mereka harus datang sekitar lima belas menit sebelum keberangkatan. Sebab aku akan memberikan satu atau dua pengarahan terlebih dahulu,” ucap Max terlihat sudah mulai mengkritik apa yang terjadi di sana. Lalu tak lama para anggota tim atau pasukan khusus yang berasal dari berbagai kaum pun datang. Mereka terlambat sekitar lima menit. Tentu saja mereka semua datang dengan menggunakan mobil yang memang akan digunakan mereka sebagai alat transportasi pertama mereka. Max melepaskan tangan Dalila, tentu saja Dalila tidak merasa keberatan. Sebab kini Max harus menunjukkan wibawanya sebagai seorang pemimpin yang harus bertanggung jawab dan mengatur semua anggotanya. Saat semuanya sudah sudah terlihat berkumpul. Max pun meminta mereka berbaris, dan sadar jika Julion tidak berada bersama dengan para anggota tim yang berasal dari kaum vampire. Para tetua yang melihat hal tersebut jelas tahu jika ini adalah awal yang cukup buruk. Mengingat Max pada dasarnya sudah tidak menyukai Julion. Lalu di pertemuan ini, Julion tidak datang tepat waktu dan jelas hal ini akan membuat rasa tidak suka Max pada Julion semakin menjadi saja. “Julion belum sampai?” tanya Max membuat Joe yang menjadi wakil dari Max menahan diri untuk tidak menghela napas. “Sejak pagi, Tuan Julion tidak terlihat di kastil. Hingga deti ini pun, kami tidak bisa menghubunginya,” ucap Joe. Max mendengkus merasa sangat kesal, sebab Julion seakan-akan tengah meremehkannya dengan tidak mengindahkan peraturan yang sebelumnya sudah ia berikan. Namun Max sadar jika ini adalah kesempatan baginya untuk membuat Julion tidak lagi terlibat dalam perjalanan ini. Sayangnya, belum juga Julion mengatakan apa pun, Julion sudah lebih dulu muncul dengan sihir teleportasinya. Max dan Julion pun saling berpandangan, dan jelas ada sorot kebencian pada sorot mata Max saat ini. “Apa kau tidak bisa melakukan semuanya sesuai dengan apa yang kuperintahkan?” tanya Max tajam. Julion yang mendengarnya tentu saja segera menjawab, “Aku bukannya tidak ingin melakukannya. Tetapi aku mengalami kendala. Ada salah seorang kaum vampire yang sebelumnya bertugas untuk memburu kaum pembelot, memberikan sebuah laporan yang jelas akan memberikan informasi tambahan bagi kita dalam menjalankan misi.” “Jika itu memang alasanmu untuk terlambat, tidak bisakah kau melapor terlebih dahulu padaku? Apa kini kau tengah meremehkanku sebagai seorang pemimpin?” tanya Max jelas menekankan jika dirinya tidak senang dengan sikap Julion yang terkesan seenaknya dan melangkahi dirinya yang jelas adalah seorang pemimpin di sana. “Aku sama sekali tidak meremehkanmu. Aku hanya melakukan hal yang seharusnya aku lakukan. Tapi jika kau merasa diremehkan olehmu, berarti mungkin kau memang merasa tidak percaya diri untuk mendapatkan rasa hormat dan kuanggap sebagai seorang pemimpin,” ucap Julion jelas sengaja jika dirinya saat ini tengah berusaha untuk membuat Max merasa kesal padanya. Jelas usaha Julion tersebut benar-benar berhasil untuk membuat Max merasa kesal, atau lebih tepatnya merasa marah. “Seepertinya sekarang kau berusaha untuk menguji kesabaranku,” ucap Max membuat suasana seketika menegang. Para tetua jelas menahan diri untuk tidak menghela napas. Sebab kini suasana sangat tegang, karena Max dan Julion sama-sama tidak mau mengalah. Baru saja Arfel akan melerai, Julion sudah lebih dulu mengatakan, “Jika kau menganggap jika ini adalah ujian bagi kesabaranmu, maka itu artinya kau sebagai seorang pemimpin bahkan tidak bisa mengendalikan emosimu dengan baik.” Mendengar hal itu, Max menampilkan ekspres dinginnya. Sorot matanya semakin dingin. Membuat siapa pun yang berada di sana merasakan hawa dingin yag mencekam. Sebab Max jelas-jelas sangat marah dengan apa yang sudah dikatakan oleh Julion yang memang meremehkannya dengan perkataan yang cukup lembut untuk sebuah hinaan. Joe sendiri menegang, karena kakaknya sudah jelas tengah membuat sebuat masalah yang bisa saja menjadi pengacau dari situasi ini. “Sepertinya, kau benar-benar ingin menantangku bertarung, Julion. Apa kau pikir, kuasaku sebagai seorang pemimpin bisa kau remehkan seperti ini?” tanya Max dengan nada rendah. Membuat semua orang yang berada di sana, seketika merasakan tekanan hebat pada tubuh mereka.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD