“Pastikan saja jika kita tetap menjaga komunikasi dengan mereka yang bertugas di luar,” ucap Max pada Dante yang mengikuti langkahnya.
Saat ini, Max dan Dante baru saja kembali ke mansion mewah milik Max yang dijadikan kediaman utamanya. Ternyata pertemuan antara pemimpin klan untuk membahas apa yang tengah terjadi, ternyata berlangsung cukup alot. Mengingat jika kondisi yang tengah terjadi benar-benar di luar bayangan mereka semua. Kini, mereka jelas harus bergerak dengan cepat, agar kondisi tidak semakin memburuk.
Apalagi, pihak pemerintah manusia, juga ikut menekan AKI (Asosiasi Kaum Immortal). Mereka memang sudah mengetahui keberadaan kaum immortal, bahkan bekerja sama untuk menjaga kedamaian. Walapun, hanya segelintir dari pihak pemerintahan yang diperkenankan untuk mengetahui dan berinteraksi dengan perwakilan AKI. Rasanya kini kepala Max bisa pecah kapan saja karena masalah ini. Sebenarnya Max sudah memperkirakan jika hal ini akan terjadi.
Cepat atau lambat, kaum pembelot memang akan muncul dan membuat kekacauan di sana sini. Hanya saja, Max tidak mengira jika mereka bisa seberani ini. Max juga tidak menyangka jika kekuatan dan kemampuan mereka bisa berkembang pesat dalam waktu singkat. Max mengutuki mereka dalam hatinya. Merasa sangat jengkel dengan tingkah konyol yang sudah diperbuat oleh mereka.
Begitu tiba di dalam ruang kerjanya, Max terkejut saat melihat Dalila yang rupanya tidur di sofa. Sia yang tetap setia menunggu Dalila, segera memberikan hormat pada sang Alpha. Max pun mendekat sebelum bertanya dengan suara serendah mungkin, “Kenapa istriku tidur di sini?”
Sia pun menjawab, “Nyonya tengah menunggu Tuan kembali. Namun, ternyata Tuan pulang lebih larut daripada yang kami perkirakan. Sepertinya, Nyonya kelelahan hingga tidak bisa menahan kantuk. Saya, segan untuk membangunkan Nyonya. Jadi, saya tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan Nyonya untuk tidur di sini.”
Mendengar penjelasan itu, Max pun mengangguk dan memberikan isyarat agar kedua bawahannya meninggalkan ruangan tersebut. Setelah keduanya meninggalkan ruangan kerja tersebut dan menutup pintu, Max pun mendekat pada Dalila. Di dalam ruang kerja tersebut, ada juga ruang yang disediakan untuk beristirahat saat dirinya tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Max berniat untuk memindahkan Dalila ke sana, tetapi rencana itu gagal karena ternyata Dalila sudah bangun lebih dulu.
Dalila mengusap kedua matanya yang terasa begitu berat. Melihat hal itu Max menahan tangan Dalila dan berkata, “Jangan melakukannya dengan kasar. Matamu bisa iritasi.”
Lalu Max mengambil tisu basah untuk menyeka mata Dalila. Untungnya, dengan bantuan Max tersebut, kini Dalila sudah bisa melihat dengan jelas. Kelopak matanya sudah bisa terbuka dengan sempurna. Dalila dan Max pun saling bertatapan, dengan posisi Max yang berlutut di hadapan Dalila yang duduk di sofa.
Tidak ada pembicaraan apa pun. Seakan-akan keduanya sepakat untuk menikmati keheningan yang meraja di sana. Sadar atau tidak, hanya semalam tidak bertemu, membuat kerinduan tumbuh di lubuk hati terdalam keduanya. Kegelisahan yang selama ini mengganggu hati Dalila, secara perlahan meluruh dan membuat Dalila merasa lebih nyaman daripada sebelumnya. Ketakutan Dalila mengenai mimpi buruk yang sebelumnya mengganggunya, kini sudah menghilang tak berbekas.
Max yang sebelumnya merasa lelah dengan masalah demi masalah yang silih berganti datang, mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Dalila. Ia merasakan lelahnya menguap begitu saja, saat bertemu dengan istrinya ini. Padahal, sebelumnya Max masih ingat dengan jelas, bahwa dirinya masih jengkel pada Dalila. Perdebatan yang sebelumnya terjadi, membuat Max dan Dalila kembali berjarak. Namun, entah mengapa kini jarak itu sudah tidak lagi terasa. Seakan-akan, tidak ada perselisihan apa pun sebelumnya.
“Kenapa tidur di sini?” tanya Max tanpa sadar menggunakan nada lembut yang jelas mengejutkan dirinya sendiri.
Dalila terdiam beberapa saat sebelum menjawab jujur, “Aku menunggumu.”
Max pun mengubah posisi duduknya untuk duduk di seberang sofa yang ditempati oleh Dalila. Lalu Max pun bertanya lagi, “Apa yang ingin kau bicarakan?”
Dalila pun terlihat ragu untuk mengatakan apa yang sebenarnya sudah ia pikirkan sejak sore tadi. Melihat hal itu, Max pun berkata, “Katakan saja.”
Pada akhirnya Dalila pun bertanya, “Apa yang dikatakan oleh Sia benar? Apa kaum Pembelot membuat masalah yang besar?”
Max pun mulai mengerti mengapa Dalila bertingkah seperti ini. Meskipun sejak awal Dalila tidak terlihat bisa menerima sepenuhnya fakta mengenai dirinya yang ternyata adalah anak campuran, tetapi Max tahu jika Dalila sudah tertekan akan tanggung jawab seperti apa yang ia terima. Selama ini, jika bukan karena tanggung jawabnya untuk segera menguasai kekuatannya, Dalila pasti sudah enggan melakukan latihan itu. Max bisa mengerti, karena ia adalah belahan jiwa Dalila. Hanya saja, Max berusaha untuk menempa mental Dalila.
Max tidak bisa memanjakan Dalila, apalagi di situasi seperti ini. Mereka tidak bisa membuang waktu sedikit pun, mengingat jika mereka tengah dikejar-kejar oleh berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan. Kelangsungan hidup bangsa manusia dan kaum immortal berada di tangan mereka semua. Para manusia mungkin bisa diajak bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, jika melibatkan mereka, korban yang berjatuhan akan bertambah. Mengingat jika sebenarnya lawan mereka jelas bulan lawan yang dilawan oleh kemampuan yang dimiliki oleh manusia.
“Seperti yang sudah Sia katakan. Sekarang kaum Pembelot semakin berani. Mereka mulai masuk ke pemukiman dan secara terang-terangan melakukan penyerangan pada manusia, di siang hari,” ucap Max membuat Dalila menahan napas.
Dalila sudah menyaksikan kekuatan seperti apa yang dimiliki oleh para kaum immortal. Tentu saja manusia yang tidak memiliki kemampuan sihir dan kekuatan yang sebanding dengan kaum immortal, akan tak berdaya diserang oleh mereka. Dalila merasakan kesedihan yang mendalam, saat berpikir jika ada orang-orang yang sudah menjadi korban karena kegilaan kaum pembelot yang dibutakan oleh kekuasaan. Dalila jelas sudah tahu apa yang ditargetkan oleh kaum pembelot dengan melakukan semua hal ini. Setidaknya, Dalila mendapatkan banyak informasi dari buku-buku yang telah ia baca.
“Apa korban yang berjatuhan banyak?” tanya Dalila dengan nada tercekat.
“Untuk saat ini kami belum bisa memastikan. Karena kami yakin, penyerangan ini dilakukan dengan acak, dan berada di beberapa tempat yang tersebar di dunia. Tapi, kami sudah berusaha untuk menanggulanginya, dengan mengirim pasukan bantuan untuk menyisir dan membasmi kaum Pembelot. Setidaknya, masalah itu sudah mendapatkan solusinya. Tersisa satu masalah yang masih membuat kami semua merasa pusing karena belum menemukan solusinya,” ucap Max membuat Dalila tergerak untuk menanyakan apa yang terjadi.
Max pun menghela napas. “Ada wabah yang menyebar di sebuat desa di perbatasan. Ini wabah yang belum pernah muncul sebelumnya. Secara alami kami semua berpikir, jika ini adalah wabah yang diciptakan dan disebar untuk menebar teror di tengah manusia. Untungnya, meskipun belum dikenali, tetapi penyebaran wabah ini bisa kami cegah. Kini, Tyska dan para ahli sihir tengah meneliti serta mencoba mencari penawar untuk wabah tersebut,” ucap Max.
Dalila yang mendengar hal itu terlihat murung. Jujur saja, kini Dalila merasa bersalah. Jika saja dirinya tidak terus mengeluh selama pelatihan, dan mengikuti arahan Max dengan baik, mungkin saja ini tidak perlu terjadi. Setidaknya terjadi pun, Dalila pasti bisa membantu dengan kekuatannya yang dikatakan bisa menjadi pedang bermata dua. Apa yang dipikirkan oleh Dalila bisa terbaca dengan mudah oleh Max. Sebenarnya, Max tidak berpikir Dalila bisa berpikir hingga sejauh itu.
Max menghela napas dan mengacak rambut hitam legamnya. Jujur, Max tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang. Ia sadar jika dirinya harus menghibur Dalila, dan mengatakan padanya bahwa ini bukan kesalahannya. Namun, Max ragu kata-kata seperti apa yang harus ia gunakan. Max takut jika dirinya malah menggunakan perkataan yang malah memperburuk suasana hati Dalila. Karena sebelumnya pun, ia dan Dalila sering berselisih karena salah paham mengenai apa yang mereka sampaikan satu sama lain.
Max pun bangkit dari posisinya dan berlutut di hadapan Dalila. Ia menggenggam kedua tangan istrinya dan berkata, “Sekarang bukan waktunya untuk merasa menyesal atau meratapi apa yang sudah terjadi. Karena kau sudah melihat sendiri bagaimana brutal dan gilanya kaum Pembelot, kumohon mulai saat ini fokuslah pada pelatihanmu. Aku akan berusaha untuk kembali menyesuaikan pelatihannya dengan keinginan dan kemampuan fisikmu.”
Dalila yang mendengar hal itu terdiam. Tanpa sadar ia pun membalas genggaman tangan Max. Ia pun berkata, “Tidak perlu. Aku yang selama ini salah. Aku terlalu banyak mengeluh, tanpa sadar kewajjiban seperti apa yang sebenarnya aku tanggung.”
Max menggeleng. “Jangan memaksakan diri. Jika memang terlalu berat, maka katakan saja. Dalila, sama sepertimu, aku juga masih belajar untuk menjalin komunikasi yang baik dengan pasanganku. Terlebih, aku sebelumnya belum pernah memiliki kekasih. Aku mungkin melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan atau keinginanmu, tetapi percayalah, aku melakukan semua itu dengan memikirkan hal yang terbaik untukmu,” ucap Max pada akhirnya mulai membicarakan masalah hubungan mereka dari hati ke hati.
Max sadar, jika hal ini adalah hal yang mereka butuhkan untuk memperbaiki hubungan mereka. Saran orang lain mungkin tidak akan berlaku untuk mereka, karena orang lain tidak mengetahui permasalah seperti apa dalam hubungan ini. Setidaknya, Max harus berusaha untuk membuat Dalila paham dengan kondisinya. Dalila yang mendengar hal itu pun mengangguk. “Aku paham,” ucap Dalila memang berusaha untuk memahami suaminya itu.
“Baik, kalau sudah seperti ini, maka esok kita mulai kembali latihanmu. Aku rasa, kemampuan fisikmu sudah lebih baik daripada sebelumnya, karena itulah kita bisa memasuki latihan tahap selanjutnya. Kau harus segera mempersiapkan diri sebaik mungkin, mengingat kita tidak bisa memprediksi apa pun mengenai apa yang akan terjadi di masa depan,” ucap Max.
“Baik, aku akan berlatih sebaik mungkin,” ucap Dalila membuat Max tidak bisa menahan diri untuk memainkan helaian rambut Dalila.
Lalu tanpa sengaja Max melihat tahi lalat pada pangkal leher Dalila. Padahal, seingat Max, Dalila tidak memiliki tahi lalat di sana. Max dan Dalila memang baru bercinta sebanyak dua kali. Namun, hal itu sudah lebih dari cukup membuat Max mengingat setiap lekukan tubuh, serta tanda-tanda unik pada tubuh istrinya yang sudah seperti candunya itu. Max ingat betul, jika Dalila tidak memiliki tanda apa pun di sana. Apalagi jika itu tahi lalat, sudah pasti itu tidak muncul secara tiba-tiba.
Saat Max berniat untuk menanyakan hal itu, Dalila sudah lebih dulu bertanya, “Jika aku akan belajar tahap selanjutnya, apa mungkin aku bisa berubah menjadi serigala sepertimu juga?”
Pertanyaan itu jelas tidak terduga. Namun, Max memang sudah memiliki jawaban atas pertanyaan tersebut. “Sayangnya tidak, Dalila. Kau memang memiliki darah kaum manusia serigala yang mengalir dalam nadimu, tetapi kau tidak memiliki jiwa serigala dalam dirimu. Jiwa serigala adalah faktor yang menentukan seorang kaum serigala bisa bertransformasi menjadi serigala seutuhnya. Jika sudah berlatih dan saling menerima dengan jiwa serigala itu, maka jiwa itu akan melebur dan menjadi diri kami seutuhnya. Itu adalah prinsip dari kehidupan manusia serigala,” ucap Max menjawab rasa penasaran Dalila.
Jawaban yang diberikan oleh Max, sebenarnya sesuai dengan perkiraan Dalila. Karena sebelumnya Dalila sudah membaca buku mengenai kaum serigala dan kaum vampire, Dalila kini memang sudah memiliki informasi-informasi mengenai mereka. Walau sepertinya, masih banyak hal yang belum Dalila mengerti, dan membutuhkan penjelasan lebih lanjut dari pihak yang lebih paham. Namun, setidaknya ini jauh lebih baik, daripada tidak mengetahui apa pun.
Max yang tanpa sengaja mengintip apa yang dipikirkan oleh Dalila mengulum senyumnya. Ia menyelipkan helaian rambut cokelat milik Dalila ke balik telinganya dan berkata, “Jika masih ada hal yang tidak kau mengerti setelah membaca semua buku itu, kau bisa menanyakannya padaku.”
Dalila mengernyit dan menatap Max dengan jengkel. Sadar jika suaminya itu sudah kembali mengintip pada pikirannya. Namun, begitu bertatapan, keduanya sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangan mereka. Seakan-akan ada hal yang mengunci pandangan mereka. Seharusnya, situasi saat ini sangat canggung. Apalagi, setelah pertengkaran mereka, tetapi keduanya tidak merasakan canggung. Malah, kini keduanya merasa jantung mereka berdegup dengan kencang.
Max mendekatkan wajahnya pada wajah Dalila, dan pada akhirnya menghadiahkan sebuah kecupan manis pada bibirnya istrinya itu. Awalnya memang hanya sebuah kecupan ringan. Namun, ternyata mereka sama sekali tidak bisa mengakhirinya sebagai kecupan ringan selamat malam saja. Ciuman itu berlanjut, menghanyutkan, membuat Dalila melupakan firasat tidak mengenakan yang mengganggunya seharian.