Kebencian

1858 Words
Pagi pun datang. Satu per satu para anggota tim khusus sudah mulai terbangun karena memang sudah waktunya mereka semua bangun dan memulai aktivitas mereka. Karena belum ada arahan selanjutnya dari Max, tentu saja para anggota bisa bersantai terlebih dahulu di sana. Terlebih di sana bukanlah tempat yang memang sering dikunjungi oleh warga desa. Itu adalah area yang bahkan dihindari oleh mereka, karena kesan mengerikan yang menyeliputi area tersebut. Namun, bagi para kaum immortal, tempat seperti ini sama sekali bukan tempat yang menakutkan. Jadi, jelas ini adalah tempat yang sangat tepat bagi para anggota yang memang perlu untuk mendapatkan istirahat yang cukup sebelum kembali melanjutkan misi mereka ke tempat yang lain. Sejauh ini, para anggota memang belum tahu, ke mana  selanjutnya mereka akan pergi, dan misi apa yang akan mereka lakukan. Karena Max dan Joe yang mengetahui inti dari kondisi di tempat selanjutnya, memang belum menjelaskannya pada mereka. Max dan Joe sengaja melakukan hal tersebut. Mereka sudah sepakat untuk berangsur memberikan penjelasan dan informasi mengenai tempat selanjutnya pada mereka semua. Sebab hal ini bisa membuat para anggota bisa jauh lebih fokus dengan apa yang mereka hadapi. Tentu saja misi yang mereka kerjakan ini sangatlah berbahaya. Meskipun mereka semua dibekali oleh kekuatan yang luar biasa dan fisik yang memang sangat mendukung. Namun, lawan mereka sama sekali tidak mudah. Para pembelot memiliki kemampuan yang lebih besar dari yang mereka bayangkan. Jelas, hal tersebut harus mereka hadapi dengan fokus yang luar biasa. Jika tidak, mereka akan berada dalam bahaya. Akan mudah bagi para pembelot untuk mengambil kesempatan dalam celah tersebut. Tentu saja Max dan Joe yang sudah sangat berpengalaman, tidak ingin sampai kondisi tersebut terjadi. Sebagai pemimpin dalam tim tersebut, tentu saja mereka harus memastikan jika mereka bisa tetap menjalankan tugas dalam kondisi terbaik. Mereka pergi bersama, dan tentu saja mereka harus pulang bersama dalam kondisi utuh tanpa kurang suatu apa pun. Itu adalah sebuah tanggung jawab besar yang jelas harus ditanggung oleh Max. Ia tidak mungkin siapa pun berhasil untuk membuat dirinya dipermalukan dengan tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Tentu saja orang yang dimaksud oleh Max, adalah Julion. Ia yakin jika Julion pasti akan melakukan satu atau dua hal yang membuat suasana menjadi kacau dan pandangan orang-orang terhadap Max sebagai pemimpin tim. Max sendiri kini masih memeluk Dalila di atas ranjang mereka. Benar, mereka masih berada di dalam tenda. Masih menikmati waktu istirahat berharga mereka. Tentu saja sangat berharga, apalagi tdai malam Max sudah kecolongan dan membiarkan Dalila benar-benar berhadapan dengan kaum pembelot yang juga ternyata lolos dari pembersihan besar-besaran yang sudah Max lakukan. Jelas, Max merasa sangat marah dan bersalah karena dirinya sudah membuat Dalila yang tidak memiliki pengalaman menghadapi situasi sulit seperti itu. “Max, ini sudah waktunya kita bangun,” ucap Dalila. Meskipun Dalila berusaha untuk membangunkan suaminya, Dalila malah semakin menenggelamkan dirinya dalam pelukan sang suami. Seakan-akan ingin menunjukkan jika sebenarnya ia sendiri tidak ingin memisahkan diri dari suaminya yang tampan itu. Max sebenarnya sudah terbangun sejak beberapa saat yang lalu. Namun, Max memilih untuk tetap dengan posisinya. Karena masih ada banyak waktu yang bisa mereka habiskan bersama, sebelum keberangkatan mereka selanjutnya. Max pun berdeham dan mengeratkan pelukannya terhadap Dalila. Sadar jika suaminya sudah bangun, Dalila pun mendongak dan menatap Max yang juga sudah membuka matanya. “Selamat pagi,” ucap Dalila sembari tersenyum tipis. Disuguhi pemandangan yang luar biasa indah dan manis seperti itu, jelas Max merasakan jika hatinya berbunga-bunga. Ia pun tidak bisa menahan diri untuk memberikan kecupan selamat pagi pada sang istri dan menjawab, “Selamat pagi juga untukmu, Dalila. Bagaimana kabarmu saat ini? Apa tidurmu nyenyak?” Tentu saja Dalila mengangguk. Sebab dirinya memang merasa sangat nyaman dalam tidurnya. Max memeluknya dengan lembut sepanjang malam, membuat Dalila tidur dengan lebih nyaman dan nyenyak. Dalila rasa, ini tidur ternyenyak yang ia dapatkan setelah sekian lama. Jelas Dalila merasa sangat senang. Saking senangnya, ia tidak bisa menyembunyikan senyumannya saat ia menjawab, “Tidurku sangat nyenyak.” Jawaban dan reaksi yang tidak terduga dari Dalila tersebut membuat Max menggeleng. Tentu saja Max tidak menyangka istrinya bisa bereaksi setenang ini, setelah melewati situasi yang begitu menyeramkan tadi malam. Entah karena pengalamannya yang sebelumnya bekerja sebagai pengawal memang membawa pengaruh besar, atau mungkin Max memang melatihnya dengan baik, hingga mental Dalila bisa sekuat ini. Apa pun itu, Max jelas merasa bersyukur karena hal tersebut. “Kau tampak terlalu nyenyak untuk seseorang yang sudah melewati situasi tak terduga seperti tadi malam,” ucap Max. Dalila yang mendengar hal itu jelas terkekeh pelan. “Lalu aku harus seperti apa? Bukankah merasa tegang dan cemas berlebihan, malah membuatku semakin tidak nyaman atau bahkan melakukan kesalahan. Jelas aku tidak boleh melakukan hal yang membuat semua orang mengalami kerugian. Jadi, aku lebih baik berusaha untuk menyamankan diri, bukan?” tanya Dalila pada suaminya yang masih terlihat takjub karena apa yang sudah ia lakukan. Jelas saja apa yang dikatakan oleh Dalila tidak bisa dijawab begitu saja oleh Max. Sebab apa yang disimpulkan oleh istrinya itu memang benar adanya. Max pun memilih untuk mengecup kening istrinya dengan lembut. Menghadiahkan sebuah kecupan rasanya pantas bagi Dalila yang memang sudah melakukan semuanya dengan baik. “Hm, kecupan untuk apa itu?” tanya Dalila. “Menurutmu untuk apa?” tanya balik Max. Dalila jelas mengernyitkan keningnya saat suaminya itu mengajak dirinya bermain tebak-tebakan yang jelas tidak terlalu disukai olehnya. Melihat kening mengernyit Dalila, membuat Max mengulum senyuman manis. Dalila benar-benar sangat menggemaskan jika sudah seperti ini. Rasanya Max tidak ingin melanjutkan perjalanan dan mengurung diri dengan Dalila di tempat yang sangat jauh, dan tidak tersentuh orang lain. Ia benar-benar ingin menghabiskan waktu berdua dengan Dalila, tanpa diganggu oleh siapa pun. Namun, jelas apa yang diharapkan oleh Max tersebut tidak bisa terjadi. Ia harus puas dengan hanya menghabiskan waktu dengan cara seperti ini. “Bagaimana jika kau menyebutnya sebagai hadiah atas kerjamu yang baik?” tanya Max. Dalila yang mendengar hal itu pun mengerucutkan bibirnya. “Kenapa aku hanya mendapatkan hadiah seperti itu? Jelas tidak terasa memuaskan,” keluh Dalila pura-pura tidak puas dengan hadiah yang sudah diberikan oleh suaminya itu. Jelas Max tahu jika saat ini Dalila tengah bermain-main dengannya. Jelas saja Max tidak merasa keberatan untuk ikut dalam permainan Dalila. Karena itulah ia pun segera berkata, “Kalau begitu, biar kuberikan hadiah lain.” Mendengar hal tersebut, Dalila pun pada akhirnya tidak bisa menahan diri untuk merasa bersemangat. Karena jujur saja, Dalila tidak berpikir bahwa Max akan memberikan respons seperti ini padanya. Dalila pun tidka bisa menahan diri untuk bertanya, “Hadiah lain seperti apa yang akan kau berikan?” Max pun menjawab, “Aku belum memikirkannya. Tapi bagaimana dengan mandi bersama? Aku rasa itu adalah ide yang sangat bagus untuk kuberikan sebagai hadiah bagimu.” Dalila sontak saja memerah mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Tidak bisa menahan diri, Dalila mencubit perut liat Max dan berkata, “Dasar m***m!”         **     Semua orang sudah selesai mengisi perut dengan santapan ringan sebelum mereka memulai pertemuan yang dipimpin oleh Max. Tentu saja kini Max harus mengevaluasi apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Meskipun terlihat sangat sempurna dengan membinasakan para pembelot dan bibit wabah, tetapi ternyata mereka menyisakan celah yang membuat salah seorang pembelot berhasil untuk melarikan diri dan lolos dari proses pembersihan. Tentu saja hal ini harus diperhatikan oleh semua orang. Termasuk oleh Max yang menjadi pemimpin dari tim tersebut. “Seperti yang kalian ketahui, misi pertama kita tidak berjalan dengan sempurna. Ada seorang pembelot yang bisa meloloskan diri dari pembersihan dan hampir saja memakan korban. Jelas, kedepannya kita harus memastikan jika kesalahan seperti ini tidak terulang,” ucap Max. Semua orang jelas mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Max, dan tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Untung saja, tadi malam Dalila masuk ke dalam hutan dan menemukan pembelot tersebut. Dalila berhasil menyelematkan anak kecil yang hampir menjadi korban, dan menyelamatkan seluruh tim dari rasa penyesalan yang hampir mereka rasakan. Dalila memang baru saja masuk ke dalam perjalanan dan tidak memiliki pengalaman apa pun. Namun, kemampannya sepertinya tidak perlu diragukan lagi. Pada akhirnya, semua orang pun mengakui kemampuan Dalila, dan tentu saja tidak akan pernah memandang sebelah mata Dalila lagi. Atau hanya berpikir bahwa Dalila hanyalah beban di sana dan tidak akan memberikan kontribusi lagi. Setelah mengevaluasi kinerja mereka, Max pun menanyakan pada Joe, kemajuan dari situasi terkini. Joe yang mendapatkan pertanyaan tersebut pun menjawab, “Semuanya sudah terkendali. Obat yang sudah kita ciptakan benar-benar berpengaruh dan menunjukkan reaksi positif. Sekarang tersisa tugas Rae dan para bawahannya untuk memastikan jika semua orang bisa pulih seperti sedia kala.” Max yang mendengarnya pun mengangguk. “Kerja bagus. Kalau begitu, minta Rae untuk tetap melaporkan apa pun yang terjadi selama ke depannya. Agar kita bisa memastikan dampak dari obat yang sudah kita buat,” ucap Max. “Baik,” jawab  Joe tanpa merasa ragu sedikit pun. Max lalu menjelaskan mengenai misi mereka selanjutnya, dan semua orang fokus mendengarkan hal tersebut. Ternyata situasi yang akan mereka hadapi selanjutnya, adalah situasi yang lebih berbahaya dan sulit daripada situasi yang sudah mereka hadapi selanjutnya. Jelas, mereka semua sadar jika kematian benar-benar akan menanti mereka, jika mereka tidak mendengarkan arahan Max dengan baik. Untungnya, Max sebagai pemimpin selain memberikan arahan, juga bisa menenangkan para anggotanya. Pada akhirnya arahan pun selesai, dan mereka pun bergegas untuk berkemas. Mereka sudah selesai bertugas di sana, dan tentu saja harus segera menuju tempat selanjutnya. Semua barang yang mereka gunakan sudah dikembalikan ke penyimpanan sihir mereka, dan kini mereka bisa bergerak dengan bebas tanpa membawa beban apa pun. “Ayo, kita mulai perjalanan kita selanjutnya,” ucap Max lalu memulai perjalanan dengan melompat menuju ranting pohon dan berlari dari ranting pohon ke ranting pohon lainnya. Tentu saja hal itu diikuti oleh para anggota lain, termasuk oleh Dalila. Sayangnya, Dalila tampaknya agak kesulitan hingga hampir tergelincir. Untungnya Julion segera menolong Dalila, hingga tidak membuat Dalila terluka parah. Tentunya hal tersebut sempat membuat Dalila terlihat pucat. Karena terlambat sedikit saja Julion mengulurkan tangannya, sudah dipastikan jika Dalila akan mengalami luka yang sangat parah. Jelas Dalila mengatakan, “Terima kasih, Julion.” “Sama-sama. Sebaiknya kau berada di sisiku, agar aku bisa memastikan keselamatanmu,” ucap Julion. Namun, belum juga Dalila menjawab, Max sudah menyela dengan berkata, “Tidak perlu. Kau tidak memiliki keajiban atau hak apa pun untuk melindungi istriku. Lagi pula, aku bisa melindungi istriku sendiri.” Setelah mengatakan hal tersebut, max menggenggam tangan istrinya dengan erat dan memastikan jika istrinya terus berada di sisinya selama perjalanan yang ditempuh oleh kemampuan fisik mereka tersebut. Tentu saja tidak ada siapa pun yang merasa hal tersebut aneh, selain Joe yang memang sudah menyadari perasaan sang kakak pada Dalila. Ah, tidak hanya Joe. Kini ditambah dengan Elle, yang rupanya juga secara perlahan menyadari perasaan Julion pada Dalila. Elle yang memiliki perasaan terhadap Julion jelas tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria yang ia sukai itu. Selama mengamatinya, tentu saja Elle secara alami bisa menyadari jika Julion ternyata selalu memperhatikan Dalila. Jelas saja hal tersebut membuat Elle semakin tidak menyukai Dalila. Elle tampak mengepalkan kedua tangannya penuh akan kebencian. Lalu sorot matanya yang tertuju sepenuhnya pada Dalila mengandung kebencian yang sangat mendalam. Jelas, dalam hatinya Elle bersumpah, bahwa ia akan memberikan pelajaran pada Dalila. Pelajaran yang tentu saja tidak akan gagal untuk kedua kalinya.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD