Mira hanya bisa duduk diam, tubuhnya terasa dingin meskipun selimut masih menutupi tubuhnya. Pandangannya kosong, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya mengalir deras. Uang yang berserakan di depannya terasa seperti simbol penghinaan, bukan bantuan.
Dalam hatinya, Mira bertanya-tanya bagaimana hidupnya bisa berubah menjadi seperti ini. Tetapi ia tahu bahwa demi ibunya, ia harus kuat, meskipun itu berarti ia harus terus menanggung rasa sakit ini.
Beberapa jam kemudian, Adam tiba di rumahnya. Mobil mewahnya meluncur dengan mulus ke halaman rumah besar bergaya modern itu. Saat ia memarkirkan mobilnya, matanya langsung menangkap sosok Jesika, istrinya, yang sedang berdiri di dekat mobil lain di garasi.
Jesika mengenakan gaun elegan berwarna biru tua yang memeluk tubuh rampingnya dengan sempurna. Wajahnya yang cantik dihiasi riasan ringan, sementara sepasang kacamata hitam bertengger di atas rambut cokelatnya yang ditata rapi.
Ia terlihat akan masuk ke dalam mobilnya, tetapi langkahnya terhenti saat melihat mobil Adam berhenti di halaman. Bibirnya membentuk senyuman kecil, tetapi ada kilatan tajam di matanya, seolah ia sedang menilai sesuatu.
Adam turun dari mobil dengan tenang, kemeja putihnya yang sebelumnya rapi kini tampak sedikit kusut, dan dasinya sudah dilepas. Ia mengangkat wajahnya, menatap Jesika dengan ekspresi datar.
"Kau pulang pagi sekali," ucap Jesika dengan nada datar, tetapi penuh sindiran. Tangannya bersilang di depan d**a, menunjukkan ketidaksenangan yang terselubung. "Apa ada sesuatu yang penting di luar sana hingga kau harus menghabiskan malam di luar?"
Adam mendekat, langkahnya santai tetapi penuh kendali. "Aku nggak perlu menjelaskan setiap gerakanku, Jes," jawabnya dingin, pandangannya lurus ke arah istrinya. "Kau tahu aku sibuk dengan urusan perusahaan."
Jesika mengangkat satu alis, lalu tersenyum tipis. "Urusan perusahaan, ya? Selalu alasan yang sama," katanya dengan nada mengejek. "Aku nggak tahu sejak kapan rapat bisnis dilakukan hingga subuh. Atau mungkin aku memang terlalu naif."
Adam tidak menggubris sindiran itu. Ia tahu Jesika pandai membaca situasi, tetapi ia juga tahu wanita itu tidak akan langsung menuduh tanpa bukti yang kuat.
Adam membuka pintu utama rumahnya dengan langkah panjang dan tegas, tanpa menghiraukan tatapan Jesika yang masih berdiri di belakangnya. Jesika, yang tidak puas dengan sikap dingin Adam, segera melangkah cepat untuk mengejar suaminya. Tumit sepatunya yang berdesing di lantai marmer seolah menjadi pertanda kemarahannya.
"Mas!" panggil Jesika dengan nada tajam, suaranya menggema di ruangan besar itu. "Kita belum selesai bicara!"
Adam tidak menghentikan langkahnya, hanya melepaskan jasnya dan menggantungnya di kursi dekat tangga. Namun, ketika Jesika berhasil mengejarnya dan berdiri di hadapannya, Adam akhirnya mengangkat wajahnya.
"Apa lagi?" tanyanya dengan nada datar, menatap wanita itu tanpa ekspresi.
Jesika menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, mencoba menahan emosinya. "Aku hanya ingin tahu satu hal, Mas," katanya, suaranya terdengar lebih terkendali tetapi penuh tekanan. "Kemana kau pergi semalam? Dan jangan coba-coba memberiku alasan tentang pekerjaan, karena aku nggak bodoh."
Adam menghela napas panjang, lalu berjalan menuju sofa di ruang tamu. Ia duduk santai, menyandarkan punggungnya, dan menatap Jesika yang masih berdiri dengan tatapan menantang.
"Aku nggak perlu melaporkan setiap hal yang kulakukan, apalagi jika itu nggak ada hubungannya denganmu," katanya dengan suara rendah namun tajam. "Aku sudah bilang, aku sibuk dengan urusan yang penting."
Jesika mendekat, kali ini nada suaranya berubah menjadi lebih serius. "Mas, aku istrimu. Aku berhak tahu apa yang terjadi denganmu. Kau pulang pagi dengan wajah kusut seperti itu, dan kau pikir aku akan percaya kalau ini hanya tentang pekerjaan?"
Adam menatap Jesika dengan mata yang tajam, lalu ia berdiri, mendekati wanita itu. Jarak mereka hanya beberapa langkah, tetapi tatapan Adam membuat Jesika sedikit mundur.
"Kalau aku mengatakan ini tentang pekerjaan, maka itu tentang pekerjaan," ucap Adam dingin. "Dan kalau kau merasa itu bukan urusanmu, lebih baik kau nggak terlalu memikirkannya."
Jesika tidak menyerah, ia melawan tatapan Adam dengan penuh keberanian. "Mas, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Dan aku nggak akan berhenti sampai aku tahu apa itu."
Adam menyeringai kecil, lalu menundukkan sedikit kepalanya sehingga wajahnya sejajar dengan Jesika. "Kalau kau punya waktu untuk mencurigaiku, lebih baik gunakan itu untuk hal yang lebih berguna," katanya pelan namun tajam. "Seperti mengurus pekerjaan desainmu atau apa pun yang kau anggap penting."
Jesika terdiam, rahangnya mengeras. Ia tahu bahwa berbicara lebih banyak hanya akan membuat argumen ini berlarut-larut tanpa hasil.
Adam tersenyum tipis, lalu berbalik dan melangkah ke arah tangga. Sebelum ia naik, ia menoleh ke belakang dan berkata dengan nada santai, "Aku akan mandi. Kalau kau masih ingin berbicara, pastikan kau punya sesuatu yang lebih penting untuk dikatakan."
Adam berjalan menaiki tangga dengan langkah santai, meninggalkan Jesika yang masih berdiri dengan tatapan penuh kekecewaan di ruang tamu. Dalam perjalanan menuju kamarnya, ia tiba-tiba berhenti di tengah tangga dan berteriak dengan suara lantang:
"Ijah! Siapkan makanan untukku!"
Suara Adam menggema di seluruh ruangan, membuat Jesika mengerutkan kening karena merasa tidak nyaman dengan sikap suaminya yang seolah tidak mempedulikannya.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya muncul dari arah dapur. Ijah, asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumah itu, melangkah cepat dengan sedikit gugup.
"Iya, Pak Adam. Saya segera siapkan," jawab Ijah sambil membungkuk sedikit, menunjukkan rasa hormatnya.
Adam melanjutkan langkahnya tanpa mengatakan apa-apa lagi, sementara Ijah segera menuju dapur untuk memenuhi permintaan majikannya.
Jesika yang masih berdiri di ruang tamu menatap ke arah tangga dengan perasaan bercampur aduk. Sambil menggigit bibir bawahnya, ia merasa ada sesuatu yang aneh pada Adam. Suaminya yang biasanya penuh perhatian kini berubah menjadi pria dingin yang sulit didekati.
Di dalam kamarnya, Adam membuka pintu lemarinya, melepas kemeja dan menggantinya dengan pakaian santai. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba menenangkan pikirannya yang masih berkecamuk setelah pertemuannya dengan Mira tadi malam.
"Ini hanya awal," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, sebelum berjalan menuju meja kecil di sudut kamar untuk mengambil teleponnya. Adam menatap layar ponsel, tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menyimpan kembali ponsel itu tanpa menghubungi siapa pun.
***
Mira tiba di rumah sakit dengan langkah tergesa-gesa. Matanya sedikit sembab, namun ia berusaha menyembunyikan rasa lelah dan emosinya. Begitu memasuki area lobi, ia melihat Nurul, adiknya, berdiri sambil memegang secangkir kopi dari vending machine.
"Mbak Mira," panggil Nurul sambil melambaikan tangan, wajahnya terlihat lega begitu melihat Mira datang.
Mira segera menghampiri Nurul, lalu memegang bahu adiknya. "Bagaimana kondisi Ibu? Apa dokter sudah mengatakan sesuatu?" tanyanya cemas, suaranya sedikit bergetar.
Nurul menggeleng pelan, lalu menyerahkan kopi di tangannya kepada Mira. "Kondisi Ibu masih sama, Mbak. Tapi tadi dokter bilang mereka akan segera memulai perawatan intensif. Aku sudah tanda tangan semua dokumen yang tadi mereka minta," jelasnya dengan nada tenang, meskipun jelas terlihat bahwa ia juga merasa khawatir.
Mira menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia memegang cup kopi itu dengan kedua tangan, merasakan kehangatannya mengalir ke kulitnya yang dingin.
"Terima kasih, Nurul. Maaf, Mbak baru bisa datang sekarang," kata Mira sambil menatap adiknya dengan penuh rasa bersalah.
Nurul menggeleng cepat. "Enggak apa-apa, Mbak. Aku tahu Mbak pasti sedang sibuk mencari cara untuk bantu Ibu. Aku juga nggak ingin terlalu membebani Mbak."
Mira tersenyum kecil, meskipun senyumnya penuh kepahitan. "Ibu sudah dapat kamar perawatan yang lebih baik, ‘kan?"
"Iya, Mbak. Orang dari rumah sakit tadi bilang semua biaya sudah ditanggung," jawab Nurul, menatap Mira dengan tatapan penuh rasa penasaran. "Mbak ... siapa yang bantu kita? Apa ada teman Mbak yang kaya atau—"