02. Pertolongan

566 Words
Entah setan apa yang menghasutnya sampai ia bisa semarah itu. Dedengkutnya jin kali. Bagaimana cara orang tuanya mendidik hingga punya anak searogan dan tempramen sepertinya? Waktu hamil ibunya ngidam apa? Bayinya dikasih makan apa? Ah, kenapa Ayub jadi banyak tanya soal gadis pemarah itu. Ayub menghela napas berusaha bersabar, meredam api kemarahan yang sempat menyala di dadanya. Jangan marah! Jangan marah! Percuma marah, justru syetan yang ketawa kalau ia marah. Ia ingin mendapat nilai plus dari Allah. Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti mengahmpiri. Ayub mengernyit melihat mobil yang dikenalnya itu. Tak lain mobil yang sering dipakai Nabila, teman kuliah. Gadis cantik bermata indah yang dikagumi kaum Adam itu turun dari mobil. Berdiri di hadapan Ayub. Kulit yang terlihat hanya wajah dan ujung tangannya, semuanya tertutup balutan jilbab dan pakaian longgar indah yang panjang. Meski ia berasal dari keluarga kaya raya, tak sedikitpun kesombongan terpancar dari dalam dirinya. “Ayub, apa yang terjadi?” tanya Nabila penuh kecemasan, ia mengenal Ayub meski lawan bicaranya mengenakan helm. “Ada yang menabrakku.” Ayub melepas helm dari kepala. “Mana orangnya?” Kepala Nabila berputar-putar mencari orang disekitar. Tapi seperti yang terlihat, tidak ada siapa-siapa. Ia semakin cemas mendapati darah segar yang mengalir di pelipis Ayub. “Udah pergi,” jawab Ayub. “Kamu terluka. Motormu juga rusak. Ini tabrak lari. Kita harus lapor polisi.” “Nggak perlu. Ini bukan tabrak lari, kok. Ini kecelakaan. Aku nggak apa-apa. Nggak seorangpun yang mau kecelakaan. Termasuk orang yang menabrakku itu.” “Ya udah, kita ke rumah sakit,” kata Nabila. “Enggak, Nabila. Aku ada janji sama Ustad Zaki.” “Dengan badan luka-luka gini kamu masih mikirin acara di masjid Raya?” dahi Nabila mengerut. Sejenak Ayub berpikir, dari mana Nabila tahu tempat yang ia tuju adalah masjid Raya? “Lebih baik kamu ke rumah sakit, keselamatanmu lebih penting. Ustad Zaki itu orangnya baik. Kalaupun kamu nggak hadir, beliau pasti ngertiin.” Dahi Ayub mengernyit. Nabila bicara seolah mengenal Ustad Zaki lebih dekat. “Aku cuma pengen nepatin janji. Selagi mampu, kenapa enggak?” Keras kepala! Pendirian kuat! Kemauannya teguh! Entah apa lagi untuk menggambarkan sosok Ayub. Nabila tidak dapat berkomentar lagi. “Oke, kalo gitu biar kubantu urus motormu.” Ayub mengangguk setuju. Nabila menghampiri supir yang duduk di bagian kemudi seraya membungkukkan badan agar pandangannya sejajar di jendela mobil. “Pak, tolong turun bentar dan urus motor itu,” perintahnya menunjuk motor gede milik Ayub. Supir turun dari mobil dan melaksanakan perintah majikan dengan patuh. Menegakkan motor gede dan mendorongnya ke tepi. “Ini kuncinya, Nabila,” supir menyerahkan kunci. Nabila tidak suka dipanggil Non seperti yang sering dilihat dalam pemandangan orang-orang kaya. Apalagi yang memanggil lebih tua. Menurutnya derajat semua manusia sama sehingga ia meminta para pembantu memanggilnya cukup dengan nama saja tanpa embel-embel Non atau lainnya. “Ayub, kamu ikut sama aku aja, entar biar kuanterin sampe ke masjid. Soal motor, biar supir di rumah yang mengurusnya supaya dibawa ke bengkel terdekat.” “Boleh,” jawab Ayub tanpa pikir panjang. “Bawa sini helmmu.” Sekarang helm sudah berpindah ke tangan Nabila. Kemudian Nabila menelpon. Hanya dalam hitungan menit, sebuah mobil datang dan berhenti tepat di hadapan Nabila. Seseorang turun. Mengambil kunci motor dan helm dari tangan Nabila. Seorang lagi tetap duduk di dalam mobil. Mereka tidak memerlukan waktu lama untuk sampai ke jalan itu karena rumah Nabila tidak jauh dari sana. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD