Suara pintu ruang kerja yang terbanting membuat pria paruh baya itu mengangkat kepala dari balik meja. Kristal berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan wajah memerah karena emosi. Matanya berkilat tajam, memancarkan amarah yang sudah tak bisa ia tahan lagi. "Ayah harus bertindak sekarang. Aku tidak bisa terus diam," tegasnya sambil melangkah mendekat. "Arsenio adalah tunanganku. Ayah sendiri yang pernah menyetujui rencana itu, bukan?" Tuan Wicaksana bersandar di kursinya, mencoba meredam ketegangan. "Kristal, aku tahu kamu menyukai Arsenio, tapi—" "Tapi apa?!" potong Kristal cepat. Suaranya meninggi, nyaris bergetar. "Sejak kecil aku sudah bersama dia. Aku tahu semua tentang hidupnya. Aku tahu caranya tertawa, caranya marah, bahkan bagaimana ia berpikir. Aku mencintainya, Ayah.

