Pagi itu udara Jakarta terasa pengap. Kristal berdiri di depan gedung kepolisian dengan wajah datar dan kacamata hitam menutupi separuh ekspresinya. Setiap langkah yang diambilnya menuju ruang pelaporan terasa seperti penghinaan bagi harga dirinya. Sudah dua minggu berlalu sejak ia resmi dinyatakan sebagai tahanan kota. Pengacaranya berhasil memutar keadaan dengan segala cara, memanfaatkan nama besar keluarganya dan tentu saja uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Ia tidak mendekam di sel, tetapi kebebasannya kini bersyarat. Ia wajib melapor setiap tiga hari sekali ke kantor polisi, tidak boleh meninggalkan kota, dan wajib berada di rumah sebelum pukul sembilan malam. Rutinitas itu menjadi beban yang membuat darahnya mendidih setiap kali tiba hari pelaporan. Di ruang pelaporan, seorang

