Chapter 21

1011 Words

Petrichor. Aroma yang sanggup membuat siapapun terhipnotis kala menghirupnya. Itu pula yang terjadi pada Orion saat ini. Dia sudah cukup lama diam di bawah pohon rindang, hanya berpayung jaket tipis yang tadi dikenakannya. Sesekali ia menengadah, menatap gumpalan awan mendung yang saat ini tengah menumpahkan seluruh bebannya tanpa ragu. Ini hari Minggu, Orion berniat mengawali paginya dengan lari di sekitaran taman komplek. Namun, hujan menghentikannya. Terjebak dalam hujan bukanlah kondisi yang menyenangkan. Ada kenangan dalam beningnya. Rindu dalam setiap tetesnya. Terutama kerinduan akan sosok kedua orang tuanya. Helaan napas panjang terdengar. Pahit hidupnya memang tak sepekat dulu, tapi masih sama sakitnya tatkala memori itu kembali berputar tanpa meminta persetujuannya. Hingga t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD