Butuh waktu memang baginya untuk mencoba menerima apa yang terjadi. Ketika hari di mana ia siap untuk berbagi, ia dan Mamanya tentu saja menangis berdua. Erina merasa bersalah karena tak pernah tahu luka yang diderita anaknya selama ini. Ia menganggap tak ada apapun yang terjadi. Meski pertanyaan demi pertanyaan memang banyak muncul. Namun ia mencoba percaya kalau anaknya adalah orang yang sangat lurus. Ya memang lurus kok. Ray tak menyerong. Ia masih pada jiwa laki-laki. Hanya saja terlalu takut untuk menghadapi perempuan. Setelah beberapa bulan, lebih tepatnya ketika sudah menyelesaikan studinya, ia menuruti kemauannya Mysha. Tentu saja untuk mengobati diri sendiri ke psikolog. Dan hari ini menjemput perempuan itu yang kembali datang ke Inggris. Tentu butuh waktu juga untuk mau membuju

