“Sudah. Tidak apa-apa. Kamu telepon aku saja. Kalau Axell mencariku, Hm?” sergah Reynand sambil memegang lengan Keysa yang akan melayangkan protesnya pada sang papa. Wanita itu pun akhirnya menghembuskan napasnya kasar. “Ya, sudah. Hati-hati di jalan.” Ucapnya sambil tersenyum lembut ke arah Reynand. Pria itu akhirnya pamit pulang. Saat tangannya ingin bersalaman dengan Erlangga. Pria itu memang memberikan tangannya. Namun ekspresi wajah kesalnya selalu saja ia tampakkan di depan Reynand. Akan tetapi pria itu tidak marah sama sekali. Sebab ia tahu jika inilah saatnya ia memperjuangkan kebersamaannya dengan Axell dan Keysa. Dan halangan terbesarnya memang datang dari Erlangga. Menurut kakek, itu hanya sebagai bentuk kasih sayangnya yang teramat besar kepada Keysa. Serta rasa bersal

