BAB 16. TAMPAK KUAT NAMUN RAPUH

1089 Words
Setelah sarapan bersama. Anak-anak memang sibuk bermain. Karena hari ini adalah hari Minggu. Bunda sedang pergi karena ada urusan di luar. Sedangkan Kanaya dan Rey, mereka memilih untuk pergi ke pasar. Berbelanja untuk makan siang dan makan malam nanti.     Walaupun keduanya tak bisa ikut makan malam. Karena harus pulang kembali ke kota saat sore hari. Dan bagi Kanaya, hari libur saat ini sangatlah menyenangkan hatinya.     Bagaimana tidak? Selama di rumahnya. Ia jadi mengetahui banyak hal tentang sosok seorang CEO terkenal yang rupanya begitu rapuh. Hanya tampak luarnya saja yang dingin, cuek, tegas dan keras. Akan tetapi, Kanaya bisa melihat sisi lain dari dirinya. Rey yang biasanya selalu nampak berwibawa dan tegas. Kemarin bisa menangis tersedu-sedu di pelukan Bunda. Juga sikapnya yang lembut kepada anak-anak yang ada di panti. Membuat Kanaya tahu sebenarnya sosok seperti apa pria yang dicintainya ini. Dan tentunya ia bersyukur jika Reynand masih memiliki hati yang lembut seperti itu. Hanya saja, ada yang mengusik pikirannya saat ini.     Sebenarnya apa yang terjadi pada Rey sehingga ia terlihat begitu rapuh dan menderita? Rasa penasarannya ternyata tidak sebanding dengan keberaniannya untuk bertanya lebih dulu. Ia akan memilih untuk bersabar sampai Reynand sendiri yang menceritakannya. Karena itu pastinya adalah hal yang menyakitkan untuk ia bagikan.     Maka biarlah ia yang akan menilai. Apakah Kanaya bisa untuk mengetahui keresahan yang ada dalam hatinya? Ataukah memilih untuk menyembunyikannya?     ***  “Nah, semuanya sudah aku beli. Sekarang kita pulang yah?” ajak Kanaya yang telah memeriksa kembali kertas catatan belanjaan dari Bunda. Agar tak ada yang tertinggal atau lupa ia beli.     Rey hanya mengangguk saja. Sejujurnya, ia bahagia namun juga sedih. Karena apa yang ia lakukan saat ini. Kembali mengingatkannya akan sosok Sang Nenek yang dulunya juga sering kali mengajaknya untuk menemaninya berbelanja ke pasar. Sebab menurut beliau, di pasar jauh lebih segar dari supermarket. Entahlah, Rey juga tak tahu. Karena menurutnya itu sama saja.     “Hei! Kenapa malah bengong sih? Kamu kenapa sih, daritadi kayaknya nggak konsentrasi deh, kalau di ajak ngomong?” gerutu Kanaya kesal. Sebab, Rey memang banyak melamun sepanjang menemaninya belanja.      Bahkan Rey juga tak terlalu memperhatikan apa yang menjadi heboh karena dirinya. Bagaimana tidak. Seorang pria tampan dengan baju mahalnya, menemani seorang gadis yang mereka kenal adalah seorang anak panti asuhan. Dan yang mencengangkan lagi adalah, si gadis yang seenaknya saja menyuruh Rey untuk membawakan semua belanjaannya.     Terkesan seakan-akan si gadis adalah majikan dan si pria adalah asisten rumahnya yang memang bertugas untuk membawakan belanjaan sang majikan.    “Eh? Maaf. Tadi kamu bilang apa sayang? Aku nggak denger!” ujarnya seraya tersenyum kikuk. Karena memang ia tadi melamun hingga tak mendengarkan apa yang dikatakan oleh kekasihnya tersebut.    Dengan bibir mengerucut sebal. Kanaya membuang nafasnya panjang. “Sekarang ayo ke mobil dan ikut aku ke suatu tempat.” Titahnya yang langsung pergi begitu saja menuju ke mobil Reynand terparkir.    Rey menghembuskan nafasnya panjang. Pantas saja Kanaya kesal. Karena sejak tadi pikirannya memang melayang kemana-mana. Akibatnya ia tak terlalu menanggapi perkataan Kanaya.     “Niatnya mau seneng-seneng malah bikin dia badmood!” Rey segera saja berjalan mendekati Kanaya yang telah melipat kedua tangannya di depan. Dengan wajah jutek dan bibirnya yang mengerucut kesal.     Setelah Rey memasukkan belanjaan ke bagasi. Barulah ia menyusul masuk Kanaya yang ternyata telah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya.     “Kita mau kemana?” tanya Rey seraya menghidupkan mesin mobilnya.     “Udah jalan aja. Nanti aku kasih tau!” ketusnya tanpa memandang Rey disebelahnya sama sekali.     Moodnya pagi ini memang sangat kesal. Ia kesal karena merasa di abaikan oleh entah apa yang itu. Sesuatu yang membuat Rey tak bisa fokus sama sekali padanya.     Tibalah keduanya di sebuah danau yang indah. Danau yang terletak tak jauh dari panti asuhan. Serta tempatnya yang memang digunakan untuk pariwisata di daerah tersebut.     Sambil menikmati semangkuk bakso. Kanaya dan Rey pun duduk menghadap ke danau tersebut. Setelahnya, Kanaya mengajak Rey untuk berjalan-jalan menyusuri tepi danau. Keduanya masih sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kanaya dengan rasa penasarannya. Sedangkan Rey dengan rasa bersalahnya.     Kanaya duduk di sebuah kursi kayu yang tak jauh dari tempatnya berjalan. Di ikuti Rey yang juga duduk di sampingnya.     Pandangan Kanaya lurus ke depan. Seolah tengah menunggu sesuatu. Mungkin lebih tepatnya, menunggu seseorang yang akan mengatakan kepadanya tentang apa yang terjadi padanya.     Rey berdehem sejenak. Setelah sempat terdiam selama beberapa menit.     “EKHEM!”    “Sayang, aku tau kamu marah sama aku. Tapi sungguh, aku tidak bermaksud untuk mengabaikan dirimu tadi. Jadi, aku minta maaf sama kamu. Jangan diamkan aku lagi, yah?” Ucapnya dengan sedikit memelas. Seraya menggenggam tangan kanan Kanaya yang berada di atas kursi.     Kanaya menoleh sekilas. Lalu kembali menatap ke depan. Ia menghela napasnya panjang. “Jadi, sebenarnya ada apa denganmu seharian ini? Kenapa sejak kemarin kamu aneh dan buat aku bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi kepadamu?”     Rey terdiam. Ia memilih untuk diam dan mendengarkan apa saja yang sedang di keluhkan oleh wanitanya tersebut.    “Aku hanya diam sejak kemarin. Karena aku rasa, kamu memang butuh waktu untuk menjelaskan semuanya kepadaku. Tapi, aku semakin tidak bisa mengontrol diriku saat tahu kamu terlihat seperti orang linglung dan sering sekali melamun. Aku...aku khawatir sama kamu. Aku hanya ingin kamu bisa berbagi beban kamu sama aku. Ya, mungkin saja menurutmu aku nggak akan bisa membantumu. Tapi setidaknya, kasih aku penjelasan. Agar aku bisa memberimu dukungan. Supaya kamu bisa melewatinya dengan baik. Hanya itu. Apa sulit? Apa aku salah?”     Kanaya pun terisak-isak sambil menunduk. Ia hanya merasa menjadi pacar yang buruk. Sebab tak tahu apapun tentang permasalahan kekasihnya. Juga tak bisa melakukan apa-apa. Karena ia juga tak tahu apa dan seperti apa itu. Ia hanya merasa tak berguna untuk Rey.     Rey menghembuskan napasnya pelan. Lalu menarik wanitanya ke dalam dekapannya. Mengusap punggung Kanaya dan mengecup puncak kepalanya penuh dengan sayang.     “Maaf... Hanya saja...aku merasa malu jika harus menceritakan kesedihanku kepadamu. Aku malu karena terlihat buruk dan rapuh di depanmu. Aku malu karena nampak lemah dan tak berdaya di hadapanmu. Aku tahu, kamu pasti terkejut dan bertanya-tanya. Tapi yakinlah satu hal. Bahwa aku percaya padamu. Dan aku yakin, suatu saat nanti. Kamu akan tahu. Tapi tidak sekarang.”     ‘Karena aku takut, jika kau tahu apa alasanku. Kau pasti akan meninggalkan diriku. Terlebih bunda mengatakan bahwa memiliki sebuah keluarga yang bahagia adalah harapanmu sejak kecil. Dan dengan keadaan keluargaku saat ini. Rasanya tak mungkin aku bisa mewujudkan semua impianmu.’ Sambungnya dalam hati.     Kanaya mengangguk singkat dan masih terisak dalam pelukannya. Ya, mungkin ia harus lebih bersabar lagi dalam menghadapi Reynand dengan semua rahasianya.     Mungkin memang belum saatnya ia tahu apa yang kini tengah disembunyikan oleh Reynand. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD