BAB 20. AKU AKAN BERTAHAN

1104 Words
Rey masih menunggu keputusan apa yang akan dikatakan oleh Kanaya. Meskipun itu, ia tetap pada pendiriannya. Ia tak akan pernah mungkin bisa melepaskan Kanaya begitu saja. Walaupun ia sendiri juga tak bisa membahagiakannya. Bagi Reynand. Ia bisa memberikan kebahagiaan yang lainnya untuk Kanaya. Asalkan bukan terikat dalam tali suci pernikahan. Semuanya...semua akan Reynand berikan. Kecuali MENIKAH. “Jadi, apa tanggapanmu setelah mendengar rahasia yang selama ini aku sembunyikan?” Tanya Reynand setelah beberapa saat lamanya kedua manusia itu terdiam dengan pikiran masing-masing. “I'll stay by your side. I will make sure that marriage is not always bad.” Sahut Kanaya yang masih tetap memeluk tubuh Reynand yang menegang akibat mendengar kata-kata Kanaya barusan. “Hah?” seru Reynand bingung, kaget dan bahagia disaat yang bersamaan. Ia tak tahu lagi harus seperti apa mengatakannya. Yang jelas, saat ini ia sangat senang. Sebab wanitanya tidak berniat pergi dari hidupnya. Dan akan tetap bertahan di sampingnya. Juga, Reynand akan melihat bagaimana usaha Kanaya untuk membuatnya percaya dan yakin akan kebahagiaan yang tercipta dari sebuah ikrar suci dihadapan Tuhan. Reynand segera membalikkan tubuhnya dan mencium Kanaya dengan lembut. Sambil memeluknya erat. Ia bersyukur karena apa yang ditakutkannya tak terbukti sama sekali. Yang jelas, ia semakin yakin bahwa pilihannya kali ini tidaklah salah. Kanaya adalah wanita yang tepat untuk dicintainya. Untuk menjadi teman dalam menghabiskan sisa waktunya. Ciuman kali ini lebih lembut. Seolah-olah Reynand sangat menjaga bibir Kanaya agar tak terluka. Dengan penuh cinta dan kasih sayang. Reynand menyalurkan rasa cintanya juga terima kasihnya pada Kanaya. Karena telah memilih untuk bertahan. Reynand menyecap bibir atas dan bawah Kanaya bergantian. Menyesap dengan lembut. Dan mendesak Kanaya agar membuka mulutnya agar lidahnya bisa mengabsen setiap gigi Kanaya. Serta membelit lidahnya. Mengajaknya untuk saling menarik dan bertukar Saliva. Merasa bahwa wanitanya mulai kehabisan napas. Reynand melepaskan ciumannya. Napas keduanya sama-sama terengah-engah. Dengan mata yang saling mengunci satu sama lainnya. Seakan tak ingin berpaling dari wajah yang dicintainya. Tak sadar jika kini Kanaya tengah duduk di atas pangkuan Reynand. Tangan Reynand memeluk pinggang Kanaya erat dengan senyum tulusnya. “Terima kasih sayang. Kamu sudah mau bertahan disisiku. Tetaplah di sampingku dan temani aku selamanya. Karena aku tak akan pernah mengijinkanmu untuk pergi dari sisiku. Apapun alasannya. Ingat itu!” ujar Reynand sedikit mengancam. Dan jangan lupakan seringainya yang licik. Kanaya hanya terdiam melihat smirk Reynand. Apakah pilihannya telah benar? Dengan memilih tetap bertahan. Ataukah ia salah mengambil keputusan? Namun, ia juga tak bisa meninggalkan pria yang dicintainya ini begitu saja. Hanya karena pemikiran Reynand yang buruk akan sebuah pernikahan. “Karena keputusanmu untuk tetap bertahan. Maka aku tak akan pernah melepaskanmu. Apapun alasannya. You're mine and i'm yours.” Tekan Reynand yang kembali melumat bibir seksi Kanaya yang telah membengkak akibat ulahnya. Kali ini ciumannya penuh nafsu. Seolah besok ia tak akan lagi bisa menyecap bibir manis wanitanya ini. Yang terlihat lemah tak berdaya di dalam dekapannya. Luluh akan setiap sentuhannya. Hingga membuatnya lupa akan pendiriannya sendiri. Namun, Reynand tak ingin melanggar itu. Ia akan menghormati apa yang menjadi keyakinan Kanaya. Biarlah ia menyiksa Kanaya dan juga dirinya sendiri sebenarnya. Sebab, setiap mereka making out. Reynand selalu berusaha keras untuk menahannya. Reynand hanya ingin menggoda Kanaya agar mempercayainya. Bahwa cintanya begitu besar untuknya. Bukankah rasa yang biasa dan main-main. *** Pagi harinya. Kanaya terbangun dari tidurnya dan tersenyum tipis. Melihat seseorang tengah tertidur pulas di sampingnya seraya memeluknya posesif. Wajahnya merona mengingat semalam. Ia hampir saja lepas kendali saat Reynand mencumbunya. “Benar-benar orang yang berbahaya.” Gumam Kanaya sembari tersenyum kecil. Tangannya mulai menjelajahi setiap pahatan sempurna di depannya ini. Garis wajah yang tegas. Hidung mancungnya. Bibir yang tebal dan penuh. Dan matanya...mata tajamnya yang jika menatapnya, seolah kita membeku dan tersihir akan sorot matanya yang tajam nan indah Tersebut. Seperti mata itu memiliki magnet untuk membuat siapapun menatapnya penuh pemujaan. Puas mengamati dan menyusuri setiap lekuk Wajah kekasihnya. Kanaya berniat turun untuk membuat sarapan. Karena mereka harus bersiap berangkat ke kantor. Perlahan Kanaya menyingkirkan tangan Rey dari perutnya. Lalu turun dari ranjang dengan sangat pelan. Setelahnya ia berdiri dan menatap lagi wajah tampan Reynand. Dikecupnya kening Reynand pelan. Takut jika akan membangunkannya. Kanaya bergegas menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya. Lalu pergi ke dapur dan bersiap untuk bertempur dengan alat masaknya. Menyiapkan sarapan untuk pria yang dicintainya itu. Setengah jam kemudian. Kanaya masuk ke dalam kamarnya dan berniat untuk membangunkan Reynand. Namun, rupanya Reynand telah siap dengan pakaian kerjanya. “Perfec” gumam Kanaya sambil memeluk Reynand dari belakang. Reynand yang sedang mengikat dasinya hanya tersenyum simpul menatap bayangan Kanaya dalam cermin di depannya. Telapak tangannya menarik tubuh Kanaya agar berdiri di hadapannya. Lalu memeluk pinggangnya dengan kedua tangannya. Senyum manisnya pun terukir sempurna di wajahnya yang tampan. Rey segera mencium Kanaya dengan lembut. Tak lama hanya selama dua menit saja. Rey melepaskan ciumannya dan mengecup keningnya sebentar. “Morning kiss buat vitaminku sampai makan siang.” Tukas Reynand menggoda. “Terus pas makan siang, sampai makan malam?” tanya Kanaya yang mengikuti candaan Reynand. “Ya, nanti pas malam siang aku cium kamu lagi lah. Buat vitamin sampai makan malamnya. Hahaha...Terus abis makan malam, cium lagi buat bekal tidur. Sepaya mimpi indah.” Sahutnya sambil tertawa kecil. “Dasar! Ya, udah sana sarapan dulu. Aku mau mandi sama siap-siap.” Kanaya melepaskan pelukan Reynand dan berjalan menuju ke kamar mandi. “Aku tunggu kamu aja selesai siap-siap. Biar bisa sarapan bareng.” Sergah Reynand yang masih berdiri ditempatnya. “Ya, terserah kamu.” Sahut Kanaya sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Dan langsung menutup pintunya. Mengabaikan senyum Reynand yang masih menatapnya. Reynand pun keluar dari kamar dan menuju ke meja makan. Sembari menunggu kekasihnya. Reynand menyesap kopinya perlahan dan membaca email-nya di layar tabletnya. Mempelajari kontrak kerja sama dengan perusahaan asing. Tak lama kemudian. Kanaya datang dengan kemeja biru muda dengan rok pendek sebatas bawah lutut. Rambut yang dibiarkan tergerai indah itu menambah kesan elegannya. Kanaya mencium pipi Reynand sekilas sebelum duduk di kursinya. Reynand tersenyum manis menoleh padanya. Ia melanjutkan membacanya. Kanaya langsung menyiapkan makanan Reynand dan juga makanan untuk dirinya sendiri. “Baca apa sih? Serius amat?” tanya Kanaya yang menyuapkan nasi gorengnya. “Kontrak dengan perusahaan asing itu. Yang dari London. Oh, iya. Lusa kita ke London untuk bertemu dengan mereka. Membahas kerja sama kita. Mungkin sekitar tiga hari kita disana. Kamu siap-siap yah?” jelas Reynand pada Kanaya sekaligus sekretarisnya. “Siap laksanakan bos!” jawab Kanaya mantap sambil tangannya bergerak hormat pada Reynand. Keduanya pun sarapan dengan senyum bahagia yang menghiasi wajah mereka. Sepakat untuk saling berbagi apapun dalam hubungannya. Membuat mereka harus siap dengan berbagai masalah yang akan datang kemudian hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD