Kurang lebih dua puluh menit Kanaya menenangkan dirinya dalam pelukan Reynand. Dengan Reynand yang setia mengusap lembut punggung dan puncak kepalanya. Sembari sesekali mengecupi puncak kepalanya penuh sayang. Kanaya mendongak, tersenyum manis pada kekasihnya. “Maaf dan tetap ada di sisiku. Karena di dunia ini, hanya kamu dan Bunda yang aku butuhkan. Jangan pernah berpaling dariku. Karena aku tak akan sanggup merelakanmu dengan yang lain. Jika itu sampai terjadi. Aku...aku akan memilih pergi membawa luka. Daripada bertahan dengan penuh lara.” Ujarnya seraya menatap dalam-dalam retina Reynand yang terdiam. Meresapi setiap untaian kata-kata yang Kanaya ucapkan. Tak ada jawaban yang bisa ia berikan. Hany sebuah anggukan kepala yang bisa saja bermakna akan banyak hal. Mengingat bahwa ora

