Twenty Three

1797 Words
Las Vegas, 4 September 2018 Nicholas Song sama sekali tidak berminat atas tawaran yang diajukan oleh atasan kepolisian tempatnya bekerja. Dia mencintai kebebasan lebih dari apa pun. Tawaran yang barusan ia dengar terasa seperti sebuah dikte kematian yang tidak bisa ia tolak. Dia tahu jelas tawaran yang diberikan oleh atasannya saat ini pastilah sudah direncanakan semenjak lama. Dia tahu bahwa dia tengah diselidiki oleh FBI semenjak beberapa minggu yang lalu. Ternyata penyampaian kepadanya lebih cepat dari yang ia duga. “Bila aku menolak, sudah dipastikan namamu akan tercoreng,” ucapnya dengan senyum yang meremehkan. “Kau menjualku?” Sang atasan mencoba tenang atas intimidasi yang dilakukan sang detektif. Dia jelas tahu sepak terjang Detektif Joker yang sudah bekerja sama dengan kepolisian semenjak beberapa tahun yang lalu. Di balik wajah tampan nan rupawan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, dia juga berotak cerdas. Namun, sayangnya dia tidak punya belas kasihan atau sedikit rasa simpati kepada orang-orang di sekitarnya. Dia tertutup, kehidupan pribadinya tidak terkorek sedikit pun. Bahkan FBI hanya mengetahui beberapa persen tentangya. “Ini kesempatan bagus untuk Anda dan mereka membutuhkan Anda. Saya rasa Anda akan tertarik dengan kasus-kasus besar yang mereka tangani. Saya tahu jelas Anda menyukai tantangan.” “Aku berencana menembak mereka satu demi satu agar aku bebas dari keharusan menerima tawaran ini, bagaimana?” ia memain-mainkan senjata api yang selalu ia bawa. “Melihat otak-otak mereka terburai terasa menyenangkan.” “Anda orang yang membela kebenaran, tidak mungkin Anda akan melakukan hal tersebut kepada mereka yang juga bekerja di jalan kebaikan,” kata atasan kepolisian yang sudah tahu risiko menghadapi sang detektif gila tersebut haruslah memiliki lapisan kesabaran yang luar biasa. Pasalnya dia suka bermain-main untuk membuat orang lain merasa jatuh kemudian dia tertawa dengan penuh kemenangan. Dia memang gila dan aneh, tidak heran mengapa hal tersebut dilakukannya. Hanya saja orang-orang tidak mengabaikannya karena dia dibutuhkan. “Apakah kau ingin melihat aku menjadi orang jahat? Kau tidak berpikir aku jahat selama ini setelah melihat semua tingkahku?” cecarnya. “Jangan berbohong, setengah detik yang lalu aku melihat raut kekesalan di wajahmu dan kau berharap aku mati. Sorot matamu tercermin segalanya.” Apa yang dikatakan sang detektif benar adanya, dia tidak bisa mengelak. Namun, dia harus sabar karena bukan itu tujuannya sekarang. Bila ia tidak berhasil membujuk sang detektif untuk bekerjasama dengan FBI, namanya akan tercoreng. Dulu ia ingin sekali bekerja di FBI, tetapi apa daya dia tidak mampu karena yang lulus hanyalah orang-orang yang luar biasa. Sementara sang detektif terlihat tidak berminat sama sekali. Ia kesal karena hal tersebut, bisa-bisanya membuang kesempatan yang dulu ingin ia gapai serta bisa membantu negara. “Saya percaya Anda tidak akan menjadi orang jahat,” yakinnya sambil menatap sang detektif. “Ini kasus yang sangat besar. FBI tidak membocorkan rahasianya secara rinci kepada kepolisian. Mereka merekrut Anda karena mereka yakin potensi yang Anda miliki mampu menyeimbangi cara kerja mereka. Atasan FBI langsung yang meminta Anda bekerja untuk mereka.” Saat Nicholas Song masih di dalam ruangan bersama atasan kepolisian, pintu mereka diketuk. Sang atasan menyuruh sang pengetuk untuk masuk. Dia adalah Azalea Hilton, atau yang kerap disapa Jea oleh teman-teman dan rekannya. Polisi cantik yang pernah diajak makan siang dan makan malam oleh Detektif Joker. “Permisi, saya hanya ingin mengatakan bahwa ada tamu penting yang ingin menemui Anda,” kata Jea kepada atasan kepolisian yang menatap Detektif Joker dengan penuh harap. “Pihak FBI,” sambungnya “Ya, persilakan mereka masuk,” jawab sang atasan. “Saya mohon kepada Anda untuk menerimanya,” pintanya sekali lagi kepada Detektif Joker. “Sialan, kau lebih merepotkan daripada pembunuh bayaran kemarin,” komentarnya. Ia menoleh ke arah Jea yang menyimak obrolan mereka. Jujur saja polisi cantik tersebut tidak tahu apa yang tengah diobrolkan sang atasan dan detektif gila yang pernah mencium bibirnya secara paksa di sebuah tempat judi. Pria itu tidak bertanggung jawab setelah membuat hatinya tidak keruan. “Baik, akan saya sampaikan kepada mereka.” Jea langsung undur diri keluar sembari mengabaikan tatapan sang detektif kepadanya. “Kau ganti parfum?” tanyanya pada Jea yang tidak menggubris sang detektif. “Padahal aku lebih suka wangi parfum yang kemarin,” sambungnya sambil tertawa dengan kesan yang tidak dapat Jea artikan. Karena tidak mendapat tanggapan dari polisi cantik tersebut, Detektif Joker akhirnya menatap sang atasan yang tengah tegang karena akan menyambut FBI. Tidak lama kemudian, dua utusan FBI datang ke ruangan mereka. Nicholas menatap mereka dengan tatapan tajam. Kedua agen tersebut mengenalkan diri. “Travis Wine, dan ini rekan saya Bill Dallas.” Travis memperkenalkan diri kepada atasan kepolisian dan juga Detektif Joker. “Martin King, dan ini Detektif Joker,” katanya memperkenalkan diri. “Silakan duduk.” “Halo Detektif Joker atau Nic….” Travis sengaja tidak meneruskan ucapannya karena dia sengaja ingin menggertak Nicholas bahwa ia tahu nama aslinya. “Senang akhirnya bisa berjumpa dengan Anda.” Nicholas Song tentu saja paham dari gertakan tersebut. Dia detektif, menilai maksud ucapan Travis barusan adalah hal yang sangat mudah baginya. Dia sebenarnya tidak terlalu suka FBI, dalam penyelidikan kepolisian mereka sering kali mengacau interogasinya dan suka mengambil alih tugasnya. “Sialan seperti kalian tidak perlu repot-repot datang ke kandang babi sialan ini. Aku tertarik untuk menghancurkan tempat ini sekarang juga dan kalian mati.” Bill serta Travis saling pandang saat itu juga. Pikiran mereka seakan menyambung satu sama lain. Benar-benar persis rekan mereka, Theo van Kuiken. Pantas saja Arnold sangat tertarik kepadanya untuk bergabung. Dia akan punya dua bocah pembangkang yang berotak cerdas. “Kami lebih suka ke kandang babi sialan ini untuk bertamasya,” jawab Bill dengan senyum lebar. Ia sudah sering berlatih untuk menjawab ucapan pedas Theo. “Sayang sekali aku tidak membawakan bekal berisi makanan paling nikmat di dunia untuk kalian.” Travis menatap Martin King sebentar sebelum ia menyerahkan dokumen penting yang ia bawa. Martin menerimanya lalu membuka dokumen tersebut. “Itu merupakan kontrak perjanjian yang harus Anda setujui bahwa kami meminjam Detektif Joker untuk keperluan penting,” kata Travis kepada Martin. “Aku tidak berminat membantu FBI,” ucapnya tanpa rasa bersalah. “Kepala Kepolisian Las Vegas dan Kepala Divisi FBI Las Vegas sudah setuju mengenai hal ini. Tidak ada pilihan untuk menolak.” Arnold selalu seperti itu. Ia tidak akan membuat pilihan untuk mangsanya bisa menolak. Theo salah satunya dan sekarang Nicholas. Dia benar-benar menginginkan mereka sehingga melakukan segala cara. Harus Travis akui bahwa cara Arnold sedikit kotor, tetapi hasil yang mereka dapat juga seimbang. “Ternyata kalian lebih licik dari dugaanku,” ucapnya dengan senyum miring. ♚♛♜♝♞ New York City, Markas FBI, 18 Februari 2018 Hari minggu yang dingin tersebut membuat Theo beberapa kali menguap. Ia belum tidur dari semalam setelah pulang dari memata-matai Dexter Wu dan rekan-rekannya. Zoey juga ada di sana. Wanita itu tertidur satu jam yang lalu. Ia tertidur di sofa kecil dengan selembar selimut. Riasan di wajahnya bahkan belum terhapus sempurna. Di dalam ruangan tersebut ada Fabio Fernandez, Travis Wine, Bill Dalas, dan Arnold Lewis. Mereka bersama-sama mencari data penting serta menganalisis obrolan Dexter Wu dan rekan-rekannya tadi malam. Mereka lembur di hari minggu. Hal tersebut sudah biasa mereka hadapi bila mendapat informasi besar. “Kau terlihat lelah luar biasa. Tidurlah sebentar,” kata Travis yang kasihan melihat Theo terus-terusan menguap. “Inginku seperti itu, tetapi aku harus pulang. Kucing dan anjingku belum diberi makan. Makanan mereka habis semalam. Aku harus membelikan mereka makanan dan pulang,” keluhnya sambil menutup mulut yang barusan menguap. “Kau membawa mobil?” Theo mengangguk. “Jangan menyetir. Sangat berbahaya. Tidurlah sebentar setelah itu kau bisa pulang dan memberi mereka makan.” Theo yang mengantuk akhirnya pasrah. Ia mengambil koran lalu membentangnya di lantai. Theo kemudian melipat jas yang ia pakai semalam menjadi bantal. Travis yang melihat tingkah Theo mau tidak mau merasa kasihan melihatnya yang tidur di lantai beralas koran. Dia pastilah lelah luar biasa dan tidak ada yang merawatnya. Travis menganggap Theo seperti saudaranya sendiri. Ia kemudian permisi keluar untuk mencari kasur lipat yang kemungkinan ada di gudang. Arnold, Bill, dan Fabio yang tadi sibuk dengan laptop mereka baru sadar saat Travis membawa gulungan kasur lipat masuk ke dalam ruangan mereka. “Dia terlihat seperti gelandangan,” komentar Bill saat melihat Theo. Travis membentangkan kasur tersebut di samping Theo kemudian ia membangunkan Theo yang sudah tertidur nyenyak. Theo yang setengah sadar akhirnya pindah ke kasur kemudian melanjutkan tidurnya. Di antara mereka semua memang Theo dan Zoey yang paling lelah. Pasalnya acara tersebut baru selesai pukul dua belas malam, Zoey bertugas untuk mengambil alat penyadap di punggung istri Mr. Paul dan Theo mengambil alat penyadap di bawah meja. Setelah menyelesaikan tugas mereka, keduanya langsung ke kantor FBI. Di sana sudah menunggu rekan-rekannya. Saat mereka tiba, Fabio tengah tertidur dengan laptop menyala. Bill sedang bermain di laptopnya. Arnold dalam perjalanan ke markas begitu pula dengan Travis. Mereka semua sempat tidur, sementara Theo dan Zoey tidak. “Aku sudah berhasil meretas akun bank Mr. Paul yang digunakan untuk pengiriman dana,” kata Fabio sambil menyeruput teh hangat yang barusan selesai ia buat. Layar komputernya menampilkan deretan tabel dan angka yang sangat banyak. “Ini tugasmu selanjutnya, Bill,” kata Fabio sambil mengutak-atik komputernya. “Ya, setelah aku sarapan akan aku kerjakan.” Bill bertugas membuat sarapan pagi itu. Mereka malas keluar di pagi minggu yang dingin itu, jadi mereka memutuskan untuk sarapan dengan roti yang semalam dibeli oleh Arnold dan juga beberapa bungkus mie instan. “Coba kita lihat ke mana saja dia menggunakan uangnya,” kata Arnold yang baru selesai dari toilet. “Orang sepertinya sudah pasti punya banyak jaringan.” Arnold mengambil alih komputer milik Fabio. Ia melihat-lihatnya beberapa saat dan membacanya secara teliti. Ada beberapa nama akun bank yang sama tujuannya seperti Dexter. Itu poin penting yang akan mereka gunakan sebagai bukti kuat. Arnold meskipun seorang atasan di tempat mereka, tetapi dia tidak pernah sungkan ikut bekerja lembur bersama anak buahnya. Banyak atasan-atasan di bidang lain yang sering melimpahkan semua pekerjaan kepada bawahannya, bagusnya Arnold Lewis tidak seperti mereka. “Kalian pernah mendengar nama perusahaan Aeonian?” tanya Arnold sambil menatap anak buahnya satu persatu. Ketiganya berpikir sesaat kemudian menggeleng. “Memangnya perusahaan apa itu?” tanya Travis. “Entahlan, dia sering sekali mengirim uang ke perusahaan ini. Bill, tugasmu untuk menyelidiki ini.” Arnold bangkit dari tempat duduk Fabio. Ia melihat Theo dan Zoey yang masih tertidur lelap. “Aku akan pulang sebentar untuk mandi dan mengambil catatanku yang tertinggal. Setelah makan siang aku akan kembali lagi. Makan siang untuk kalian silakan pesan apa pun.” “Aku ingin makan daging panggang dan kue manis. Pikiranku akan membaik setelah makan itu!” kata Fabio penuh semangat. “Kau boleh makan apa pun untuk siang nanti, sekarang kita sarapan lebih dulu,” ajak Travis sambil meminum kopinya secara perlahan. Mereka tidak tega membangunkan Theo dan Zoey, akhirnya mereka menyisakan sarapan untuk keduanya. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD