Four

1607 Words
New York City, Brooklyn, 4 Juli 2014 Di bulan Juli, di tengah musim panas dan di hari libur nasional Amerika yang tengah merayakan kemerdekaannya, Theo van Kuiken berkutat dengan kotak-kotak pizza yang harus ia antarkan ke rumah-rumah penduduk yang berpesta. Ada dua rumah yang harus ia antarkan pesanannya dan saat ini Theo tengah menenteng tiga buah kotak pizza di tangan kanan dan dua di tangan kiri. Ia mengikatnya di belakang skuter lalu mulai melihat alamat pemesan. Musim panas kali ini sedikit lebih terik dari tahun lalu, jalanan ramai karena musim liburan. Banyak turis asing di bahu jalan yang lalu lalang. Bendera-bendera Amerika berkibar di sepanjang jalan diselingi gedung bertingkat berwarna bata kuno. Sudah lima tahun ia merantau di negara orang. Di tengah pengasingan yang kadang membuatnya ingin menyerah. Hidup sebatang kara tanpa keluarga dan tanpa materi membuat Theo harus banting tulang untuk bekerja. Setelah tamat sekolah menengah atas, Theo memutuskan merantau ke negeri Paman Sam dengan modal nekat. Berbekal tabungan yang sudah ia kumpulkan dari beberapa tahun yang lalu dan juga ilmu sekolah yang ia dapat dari sekolah kecil di pelosok desa. Ini tempat impiannya, tempat di mana ia ingin meraih mimpi dan cita-citanya. Awalnya Theo hanya melihat patung Liberti di dalam majalah usang di perpustakaan sekolahnya dulu, tidak ada minat baginya kala itu, tetapi semua berubah ketika ia menonton film Spiderman seri pertama. Kota New York City penuh dengan gedung tinggi yang membuatnya jatuh cinta. Semenjak saat itu, ia bertekat akan hidup di sana. “Permisi,” ucap Theo sambil mengetuk pintu apartemen kecil di lantai dua gedung bertingkat lima. “Apakah ada orang. Saya mengantarkan pizza pesanan Anda,” lanjutnya sambil menekan bel. Baru saja Theo akan menekan bel untuk ketiga kalinya, pintu terbuka kecil. Seorang pria umur pertengahan dengan perawakan gemuk dan cambang yang berantakan. Ia menatap Theo sejenak dan terlihat tengah mengendalikan dirinya susah payah. “Tolong!” dari dalam Theo mendengar suara wanita meminta tolong. “Maaf, itu istriku. Dia tengah menyiapkan makan siang untuk pesta kami. Terima kasih pizzanya dan ini tip untukmu,” tanpa menunggu jawaban Theo, pria itu langsung menutup pintu dengan cepat. Terdengar suara kunci yang dikaitkan dengan kasar. Dia berusaha tidak ingin peduli, tetapi pemikir sepertinya tidak bisa melepas dugaan-dugaan buruk tentang situasi barusan. Diagram otaknya membuat kemungkinan apa saja yang bisa terjadi di dalam apartemen tersebut. Baiklah, ini hanya analisis dari amatiran sepertinya. Memang benar permintaan tolong dari wanita di dalam sana seperti yang pria itu katakan, tapi ada kejanggalan yang Theo rasakan. Mulai dari panggilannya yang aneh lalu ekspresi pria itu kala melihat dirinya. Wajarkah seseorang hanya mengucapkan kata tolong saja pada orang yang dikenalnya? Minimal jika itu suaminya, wanita itu bisa menggunakan kalimat yang sedikit lebih panjang seperti: ‘tolong aku, Sayang’ atau bisa juga ‘tolong aku sesegera mungkin’ ya anggaplah kalimat seperti itu yang harus ia ucapkan. Terutama kata tolong ini ia ucapkan saat menyiapkan makan siang. Sesulit apakah bantuan yang ia perlukan pada suaminya? Aneh, Theo tahu dia memang berlebihan soal ini. Namun, otaknya tidak berhenti berpikir kemungkinan lain. Atau mungkin bisa jadi istrinya terjatuh lalu meminta tolong, tapi kenapa suaminya tidak sesegera mungkin menolongnya pada saat itu? Atau keduanya tengah bertengkar dan mulai tidak peduli satu sama lain? Lalu, raut wajah pria itu sesaat melihat Theo juga mencurigakan, seakan ia baru melakukan sesuatu dan berusaha menenangkan diri. “Mungkin aku terlalu banyak membaca Sherlock Holmes,” guraunya menuruni tangga sambil membawa sisa pizza untuk ia antar ke rumah berikutnya. Theo memang kuliah sambil bekerja sedari dulu. Sekarang ia sudah tamat dan masih berstatus pegawai magang di perusahaan media masa, dia sengaja memanfaatkan liburan musim panas ini untuk mencari uang tambahan. Ia ingin pulang ke Indonesia, ingin mengunjungi kampung halamannya di Palembang. Ingin melihat kuburan kedua orangtuanya dan juga neneknya. Sudah lima tahun ia memendam keinginan itu, tetapi uang belum terkumpul karena ia membagi uangnya untuk banyak hal. “Theo, kau sudah pulang?” Güliz muncul tiba-tiba dari unit apartemen di sebelah Theo. “Hm, kau tidak ada kelas hari ini?” tanya Theo sembari membuka kunci apartemennya. “Ini hari libur nasional. Kau sudah makan malam?” “Belum, tapi aku punya mie instan yang bisa aku masak.” Güliz menghela napasnya perlahan. Theo selalu memakan mie instan jika ia tidak punya makanan. “Makanlah bersamaku. Aku membuat firinda tavuk untuk makan malam,” ajaknya sambil membuka lebar pintu apartemen. “Tunggu aku lima menit lagi, aku perlu mandi sebentar,” ucapnya sambil masuk ke dalam unit apartemen. Theo melemparkan tas kecilnya lalu membuka pakaian dan mengambil handuk. Ia menguyur diri sembari menenangkan pikirannya yang berkecamuk. Sesuai perkataan Theo, lima menit kemudian dia sudah berada di unit apartemen milik Güliz. Theo mencium aroma lezat rempah dari masakan Turki yang dimasak oleh Güliz. Gadis itu menyajikan ayam panggang yang dimasak dengan kentang dan tomat. Ia juga menyajikan nasi khas Turki. Gadis itu tidak banyak memasak makanan sebagai lauknya. Makan malam mereka ditemani dengan pemandangan malam dari luar yang indah. Televisi menyala sebagai penengah di antara diamnya mereka berdua. Telah ditemukan mayat seorang wanita di dalam apartemennya di Upper West Side. Wanita ini bernama Rebecca Rosenary berumur 38 tahun. Kondisi mayat saat ditemukan dalam posisi terikat dan kehabisan napas karena dibekap dengan kain tebal. Diketahui korban selama ini tinggal dengan kekasihnya yang bernama Lucas Martin, menurut laporan tetangga keduanya sempat bertengkar beberapa hari belakangan ini. Diduga pelaku pembunuhan adalah sang kekasih yang saat ini belum diketahui keberadaannya dan juga motif pembunuhan atas dasar apa. “Ya aku sering mendengar keduanya bertengkar belakangan ini. Aku tidak tahu masalah apa yang terjadi. Aku tidak sengaja mendengar teriakan wanita itu meminta tolong berkali-kali, aku curiga kemudian kulihat kekasihnya terburu-buru keluar dari rumah lalu aku menelpon 911 untuk meminta bantuan. Ternyata benar ada penemuan mayat ini di dalam apartemen.” Theo menyimak berita yang tampil di televisi di depannya dengan wajah kaku. Ia melihat kameramen menyorot apartemen yang sangat ia kenali. Mustahil ia lupa apartemen itu karena ia memiliki ingatan sangat kuat. Theo bahkan mengingat detail berapa anak tangga yang ia naiki menuju apartemen tersebut. Benar saja kecurigaannya tadi siang soal gerak-gerik lelaki penerima pizza yang membuat Theo harus lebih mempercayai instingnya sendiri. Orantuanya adalah korban pembunuhan, melihat berita orang dibunuh selalu membuat Theo merasa mual dan rasa marah yang teramat sangat. Theo menyudahi makannya karena perutnya sudah tidak menerima lagi makanan yang ia suap. Güliz menatap Theo dengan heran dan ia melihat berita di televisi. “Kenapa?” tanyanya heran. “Aku kenyang. Mungkin memakan kentang dan nasi membuatku cepat kenyang,” jawab Theo hati-hati. Ia tidak ingin menyinggung perasaan Güliz. “Tapi kau baru makan beberapa sendok. Apakah makanannya tidak enak?” ia melihat masakannya dengan kecewa. “Tidak Güliz, masakanmu enak. Aku memang kenyang. Kurasa karena sebelumnya aku sempat memakan dua potong pizza sebelum pulang,” dusta Theo untuk menghibur Güliz. Ia meminum minumannya untuk mencegah mual yang semakin menjadi. “Chef Andrei membuat resep baru dan kami dipersilakan mencicipi lalu aku tidak tahan karena begitu lezat sehingga menghabiskan dua potong besar.” Perlahan Güliz mulai tersenyum serta paham. “Kau membuatku khawatir. Kukira kau tidak suka makan malam kali ini.” Theo tersenyum sekilas. Ia melihat televisi yang sudah berganti berita soal perayaan kemerdekaan di berbagai wilayah Amerika dan juga berita mengenai olahraga. Güliz masih duduk di depannya, menghabiskan potongan ayam yang ada di piring miliknya. Gadis itu makan dalam diam sembari melirik Theo yang menonton televisi. Theo bukan tipikal orang yang suka bicara banyak, dia lebih senang menghabiskan waktunya untuk mengamati. Sudah setahun setengah Güliz mengenalnya. Saat itu ia mengenal Theo dengan cara yang buruk. Bagaimana tidak buruk, Theo mengabaikannya ketika ia meminta tolong untuk mematikan alarm yang mengganggunya di sebelah unit apartemen. Keesokan harinya, Theo membuat Güliz kesal tanpa disengaja, pria itu melemparkan bola salju yang harusnya tertuju pada anjing yang ia ajak main, tapi nahas bola salju itu mengenai kepalanya. Selanjutnya Güliz menganggap Theo adalah orang teledor yang hidupnya tidak punya aturan. Ia tidak ingin mengenal tetangga anehnya itu hingga suatu hari Güliz melihat Theo berbagi makanan dengan kucing-kucing jalanan di sekitar apartemen mereka. Saat itu ia melihat Theo dari sisi yang berbeda. Ia mempunyai rasa kemanusiaan yang luar biasa. “Tiga hari lagi aku akan pulang ke Turki. Kelas musim panasku sudah berakhir dua hari lagi. Ayahku selalu menelpon agar aku cepat-cepat pulang. Hah, dia lebih cerewet dari ibuku,” cerita Güliz sambil memasukkan sisa makanannya ke lemari es. “Sendirian atau bersama teman-teman Turkimu yang lain?” “Aku pulang bersama Aleyna, Afra dan Faruk. Kau berencana menghabiskan musim panasmu di mana?” “Kurasa di rumah saja sembari bekerja.” Theo melihat jam di dinding sudah pukul setengah tujuh malam. Ia memutuskan untuk kembali ke unit apartemennya. “Aku harus pulang ke kamarku. Aku harus mencuci pakaian lalu istirahat,” ungkapnya sambil berdiri dari kursi. Güliz menatap Theo lalu menyilangkan tangannya di d**a kemudian ia bersandar pada lemari es. Güliz tidak pernah bisa memahami Theo van Kuiken meskipun ia sudah mengenalnya setahun lebih. Entah memang perbedaan kultur atau kepribadian Theo yang membuatnya selalu membatasi diri. Pria itu tidak suka banyak bicara. Selalu seperti ini ketika Güliz mengajaknya makan malam, dia makan kemudian langsung pulang. Seolah Theo memang menutup diri untuk berteman dekat dengannya. “Kau perlu liburan, Brian dan aku khawatir kau kesepian musim panas ini,” ungkapnya. “Kau tidak perlu khawatir soal itu. Kurasa aku akan menemukan sesuatu yang menarik nanti,” ucapnya sembari berjalan menuju pintu keluar. “Terima kasih atas makan malamnya. Makananmu lezat dan selamat tidur.” Theo melambaikan tangan lalu menutup pintu apartemen Güliz. Güliz mengangkat tangannya tanda menyerah. “Dia sudah besar, tidak seharusnya aku khawatir berlebihan.” TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD