Xenan menyandarkan kepalanya pada Zara, ia sungguh tak kuat lagi menahan rasa sakit yang ia rasakan. Melihat itu, Zara pun mengelus pelan rambut Xenan seraya berucap lirih.
"Kita pasti selamat."
"Hmm...." Gumamnya seraya di angguki oleh Xenan.
Setelah menunggu begitu lama di tempat yang sangat tak nyaman itu, akhirnya Teo kembali membuka suara. "Zar, udah aman, lo bisa keluar sekarang."
"Yakin lo?"
"Iya, dari situ, lo cari penginapan terlebih dahulu."
"Barang gue?"
"Ck, barang lo gak ada yang bisa di selamatin! Kalo lo balik lagi ke sana, gue yakin lo bakalan kena lagi."
"Hm... yaudah lah, toh ga ada yang terlalu penting."
"Handphone sama dompet lo?"
"Dompet baru isinya cuma cash, handphone juga sengaja gue beli buat misi."
"Paspor lo?"
"Gak apa lah, tinggal buat lagi kan gampang."
"Yaudah, take care Zar."
Dengan cepat ia bergegas membantu Xenan yang semakin lemah. Tubuhnya terasa panas membuat Zara sedikit khawatir akan keadaannya.
"Gio, ayo kita keluar dari sini."
Zara pun membawa Xenan dengan perlahan, mereka menyusuri jalan sesuai arahan Teo. Perjalanan yang terasa lambat hingga akhirnya mereka sampai di sebuah jalan ramai. Zara dengan cepat menghentikan salah satu taksi.
Mereka pun akhirnya bisa bernafas lega, Zara memberikan uang yang sengaja ia sempilkan pada saku celananya. Dengan banyak meminta maaf ia memberikan ongkos lebih pada sang supir karena mobilnya menjadi kotor.
"Untung gue masih simpen uang cash nya sebagian di saku celana. Kalo engga, mati sudah." Zara pun mengalihkan pandangannya ke arah samping dimana Xenan kini tengah tertidur di pundaknya.
Black card yang sengaja ia simpan di cela sepatunya membuat siapapun tak akan menyangka dengan pemikiran gadis bernama Zara itu. Ini di luar dugaan, bagaimana ia berfikir se-kritis itu?
Zara membayar satu sebuah kamar hotel untuk mereka berdua. Ya, berdua lebih aman di saat kondisinya seperti ini. Zara membayarnya dengan kartu yang ia miliki, tak lupa juga dengan kunci yang ia butuhkan.
Hingga akhirnya, mereka telah sampai di sebuah kamar besar dengan dua tempat tidur. Ia membaringkan Xenan kemudian bergegas untuk mandi.
Tubuhnya terasa segar kala mendapatkan sentuhan dari gemercik nya air yang turun membasahi setiap lekuk tubuh nya. Wangi dari sabun yang tercium mengeluarkan bau yang khas.
"Kenapa dia bisa disini?"
"Kenapa dia bisa di sekap dengan mudahnya?"
Dan masih banyak pertanyaan yang muncul dalam otak cantiknya itu. Namun, ia tak akan menyuarakan apa yang sebenarnya ingin ia ketahui.
"Ck, gue harus beli baju dan ponsel." Zara pun bergegas menyelesaikan acara mandinya. Ia keluar dengan bathrobe yang telah tersedia. Tangannya menekan tombol layanan service agar mereka bisa membantunya.
"Tolong berikan saya satu pelayan wanita dan satu laki-laki."
"Baik miss." Tak menunggu berapa lama, suara ketukan pada pintu kamar nya membuat Zara akhirnya mendekat dan membukakan pintu tersebut. Di sana, telah ada satu pelayan perempuan dan satu pelayan laki-laki sesuai dengan apa yang ia perintahkan.
Zara meminta tolong pada si pelayan perempuan untuk membelikan ia baju santai untuk di pakainya, begitu pun dengan Xenan. Sedangkan si pelayan laki-laki, ia suruh untuk membelikan ia ponsel dan pergi ke apotek untuk membeli obat.
Keduanya mengangguk setuju. Tanpa takut mereka akan kabur atau mangkir dari tugasnya, Zara dengan percaya memberikan salah satu black card nya pada mereka.
Di kediaman Satria, kini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga. Kedua orang tuanya yang terlihat begitu mesra membuat Arkan misuh-misuh sendiri karena merasa envy akan keromantisan kedua orang tuanya. Tangannya mengetikkan sebuah nama untuk ia panggil. Namun jawaban yang begitu mengecewakan membuat Arkan semakin khawatir di buatnya.
"Dad,bagaimana dengan Zar— kakak?"
"Kamu tenang saja, kakakmu itu sudah handal."
"Tapi — handphone nya tak bisa di hubungi."
"Hmm... mungkin karena misinya?"
Arkan mengetukkan ponselnya sesekali mengecek kembali layar yang kini memperlihatkan potret ia dan Zara. Kakaknya itu sungguh membuat ia rindu.
"Lo dimana sih Zar? Kenapa gak hubungi gue?!"
Sebuah dering ponsel membuat Arkan terkaget di buatnya. Namun sayang seribu sayang, bukan ponsel miliknya tapi milik sang daddy. "Kenapa deringnya harus sama sih?" Batinnya merasa tak terima.
Arkan menatap perubahan pada garis wajah sang daddy yang semula penuh dengan senyuman, kini tengah menyatukan kedua alisnya dengan rahang yang mengeras. Tangannya mengepal kuat dengan mata yang semakin menajam.
"Bereskan mereka!"
Titahnya dengan tegas kemudian melemparkan ponsel yang sedari tadi ia genggam dengan keras hingga membuat mereka berceceran.
"Ada apa?"
"Salah satu misi kita gagal, aku harus cepat-cepat luncurkan Zara buat membantu mereka."
Arkan tak terima kala Satria mengucapkan itu, bahkan Zara belum memberikan kabar padanya. Bagaimana bisa sang daddy dengan tega mengirim Zara bertugas lagi.
"D– dad."
Satria menatap Arkan dengan tajam. Hal itu membuat Arkan sedikit gemetar.
"Kakak kan belum menyelesaikan misinya yang di Rusia. Bagaimana caranya dia di kirim untuk misi lain?"
"Kakakmu sudah selesaikan misi di sana, maka dari itu daddy kirim ia ke negara lain."
"Ta–tapi, dia belum menghubungiku." Gumamnya di akhir kalimat namun masih terdengar oleh Satria.
"Kakakmu sempat di culik dan meninggalkan semua barang yang ia bawa sebelumnya."
"Apa?!! Diculik?!"
"Tenang, mereka selamat."
"Mereka?"
"Ya, target yang harus kakakmu selamatkan."
Arkan sedikit bernafas lega kala mendengarnya. Ia rindu... Rindu Zara.
"Adek ke kamar dulu dad, mom."
"Okey sayang, jangan tidur kemalaman ya, besok masih harus sekolah."
"Okey mom." Arkan pun bangkit dari duduknya kemudian mengecup pipi Athena dengan sayang. Ia merasakan aura panas dari samping kanannya yang ternyata daddy nya sendiri lah yang tengah menatap ia dengan tajam.
Arkan memperlihatkan tersenyum seraya menggaruk pipinya yang tak gatal. "Hehe, aku kan putra mommy."
"Tapi mommy mu istri daddy."
Okey, Arkan tak ingin berdebat semakin panjang dengan suami posesif mommy nya ini. Karena bisa di pastikan Arkan lah yang kalah dengan telak.
______
Zara telah rapi dengan bajunya, ia bahkan sudah mendapatkan pesanan yang ia perlukan. Mulai dari baju, obat dan juga ponsel. Kenapa Zara percaya mereka jujur? Karena Teo lah yang ia keduanya. Tak lupa juga ia memesan beberapa menu makanan untuk Zara dan Xenan.
"Ini buat kalian." Ucapnya seraya memberikan beberapa lembar uang dollar yang ia selipkan di saku celananya.
"Terima kasih nyonya... terima kasih."
Setelah mereka pergi, Zara mendapati pelayan hotelnya membawa makanan yang ia pesan. Ia menerimanya dan tak lupa dengan tips untuk si pelayan tersebut.
Zara pun akhirnya membangunkan makhluk tampan yang kini masih terbaring lemas di kasurnya.
"Gio... hei, Gio bangun..." tangannya menepuk pipi Xenan dengan lembut.
"Gio bangun, kamu harus ganti baju dulu."
"Hmm..." Tanpa banyak kata lagi, Xenan bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak lama kemudian, ia keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.
"Ini baju kamu."
"Thanks Zara."
"Hm... cepet ya, setelah itu kita makan, kamu pasti laper."
Xenan pun menganggukkan kepalanya kemudian kembali menuju kamar mandi untuk memakai pakaian yang di siapkan Zara.
Hingga, suara ketukan pada pintu kamar nya membuat perhatian Zara teralihkan. Siapa?
~~~~~~