-LP19-

1060 Words
Dua minggu lamanya Zara melaksanakan misi. Dua minggu pula ia tak mengabari Arkan. Namun apa boleh buat, semuanya ia lakukan demi kebaikan adiknya juga. Teo baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya. Satu tangannya lagi ia gunakan untuk mengeringkan rambut miliknya yang masih basah sehabis keramas. "Kenapa Zar?" "Kita harus selesaikan misi hari ini juga." "Iya, gue juga udah siapin alat-alatnya." "Oh ya? Alat apa?" Tanya Zara tanpa menghiraukan tubuh seksi milik Teo. Karena kebersamaan mereka memang selalu seperti ini saat menjalankan misi. Tinggal di kamar yang sama dan tidur di kasur yang sama. Itu demi keselamatan mereka berdua. Dan mereka pun tak ada masalah sama sekali. Teo mendekat ke arah tas yang ia simpan di nakas tempat tidur. Ia pun membuka tas nya dan terlihatlah barang yang ia buatkan untuk Zara. Sebuah cincin dengan garis biru yang melingkar setiap sisinya. "Really??? ini senjata baru buat gue?" "Hmm... selama lo tidur, gue ngerjain ini buat lo." "Huahh... T, lo hebat banget, gimana cara pakai nya nih?" "Gini, sebelum lo nyerang, lo bisa pencet ini biar tangan lo ada aliran listriknya. Gue yakin orang yang kena ini bakalan langsung pingsan." "Wah... Bagus juga nih. Thanks T." "Ga ada kiss gitu, buat gue?" "Nihhh kiss." Ucap Zara seraya mengangkat sandal hotel yang ia gunakan. "Ck... gak dapat ciuman dari Zara pipi ini terasa hampa." Keluhnya membuat Zara terkikik geli. "Lo kayak yang dapet ciuman gue setiap hari aja." "Itu lebih seneng gue dapatnya." "Mimpi! Cepet pake baju lo, kita mulai strategi." Tanpa menjawab, Teo mengambil baju serta celana yang akan ia gunakan. Sebuah kaos hitam dengan celana ripped jeans. Apalagi dengan anting hitam yang terpasang di telinga sebelah kirinya membuat Teo terlihat nakal. "Lo gak mandi Zar?" "Ini mau mandi." Dengan santai nya ia berlenggang menuju kamar mandi meninggalkan Teo dengan sejuta kekesalannya. "Terus dia nyuruh gue buru-buru buat apa?" Geramnya tertahan. "Pesen makan!" Teriak Zara dari dalam kamar mandi yang akhirnya membuat Teo mendesah kalah. Ia pun mulai memesan makanan agar di kirim ke kamar mereka. Tak menunggu lama, beberapa menu kesukaan Zara dan Teo kini telah ada di depan mata. Namun gadis itu masih di dalam kamar mandi. "Zar! Buruan!" "T, gue lupa bawa handuk." Teriak Zara dari dalam sana. Teo langsung menatap sekitar dan ternyata handuk yang di inginkan Zara ada di tempat tidur mereka. Tok tok tok, ketukan pintu kamar mandi membuat Zara mengeluarkan tangannya. "Dasar pikun." "Bukan pikun, tapi ketinggalan." Dughhh, bisa Teo pastikan bahwa gadis itu menendang pintu kamar mandi yang ada di hadapannya saat ini. Teo pun menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Bagaimana gadis sebar-bar Zara banyak yang menyukainya. Zara pun keluar dengan handuk melilit tubuhnya. "Woww... sexy." Goda Teo yang langsung mendapatkan lemparan pas bunga dari Zara. Untung saja ia sempat menghindar, kalau gak, bisa gawat. "Woyyy! Pas bunga asli itu, gila!" "Biarin!" "Kan, pecah Zar. Mesti ganti tuh pas bunga." "Ganti lah pake uang lo." "Selalu!" Dengus Teo kemudian duduk menghadap meja makan yang telah tersedia berbagai macam makanan. Zara pun menghampiri Teo dengan baju yang sama. Kaos hitam dengan celana ripped jeans yang pasti cocok di tubuh Zara. Gadis itu mendekat kemudian mengalungkan tangannya pada leher Teo. Bibirnya mendekat bukan untuk mencium melainkan menggigit cuping telinga Teo membuat sang empunya menjerit kesakitan. "ZARA!!!!" "Hehehe... peace!" Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Zara duduk di hadapan Teo dan langsung memakan makanan yang tersedia. Kepalanya mengangguk kecil kala makanan yang ia rasakan pas di mulutnya. Kadang, ia terdiam dan memiringkan kepalanya saat merasakan sesuatu yang beda dari rasa makanannya. "Oh iya Zar, kita harus mulai jam 9 pas." "Kenapa?" "Biar gak telat." "Kenapa gak sekarang aja?" "Gak! Gue harus meretas dulu CCTV mereka dan sistem komputernya." "Hmm... Kita berangkat sekarang, lo bisa kerjain itu di jalan. Gue yang bawa mobil. Ayo!" "Zar! Gue belum selesai makan." "Bawa! Kita check out sekarang. Gue pengen cepet selesai." "Biar bisa cepet pulang?" "Tuh tau." Benar saja, Teo membawa piring berisi makanan yang masih ia makan. Saat di lift, Teo berjongkok dan kembali memakan makanannya. Zara yang melihatnya pun hanya menggelengkan kepala tak percaya akan kelakuan sahabatnya ini. ~~~~~~ Earphone telah terpasang. Zara kini tengah memantau situasi dan Teo yang sedang melacak sistem keamanan rumah mewah itu. Beberapa kali, Zara mengecek keadaan sekitar yang terlihat sepi. "Ada yang datang." Ucap Zara dan langsung membuat keduanya tertunduk untuk bersembunyi. "Okey, semua udah siap." "Sip, gue akan masuk." Zara membuka pintu mobilnya dan langsung berlari ke arah samping rumah itu. Ia menatap sekeliling berharap bisa menemukan pintu untuk memudahkannya masuk ke dalam. "Pintu, T?" "Lo belok kanan ada pintu, tapi ada dua orang penjaga di sana." "Oke." Zara mengaktifkan cincin pemberian Teo kemudian mulai mendekat dan menghajar kedua penjaga itu. Bughh... Bughhh.... Dengan sekali pukulan pun keduanya terjatuh karena pingsan. "Masuk Zar." Zara masuk dengan perlahan. Misi kali ini adalah mendapatkan dalang dari penculikan Xenan. Bisa di pastikan banyak yang menjadi korban dalam hal ini. Perlahan namun pasti, Zara menemukan tempat yang di tunjukkan oleh Teo. "Kenapa mudah sekali? Gue harus makin hati-hati." Batinnya. "Zar, kita terperangkap!" "T!!!" Geramnya tak habis pikir akan tingkah Teo. "Sorry, Zar! Gue akan ambil file mereka terlebih dahulu. Lo harus bertahan." Tuuuttttt, sambungan mereka terputus begitu saja membuat Zara menghela nafas berat dan bersiap melawan sesuatu di balik pintu. Duaghhhh, tendang Zara membuat pintu terbuka lebar dan menampakkan sesuatu di dalamnya. "Welcome to my home...." Ucap seseorang itu seraya merentangkan kedua tangannya. Banyak pria berbaju hitam yang siap melawan Zara. Dan pastinya mereka telah berbekal kan senjata api mau pun senjata tajam untuk melakukan p*********n. "Kamu terlalu ikut campur sweetie." "Kamu cantik, kenapa tidak jadi bonekaku saja disini?" Lanjutnya yang semakin membuat Zara jengkel. "....." "Matamu juga sangat cantik, bolehkah aku memintanya untuk ku jual? Hahahaha" Tanpa banyak bicara, Zara maju dan hendak menyerang pria itu. Namun tak semudah dalam pikirnya. Para pria berbaju hitam itu kini menyerangnya secara bersamaan. Mereka melayangkan pukulan dan tendangan yang masih mampu di hindari oleh Zara. Beberapa dari mereka pun mulai mengeluarkan pisau dan senjata api yang telah mereka siapkan. Dirinya terkepung, tapi bukan berarti ia kalah. Salah satu dari mereka menarik pelatuknya hingga terdengar suara tembakan yang memekakkan telinga. Dengan cepat dan tepat, Zara menarik salah satu dari mereka untuk ia jadikan tamengnya. Dan itu berhasil. Orang yang ada di tangannya saat ini terluka akibat tembakan dari temannya. ~~~~~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD