PSIKOPAT

1951 Words
Tuan Muda Sultan mencium bau dua aroma dari sejumlah pohon kecil berduri dan genus yang berbaur di udara. Dia tahu wewangian aneh menyengat itu berasal dari sari mur berpadu minyak. Kedua kakinya berjalan tersuruk-suruk dengan kepala tertutup kain hitam hingga leher. Dalam pikiran Sultan, menimpa setumpuk tanya. Dia tidak tahu harus bagaimana menyikapi maksud dari tiga orang yang menyeret tubuhnya dengan kasar ke suatu tempat. Termasuk sepupunya sendiri bernama Roy. Wewangian semakin menyengat. Bau aroma parfum mata air sakral, mengusik indra penciuman Sultan. Tepat seperti dugaannya, wewangian itu berasal dari parfum minyak sari mur yang telah digunakan sepanjang sejarah untuk jenazah. "Wangi itu, seperti mayat," batinnya. Langkah Sultan terhenti saat beberapa tangan yang menariknya mulai melonggar. Kepalanya berkeringat dan pengap. Napas yang semula sesak, mulai membaik saat tangan Roy melepaskan kain beledu hitam yang semula menutup wajahnya. Kini dia perlahan bisa melihat semua dengan jelas. “Di mana ini?” ucapnya tegang. Sorotan tajam mendadak mengitari semua arah, menatap sebuah ruangan mewah berhiaskan barang antik berharga ratusan juta di setiap sudutnya. Suasana remang-remang, membuatnya terlihat tampak menyeramkan. Semua alat pemuas hasrat dengan berbagai macam bentuk siap untuk digunakan. Bahkan, gambar tidak lazim menghiasi semua tembok bercat putih itu membuat mata terbelalak saat memandangnya. Kedua mata bulat hitam milik Sultan tidak hentinya menatap kaku semua ruangan serba putih. Tepatnya kamar penyiksaan yang melibatkan warna terang pucat, biasanya digunakan penjara international dalam merubah psikologis otak manusia menjadi rusak mental. Ruangan itu menyerupai White Torture. Merupakan metode sadis menggunakan warna putih atau disebut kamar putih. Tempat kesukaan seseorang yang memiliki gangguan kepribadian atau lebih dikenal dengan sebutan, psikopat. Udaranya terasa sarat. Bokor-bokor berisi irisan buah zaitun menguatkan aroma angker dari penjuru ruangan. Dengan tegak, Roy melangkah seakan mempunyai kuasa penuh terhadap sosok di hadapannya yang masih bergeming. "Jangan lakukan ini kepadaku!" Suara pelan namun sedikit tegas tidak membuat Roy mengurungkan niatnya. Sultan semakin berkecamuk. Logikanya kembali mengingatkan bahwa ia memang pemuda tampan dan kaya raya. Pastinya dia memiliki banyak musuh. Satu hal yang paling mengejutkan adalah, sepupunya sendiri bernama Roy selama ini terlihat baik di depan, ternyata menyimpan dendam. Pemuda itu tidak lain seorang penjilat bermuka dua. “Diamlah sepupuku! Kau akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang dalam sekejap akan menghancurkanmu!” teriak Roy lantang. Kerah bagian belakang seragam sekolah Sultan membuatnya tercekik saat Roy menariknya dengan keras dibantu kedua temannya. Sultan terus meronta, membuat Roy kewalahan. “Lepaskan aku!” Tubuhnya memang lebih besar dari Roy. Apalagi teman yang ikut menahan lengan Tuan Muda itu terkena tendangan keras, membuat mereka tersungkur. “Buk!” Pukulan sebuah benda padat membuat Sultan melemah. Pandangannya tidak jelas, namun belum pingsan. Roy memukul kepala Sultan dengan asbak dari kayu yang spontan dia ambil di atas meja tidak jauh dari posisinya. Tubuh yang semula menguat, tumbang seketika. “Baguslah, akhirnya dia bisa diam. Kita akan membawanya.” Roy menyeret tubuh Sultan yang sudah tergeletak di lantai akibat pukulannya dengan sedikit kesadaran. Kedua temannya langsung mendekat untuk membantu menyeret tubuh yang ukurannya paling besar di antara mereka. Kini mereka benar-benar berada di tengah ruangan mengerikan itu. “Bangunlah!” pekikan Roy menyerang telinga Sultan. Dia berusaha mengangkat kepalanya yang terasa berat. Tepat ketika sorot matanya bertumbukan dengan sorot mata Roy, terdengarlah teriakan lantang. “Kau tidak akan aku maafkan!” Kedua netra mereka kini saling menatap tajam. Sepupu Sultan yang satu ini memang selalu saja berusaha menyembunyikan kecemburuannya. Fisiknya yang juga tampan, tinggi, bertubuh kekar, kaya raya, bahkan nyaris sempurna, masih belum bisa mengalahkan pesona Sultan yang ketampanannya tingkat dewa. “Aku akan membuatmu mengalami trauma tragis seumur hidupmu, sialan!” “Plak!” Pukulan keras kembali Roy layangkan di pipi kanan Sultan. Sedikit darah menetes dari lobang hidung lancip milik sang korban. Kini tubuhnya kembali tergeletak di lantai. “Bruk!” Teman Roy masih saja dengan kuat mencengkeram lengan Sultan. “Pegang dengan erat! Aku akan mencari cara untuk mengikatnya!” perintah Roy mendapat anggukan dari kedua temannya. Roy mengamati ruangan, mencari sesuatu yang sangat tepat untuk dia berikan kepada Sultan. Seketika kedua mata Roy membelalang saat melihat tiang gantungan dengan tinggi lebih sedikit dari manusia normal. Tiang itu mirip huruf  ‘L’ terbalik, bersambung ke sebuah tiang tegak lurus dan satu lagi balok horizontal yang dipasangi jerat tali. Tiang gantung yang sering kali digunakan dalam permainan Hangman itu, membuat bibir Roy semakin melebar, memperlihatkan senyuman sarkastik. “Ayo, kita bawa dia ke sana,” kata Roy sembari menunjuk alat menyeramkan itu. Kedua teman yang sebenarnya menegang, hanya diam menuruti apa kemauannya. Mereka kembali menyeret tubuh lemas tidak berdaya yang sudah dikuasai. Tiang gantungan tidak akan mengikat leher Sultan. Melainkan kedua tangan kekar dengan kulit putih mulus miliknya. Ikatan itu akan membuat kedua kakinya menggantung beberapa sentimeter dari lantai. “Kau terlihat sangat buruk, Tuan Muda,” gumam Roy tersenyum puas. “Angkat dia! Kita akan segera mengikatnya!” Wajah serius yang mulai dihiasi buliran keringat, tidak dipedulikan Roy. Kedua temannya mengangkat tubuh Sultan untuk berdiri, lalu menahannya. Roy menarik kursi yang kemudian dia naiki untuk mencapai kayu gantungan. “Kemarikan tangan itu!” Salah satu temannya mengarahkan tangan kanan Sultan yang sangat lemas. Roy segera menerimanya. Dia mengikat pergelangan tangan Sultan dengan ikatan silang satu persatu. Ikatan yang menyambungkan tangan dengan kayu gantungan, membuat Sultan tidak akan bisa membebaskan dirinya. Ada rasa puas dalam benak Roy. Dendamnya terbayar setelah melihat penderitaan sang sepupu. “Kau tahu, aku sangat puas melihatmu seperti ini, Tuan Muda sialan,” katanya terkekeh. Perlahan Sultan mulai membuka kedua matanya lebih lebar. Dia tercengang dengan dirinya sendiri seperti kera yang sedang menggantung di pohon. Seluruh urat, tulang yang menjulur di tubuhnya kaku bercampur ngilu. Sultan berusaha membuat kesadarannya penuh. “Aku tidak akan menyerah!” Sultan berpikir dengan sungguh-sungguh. Pertama-tama yang harus dia lakukan adalah menyelamatkan dirinya sendiri. Pergelangan kedua tangan terus dia gerakkan memutar untuk berusaha terbebas. Luka bercampur darah mulai terlihat akibat goresan ikatan, tidak dia hiraukan. Keinginannya lepas, itulah tujuannya. Roy masih berdiri tegak di hadapan Sultan. Kemudian muncul dalam benaknya untuk semakin mengencangkan tali tambang yang jelas-jelas sudah mengikat tangan Sultan dengan maksimal. Dia terus mengamati tali yang kini bercampur darah, untuk memastikan tangan itu akan setia di sana. “Percuma kau menggerakkan pergelangan itu. Tali itu terikat dengan baik. Kau tidak akan bisa lepas.” Roy mundur beberapa langkah, sebelum dia menepuk-nepuk telapak tangannya yang terasa sakit terkena goresan tali tambang berserabut kasar. “Roy, kenapa?” Pertanyaan yang Roy tunggu dari mulut Sultan akhirnya keluar. Dia kembali melangkah untuk lebih mendekat. Tangannya mencengkeram kuat leher Sultan. Roy mendekatkan wajahnya sangat dekat, melihat jelas raut muka Sultan yang kini kacau karena sakit dan ketakutan. Senyuman sinis Roy perlihatkan dengan jelas. Sultan semakin tajam menatapnya. "Maafkan, aku sangat mencintainya. Tapi kau merebutnya. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk memisahkan kalian.” Balasan sorotan tajam menusuk ke arah Sultan tidak lepas dari pandangan Roy. Dia mendekatkan bibirnya, untuk mengatakan sesuatu hal yang sangat penting di telinga Sultan. “Aku akan memiliki dia. Wanita itu sangat aku cintai.” Meski pesan itu disampaikan dengan bisikan, kalimat tegas bercampur kebencian tetap jelas terlihat. “Tapi, kami saling mencintai. Perasaan tidak bisa kau paksakan, Roy. Bukalah ikatan ini!” “Kau akan menderita selamanya. Satu lagi yang akan membuatmu terkejut. Ikatan itu aku pelajari dari orang yang sangat kau kenal!” “Orang yang aku kenal? Roy, kita bersaudara. Tidak seharusnya kau melakukan ini. Hentikan, aku mohon.” Suara pelan bercampur napas yang mulai sesak, tidak juga membuat hati Roy mencair. Rasa cemburu pada Sultan telah membutakan perasaannya. "Ini rumah siapa?" Air mata Sultan mulai terlihat. Dia masih tidak percaya dimasukkan ke dalam ruangan mengerikan layaknya tahanan yang siap untuk melakukan hukuman mati. “Hanya dengan cara ini, kau akan menderita!" teriakan lepas yang Roy keluarkan dengan bangga. Tuan Muda Sultan berkuasa dan tampan, bisa dengan mudah dia kalahkan. “Lepaskan!” "Plok, plok, plok." Tepukan tangan terdengar tiba-tiba memasuki ruangan, mengejutkan mereka yang masih saling berdebat. Sultan terbelalak tidak percaya melihat sosok yang sangat dikenal berada di hadapannya. Pemuda alim, sopan, ramah, dengan busana rapi, dan memiliki rambut terbelah pinggir, berdiri tegak memegang dagu melempar senyum bersama pandangan aneh ke arahnya. Seseorang yang selalu mengajak Sultan bercanda, hingga mengisi hatinya saat mengalami kesepian, sekarang berhasil membuat jantungnya terpacu kencang. Sosok polos berkacamata layaknya pemuda baik, ternyata menipu banyak orang, termasuk Sultan. “Kau? Kenapa?” lontaran parau Sultan kepada saudara tiri laki-lakinya bernama Devoni yang biasa dia panggil Dev. Keakraban yang selama ini terjalin hancur seketika. Kedua mata itu masih kaku memandang kekecewaan kepada laki-laki yang selalu membuatnya bahagia, kini menatap tajam seolah dirinya adalah mangsa yang siap untuk diterkam. “Apa kabar saudara tiriku? Kau memang sangat tampan,” ucap Devoni. Dia menggigit bibirnya menahan hasrat gila yang seketika muncul. Kedua matanya semakin berbinar melihat tubuh kekar menggantung di hadapannya. Sultan masih terdiam lemas, seakan hatinya tersayat pisau mengetahui kenyataan pahit jika saudara tiri yang sangat sempurna itu memiliki kelainan. "Kau memang sangat baik, Roy. Aku sudah lama mengincarnya sejak pertama kali bertemu. Memandangnya salah satu siksaan terberat dalam hidupku.” Devoni tersenyum puas sambil menelan salivanya. Roy membalas senyuman Devoni kemudian berpaling. Dia melangkah keluar dari ruangan mengerikan itu bersama kedua teman yang tetap dalam diamnya. Roy selalu menjanjikan mereka uang yang sangat banyak. Kekayaan Roy membuat mereka mengikuti dan menurutinya. “Aku baru sadar, ternyata yang paling berbahaya adalah mereka yang mendatangi kita dalam wujud malaikat. Dan kita terlambat menyadari bahwa mereka sebenarnya setan yang sedang menyamar.” Sindiran Sultan seketika membuat Devoni terdiam. Pandangan datar, dingin, spontan menghiasi wajah Devoni. Namun, beberapa detik sedikit senyuman terlihat. Senyuman mengeras yang dia tahan hingga bibirnya melebar di tengah wajah polosnya, menyerupai manekin. “Kau gila, Dev!” maki Sultan. Senyuman yang masih bertahan, mulai perlahan menurun dengan sedikit suara. “Hmm.” Dilanjut kekehan pelan menggerakkan pundaknya. “Haha.” Kemudian tawaan dengan mulut terbuka sangat lebar. Tawaan sangat keras kini menggaung di ruangan. “Hahahaha!” Tawaan terhenti seketika, memperlihatkan wajah dinginnya kembali. Devoni mulai melangkah mendekati Sultan. “Kau sangat lezat." Suara bisikan pelan dari Devoni, membuat Sultan tidak menyerah. Dia semakin berusaha menggerakkan semua tangan yang terikat untuk terlepas, tidak peduli goresannya terasa perih. Devoni mundur beberapa langkah, hanya memandang Sultan melakukannya. Dia kembali mendekat saat tubuh yang terus meronta itu kini terlunglai lemas dan pasrah. "Aku mohon ...," lirihnya.  "Menangislah, keluarkan suara indah itu!" teriak Devoni. Dia memutar-mutar tubuhnya menirukan tarian salsa. Kedua kakinya melompat memutari ruangan dengan tertawa. Seluruh badan seperti lengan, bahu, kaki, dan pinggulnya bergerak berirama delapan ketukan. Acara perayaan seakan segera dimulainya. “Hentikan, Dev!” Suara keras, serak, bercampur tangisan yang menyeringai di telinga Devoni, membuat senyuman itu semakin terlihat jelas. “Dev, kau sudah gila!” “Aku sangat suka suara itu!” Kedua mata Devoni memejam, semakin menikmatinya. Dia terus berputar menari-nari seakan teriakan itu alunan musik indah baginya. Kepala bulat tidak terlalu besar milik Devoni terus bergerak mengikuti irama seperti boneka India. Tangan gemulai bersama jari lentiknya mulai mengayun-ayun seolah memimpin paduan suara.  Sorot netra Sultan semakin kaku melihat keanehan Devoni. “Dev, kau akan menyesal!” “Berteriaklah, suara itu sangat indah!” "Jangan lakukan itu! Tolonglah buka ikatan ini! Jika mereka tahu kalian melakukan ini kepadaku, tidak akan ada maaf bagi kalian!" "Sst, tutup mulutmu yang indah itu. Jika kau terus berteriak, aku semakin tidak kuat!" Devoni seorang psikopat dengan tato bergambar wajah setiap korbannya yang menghiasi tubuh langsing semampai miliknya. Dia masih berdiri tersenyum dominan membelai kulit putih milik Sultan dengan kedua mata memejam. “Hentikan, aku mohon!” “Argh!” teriak Sultan membuat Devoni semakin memacu jantungnya dengan hasrat liar yang sebentar lagi muncul. Itu adalah hal yang ditunggu. Puncak dari keinginan gilanya. “Teriaklah, aku semakin suka!” "Hentikan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD