Kepala Gendhis menoleh ke belakang melihat ke arah pintu. jadinya dia ngedumel dalam hatinya, "Ibu Sri gimana sih kok malah ditutup pintunya? Bu Sri malah mengantarkanku ke mulut buaya." "Ehem," suara deheman Emran menyadarkan Gendhis, kepala Gendhis mengarah ke depan lagi. "Eh iya, maaf saya jadi lupa. Ini risolesnya sama kue mangkok buat bapak." "Hum," jawabnya satu kata dan itu pun tanpa melihat Gendhis. "Pak, ini mau ditaruh di mana?" "Di situ saja." Emran menunjuk dengan bibirnya pada meja kecil di samping printer. "Di mana, pak?" "Di situ!" Matanya fokus membaca selembar kertas. "Di situ itu di mana pak? Spesifikasi dong, pak." "Di meja di samping printer. Di sebelah meja saya." "Ooooh, bilang dong pak, jangan nunjuk pakai bibir, nanti sayaaaa... " Emran langsung meloto

