Tyas menghampiri putrinya yang sejak tadi sore belum keluar dari ruang kerja. Membawa baki dengan sebuah mangkuk dan segelas air putih di atasnya. Seperti biasa, setiap pertengahan bulan anak semata wayangnya itu akan mengurung diri di ruang kerja dan fokus pada laporan keuangan toko hingga melewatkan jam makan. Dulu, karena sungkan dan takut mengganggu, Tyas hanya akan menunggu Jenna keluar dari ruangannya. Meski harus menunda jam makan hingga nyaris tengah malam. Namun, setelah Jenna sakit karena asam lambungnya naik, Tyas mulai memberanikan diri untuk masuk ke ruangan yang menyatu dengan kamar pribadi sang putri. Membawakan makanan dan menyuapinya. “Makan dulu, Jen,” ujar Tyas seraya mendudukkan diri di samping Jenna yang sedang fokus pada layar Ipad-nya. Ia letakkan nampan tadi di

