Bertemu Kakek

1041 Words
Melihat Nela yang tertidur lelap, laki-laki remaja itu menarik selimut dan menutupi tubuh adiknya. Nathan kemudian meraih gelas yang berisi air untuk dirinya sendiri dan duduk di depan jendela kaca yang besar menyentuh lantai. Nathan kembali tenggelam dalam pikirannya sambil menatap pemandangan di istana itu. Bagaimana bisa penglihatannya dan Nela berbeda, jika Nela melihat sekitarnya hanyalah hutan belantara, namun dirinya melihat ini adalah sebuah kerajaan. Jika dirinya sudah mati lalu mengapa Nela masih bisa ngobrol dengannya ? Atau ini adalah dunia peri ? Atau dunia bangsa jin ? Lalu mengapa hanya dirinya yang bisa melihat bangsa itu ? Bukankah dia dan Nela adalah saudara kandung ? Saat ini cuaca sedang mendung, Nathan menatap keluar jendela, nampak Dewi berjalan dengan cepat menuju Istana Timur. Nathan segera berdiri menyambutnya diluar pintu kamar karena tak ingin membuat Nela terbangun. Nanti Nela malah mengira dirinya gila karena bicara sendiri, padahal dia sedang berbicara dengan orang lain. "Ada apa ? Kelihatanya kau sangat tergesa-gesa," tanya Nathan yang saat ini melihat raut kecemasan di wajah Dewi. "Paduka Raja ingin menemuimu," tutur Dewi. "Aku dan Nela ?" "Tidak ! Kamu saja, Nela tidak akan bisa melihat kami kecuali kami menghendakinya" Terjawablah keraguan Nathan, namun dia masih penasaran. Di dunia ini apakah dihuni mahluk peri ? Alien ? Atau jin ? Ah..sebaiknya aku menemui Raja. Gumam Nathan. Setelah memastikan Nela tak akan mencarinya, remaja tampan ini mengikuti langkah Dewi menuju balairung Istana, dimana Raja dan Permaisuri sedang menunggunya. Dewi masuk lebih dahulu disusul Nathan, Balairung Istana ini sangat megah, di depannya terdapat kursi kerajaan yang terbuat dari emas. Dewi menyikut lengan Nathan lalu membungkuk untuk memberi hormat. "Hamba datang menghadap paduka Raja" Nathan terkesiap, diapun melakukah hal yang sama seperti apa yang dilakukan Dewi. "Hamba datang menghadap paduka," sesekali Nathan mendongak, mencuri pandang kiri kanan. Lalu matanya tertumpu pada wajah permaisuri. "Ibu...!" Nathan segera berdiri dan hendak memeluk permaisuri yang terlihat sangat mirip dengan ibunya. Sontak saja para pengawal mengayunkan tombak menghalangi langkah Nathan. Nathan melihat mereka yang menghalanginya dengan penuh emosi. Dia tak menyadari jika disampingnya Dewi terus-terusan menggeleng dan menarik-narik pergelangan kakinya. "Dia ibuku, mengapa kalian menghalangiku ?" Matanya melotot tajam. Raja melihat kilatan kemarahan dimata remaja itu, sudah bisa dipastikan jika remaja ini adalah putra Sahara. Nathan adalah cucunya. Raja segera mengangkat tangan, sehingga para pengawal yang memasang kuda-kuda kembali berdiri siaga. Tombak yang menghalangi langkah Nathan sudah tak ada lagi. Nathan melirik ke kiri dan ke kanan. "Ibu!" Permaisuri ingin menghampiri dan memeluknya, namun Raja dengan cepat memanggil Nathan untuk mendekatinya. "Kemarilah nak, mendekatlah !" Suara Raja seakan tercekat di tenggorokan. Dewi mendongak. Dilihatnya Nathan berjalan perlahan menghampiri Raja dan Permaisuri dengan sikap tegap. Dia pikir ini di dunianya. Aduh Nathan, mengapa kau tak ada sopannya ? Bathin Dewi. "Ternyata nyalimu sangat kuat seperti ayahmu". Mendengar itu Nathan menghentikan langkahnya. "Maaf, kalian siapa ? Kalian mengenal ayahku ? Lalu mengapa ibuku juga disini ? Setahuku ibuku sudah mati ketika aku berusia delapan tahun. Lalu apakah aku sudah mati dan bertemu ibu disini ?" Nathan mentap tajam ke arah permaisuri yang terlihat bagai pinang di belah dua dengan Sahara ibunya. Raja tersenyum. "Duduklah di samping kakek dan nenekmu." Nathan lebih terkejut lagi. "Kakek ? Nenek ? Siapa yang Raja maksud ?" Nathan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Kau adalah cucu kami, bukankah ibumu bernama Sahara dan ayahmu bernama Aris ?" Paduka Raja berusaha menjelaskan kebingungan Nathan. Nathan tertegun. Cucu ? Artinya darah Nathan bercampur dengan orang-orang yang ada di dunia ini ? Apa maksud semua ini ? Apa aku Alien ? Hantu ? Atau... d**a Nathan semakin bergemuruh. Walau masih penuh tanda tanya, akhirnya dia duduk di kursi yang tak jauh dari singgasana Raja. "Sebentar lagi kebingunganmu akan terjawab," Itu suara permaisuri. Suaranya mirip sekali dengan suara ibunya. Jika dia neneknya harusnya sekarang sudah terlihat tua, tapi kenapa terlihat seusia ibunya ? Raja mulai mencercanya dengan pertanyaan-pertanyaan ringan agar membuatnya nyaman. "Apakah kau merasa nyaman di tempat ini dan apakah kau dilayani dengan baik disini ?" Nathan memandang Raja sekilas lalu memalingkan wajahnya ke arah Dewi yang kini sudah bangkit berdiri tak jauh dari samping permaisuri. "Ehmm, i..iya, terima kasih, tapi bisakah paduka menjelaskan semuanya padaku ? ini sebenarnya dimana ?" "Baiklah nak, dengarkan dengan baik. Kerajaan ini dihuni oleh bangsa Goro. Bangsa Goro sama dengan bangsa-bangsa yang ada di duniamu. Kami sebangsa peri atau mahluk terindah di belahan dunia yang lain." Nathan membenarkan ucapan Raja di dalam hatinya. Mereka adalah makhluk terindah, karena dia tak pernah melihat wajah jelek disini. Semua tampak cantik dan tampan, cuman kecantikan dan ketampanan mereka ada tingkatannya. Melihat Nathan yang duduk diam Raja melanjutkan penjelasannya. "Perbedaan kami dengan duniamu adalah kami tak terlihat dengan mata telanjang. Dan hanya orang-orang tertentulah yang bisa melihat kami" "Apakah kalian berbuat jahat kepada manusia ?" Tanya Nathan pelan. Dewi tercekat mendengar pertanyaan Nathan. "Andai dia bukan cucu sang Raja, para pengawal sudah pasti akan melemparnya ke jurang." Gumam Dewi di dalam hati. "Selama manusia tidak mengganggu kami maka kamipun tidak akan mengganggu mereka." Prinsip itu sudah ditanamkan dikerajaan ini turun temurun. "Kalian bohong, lalu kenapa banyak manusia yang masuk ke sini dan tidak kembali lagi ?" Bantah Nathan. Paduka Raja menarik nafas dalam, karena darah manusia lebih banyak mengalir dalam dirinya sehingga terkesan keras kepala. Anak-anak di dunia ini semuanya penurut. "Adapun manusia yang masuk ke hutan ini dan tidak kembali, karena mereka memang tidak ingin kembali." Alis Nathan mengernyit saling menyatu. "Lihatlah bola kristal yang ada di hadapanmu, sebentar lagi kau akan melihat semua yang ingin kau ketahui. Jadi kami tidak perlu lagi menjelaskannya padamu. Satu hal yang perlu aku sampaikan, kau itu manusia yang berkemampuan khusus. Kau bisa keluar dari dunia kami semaumu. Itu adalah kelebihan yang mengalir dalam dirimu." Setelah menjelaskan panjang lebar, Raja segera memerintahkan pengawal untuk membawa sebuah cermin yang besar dan di taruh di samping bola kristal. Nathan mengamati semua itu dengan cermat, tak lama kemudian masuklah seorang pemuda yang sangat tampan. Nathan memandangnya tak berkedip. "Hamba datang menghadap ayahanda." "Kemarilah, duduklah disamping keponakanmu ini. Dia adalah putra Sahara, setelah ini ajarilah dia ilmu bela diri dan beberapa ilmu lainnya" "Hamba menerima titah ayahanda." Putra Mahkota segera duduk di samping Nathan. Sesaat ditatapnya remaja yang tak kenal takut ini, wajahnya sangat mirip dengan Aris saudara iparnya dari dunia manusia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD