2

1388 Words
Hari berikutnya Pagi telah menjelang, sepi itu yang menyelimuti pagi Yuki dua tahun ini. Jika biasanya rumah besar, mewah kala pagi sudah ramai dengan hiruk-pikuk para penghuninya maka lain hal dengan rumah milik Yuki. Suasana rumah besar Yuki terlalu sepi karena memang hanya ada Yuki yang tinggal di rumah itu di temani seorang pembantu dan seorang sopir.  Yuki terbangun dari tidur paginya kala cahaya matahari memaksa masuk ke dalam kamar melalui jendela yang berfungsi sebagai pintu juga penghubung anatara kamar dan teras kamarnya. Rupanya semalam wanita itu lupa untuk menutup jendela tersebut.  "Non.... Sudah pagi....!" Teriak Bi Imah pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah Yuki. Sudah menjadi rutinitas Bi Imah disetiap paginya untuk membangunkan majikannya. Karena Yuki termasuk orang yang susah bangun pagi, jadi Bi Imah adalah alarm Yuki agar tidak keterusan tidur hingga siang dan telat berangkat ke Butiknya.  Yuki mengumpulkan nyawanya, tangan mungil Yuki membuka laci di sebelah tempat tidur untuk mengambil ikat rambut kemudian mengikat rambutnya dengan asal.  "Non...." Panggil Bi Imah lagi sembari mengetuk pintu kayu tebal kamar Yuki.  "Iya Bi, aku sudah bangun...!" Jawab Yuki keras, agar suaranya bisa menembus pintu.  "Iya Non, kalau begitu Bibi lanjut bikin sarapan!"  "Hmmm...." Gumam Yuki.  Yuki beranjak dari tempat tidur, tempat ternyaman bagi Yuki. Langkah kakinya berjalan menuju ruang sebelah yang masih berada di dalam kamar yaitu ruang kerja. Yuki sengaja membuat ruang kerja di dalam kamarnya karena bagi Yuki ruang keja sama dengan ruang pribadi oleh karenanya Yuki sangat betah berada di kamar karena kamarnya sudah multi fungsi.  Ia memandang salah satu foto yang tertempel di dinding dengan perasaan pilu. Meski seperti itu, Yuki tidak pernah seharipun melewatkan untuk menatapnya. Rasanya ada yang kurang saat Yuki tak memandang bingkai foto yang kelihatan membahagiaan itu.  Aku akan menunggu waktu dimana masa itu akan datang  Puas dengan apa yang dilakukan, Yuki segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap pergi ke Butik. Butik yang menjadi sumber penghasilannya selama ini. Butik yang selalu menjadi tempat Yuki menyalurkan bakat menggambarnya.  ***  "Pagi, Cika!" Sapa Yuki pada salah satu karyawan terbaiknya.  "Pagi, Bu." Balas Cika semangat.  "Layanai pelanggan dengan baik dan semangat." Pesan Yuki pada anak buahnya. Selalu kata itu terucap dari bibir manis Yuki agar para karyawannya selalu baik pada pelanggan. Yuki selalu memegang semboyan 'Pembeli adalah Raja' sehingga ia selalu menomor satukan pelayanan yang baik kepada para pelanggannya dan juga kualitas terbaik untuk rancangannya.  Di Butik ini bukan hanya Yuki yang mendesain baju-bajunya tetapi juga ada dua desainer lain yang Yuki pekerjakan. Jujur Yuki sering kualahan apalagi saat orderan yang sedang banyak sehingga membuat Yuki tak mampu menanganinya sendiri, maka dari itu Yuki mempekerjakan desainer lain dengan keterampilan yang bagus juga. Terbukti selama lima tahun butik milik Yuki belum pernah sekalipun ada yang complain.  Yuki mulai menggambar beberapa pakaian wanita dan pria yang akan ia promokan dalam sebuah acara besar di Jakarta nanti. Ajang ini selain sebagai promosi juga sebagai penilaian untuk Yuki seberapa besar karyanya diminati oleh publik. Sehingga Yuki tak pernah main-main dalam pekerjaanya.  "Bu bos ada tamu," Cika melongok ke ruangan Yuki, member tahu kalau bis besarnya ada tamu.  "Siapa ?" Tanya Yuki  "Pak Varel, bu."  "Oke suruh masuk aja.."  "Siap bu, permisi..."  "Ya..."  Yuki membenahi sebentar ruangannya yang sudah seperti kapal pecah bekas lemparan-lemparan kertas dan beberapa sisa potongan kain. Ia nggak mau kalau tamunya mendapatkan pemandangan yang jauh dari kata rapi, meski tak rapi-rapi amat setidaknya layak untuk di pandang.  "Wah, sepertinnya sibuk nih!" Ucap Varel. Kebiasaan Varel jika masuk ruangan Yuki maka nggak akan ucap salam dan ketuk seperti yang lain.  "Bukan sepertinya, tapi emang sibuk."  Yuki mendekati Varel dan duduk bersama di sofa tamu.  "Tumben lo kesini pagi-pagi, mau ngapain ?" Tanya Yuki tanpa sapa basa-basi.  "Nyantai dulu napa, tawarin gue minum kek atau apa gitu."  "Itu si mau lo, males gue kasih lo minum. Entar jadi kelamaan yang ada pekerjaan gue nggak selesai-selesai."  "Segitunya lo sama gue. Gue kesini mau ngajakin lo makan siang." Polos Varel, sepertinya Varel nggak bisa baca jam.  "Ini masih jam sepuluh, Varel sayang ..... lo mau ngajak gue makan siang, gila aja."  "Iya, gue juga tahu. Sengaja emang, gue kan jadi ada lasan buat nungguin lo."  Yuki menutup kedua mukanya dan mengusapnya kasar. "Ajak aja sana pacar lo, kasian dia punya pacar tapi rasa nggak punya."  "Ketimbang lo, punya suami tapi rasa nggak punya!" Sindir Varel tajam.  Yuki berusaha mati-matian untuk nggak marah sama Varel namun rasanya nggak bisa,asap sudah mengepul di ubun-ubun kepalanya. Rasanya Yuki ingin melenyapkan Varel sekarang juga.  Yuki bagkit dari tempat duduk, dia menatap Varel tajam. Varel tahu jika Yuki sudah berada pada mood yang tidak baik. Varel bahkan merasa bersalah dan merutuki ke bodohannya. Varel harus siap terima konsekwensinya kalau begini ceritanya.  Yuki berjalan kembali kearah meja kerjanya dengan perasaan lunglai. "Pergi kamu dari sini!" Perintah Yuki dingin.  Oke, Varel menyerah. Ia tak bisa merubah mood buruk Yuki begitu aja. Maka ia akan memilih pergi daripada Yuki mengamuk bisa lebih bahaya.        "Sorry Kuy, nggak ada maksud.:" Tulus seorang Varel, ia menadang pundak Yuki yang turun.  "Gue pulang," Pamit Varel.  Yuki duduk sampil menopang kepalanya yang terasa berat. Pikiran Yuki menerawang ke masa lalu. Kesal, pedih, sakit, menyesal itu yang selama ini Yuki rasakan. Lama Yuki menentramkan hatinya, namun tiba-tiba saja semua terbuka begitu saja.  Prak  Yuki melempar segala apa yang ada di meja hingga terbang dan mendarat derastis di lantai, bahkan gambar-gambar indah yang sudah ia ukir turut menjadi korban kekesalan hatinya.  Sementar itu di parkiran kantor Yuki, Varel masih diam di dalam mobil. ia mengembil HP yang ada di saku jas dengan cepat kemudian mengetikkan beberapa kalimat pada seseorang.  "Lo emang brengsek... sudah lama kalian pisah, namun luka itu masih menganga lebar di hati dia."  Begitu kiranya isi pesan yang Varel kirimkan ke pada orang di seberang anta brantah.  ***  "Gue punya salah apa sama lo, sampai pagi-pagi lo sms gue nggak mutu gitu?!."  "Patahati lo? Sori gue juga belum sembuh. " Tambah Stefan lagi.   "Maaf... " Ucap orang diseberang sana kemudian sambungan dimatikan begitu saja.   Stefan menatap heran dengan apa yang terjadi barusan. Dia hanya menggelengkan kepala sambil berdecak kesal kepada temannya.   "Ayah.... " Teriak bocah cilik dibalik pintu.   Stefan yang tadi niatnya mau tiduran lagi harus gagal karena panggilan dari bocil di luar.   "Ayah....!!" Teriak bocah cilik itu sambil mengetuk pintu dengan tangan kecilnya..  "Iya," Jawab Stefan semangat. Entah kenapa setiap mendengar apalagi melihat bocil yang suka sekali memanggilnya Ayah, semangat seorang Stefan langsung tergugah begitu saja.  Dalam keadaan lelah sekalipun, lelah itu akan lenyap ketika bocil tadi menampakkan diri dan suaranya ke Stefan. Bagi Stefan si bocil adalah segalanya.   Klek  Pintu kamar Stefan terbuka dan menampakkan pemandangan Indah. Di mana bocil tadi sedang memandang Stedan dengan muka kusutnya dan kedua tangan berada di pinggang. Si bocil masih menggunakan piama tidur bergambar kartun mobil-mobilan, membuat ia terlihat gemas.   "Kenapa ayah ama sekali membuka pintunya, tangan dan sualaku akit. " Adunya sembari menunjukkan tangan mungil yang sedikit memerah memang kemudian ia memegang lehernya.  Stefan langsung mengangkat tubuh anaknya kedalam gendongan sambil membawa di bocil masuk ke kamar. Tangan Stefan mengusap tangan mungil sang anak kemudian ia dekatka ke arah mulutnya. Stefan meniup-niup tangan merah itu berharap setelah tiupan tersebut tangan itu sembuh. Lalu beralih ke tenggorokan si anak.   Keduanya sekarang sudah berada di atas kasur berukuran besar. Stefan meletakkan denga pelan sekali anaknya di sana.   "Maafin ayah, sayang. Ayah tadi habis telpon sama teman ayah. Ini minum lah, " Stefan meminta maaf pada sang anak sambil meberikan segelas air putih.   "Aku maafkan.. " Ucapnya.   "Makasih jagoan ayah!."  "Ayah, kapan aku sekolah? Bang Angga udah, Aila (Aira) juga udah. Kok aku beyum ciii... "  "Satu tahun lagi ya, makanya Danis rajin belajarnya di rumah baik sama ayah, kakek atau nenek dan juga tante Na. Biar bisa sekolah di PAUD, bisa belajar juga sama teman baru.  Yupss nama anak kecil yang berada di hadapan Stefan Putra William adalah Danish Arka Alghifari William. Cucu pertama di keluarga William. Danish tinggal bersama sang ayah dan juga kakek-neneknya, orangtua dari Stefan mulai dua hari lalu.   "Ote ote ayah," Semangat Danish.   Danish dari kemarin merengek karena nggak punya teman di rumah. Bibir tipisnya selalu bertanya kenapa saudara-saudaranya sekolah? Kenapa nggak di rumah sama Danish ?. Setelah orangtua Stefan menjelaskan jika sepu-sepupunya bersekolah dia mulai merengek minta sekolah.  "Sekarang mandi, mau ikut ayah ke restoran apa enggak nih jagoan ayah?."  "Ikut....!!!" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD