zeema 1

1274 Words
Tik... Tik... Tik... Hawa dingin mencoba menyelimuti tubuhku yang bahkan sudah tak berasa, aku tak merasakan apapun selain rasa pilu. Kegelapan malam manjadi saksi bisu rasa sakit ku di masa lalu, menatap penuh harapan pada bulan. Aku kembali merenung. "Apa yang harus ku lakukan sekarang? Kepada siapa lagi aku mengadu selain malam?" Aku bahkan tak tahu di mana keberadaan ku sekarang, seperti apa rupa ku sekarang, aku tak tahu. Yang ku tahu di tempat ini, ada begitu banyak pepohonan tinggi memenuhi pandangan ku. Hanya sendirian di sini, tak ada makhluk lain di sini. Aku memang hantu, tapi aku juga butuh teman. Tak mungkin rasanya jika aku mendatangkan kematian pada orang lain untuk ku jadikan teman. Ada begitu banyak syair yang sudah ku utarakan, namun tak ada satupun yang dapat menenangkan. Tapi aku memiliki satu kelebihan yang sangat membuat ku bersyukur tuhan masih memberiku belas kasihan. Aku mampu menyerap seluruh energiku untuk mengubah wujud hantu ku, menjadi tubuh manusia normal, tubuh asliku. Tubuh seorang Zeema, meskipun aku jarang melakukanya. Karna sesaat setelah aku kembali ke wujud asliku, aku akan sangat kelelahan, tubuhku lemas, dan aku harus berusaha sebisa mungkin memulihkan energiku kembali. Terkadang untuk menghilangkan rasa kesepian ini, aku berjalan-jalan menyusuri pepohonan seperti yang tengah aku lakukan sekarang. Hingga aku bisa melihat cahaya. Cahaya yang tak pernah ku kira akan seindah ini, ada banyak manusia yang berlalu lalang. "Tempat ini di sebut apa?" Gumamku. Aku kembali berjalan, dan aku terhenti di sebuah bangunan yang menjulang tinggi. Aku mengelilingi bangunan itu, hingga kedua telingaku mendengar sebuah perbincangan panjang yang menarik perhatianku. Aku memasuki sebuah ruangan yang sangat indah, luas, dan penuh dengan pencahayaan. "Tempat ini bagus, aku akan menandainya." "Tapi tuan, ini hutan. Apa anda yakin ingin melakukan pembangunan di sana?" Ucapan pria ini terdengar penuh rasa takut. Ada apa dengannya? Kenapa begitu menghormati pria yang tengah duduk di hadapannya ini? Aku sangatlah ingin tahu, hingga aku mendekat dan aku terpaku. Menatap seorang pria yang tengah terduduk dengan kedua bagian lengannya yang di lipat ke atas, tengah meminum minuman yang aku kira itu wine. Dia sangatlah tampan, wajah tampan yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Pria itu bangkit, memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. "Memangnya kenapa jika hutan? Aku bisa membeli lahannya, katakan saja siapa pemiliknya." Hutan yang mana yang pria ini maksud, semoga saja bukan hutan tempat tinggalku. Jika hutan itu di beli, lalu aku tinggal di mana lagi? "Akan saya cari tahu tuan." Setelah kalimat terucap, pria paruh baya itu membungkukkan tubuhnya sebelum pergi. "Eh? Apa ini masih jaman kerajaan? Kenapa harus membungkuk? Memangnya sehebat apa pria ini?" Ucapku. "Tunggu asisten wan, bagaimana dengan pria itu?" "Saya belum mendapatkan kabar dari orang suruhan kita tuan." Pria itu mengangguk, dan mempersilahkan pria yang di panggil asisten wan itu untuk pergi. Ingin rasanya aku lebih dekat untuk menatap pria ini, tapi rasa trauma dan ketakutan lebih dulu menyelimuti ku. Meskipun penampilan pria ini berbeda, namun aku masih tetap takut pada pria berwajah datar. Meskipun dia tampan... Tak terlalu menganggap penting hal yang baru saja aku saksikan, aku memutuskan untuk kembali ke hutan. Aku rindu suasa yang tenang itu. Lebih dari 100 tahun aku bergentayangan di sini, tak ada teman. Menghabiskan waktu ku dengan menunggu dan menunggu, berharap ada satu orang saja yang mampu menemukan tubuhku atau menjemput ku, aku akan sangat berterimakasih padanya. Aku mulai kembali kedalam hutan, menatap satu persatu pepohonan tinggi di sana. Mengingat kembali beberapa tahun setelah aku mati, aku baru bisa melihat dunia lagi namun sebagai jiwa yang tak tenang. Dan ya, aku terbangun di tempat ini. Di hutan yang jauh dari pemukiman manusia, hutan yang luas, gelap, sunyi, sendirian. Hingga, "Hiks... Hiks... Mama....." Suara tangisannya itu membuatku tersadar dari lamunan, memberhentikan tubuhku di depan sebuah pohon yang tinggi, mengedarkan pandangan mencari sumber suara itu. Tubuhku terdiam cukup lama saat mendapati seorang anak laki-laki berdiri sendirian di tengah hutan, wajahnya terlihat sangat ketakutan. "Apa yang anak ini lakukan di sini? Kenapa bisa sampai kemarin? Hutan ini sangat jauh." Aku mendekat, aku memeluknya meskipun bagi manusia itu tak ada gunanya. Setidaknya aku berusaha untuk mengurangi rasa ketakutan yang ku rasakan dari anak ini. Sesaat setelah aku memeluknya, tangisan pilu itu sudah tak terdengar lagi, anak itu hanya diam menatap sekitarnya. Aku tak takut tentang apapun, kecuali hewan buas yang mungkin terpancing oleh suara dari anak ini. "Kaka...." Panggilnya. Mendengar panggilan itu, tubuhku terpaku. Dia bisa melihatku? Perlahan anak itu melepaskan pelukannya, dia menatapku dengan wajah sembab nya. "Kamu?...." Ucapan ku terhenti saat mendapati anak laki-laki ini tersenyum padaku. "Kaka juga di kejar ya?" Tanyanya. "Di kejar?" Anak itu mengangguk. "Iya, aku sama ibu di kejar orang-orang. Mangkanya kami lari ke sini, di sini ternyata gak ada orang ya kak." Tuturnya yang membuatku semakin bingung. Hatiku tersentuh saat merasakan jari-jari kecilnya mengelus lembut wajahku, aku tersenyum manis. "Kaka cantik sekali, kaka dari mana?" Kembali menirus pipiku yang mengembang itu mendengar pertanyaan dari bibir mungilnya, aku sendiripun tak tahu aku dari mana. Ingatanku hilang setelah aku bangun, aku hanya mengingat tentang kematianku saja. "Aku...." "Kaka di kejar juga ya? Jangan takut ya, kita sama-sama oke." Aku terkekeh pelan mendengar nya, barulah aku mengangguk. Perlahan anak laki-laki ini melangkah mundur menjauhiku, membuat isi pikiran ku bertanya-tanya. "Kaka cantik sekali, aku jadi suka." Belum sempat bibir ku tersenyum, anak itu menarik lenganku. "Sini kaka, ada orang!" Ucapnya seraya menyimpan jari telunjuk nya di depan bibir. "Kaka jangan berisik ya, nanti kita di tangkep." Aku sama sekali belum mengucapkan kalimat apapun, anak ini sangat cerewet tapi aku suka. Aku hanya bisa mengangguk dan mengikuti kemauannya untuk tetap diam. Kresk.... "Cari kedua anak dan ibu itu, jika kita tidak bisa membawanya hidup-hidup, membawa jasadnya pun tak apa!" Suara dan nada bicaranya begitu sama dengan sosok pria berkumis waktu itu. Seketika tubuhku bergetar hebat, aku takut, sangat takut. Anak laki-laki ini menyadari rasa ketakutan ku, ia menggenggam erar tanganku. Mengabaikan rasa takutnya sendiri demi diriku. "Kaka jangan takut, ada aku kaka." Aku hanya membalasnya dengan anggukan, entah sebesar apa kasih sayang yang ibunya berikan pada putranya hingga putranya tumbuh dengan penuh kasih sayang juga pada orang lain. Dia mengelus pelan pipiku, sebelum akhirnya anak ini memberikan sebuah pelukan yang baru ku rasakan kehangatan setelah puluhan tahun. Aku memejamkan mataku, menyerap energi sebesar mungkin. Hingga aku merubah penampilan ku yang koyak pada semulanya, gaun putih yang lusuh menjadi gaun merah dengan sebuah selendang kecil yang melingkar indah di leher ku. Wajahku kembali pada wajah aslinya, seorang gadis belanda. Aku membalas pelukan itu, memberikan kehangatan yang sama. Hingga malam semakin larut kami tetap berpelukan, perlahan aku merasakan pelukan yang mulai melonggar, menatap anak laki-laki ini yang sepertinya mulai terlelap tidur. Aku menangkup wajah mungil itu, menatap penuh kasih sayang pada anak laki-laki ini. Tak perduli tentang apa yang akan terjadi padaku setelah ini, yang jelas aku harus menjaga anak ini hingga ia bertemu dengan ibunya. Saat aku berdiri untuk menggendongnya, anak ini menyilangkan kakinya di pinggangku. Pipiku semakin terangkat, memberikan senyuman yang manis. "Tidurlah dengan tenang, aku akan menjagamu." Aku kembali menyusuri hutan tapi dengan arah yang berlawanan, ya. Aku berniatan untuk kembali ke tempat yang tadi, mungkin aku bisa dengan mudah menemukan ibunya. Mungkin.... Cukup jauh kakiku melangkah, tapi aku tak merasakan kelelahan sedikitpun. Karna aku tahu, rasa lelah ini akan datang setelah aku kembali ke wujud asliku. "PERMISI NONA!" Rasa terkejut dan ketakutan, membuat tubuhku kembali mematung. Aku enggan untuk berbalik, atau bahkan berjalan. Puk! Satu tepukan di bahuku cukup membuat tubuh mungil ini bergetar ketakutan, aku tak bisa berbalik. "Nona apa anak laki-laki yang kau bawa itu anakmu?" Pernyataan itu membuatku mengerjapkan mataku berkali-kali. "A-aku.... Ka-kami tersesat nona, kami tidak bermaksud untuk mengganggu, kami benar-benar tersesat." Ucapku penuh kegugupan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD