***٢***

1112 Words
"Dan mereka berkata, Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala." (QS. Al-Mulk 67: Ayat 10) Bujuk dan rayuan sudah lancar diucapkan oleh Hilma agar keputusan kedua orang tuanya itu digagalkan. Ia sendiri bisa kabur dari rumah, tetapi ia berpikir lagi ia telah dewasa tidak mungkin bersikap demikian. Namun, ia pula tidak ingin masuk pesantren sudah terbayang bagaimana dirinya nanti terkurung hanya menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar. Mengingat masa MTS pula sudah dikenalkan akan kitab kuning dan ajaran agama Islam lainnya. Belum lagi ayahnya selepas Solat Magrib dan Subuh diharuskan mengaji banyak-banyak. Apakah itu belum cukup? Tidak ada lagi mengikuti keinginan Hilma, keputusan keduanya sudah bulat. Hilma harus masuk pesantren yang jauh dari rumah dan pulang hanya satu tahun sekali, kala Idul Fitri. Bukan tidak ingin satu atap atau enggan bersama lagi. Mereka sudah menimang kenyataan jika benar-benar memasukkan Hilma ke pesantren. Tujuannya sangat mulia, agar anaknya dididik dengan benar, mendapat ilmu yang bermanfaat dan semoga saja bisa langsung diterapkan. Mendengar kegaduhan di kamar Hilma yang menolak, Aisyah pun kini tidak ingin angkat bicara menolak. Wanita dengan gamis merah tua itu pasrah. Suaminya pula masih fokus dengan beberapa kitab gundul di tangannya, tidak mempedulikan makian dan teriakan Hilma. Biarkan saja, toh besok hari memang anaknya harus benar-benar pergi meninggalkan. Menuju kota yang sudah biasa memasukkan anaknya ke pesantren, yaitu Jawa Tengah. Pilihan Hilal, di sana memang dia sendiri tidak memiliki kenalan, tetapi akan membuat Hilma benar-benar berpikir keras, dia harus bersikap baik di tempat orang. Tadinya Aisyah menyarankan di sebuah pesantren yang masih satu kota, tetapi dengan cepat Hilal menolak. Ketakutannya akan Hilma yang sungguh anak jauh dari penakut, bisa saja kabur. Karena sepengetahuannya pesantren Al-Fikri sangat ketat akan penjagaan dan batas santri perempuan dan laki-laki. Dipastikan Hilma akan aman di sana. Walaupun memang nyatanya, pengeluaran atau biaya masuk sangat mahal, belum lagi bulanan, tetapi Hilal percaya, dia bisa memberikan semua demi anaknya. "Lelah nanti, Nak, jerit-jerit kayak orang gila. Tidurlah, esok akan kuantarkan sampai pondok, ya, Bu." "Terserah! Hilma gak mau mondok!!" Aisyah mengembuskan napasnya panjang. "Makanya, jadilah gadis yang manis!" balas Aisyah. Terdengar benda yang dibanting keras. "Gak mau mondok!!" seru Hilma, di dalam kamar ia menatap pantulan penampilannya yang berantakan di cermin. "Ayah mau kamu jadi anak soleh, Nak, kalo tetap bandel, apa yang mau dibawa ke alam keabadian?" Keributan yang terdengar menjadi senyap, setelah ucapan Hilal yang terasa menampar Hilma. Ia memang terlihat baik-baik saja, tetapi bagaimana dengan kajian agama yang belum ia telan dan pahami? Semua hanya remahan saja, belum bisa digenggam menyatakan sudah pintar dan tahu tentang agama yang tertera di KTP. Namun, lagi Hilma berteriak tidak mau pesantren. Pintu kamarnya terbuka pelan, wajah terbingkai kerudung hitam itu terasa menenangkan. Aisyah tersenyum, lalu kembali menutup pintu seraya duduk di samping Hilma yang telentang di karpet. "Tenangkan pikiranmu, Nak, perbanyak istigfar. Ini keinginan orang tuamu yang mulia, bukan menjerumuskan anaknya ke neraka." Elusan pelan di puncak kepala Hilma terasa menenangkan, ia memeluk Aisyah dengan erat lalu entah kapan terakhirnya ia menangis, sekarang tersedu menahan haru dan penolakan yang besok harus dilakukan. Hilma akan menjadi seorang santri, masuk ke pesantren dengan suasana Islami. Tidak ada anak geng motor atau gemer. Semuanya suci dan memiliki hati baik, tidak sepertinya. Dalam tangisan itu, Hilma merasakan kantuk yang berat, Aisyah menyadari dan menuntun ke kasur untuk tidur. Ia masih menemani anaknya, sampai malam benar-benar larut lalu memunguti benda yang Hilma lempar tadi. Sampai kamar berwarna hitam putih itu kembali tertata rapi. Setelahnya ia mencium kening Hilma dalam, lalu keluar menuju kamarnya. Di mana, mendapati Hilal sedang duduk tenang di atas sajadahnya. Tanpa berpikir ulamg, Aisyah segera mengambil wudu, tadi ia pun sempat tidur bersama Hilma. Jadi, dia bisa menunaikam ibadah seperti suaminya. "Perlengkapan Hilma sudah siap, Bu?" Aisyah mengangguk. "Sudah, InsyaAllah, besok kita langsung berangkat." Malam pun berganti dengan datangnya sinar matahari pagi. Memberikan waktu untuk orang-orang melaksanakan aktivitas di pagi hari. Namun, tidak dengan Hilma, ia masih berada di dalam selimut setelah menunaikan ibadah Solat Subuh. Menghindari ayah dan ibunya. Karena sekarang waktu yang tidak diinginkan datang. Hilma membatin ingin kabur saja, lagi-lagi semuanya takkan selesai hanya dengan kabur. Jadi, dia harus mengikuti keinginan ibu dan ayahnya? Ah, rasanya tidak mungkin dan mustahil. "Kenapa, sih? Masa gua masuk pesantren, ya, belum lagi pakek kerudung gede. Ah ... males!" Jiwa tomboinya mulai menari-nari di kepala. Sampai pintu kamarnya terbuka, Aisyah membawa setelan gamis berwarna hitam dan kerudung syar'i putih yang membuat Hilma menelan ludah kasar. Pastinya itu akan dikenakannya nanti. Belum lagi, sepasang kaus kaki, maksudnya apa coba? Peralatan kecantikan wajah pun disiapkan oleh Aisyah. Hilma yang terbiasa menggunakan bedak bayi mendelik sebal. Semuanya harus berubah? Setelah hari kelulusannya yang baru kemarin itu? Tidak adakah hari liburan? "Sudah, beranjaklah mandi bersihkan tubuhmu," titah Aisyah, masih mendapati Hilma yang pura-pura tidur. Hilma menghempas selimut tebalnya, sambil menatap Aisyah tidak suka. "Aku harus pake baju itu? Sekarang?" "Iya ... kamu kan calon santri, biasakan pake gamis sama kerudung syar'i." Masih dengan wajah ditekuk, Hilma beranjak pergi menuju kamar mandi. Di dalam, ia berlama-lama menghapus waktu yang dihabiskan berjongkok lalu berpikir kabur atau tidak. Sampai, ketukan di pintu membuatnya tersadar. Semuanya nyata harus dilakukan, pagi ini dia akan berangkat ke Jawa Tengah sesuai arahan ayahnya. Agar jauh dari rumah dan tidak ada acara bolos atau kabur dari pesantren. Setelah membersihkan tubuh, Hilma menghampiri ibunya lalu menyambar gamis berwarna hitam dipenuhi motif bunga-bunga di pinggirnya. Hilma membatin, sama sekali bukan ala dirinya yang bergaya seadanya dan tidak feminim. Namun, kali ini berbeda, Hilma harus mengikuti gaya ibunya berbusana. Gamis itu sudah dikenakan, panjangnya sampai mata kaki. Membuat Hilma geleng-geleng kepala. Belum lagi kaus kaki yang harus dipakainya, padahal itu gamis sudah panjang, pikir Hilma. Terakhir kerudung syar'i yang harus dikenakan. "Ingat, jangan sampai kau ikat ujungnya ke belakang leher," pesan Aisyah, mengingat kebiasaan Hilma yang sulit dihapus. Hilma hanya mengangguk, sampai penampilan yang baru ia lihat pada dirinya terasa sangat berbeda. Lebih sepeti wanita sebenarnya, bibirnya terlapisi lipstik merah muda dan bulu matanya yang lentik, semakin lentik saja karena diberikan maskara, tetapi tidak dengan alis tebalnya. Masih alami hitam legam. Aisyah bertepuk tangan, berhasil merubah anaknya itu dengan gampang dan hasilnya sangat mengagumkan. Nyatanya Hilma itu memang manis, tetapi karena dia sangat tidak pedulian akan penampilan. Jadinya, biasa saja. Melihat anaknya dengan penampilan beda, Hilal rersenyum bangga, lalu menepuk bahu Hilma dengan tenang. "Ayah percaya, kamu akan jadi lulusan terbaik nanti." "Baru juga mau daftar, udah lulus aja," kekeh Aisyah, seraya merapikan kerudung Hilma yang terlipat. Hilma sendiri menanggapi dengan senyum miris. Benar-benar nyata, ia bersiap meninggalkan segalanya, termasuk si Bobi yang sudah menjadi temannya. Apalagi ponsel, Hilma terpaksa menitipkan kepada ibunya agar dijaga jangan dijual.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD