"Kenapa suaranya familiar?" batin Annisa. "Ah, tidak mungkin!" "Annisa, atasan kamu bertanya. Kenapa bukan Bu Siska yang ke sini?" ucap Jordan membuyarkan lamunan Annisa. Annisa tampak gelagapan. "Eh, itu, Pak. Bu Siska katanya sakit perut." "Nanti bilang ke Siska untuk menghadap ke saya," titah pria di balik kursi besar itu. "Sekarang kamu bisa pergi. Berkas ini biar Siska yang mengambilnya." Dengan berat hati, Annisa mengangguk dan pamit undur diri. "Nyaris saja," ucap Arga setelah Annisa keluar dari ruangannya. Jordan menatap Arga tak percaya. Memangnya harus, ya? Sembunyi dari seorang Annisa. "Kamu suka sama itu cewek?" Jordan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Arga terbahak. "Suka? Gak mungkin lah," sangkal Arga di sela tawanya. Jordan masih menyipitkan matanya. Tak

