Pemberian CEO yang Luar Biasa

1144 Words
Setelah berbelanja dan menerima bantuan dari CEO Lee, Laura dan CEO Lee keluar dari pusat perbelanjaan. Hari telah berubah menjadi malam, dan mereka berdua melihat langit yang gelap di hadapan mereka. Di waktu bersamaan Laura melihat seseorang yang ia kenali tak jauh dari tempatnya berdiri. Laura melihat Ratih, ibu Brian, berdiri tak jauh dari tempat mereka berada. Laura merasa panik dan ingin menghindari pertemuan dengan ibu dari mantan suaminya itu. Laura merasa panik dan ia berbatin, 'Oh tidak, itu ibu Ratih! Aku tidak ingin bertemu dengannya.' "Oppa, cepatlah, kita harus segera masuk ke mobil," ajak Laura. Laura dengan cepat melangkah lebih dekat ke CEO Lee, berusaha bersembunyi di balik tubuhnya yang tegap. Dia memegang erat lengan CEO Lee dengan ekspresi khawatir. Laura kemudian berbisik, "Oppa, tolong kita masuk ke dalam mobil sekarang. Tolong jangan biarkan aku bertemu dengannya," ucapnya sangat pelan. CEO Lee melihat ke arah Ratih dan menyadari kecemasan Laura. Dia ingin membuat Laura merasa aman dan nyaman. CEO Lee pun mengangguk, "Tentu, Laura. Jangan khawatir, aku akan melindungimu. Kita akan cepat masuk ke dalam mobil." Mereka berjalan dengan cepat menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari sana. Laura terus berada di belakang CEO Lee, berusaha untuk tidak terlihat oleh Ratih. Saat mereka mendekati mobil, Laura dengan hati-hati membuka pintu depan dan masuk ke sana sementara CEO Lee duduk di belakang kemudi. Laura masuk ke dalam mobil dan duduk di samping CEO Lee. Mereka segera menutup pintu mobil dan memulai perjalanan pulang. Laura merasa lega karena berhasil menghindari pertemuan yang tidak diinginkan dengan Ratih. Laura menampakan wajah lega, "Terima kasih, Oppa. Aku benar-benar menghargaimu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku bertemu dengannya," ungkap Laura. CEO Lee pun tersenyum sambil pandangan mata tetap ke jalan, "Jangan khawatir, Laura. Aku selalu ada untukmu," ucapnya romantis.. Laura merasa terharu dan bersyukur atas dukungan dan perlindungan yang diberikan oleh CEO Lee. Di dalam mobil CEO Lee, Laura duduk di kursi penumpang depan. Mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah meninggalkan kantor. CEO Lee memandang Laura dengan rasa ingin tahu, "Laura, tadi kamu terlihat terburu-buru. Siapa yang membuatmu ingin cepat masuk mobil?" Tanya CEO Lee. Laura memandang keluar jendela dengan ekspresi sedih, "Saya melihat mertua saya di lobi, dan saya tidak ingin bertemu dengannya." CEO Lee mengangkat alis, "Mertua? Jadi, kamu masih memiliki suami?" Tanya CEO Lee kaget. Laura melihat ke arah CEO Lee dan menggelengkan kepala cepat," Tidak, Oppa. Maksud saya tadi yang saya lihat adalah ibu mantan suami saya. Setahu saya, tidak ada yang namanya mantan mertua. Hanya ada mantan suami atau mantan istri saja." CEO Lee pun terkejut, "Oh, maaf. Aku salah mengerti. Jadi, kamu benar-benar tidak lagi memiliki hubungan dengan pasanganmu?" Tanya CEO Lee memastikan. Laura berat hati, "Ya, Oppa. Kami berpisah saya tidak ingin terlibat dengan mantan suami dan keluarganya lagi." Laura masih ingat benar bagaimana ia dikucilkan di keluarga Brian dulu, hanya karena ia tak bekerja seperti anak menantu lainnya. Padahal ia tak bekerja karena permintaan Brian. CEO Lee pun memahami maksud Laura, "Aku memahami sekarang. Maaf atas asumsi yang salah sebelumnya. Perceraian dan hubungan keluarga yang rumit bisa menjadi situasi yang sulit untuk dihadapi." Laura tersenyum tipis, "Terima kasih, Oppa. Saya berusaha menjaga kehidupan pribadi saya tetap terpisah dari pekerjaan. Tapi, kadang-kadang situasi tidak bisa dihindari." Curhat Laura. CEO Lee mengangguk pengertian, "Tentu, Laura. Privasi dan kenyamanan sangat penting. Jika ada yang bisa kulakukan untuk membantumu, beri tahu aku." Tawar CEO Lee. Laura menghargai tawaran tersebut, "Terima kasih. Aku akan mengusahakannya. Saya berharap kedepannya semuanya akan lebih baik," jawab Laura. CEO Lee melanjutkan perjalanan dengan penuh perhatian dan membiarkan Laura merenung di sampingnya. Mereka berdua saling menghormati dan memahami pentingnya menjaga privasi dan batasan dalam kehidupan pribadi. Sementara itu Ratih, perempuan berusia lima puluh tahunan berdiri di dekat pintu pusat perbelanjaan, ia sedang menunggu kedatangan Anggia, anak perempuannya yang tak lain adik Brian, mantan suami Laura. Ratih merasa ia melihat Laura, mantan istri Brian masuk ke dalam mobil mewah yang terparkir di dekatnya. Matanya membelalak, terkejut dengan apa yang dia lihat. Ratih memicingkan mata, dan ia pun berbatin, 'Tunggu sebentar, apa aku tadi benar-benar melihat Laura? Mantan istri Brian? Tapi mana mungkin dia masuk ke mobil mewah. Ah sepertinya aku salah lihat.' Pikir Ratih dengan sinis. Saat Ratih memutar otaknya, Anggia mendekatinya dengan senyum ceria. Anggia menggandeng tangan Ratih, "ibu! cepat masuk! Ada penawaran diskon besar di pusat perbelanjaan ini. Aku ingin kita melihat-lihat bersama," ajak Anggia yang masih kuliah itu. Ratih tersenyum pada Anggia, "Baiklah, sayang. Ayo kita masuk." Ratih berusaha melepaskan pikirannya tentang Laura, fokus pada momen bersama Anggia. Mereka berdua masuk ke pusat perbelanjaan dan mulai menjelajahi berbagai toko yang ada. Ratih berusaha cuek tapi karena ia sangat penasaran ia pun bertanya pada Anggia yang berjalan di sampingnya, "Sayang, kamu tadi melihat Laura di luar?" Anggia memikirkan sejenak, "Laura? Mantan istri kak Brian? Tidak, Ibu. Aku tidak melihatnya. Mengapa?" Ratih menggelengkan kepala, "Ah, mungkin hanya imajinasi ibu saja. Tidak penting." Ujar Ratih. Anggia mengedipkan mata, "ibu, jangan terlalu memikirkannya. Kita punya waktu yang berharga untuk menghabiskan bersama sekarang. Mari kita nikmati saja momen ini." Ratih tersenyum dan merasa lega atas dukungan dan pengertian Anggia. Dia mengikuti putrinya dalam menjelajahi pusat perbelanjaan, mencoba melupakan kejadian tadi. Laura kini sudah sampai di rumahnya. Ia diantar oleh CEO Lee, namun CEO Lee tidak mampir karena Laura melarangnya. Laura berdiri di depan ranjangnya, memandangi dengan takjub pakaian, tas, dan sepatu mewah yang disusun rapi di atasnya. Wajahnya dipenuhi dengan rasa campur aduk antara kekaguman dan kebingungan atas kebaikan CEO Lee. Laura menggelengkan kepala dengan rasa takjub, "Saya benar-benar tidak bisa memahami mengapa CEO Lee rela mengeluarkan begitu banyak uang untuk saya. Pakaian, tas, dan sepatu ini begitu mewah dan mahal." Laura meraih salah satu pakaian yang tergantung di atas ranjangnya dan merasa kainnya yang halus di antara jari-jarinya. Dia tidak bisa menahan senyuman yang timbul di wajahnya saat dia memikirkan kemurahan hati CEO Lee. Laura bicara dalam hati, 'Mungkin ini memang rezekiku. Aku tidak bisa menolak rezeki ini dan saya benar-benar bersyukur. CEO Lee telah memperlakukanku dengan baik dan memberikan lebih dari yang aku bayangkan.' Laura memeriksa satu per satu barang-barang yang ada di atas ranjangnya, memperhatikan keindahan dan kualitasnya yang luar biasa. Dia merasa seperti dia berada dalam mimpi yang indah. Laura pun bersyukur, "aku berjanji akan menjaga dan menghargai semua ini." Laura meninggalkan ranjangnya dengan hati penuh rasa syukur dan semangat yang baru. Dia siap menghadapi tantangan baru dan bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan padanya oleh CEO Lee tidak akan disia-siakan. Keesokan harinya Norma tiba di perusahaan, dan wajahnya tampak muram. Di sisi lain, Laura keluar dari taksi dan penampilannya sangat luar biasa, ia memakan pakaian, tas hingga sepatu yang kemarin dibelikan CEO Lee. Laura tiba di perusahaan dengan wajah segar dan bersemangat. Norma menyadari kedatangan Laura, dan ia langsung menatap sinis pada Laura. Laura yang menyadarinya langsung mengatakan sesuatu yang membuat Norma geram.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD