Sudah empat hari Serin dan Adrian berada di Korea, karena ada sedikit masalah, Mr. Zulan Wang mengundurkan jadwal pertemuannya.
“Mas pertemuannya di sini?” tanya Serin yang duduk di samping suaminya.
“Iya Sayang,” jawab Adrian dengan menatap wajah cantik istrinya. Serin memakai dress selutut bermotif bunga hitam kecil, dengan riasan wajah yang sangat natural, dengan sedikit polesan di bibirnya, semakin memancarkan kecantikan dalam diri Serin. Tak berselang lama, Mr. Zulan Wang datang bersama sekertarisnya.
“Mr.Adrian,” ucap Mr. Zulan Wang.
“Mr. Zulan Wang,” jawab Adrian sambil berjabat tangan.
“Gidalyeoseo mianhae (maaf sudah menunggu),” ucap Mr. Zulan Wang penuh penyesalan.
“Gwaenchanh-a Mr.Zulan Wang (tidak apa-apa Mr.zulang wang),” ucap Adrian balik.
“Uliui hyeoblyeog-e daehae iyagi (bisa dimulai pembicaraan kerja sama kita)?” ucap Adrian dengan sopan.
“Maeu hal su-issda (sangat bisa),” ucap Mr. Zulan Wang. Pembicaraan tentang kerjasamapun di mulai dengan sangat baik oleh kedua pihak. Sampai akhirnya hasil keputusanpun bisa di dapat dan berjalan dengan sangat baik. Sampai akhirnya mendapatkan titik temu untuk pengoperasian sistem yang akan digunakan perusahaan Mr.Zulan Wang.
“Isalam-eun nae waipeu ya (kenalkan ini istri saya),” ucap Adrian disela-sela pembicaraannya dengan Mr. Zulan Wang. Mr. Zulan Wang tidak menyadari ada sesosok wanita cantik yang berada di samping Adrian. Saat melihat wanita yang berada di samping Adrian, Mr. Zulan Wang begitu terkejut. Karena Mr. Zulan Wang sangat mengenal baik istri Adrian.
“Serin” teriak Mr. Zulan Wang dengan histeris. Adrian mendadak bingung saat Mr. Zulan Wang mengenal istrinya.
“Annyeong wang samchon (hai paman wang),” ucap Serin menahan tawa melihat ekspresi kaget Mr. Zulan Wang.
“Meongcheong a,wang samchon-eul ij-eosseo (dasar anak nakal kau melupakan Paman Wang,” ucap Mr. Zulan Wang sambil merentangkan tangannya.
“Jeoldae samchon, Serin-e abeoji gat-eun samchon (tidak akan pernah Paman, Paman seperti Ayah buat Serin),” ucap Serin berjalan mendekati Mr. Zulan Wang dan memeluknya. Adrian dan Josep semakin heran melihat pemandangan yang ada di depan mereka.
“Boss, Nyonya kenal sama Mr. Zulan Wang” ucap Josep lirih pada Adrian.
“Sepertinya begitu Josep. Kalau mendengar dari percakapan mereka, mereka saling mengenal. Istriku memang penuh kejutan yang tidak terduga,” ucap Adrian pada Josep sambil tetap menatap istrinya yang sedang bercengkrama dengan Mr. Zulan Wang..
Serin kembali ke tempat duduknya dan kembali berbincang-bincang dengan Mr. Zulan Wang.
“Naomi samchon-eun eottaeyo jeongmal geuliwoyo (bagaimana kabar Naomi, Paman? aku sangat merindukannya)?” tanya Serin.
“Naomineun dangsin deogbun-e aju joh-a,naomineun geunyeoui insaeng-eul gyesoghal su issgo ije geunyeoneun dijaineoibnida (Naomi sangat baik, berkatmu Naomi bisa melanjutkan hidupnya, dan sekarang dia menjadi seorang desainer),” tutur Mr. Zulan Wang pada Serin. Serin sangat bahagia mendengar kabar tentang Naomi. Buat Serin, Naomi seperti adik untuknya. Awal pertemuan Serin dan Naomi saat Serin baru tinggal di New York. Saat itu Naomi di culik oleh musuh dari ayahnya yang tidak lain adalah musuh dari Mr. Zulan Wang. Serin menyembunyikan Naomi dari kejaran para pembunuh bayaran yang hendak membunuh Naomi. Semenjak saat itu, Naomi menganggap Serin pahlawannya, dan mengagumi sosok Serin. Naomi sangat menyayangi Serin seperti kakaknya sendiri.
“Dangsin-ui salmgwa hamkke Serinleul yujihago geunyeoleul haechiji masibsio (jaga Serin dengan nyawamu,jangan pernah sakiti dia),” ucap Mr. Zulan Wang pada Adrian. Arsenio menjawab dengan anggukan kepala. Dunia begitu sempit, orang yang bekerjasama dengan suaminya adalah orang tua anak yang pernah dia tolong saat berada di New York. Dan yang selama ini juga bekerjasama dengan perusahaannya. Setelah berbincang cukup lama, Serin dan Arsenio pamit. Mereka harus bertolak siangnya ke Indonesia, karena perusahaan Serin ada sedikit masalah.
“Dangsingwa hamkke ilhagedoeeoseo bangabseubnida (senang bekerjasama denganmu),” ucap Mr. Zulan Wang sambil memeluk Adrian.
“Naneun ttohan dangsingwa hamkke ilhagedoeeo gippeubnida (saya juga senang bekerjasama dengan Anda),” ucap Adrian dengan sopan. Kemudian Mr. Zulan Wang memeluk Serin dengan sayang.
“Jasin-eul dolbwa,” ucap Mr. Zulan Wang yang dijawab dengan anggukan oleh Serin. Serin pamit dan berjalan berdampingan dengan Adrian menuju mobilnya. diikuti oleh Josep di belakang mereka. Mr.Zulan Wang menatap kepergian Serin dengan bahagia. Serin dan Adrian menaiki mobil mereka dan langsung melaju menuju ke bandara tempat jet pribadi Adrian berada. Sebelum berangkat tadi, Serin sekalian mengemasi barang-barangnya. Jadi, tidak harus kembali lagi ke hotel untuk berkemas.
“Sayang dari mana kamu kenal Mr. Zulan Wang?” tanya Adrian penasaran. Sepengetahuan Adrian, Mr. Zulan Wang bukanlah orang biasa dan terkenal kejam.
“Oh...Paman Wang, aku mengenalnya saat aku membantu putrinya Paman Wang yang bernama Naomi. Saat itu dia mau dibunuh oleh pembunuh bayaran saat di Swiss. Saat aku baru pertama ada di Swiss,” jelas Serin pada suaminya. Adrian mendengarkan cerita istrinya dengan perasaan ingin tahu.
“Terus kenapa kamu bisa dekat dengan Mr. Zulan Wang?” tanya Adrian lagi.
“Kalo itu salah satunya ada campur tangan dengan bisnis juga, setelah aku mengantar Naomi pulang ke Jepang, aku berbincang banyak dengan Paman Wang, dan akhirnya terjalinlah kerja sama perusahaanku dengan perusahaan Paman Wang. Paman Wang memakai semua produk dari perusahaanku untuk mengisi semua swalayan yang ia miliki dan mempunyai cabang di beberapa negara,” ucap Serin pada suaminya.
“Bukannya Mr. Zulan Wang orang Korea?” tanya Adrian.
“Paman Wang memang orang Korea, tapi Bibi Wang orang Jepang. Keluarga mereka tinggal di Jepang sebenarnya. Untuk menggelabuhi musuh Paman Wang berada di Korea,” ucap Serin dengan santai. Serin menatap suaminya yang sekarang sudah merasa puas mendengarkan penjelasannya. Adrian merasa bahagia karena istrinya sekarang sudah mulai mau bercerita tanpa harus ada yang dia tutup-tutupi.
Adrian merengkuh tubuh istrinya, menyandarkan kepala Seein di dadanya. Serin sangat menikmati mendengar dengan jelas detak jantung suaminya yang berdetak dengan cepat saat berada di dekatnya. Serin sangat menikmati irama itu, irama jantung suaminya yang membuat Serin tenang dan merasa nyaman.
“Aku mencintaimu dengan jiwa dan ragaku, tetaplah berada disampingku. Menjadi pelengkap untukku,” ucap Adrian sembari mencium puncak kepala istrinya.
“Aku juga sangat mencintaimu Mas,” ucap Serin dengan tulus kepada suaminya. Adrian yang mendengar ungkapan cinta istrinya merasa sangat bahagia.
Tiba-tiba terdengar ponsel Serin berbunyi. Saat dia lihat ternyata Carlos yang sedang menelphonenya. Serin langsung mengangkat telefonnya.
“Iya Carlis. Ada apa?” ucap Serin dengan santai.
“Nona perusahaan Albert mulai menyelidiki perusahaan kita, gara-gara mereka kalah tender dengan perusahaan kita. Karena perusahaan Abraham lebih memilih bekerjasama dengan perusahaan kita,” ucap Carlos dengan tegas.
“Tutup saja semua akses mereka Carlos dengan sistem yang kita buat. Mereka tidak akan mendapatkan informasi apa-apa. Ujung-ujungnya mereka pasti akan menghancurkanku dan membunuhku,” ucap Serin dengan tenang. Tapi tidak dengan Carlos dan Adrian yang mendengar perkataan Serin. Mereka berdua sangat khawatir dengan keselamatan Serin. Karena buat Carlos dan Adrian, Serin adalah hidup mereka.
“Saya tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi Nona,” ucap Carlos dengan penuh keyakinan.
“Aku percaya kepadamu Carlos, sekarang aku mau bertolak ke Indonesia. Siapkan semua berkas yang perlu aku pelajari dan hubungi Maria untuk menjadwalkan pertemuanku dengan para klien perusahaan kita yang sempat tertunda,” ucap Serin dengan dingin.
“Baik Nona, akan saya siapkan semuanya,” ucap Carlos dan mengakhiri panggilannya kepada Serin. Carlos memikirkan perkataan Serin. Adrian harus benar-benar dengan ekstra menjaga Serin mulai sekarang. Dia tidak ingin sampai terjadi apa-apa dengan Serin. Karena buat Carlos, Serin adalah segalanya untuknya, yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Karena cuma Serin yang dia miliki untuk saat ini, setelah keluarganya meninggal karena kecelakaan saat itu.
***
Tak akan aku biarkan ada orang yang menyakitimu....
Meskipun itu seujung kukumu yang hilang...
Akan aku pertaruhkan nyawaku untukmu menjagamu dan untuk melindungimu {Carlos gilbern }