Chapter 4 - You're Right

2428 Words
Bismillahirrahmanirrahim ✿_____✿_____✿ Ini hanya soal waktu. Karena lambat-laun kebenaran akan segera terungkap. ✿_______________✿_______________✿ Aina membuka pintu kamar Alisa, melihat sang ayah duduk di tepian ranjang sambil menatap foto Alisa yang ada di atas nakas. Setelah mencari ke mana-mana, ternyata ayahnya sedang berdiam diri di sini. Sembari membawa secangkir kopi yang sengaja dibuat khusus sang ayah, Aina masuk dan menutup pintu. Dengan mata yang tak lepas dari Ardi yang terlihat masih sedih, Aina duduk di sebelahnya. Disodorkannya kopi yang asapnya masih mengepul ke hadapan sang ayah. "Kopi, Yah?" Ardi menengok ke samping, dia tersenyum, kemudian menerima kopi pemberian Aina. Suasana hening, mereka saling diam, sesekali Ardi menyesap kopi di tangannya. "Mungkin ini alasan kenapa Allah bikin dunia ini sementara, karena segalanya yang ada di bumi memang sementara. Kesedihan, kebahagiaan, kesakitan, semuanya fana. Dan sekarang, kita lagi ada di fase sedih, Yah." Tangan Aina menggenggam tangan sang ayah yang mulai keriput. "Aku tahu Ayah terpukul karena kepergian Alisa. Gimana pun Alisa itu titipan Ibu." "Ayah nyesel, nggak punya waktu buat Alisa. Ayah selalu sibuk ini-itu, sampai Ayah nggak tahu kalau dia punya masalah di kampusnya, dia punya temen sekejam temennya itu." Ardi bahkan enggan menyebutkan namanya. "Ayah nyesel karena udah gagal menjaga kalian. Ayah masih nggak bisa terima ini. Andai Ayah punya banyak waktu buat kalian, pasti kejadian ini nggak bakal terjadi. Pasti Alisa masih hidup." "Semua ini udah jadi takdir Allah, Yah. Kita nggak bisa berandai-andai, Yah. Pasti ada hikmah di balik semua kejadian." "Allah nggak bakal menguji manusia di luar batas kemampuannya. Di sini kita harus belajar untuk ikhlas." "Ayah udah berusaha ikhlas, tapi kalau sampai detik ini pelakunya belum dihukum, Ayah belum bisa." Aina menarik napas kemudian mengeluarkannya. "Lebih baik sekarang kita sholat, Yah. Tadi udah azan Isya. Biar bisa nenangin pikiran dan ngusir segala rasa khawatir. In syaa Allah, Allah juga bakal kasih kita jalan keluar." "Sholat?" Aina mengangguk. "Ada sebuah kutipan yang isinya begini : sebelum manusia dapat masalah, Allah udah punya jalan keluarnya. Jadi tugas kita cuma berusaha cari petunjuk sambil minta jalan yang terbaik sama Allah." Ia tahu, ayahnya jarang sekali mengerjakan salat. Aina bukan dilahirkan dari keluarga paham agama yang kental, orang tuanya termasuk biasa-biasa saja dalam hal beribadah. Salat wajib jarang, tapi salat idul Fitri yang dilakukan setiap satu tahun sekali pasti dikerjakan. Puasa hanya sebatas bulan Ramadan, itu pun kadang batal dengan alasan lelah bekerja. Waktu lebih banyak dipakai untuk kepentingan dunia. Bekerja, bekerja, dan bekerja. Lahir dari keluarga yang biasa saja tak lantas membuat Aina pasrah saja. Sebab Allah tak akan mengubah nasib seorang hamba jika hambanya tidak mau lebih dulu berusaha untuk mau berubah. Sesuai dengan surat Ar-Rad ayat 11 dalam Alquran. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." Berhijrah bukan hanya untuk yang lulusan pesantren saja. Berhijrah bukan hanya untuk yang lahir dari keluarga ustaz atau kyai saja. Berhijrah bukan hanya untuk kaum yang bergelar santri saja. Semuanya berhak untuk berubah menjadi lebih baik jika memang ingin. Bahkan jika terlahir dari seorang p*****r pun, anak yang tumbuh dari hasil perzinaan orang tuanya punya hak untuk menjadi manusia yang baik tanpa dilihat dari rahim siapa dia dilahirkan. Jika semua anak memang akan selalu mengikuti didikan orang tua, maka tidak ada keluarga yang anaknya muslim sedang orang tuanya menganut pemahaman lain. Itu menandakan bahwa hidayah datang kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Tidak memandang status, jabatan, golongan, dan lain sebagainya. Aina mulai berhijrah saat ia secara tidak sengaja menabrak seseorang kala masih belajar mengendarai mobil di masa remaja, yang membuatnya tidak berani lagi menjalankan mobil sendirian. Dia serasa diberi kesempatan ke dua saat keluarga korban tidak menuntut padahal Aina akan menyerahkan diri karena korban terluka cukup parah. Namun dengan hati yang lembut, sang keluarga memaafkannya dan memilih berdamai, toh anak yang Aina tabrak akhirnya sembuh juga. Semenjak itu Aina mulai berhubungan dengan keluarga korban, kadang mengirim bingkisan berupa makanan atau barang, kadang hanya sebatas silaturahmi. Mereka selalu menyambutnya dengan penuh kasih sayang dan limpahan kehangatan, yang tidak ia dapatkan di rumahnya. Berkat dirinya yang beberapa kali berinteraksi dengan mereka yang selalu mengerjakan ibadah salat, berlaku baik, sopan, ramah, membuatnya ingin belajar juga. Dari situ perjalanan hijrah Aina dimulai. Dari situ Aina belajar salat dan menutup aurat. "Ayah mau sholat?" tanya Aina lagi. Perlahan sang ayah mengangguk. "Boleh, Ai." Aina tersenyum bahagia. Sebab momen ini jarang sekali dilakukan di keluarganya. Meski hidup Aina serba enak, karir melesat, segala keinginan terpenuhi, tapi Aina belum pernah menikmati enaknya beribadah bersama keluarga. Kematian Alisa sangat mengguncang Aina karena dia belum sempat mengajarkan adiknya menutup aurat. Kalian salah jika mengira Alisa berhijab sama seperti Aina. Hal paling menyakitkan adalah ketika dirinya gagal merangkul orang yang disayanginya untuk berubah. Aina pernah menyuruh Alisa untuk berkerudung, tapi adiknya menolak dengan alasan belum siap dan kerap mengalihkan pembicaraan. Aina pun memaklumi, semua ada masanya, dan semoga tidak ada penyesalan dalam diri Alisa dan Allah memberinya waktu yang panjang. Ia pun selalu berdoa agar Alisa bisa lekas menutup aurat, karena menjadi baik saja tidak cukup. Perintah menutup aurat mutlak ada dalam Alquran, tidak bisa diganggu gugat lagi. Dosanya akan tetap dicatat. Jika dengan kepergian Alisa bisa membuat sang ayah mau diajak salat dan mau menghabiskan waktu lebih banyak dengan putrinya, Aina tidak tahu harus merasa sedih atau bahagia. Mereka pun melaksanakan salat di kamar Alisa. Andai ada Alisa di sini, Aina akan sangat merasa bahagia, lantaran mereka melaksanakan salat bersama. ✿_______________✿_______________✿ "Ngapain kamu duduk di sana?" Wanita yang tengah duduk lantas mendongak. "Oh, kamu udah datang?" tanya Delia. Winda masih memasang wajah tak bersahabat. Semenjak kematian Alisa, dia sudah berubah, tidak akan tinggal diam jika Delia mengeluarkan kata-k********r atau memperlakukannya bagai babu. Sesakit itu hatinya sampai memaafkan Delia pun dia tidak bisa. Sudah terlalu banyak kesalahan Delia, puncaknya adalah saat dia melihat Delia diborgol polisi di TKP dan Alisa dinyatakan meninggal. Andai Alisa bisa diselamatkan, pasti dia akan membongkar kejahatan Delia, karena hanya dia satu-satunya saksi utama di malam mengerikan itu. Hanya Alisa yang tahu, bagaimana kejadian yang sebenarnya. Ya, hanya Alisa yang tahu. "Lo temen gue, Wind. Lo tau gue, kan? Sejahat apa pun gue, gue nggak mungkin bunuh orang. Please, percaya sama gue. Gue cuma butuh satu orang untuk percaya sama gue selain pengacara gue." "Bukannya semua bukti udah jelas? Kamu datang ke rumah Alisa karena kamu mau ngelabrak dia saat tahu kalau Renaldi habis nembak Alisa. Kamu pasti marah, kan? Kamu iri sama dia?" "Semarah apa pun gue, gue nggak bakal sampai bunuh Alisa. Gue datang ke sana emang itu tujuannya, tapi waktu gue baru sampe di kamarnya, dia udah jatoh ke bawah. Gue panik, dong! Dan sialnya, di bawah ada orang waktu gue mau bantu Alisa .... Alhasil ... gue yang nggak tahu apa-apa tiba-tiba dilaporin ke polisi." Winda terdiam, seperti tengah memikirkan sesuatu. "Mau kamu cerita panjang lebar kayak apa pun, aku nggak percaya." "Heh! Gue udah ajak ngomong lo baik-baik, ya! Gue serius mau minta bantuan ke lo, karena cuma lo harapan satu-satunya yang gue punya." "Tapi maaf, aku nggak percaya sama kamu." "Winda!" Secara tak sengaja Delia mendorong Winda hingga b****g perempuan itu menabrak meja lain. Dia lekas dibantu mahasiswa yang ada di sana, kemudian menatap sinis dan menyumpah serapahi Delia yang sudah dimusuhi sejak pertama kali dia masuk kuliah lagi setelah ditahan pihak kejaksaan. Melihat itu semua Delia sudah tidak tahan, ia muak dituduh pembunuh. Belum lagi Renaldi yang kini ikut memusuhinya juga. Dia sangat sedih karena kematian Alisa, dan dia juga sama-sama menyalahkan dirinya. "Rasanya percuma kalau gue bebas, tapi semua orang tetep bilang kalau gue pembunuhnya. Gue emang benci sama Alisa, karena dia punya semuanya! Gue iri sama dia! Bahkan sampai dia mati pun, temennya setia banget sama dia! Tapi sebenci apa pun, tangan gue ini ...." Delia mengangkat dua tangannya, kemudian menatapnya, "Tangan gue nggak bakal gue pakek untuk bunuh orang." Air mata keluar dari mata Delia. "Daripada gue terus tertekan, lebih baik gue ...." Wanita itu menatap sekeliling. Delia sedang berada di stasiun Klender menuju pulang. Padahal dia biasa pulang memakai bis. Tubuhnya berdiri di peron, di antara orang-orang. Suara pemberitahuan bersahut-sahutan, desingan pintu kereta pun terdengar beberapa kali. Ada penumpang yang masuk dan keluar. Dia tetap berdiri di tempat sambil meratapi hidupnya yang kacau. Hidup dalam keluarga broken home. Tidak ada yang mencintai dan menyayanginya hanya karena sikap tempramentalnya. Bahkan karena sifat pemarahnya inilah, membuat dia harus dituduh sebagai seorang pembunuh. Tidak cukupkah Tuhan memberinya cobaan? Setetes air mata lolos membasahi pipi Delia. Ia sudah merasa tidak tahan lagi. Dunia ini terlalu kejam untuk dijelajahi. Dunia ini terlalu jahat untuk dijadikan tempat perjalanan. Semuanya seakan memaksanya untuk berhenti. Peron tempatnya berdiri lumayan sepi Kakinya melangkah ke samping, berjalan ke sisi rel dengan pandangan kosong, memikirkan apa saja yang sudah dilalui untuk meyakinkan bahwa ini keputusan tepat. Mungkin dengan ini, dia bisa mengakhiri semua rasa sakit yang menyiksa. Mungkin dengan ini, telinganya tidak akan lagi mendengar hinaan. Ayahnya pun membantu dia bukan karena khawatir pada anaknya, tapi demi menjaga reputasi dirinya sendiri. Beberapa orang yang ada di sana mulai bisik-bisik dan curiga karena Delia terus mendekati ujung peron padahal ada suara pemberitahuan bahwa akan ada kereta yang lewat. Suara kereta yang melaju di rel sebelah tempat Delia berdiri mulai terdengar, menggaung. Bagian depan kerena terlihat di ujung sana. Entahlah, Delia sudah kehilangan kesadarannya. Bunyi mesin kereta terdengar keras tanda kendaraan itu semakin dekat. Delia menelan liur. Kakinya terangkat, kor KRL menusuk ke telinga, seolah ajal ada di depan mata, bersiap melepas seluruh beban masalah dan menyambut kehidupan baru. Bersiaplah lebih lagi, ini waktunya. Selamat tinggal ... semuanya. Selamat tinggal ... dunia. Jarak kereta tinggal beberapa senti, sebuah tangan menariknya secepat kilat bertepatan kala KRL lewat dengan kecepatan kencang menimbulkan suara gema. Bergemuruh seperti halilintar yang menyambar-nyambar di atas langit tanpa jeda. Delia jatuh ke pelataran, pun dengan wanita yang barusan menariknya menghindar dari hantaman badan kereta. Semua orang menjerit dengan mata melotot melihat pemandangan heroik itu. Jika si penolong tidak datang tepat waktu, mungkin kini nyawa wanita yang berusaha melenyapkan diri sudah melayang, tubuhnya akan hancur terbawa arus kereta hingga berakhir menjadi kisah mistis. "Kamu mau mengakhiri hidup kamu?" tanya wanita itu, membuat Delia terkejut karena ia mengenalnya. "Apa maksud kamu mau loncat ke rel kereta? Untuk menghindari masalah?" Delia yang masih shock belum bisa menjawab apa pun. Sauara mesin kereta seolah masih menghantuinya, berdenging bagai musik horor yang amat memekakkan. Tapi ia tidak boleh takut. s**l! Rencana bunuh dirinya gagal. "Buat apa Kakak nolong gue?! Buat apa? Gue pengin mati! Gue pengin mati!" Delia hendak beranjak dan akan segera loncat selagi kereta masih melaju, tapi Aina menahannya. "Gue udah bunuh adik Kakak! Ini kan yang mau kalian liat? Bukannya nyawa harus dibalas dengan nyawa?!" "Setelah kamu buat adik saya meninggal, kamu mau bunuh diri?! Di mana tanggung jawab kamu?! Kamu belum menerima hukuman yang setimpa! Kamu pikir setelah kamu bunuh diri semuanya bakal baik-baik aja?! Kamu sanggup menerima hukuman atas dosa kamu di alam sana sebelum kamu memperbaiki semuanya?! SANGGUP?!" Aina menelototkan mata. "Orang baik aja, sesholeh apa pun, kalau dia bunuh diri, Allah nggak bakal kasih izin dia masuk surga! Apalagi kamu yang udah ngelakuin dosa besar! Kamu sanggup terima semua konsekuensinya?!" teriak Aina menyadarkan Delia. Wanita muda itu diam dengan keringat mengucur di wajah dan deru napas tak beraturan. "Aku tanya sekali lagi, apa kamu sanggup terima hukuman di akhirat nanti?! SANGGUP?" Mata Aina berkaca-kaca, emosinya meletup-letup. "Mana ada orang yang sanggup saat dirinya dituduh sebagai pembunuh bahkan ditatap penuh kebencian sama semua orang? Mana ada orang yang sanggup karena harus hidup dalam kesulitan secara terus menerus, mana ada, Kak?!" "Mulai mengelak, sekarang merasa menjadi korban. Kalau dalam sebuah film, kamu antagonis yang sangat menjijikan! Kamu yang menyakiti tapi seolah menjadi yang tersakiti. Munafik! Kenapa kamu nggak sekolah jurusan akting aja? Nanti pasti kamu lolos untuk jadi artis. Akting kamu bagus." Aina berdiri, kemudian memberi tepuk tangan di hadapan Delia yang air matanya berjatuhan. Tidak peduli bahwa kini mereka sedang menjadi bahan tontonan semua orang. "Hiduplah lebih lama dan tebus kesalahan kamu di dunia, bertaubatlah, supaya semuanya lunas, dan meringankan beban hukuman di akhirat nanti. Allah baik, kok. Kesalahan kamu nggak sebesar Fir'aun. Masih banyak waktu untuk menebus dosa selagi kamu masih hidup...." "Apa yang harus aku bayar kalau bukan aku yang udah bunuh Alisa?!" teriak Delia. Geraham Aina mengetat. "Apa yang harus aku buktiin kalau kalian nggak percaya?!" "Kalau begitu, oke! Jangan jadi pengecut! Kalau kamu ngerasa nggak bersalah, kenapa nggak coba untuk cari tahu siapa dalang di balik semua ini?" Delia tertegun. "Kalau sekarang kamu mau mati, terserah, saya nggak peduli lagi. Saya cuma mau ngasih tahu, walaupun kamu bunuh diri, orang-orang akan mengenal kamu sebagai pembunuh. Dan kehidupan akhirat nggak seindah apa yang dibayangkan orang yang memilih bunuh diri untuk mengakhiri kehidupannya di dunia." Setelah mengatakan semuanya, Aina bergegas pergi meninggalkan Delia yang tergugu. Apa maksud kakak dari Alisa? Apa dia sudah mulai percaya kalau bukan dirinya yang membunuh Alisa? Saat itu juga Alden tiba di dekat Delia setelah semenjak tadi diam memperhatikan dari jauh bersama penonton lain. Ia menatap kepergian Aina yang perlahan-lahan mengecil di pupil mata. Mungkin dia bisa lebih tenang setelah caci maki Delia karena selama ini dia udah cukup bersabar, batin Alden.  Sewaktu melihat Delia memasuki stasiun, Aina curiga kala melihat bagaimana ekspresinya, seperti habis menangis. Aina yang ingin mencari tahu sendiri pun berinisiatif untuk mengikuti Delia. Siapa tahu dia punya petunjuk. Sewaktu melihat ada yang aneh dari Delia, Aina cepat-cepat menghubungi Alden. Otaknya seolah berjalan secara otomatis untuk menghubungi Alden. Aina takut Delia melakukan hal di luar nalar. Untungnya posisi Alden sedang berada di dekat stasiun yang Aina maksud. Sebagai pengacara Delia, tentu saja Alden punya tanggu jawab atas dirinya. Itu alasan mengapa Aina mengubungi Alden. Ponsel Alden bergetar. Ia segera membuka satu notifikasi yang masuk baru saja ke aplikasi chat. Kamu benar, mungkin bukan dia pelakunya. Ya ... mungkin .... Alden menjentikkan jari. Akhirnya! Lelaki yang tengah dikelilingi euforia itu memasukkan kembali ponsel ke saku celana. Pandangannya berfokus pada Delia yang duduk di tempatnya sambil menangis. "Kamu mau sia-siakan perjuangan saya untuk bikin hakim percaya kalau kamu bukan pembunuhnya? Oh, Good! Kamu hampir aja bikin saya disebut pengacara yang udah bebasin seorang pembunuh. Karena kalau kamu bunuh diri, orang lain semakin percaya kalau kamu pelakunya!" Delia tidak menjawab apa pun selain menangis meratapi kebodohannya yang ingin bunuh diri. Bukan main kepalang senangnya Alden, akhirnya Aina mulai percaya bahwa bukan kliennya yang menjadi pembunuh Alisa. Tinggal meyakinkannya lagi saja. Berati kesempatan untuk kembali bersatu masih ada. ✿_______________✿_______________✿
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD