Sepeninggal Alika, Dehan kembali termenung. Ia terhanyut dalam lamunannya tentang kejadian yang menimpa calon istrinya. Sejujurnya, itu perbuatan biadab, menurutnya. Tidak sepantasnya para preman itu menggilir Alika dengan cara seperti itu. "Pantas saja dia sedikit trauma saat ingin aku masuki. Ck, kalau saja saat itu Alika langsung menghubungiku, aku pasti langsung mendapatkan para preman itu. Astaga! Kenapa aku peduli seperti ini? Itu terjadi juga karena kesalahannya sendiri," gumamnya. Dehan mengambil ponselnya, kemudian menekan nomor telepon Malvin di sana. Saat ini, dia benar-benar membutuhkan pemdapat Malvin, terlepas dari permasalahannya ingin merebut Kezhia dari Malvin. "Halo, Vin." "Yes, Bro. Ada apa? Nada bicaramu terlihat berbeda hari ini. Apa kau sedang tidak enak badan?" tan

