Bab 7. Istri Orang

2034 Words
Sisilia menghampiri Resti, kemudian menamparnya "Sudah ku bilang, manjauh dari kehidupan kami," hardiknya kemudian. Elsa membuka tutup botol, lalu mengambil 1 obat berbentuk pil untuk dimasukkan kedalam mulut Resti. "Kamu minum pil ini, biar musnah kamu dan anak kamu sekalian," paksa Elsa, menyodorkan obat kedepan bibir Resti. Mata perempuan paruh baya itu menatap bengis ke arah Resti. Ia mencengkram kuat dagunya. Resti terus menggelengkan kepalanya dan berkata "jangan Mah! Aku minta maaf, kasihani anakku. Aku akan pergi" pinta Resti dengan lirih. Air matanya sudah meleleh di kedua pipinya yang memerah bekas tamparan Sisilia "aku janji akan pergi, Mah! tolong lepasin aku" ibanya lagi. "Janji, kamu akan pergi dari kehidupan kita" "Iya, Mah! Aku berjanji. Aku akan pergi dari kehidupan, Mas Richard." "Sudah Mah, kita pulang saja. Yang terpenting dia sudah berjanji, awas saja sampai dia menipu kita, aku lenyapkan kamu dan anak kamu itu." ancam Sisilia menatap sinis ke arah Resti. Setelah kepergian Elsa dan Sisilia. Resti terduduk lemas di sofa ruang tamunya. Tubuhnya bergetar, keringat dingin bercucuran seiring napasnya yang terengah-engah. Ia mengelus perutnya yang sedikit keram, mungkin anaknya merasakan ketegangan yang dirasakan bundanya. Dengan perlahan Resti terus mengusapnya memberikan kenyamanan untuk buah hati yang sedang ia kandung, sembari mengatur napasnya dengan perlahan. "Minum dulu, Bu!" pinta Minah, ia memberikan 1 gelas air putih "ibu enggak apa-apa kan?" tanyanya kemudian. "Jangan khawatir, aku baik-baik saja" jawab Resti setelah meminum 1 gelas air putih dan menyodorkan gelas kosongnya ke arah Minah. "Sebaiknya ibu beristirahat" ucap Minah, sembari menaruh gelas kosong tersebut ke atas meja. Resti mengangguk, dengan perlahan ia beranjak berdiri. Minah langsung membantu majikannya untuk memapahnya menuju kamar miliknya. **** Semenjak kejadian tempo hari Resti menjadi sosok yang lebih pendiam, terkadang ia merasakan ketakutan jika berada sendirian. Oleh karena itu Minah dimintanya untuk selalu menemaninya. Richard hampir tidak pernah pulang ke apartment nya. Laki-laki itu lebih banyak menghabiskan waktunya bersama, Sisilia. Bahkan sampai saat ini dia tidak pernah menanyakan berapa usia kandungan Resti? Atau pun menanyakan kesehatan ibu dan bayinya? Yang laki-laki itu sibukkan hanya pekerjaannya saja. Kalau pun saat ia pulang kerumahnya, ia akan direpotkan dengan rengekan-rengekan Sisilia yang manja. Sepertinya, Sisilia sengaja seperti mencegah agar Richard tidak bertemu dengan Resti, dan terus berada bersamanya. Ada saja alasannya yang ia keluhkan kepada laki-laki itu. Seperti mual, pusing, bahkan kadang ia bisa berpura-pura sakit perut. Elsa pun terlihat seperti mendukungnya, ia terus menyuruh agar anaknya tetap berada disamping Sisilia. Dengan alasan waktu Sisilia sebentar lagi akan melahirkan, oleh karena itu ia harus selalu siaga mendampinginya. Richard tidak pernah menyadari bahwa di waktu yang bersamaan, Resti mulai merasakan kontraksi-kontraksi palsu bahwa tanda-tanda melahirkan sepertinya semakin dekat. Dan menurut perkiraan dokter sekitar satu minggu lagi persiapan melahirkan. Kini Resti dan Minah sedang mengecek kondisi kehamilannya. "Baby nya sehat ya bu" ucap dokter saat memeriksa kehamilan Resti. "Syukur Alhamdulillah, sehat cah bagus." Ucap Minah antusias, sembari menatap layar monitor di mana terlihat janin perempuan sedang bergerak lincah. Tangan Minah terus mengelus punggung tangan Resti. "Baby nya cantik sekali, apa ada keluhan?" tanya Dokter sekali lagi, berharap kali ini pasiennya yang menjawab. Akan tetapi pertanyaannya justru tak mendapat respon apapun oleh pasien nya. Resti hanya meneteskan air matanya haru, sembari terus menatap layar monitor yang menampilkan rupa wajah anaknya. "Setau saya tidak ada keluhan, Dok" jawab Minah, karena Resti tak kunjung menjawab pertanyaan sang dokter. Perempuan itu larut dalam keharuan dan kebahagiaan, bahwa sebentar lagi ia akan mempunyai seorang anak perempuan. Ia tidak akan mempermasalahkan jika nanti ia dan anaknya tidak dianggap oleh suaminya bahkan cucu oleh Elsa-mertuanya. Dokter tersebut menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia melepas sarung tangan kemudian membuangnya ketempat sampah lalu melangkah menuju wastafel. Ia mencuci tangannya, setelah itu ia mempersilahkan pasiennya untuk duduk kemudian menuliskan resep obat. Resti duduk di bangku yang telah tersedia dan hanya tersekat oleh meja. "Kalau boleh tau, kenapa ibu tidak pernah didampingi suami?" tanya Dokter disela-sela kegiatan menuliskan resep obat untuk Resti. Resti menatap Dokter tersebut. Ia menundukkan pandangannya, tanpa menjawab satu patah kata dari pertanyaan, Dokter. Laki-laki berkaca mata yang berprofesi sebagai dokter itu menghentikan kegiatannya, lalu melirik sekilas perempuan didepannya. Ia jadi tak enak hati saat melihat raut sendu perempuan di depannya. "Hemm, maaf sebelumnya. Karena saya ingin memberikan beberapa penjelasan sedikit kepada calon ayahnya." jelas dokter muda tersebut. "Sebaiknya satu minggu kedepan harus segera dipersiapkan untuk proses kelahiran baby nya," sambung Dokter itu yang bernama Adrian, ke arah Resti kemudian beralih menatap Minah. "Majikan laki-laki saya sedang di luar kota, Dokter. Jadi saya yang ditugaskan untuk menjaga, Bu Resti" jawab Minah sedikit berbohong. Dokter Adrian tidak membuka suaranya lagi setelah mendengar penjelasan dari, Minah. Ia dengan segera meresepkan obat kedalam secarik kertas, kemudian memberikannya kepada, Minah. "Kasihan, masih muda dan cantik malah disia-siakan oleh suaminya. Aku kalau punya istri kayak gitu, akan aku jaga ke mana pun dia melangkah" dokter Adrian berguman sendiri, setelah Resti dan Minah keluar dari ruanngannya. Laki-laki itu menepuk keningnya saat menyadarinya "Kenapa mikirin istri orang." **** "Mau mampir, Bu?" tanya Minah ke arah Resti, saat mereka sudah berada di dalam taksi. Resti menggelengkan kepalanya, sembari terus menatap keluar kaca jendela mobil yang ia tumpangi bersama, Minah. "Bu," panggil Minah ke arah Resti. Resti menoleh ke arah Minah, kemudian tersenyum saat menyadari tangan Minah mengelus lembut perutnya yang membuncit. "Ibu jangan banyak pikiran!" "Iya, Bi" balas Resti tersenyum. Sekitar hampir setengah jam, mereka tiba apartment tempat tinggal, Resti. "Dari mana aja kamu?" tanya Richard menatap ke arah Resti. Ia kesal menunggu kedatangan istrinya sudah lebih dari satu jam yang lalu. Laki-laki itu menyilangkan kedua tangannya dan menghela napasnya menahan kesal. Hari ini entah kenapa ia Rindu dengan Resti, oleh karena itu ia sengaja pulang lebih awal. Niat ia ingin mampir sebentar untuk bertemu. Ternyata perempuan itu malah tidak ada. "Dari dokter, Mas" jawab Resti santai. Ia berjalan melewati suaminya masuk ke dalam kamarnya. "Deg!!" Wajah laki-laki itu seperti tertampar oleh kata-kata Resti, selama ini ia tidak pernah memperhatikan perempuan itu. Bahkan ia sama sekali tidak pernah memberikan perhatian untuk istri dan calon anaknya. Mengetahui usia kandungan Resti pun ia tidak pernah tau. Bahkan terlihat jelas perawakan tubuh perempuan itu semakin kurus dan kecil. Richard mengekori langkah kaki sang istri, masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Resti kesusahan untuk membuka resleting baju yang berada dibelakang tubuh istrinya. Dengan sigap laki-laki itu membantunya, ia menurunkan resleting baju tersebut, hingga memperlihatkan punggung halus nan putih milik perempuan itu. Dengan susah payah Richard menelan selavinanya, melihat pemandangan indah di depannya. Perlahan ia mengecupnya meresapi aroma tubuh istrinya yang ia rindukan. Resti memejamkan matanya, meresapi sentuhan tangan suaminya. Jujur saja ia juga sangat-sangat merindukan suaminya. Mungkin terdengar bodoh! entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu merindukan laki-laki itu. Akan tetapi ia harus bisa mengendalikan dirinya, bahwa ada istri lain yang lebih membutuhkan perhatiannya. Ia menggelengkan kepalanya guna menyadarkan sentuhan laki-laki itu. Ia tidak boleh larut akan itu semua. Ia menjarakkan posisinya dengan sang suami. Kemudian ia berlalu masuk ke dalam kamar mandi, guna membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Richard tersentak kaget akan penolakan istrinya, tapi dia terus memperhatikannya sampai di mana Resti menghilang masuk ke dalam kamar mandi. Ponsel Richard bergetar seiring suara panggilan masuk. Ia merogoh ponsel tersebut yang berada di dalam kantong celananya. Kemudian ia melihat dilayar ponselnya nama sang mama yang menghubunginya. "Richard, kamu di mana? ini Sisilia sebentar lagi akan melahirkan. Mama langsung bawa ke rumah sakit, kamu segera menyusul" ucap Elsa melalu sambungan teleponnya, saat Richard mengangkatnya. Laki-laki itu panik, dan ia pun langsung berlalu pergi meninggalkan unit apartment, Resti. Ia sampai lupa berpamitan dengan istrinya itu. Secepat kilat ia berlari menuju kendaraannya, saat ia sudah sampai di parkiran. Mobil yang dikendarainya melesat dengan cepat meninggalkan gedung apartment. Setelah kegiatan bersih-bersihnya selama setengah jam. Resti keluar dari dalam kamar mandi, dengan sudah berpakaian lengkap mengenakan daster yang super nyaman dan adem. Perempuan itu menggelengkan kepalanya, saat menyadari bahwa sang suami kembali meninggalkannya. Ia duduk di atas ranjangnya, dengan tatapan kosong perlahan tangannya bergerak menjangkau tas kecilnya, kemudian ia merogoh hasil foto janinnya. Ia mengelus halus perutnya, sembari tersenyum menatap hasil foto USG tersebut. "Baru aku akan memperlihatkan hasil foto USG anak kita, Mas!" tutur Resti sendu "Kita akan segera pergi dari sini secepatnya, tunggu kamu lahir sebentar yaa sayang." *** Ditempat lain, Saat sudah sampai dirumah sakit. Richard langsung menuju ruang persalinan, di mana Sisilia akan melahirkan anaknya. "Gimana, Mah!" tanya Richard panik saat sudah sampai dan bertemu mama nya didepan ruang tunggu persalinan. "Kamu dari mana? Di hubungi susah sekali. Sisilia sedang ditangani-" "Aku mau masuk" potong Richard ucapan Elsa. tanpa menunggu persetujuan siapapun, laki-laki itu langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. "Maaf, pak!" cegah suster yang berjaga. "Saya mau lihat istri saya" pinta Richard pemilik rumah sakit tersebut. "Tapi, Pak,-" Belum selesai menjelaskan, Richard sudah menerobos masuk ke dalam ruangan. Dengan suater tersebut membiarkannya anak pemilik rumah sakit itu, untuk masuk dan mendampingi proses kelahiran anaknya. *** Selama hampir satu minggu terakhir Richard datang, ia tidak pernah datang kembali menemui Resti. Laki-laki itu hanya berkirim pesan mengabarkan bahwa Sisilia telah melahirkan. Kini tugas ia sebagia seorang ayah sekaligus suami kian bertambah. Belum lagi dengan setumpuk kerjaan dengan jadwal yang padat. Resti juga sudah terbiasa tanpa suami disisinya. Dan ia perlahan mulai menyadari betapa tidak pentingnya ia dengan anak yang dikandungnya saat ini oleh suaminya. Ia juga mulai menerima kenyataan dan takdir hidupnya, yang ia inginkan segera pergi dan hidup tenang bersama calon anaknya. Sudah beberapa hari belakangan ini, ia selalu didatangi oleh Elsa. Ia terus mendapat ancaman dari perempuan paruh baya itu, jika ia masih tetap berada di sisi Richard maka ia dan calon anaknya akan dilenyapkan. Resti hanya bisa meminta waktu sedikit saja sampai ia melahirkan. Dan untungnya, Elsa mau berbaik hati memberikan sedikit waktu untuknya. Saat ini, yang bisa ia lakukan adalah harus terus bersabar sampai proses persalinannya nanti. Sinar mentari memancarkan cahaya. Tetesan embun sisa semalaman hujan, menambah kesan sejuk dan segar untuk siapa saja yang menikmatinya. Pagi ini Resti menyempatkan dirinya untuk berjalan, diseputaran area taman yang menjadi fasilitas penghuni gedung apartment mewah itu. Sendirian, ya, hanya sendirian karena hari-hari nya hanya ia lalui sendiri. Bulir-bulir keringan mulai memenuhi keningnya, setelah ia berjalan hampir lima belas menit. Kata Minah, jika Ibu hamil mendekati kelahiran banyak berjalan itu akan mempermudah jalannya kelahiran. "Bu,.Resti" panggil seseorang. Resti menoleh karena namanya dipanggil oleh seseorang, kemudian ia tersenyum saat mengetahui bahwa yang memanggilnya adalah dokter kandungan yang biasa memeriksanya. "Bu, Resti tinggal di apartment ini?" tanya dokter Adrian, saat sudah mensejajarkan langkahnya dengan langkah Resti. "Betul, Dok" jawab Resti sembari menganggukkan kepalanya diiringi dengan senyumnya yang manis. Sesaat dokter Adrian terpana akan senyuman Resti, tapi dengan segera laki-laki itu mengendalikan dirinya. "Wah kebetulan sekali yah, saya pun tinggal di apartment ini. Lantai berapa Bu?" tanya dokter tersebut. Resti duduk di bangku taman saat dirinya mulai kelelahan. Belum juga menjawab pertanyaan dokter Adrian, suara seseorang memutus obrolannya. "Sayang, ternyata kamu di sini" ucap Richard saat melihat Resti duduk berdua bersama seorang laki-laki. Mereka menoleh ke arah sumber suara. Richard diam mematung saat melihat, Adrian. Daya ingat nya sangat tinggi. Jadi, ia mengenal dengan sangat jelas seseorang yang tengah duduk bersama istrinya. Karena beberapa waktu hari yang lalu, Laki-laki itu yang telah membantu proses kelahiran anaknya. "Loh," tatap Adrian ke arah Richard kemudian ia beralih bergantian memandang Resti. "Sini, Mas" Resti memanggil suaminya "perkebalkan, Dok. Ini suami,-" Richard langsung menghampiri Resti dan membawanya pergi dari hadapan Adrian. "Permisi, dokter" pamit Resti membungkukkan kepalanya ke arah Adrian, sembari terus mengikuti langkah kaki suaminya menjauh dari hadapan Adrian. "Hai, hati-hati, Resti sedang mengandung" ucap Adrian sedikit berteriak. Ia sedikit kesal, saat melihat Richard menarik tangan Resti sedikit berjalan dengan cepat menjauh dari hadapan Adrian. "Kemarin dia mendampingi istrinya melahirkan. Sekarang dia," Adrian terus menggerutu sendiri sembari menggelengkan kepalanya bingung. "Ah sudahlah, bukan urusanku" sambungnya lagi. "Mas, lepas! Sakit!!" Resti menghempaskan cekalan tangan Richard, sembari mengatur napasnya yang terengah-engah dan memegangi perutnya yang terasa nyeri. "Maaf, kamu enggak apa-apa?" tanya Richard menyadari kesalahannya. Resti meresponnya dengan acuh, berjalan meninggalkan suaminya. "Sayang, kamu ngapain dekat-dekat dokter Adrian," tanya Richard kembali ke arah Resti. "Aku gak dekatin dokter Adrian" jawab Resti masih terus melangkah meninggalkan suaminya. Perempuan itu berhenti sejenak lalu menoleh kebelakang manatap suaminya "kok, kamu tahu itu dokter Adrian? kan, kamu belum kenalan?" sambungnya curiga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD