Bab 5. Hanya sekedar rasa iba

1547 Words
Sisilia bergegas naik ke lantai atas di mana kamar miliknya berada, ia langsung membuka paksa pintu kamar tersebut. Kemudian perempuan itu menatap horor ke arah Richard yang saat itu tengah menekuk kepalanya seperti orang yang sedang frustasi. "Yang!" Panggil Sisilia ke arah Richard "kamu habis ngapian? Kamu digoda sama perempuan sialan itu?" Cecar Sisilia dengan pertanyaan yang beruntun "jawab, yang! Kamu habis ngapain? kok, rambut kamu basah gini?" tanyanya curiga. "Hemm, aku kena cipratan air shower, saat aku mengguyur perempuan itu" Richard terpaksa berkata bohong, agar Sisilia sedikit lebih tenang. "Benar?" tanya Sisilia tak percaya, dan hanya diangguki oleh laki-laki itu. Ia menekankan kembali pada dirinya, bahwa ia masih sangat-sangat mencintai Sisilia. Entah perasaan apa yang ia rasakan untuk Resti, apakah hanya sekedar rasa iba atau sebatas rasa bersalah. Karena ia telah memperlakukan Resti dengan tidak berperasaan. "Aku sudah lapar, sebaiknya kita sarapan di luar saja." Pinta Sisilia yang langsung bergelayut manja dilengan Richard, kemudian perempuan itu langsung membawanya untuk turun ke lantai bawah agar cepat bergegas pergi dari rumah. Saat sudah berada dilantai dasar rumahnya, laki-laki itu memperhatikan sekeliling ruangan. Seperti sedang mencari keberadaan Resti, tapi nihil. Perempuan itu tampak tak terlihat sama sekali. Kemudian Richard berlalu keluar dari rumah bersama Sisilia. Saat ini Resti sedang berada di dalam kamar miliknya. Rasa-rasanya ia sudah tidak sanggup lagi berada dirumah ini, seperti berada di dalam neraka. Ia mengepaki baju-bajunya yang berada di dalam lemari untuk ia masukkan ke dalam koper miliknya dan ia bertekad untuk pergi hari ini juga. Saat ia sedang membereskan sebagian perlengkapannya, tiba-tiba Richard masuk dan segera mengunci pintu kamar itu. Richard menatap nyalang apa yang dilakukan Resti saat itu sedang membereskan pakaiannya. Ia menghela napasnya, kemudian menghampiri Resti. "Jangan pergi," ucapnya. Resti mendongakkan kepalanya menatap Richard "apa, yang mengharuskan aku untuk tetap berada di rumah ini?" tanyanya. Matanya memancarkan kebencian terhadap suaminya. "Ya karena kamu istriku," jawabnya dengan sangat yakin. Resti tertawa lebar mendengar ucapan Richard "istri?" tanyanya kemudian "istri macam apa yang kamu maksud?" tanyanya kembali penuh dengan penekanan "dan kamu!" tunjuknya ke arah Richard tepat di depan wajah laki-laki itu sambil kembali tertawa lebar seperti mengejeknya "apa pantas disebut suami, yang memperlakukan istrinya sebagai p*****r!!" ucapnya sambil berteriak meluapkan kekesalannya. "Diam!!" Sela Richard sambil menghampiri Resti, "kamu, enggak boleh ke mana-mana. Ikuti apa kataku!!" ucap laki-laki itu dengan tegas. Setelahnya ia berlalu keluar dari dalam kamar tersebut dan pergi begitu saja. Resti mengepalkan kedua tangannya, meluapkan kekesalannya. "Aku benci kamu, Mas! dasar laki-laki sialan," umpatnya sembari berteriak, ia melempar kopernya hingga baju-baju yang sudah di bereskan berhamburan. **** Setelah kejadian waktu lalu, Resti lebih banyak mengurung dirinya di dalam kamar. Lebih tepatnya menghindari 2 manusia yang sering membuatnya sakit hati, ia hanya keluar pada pagi hari saat mereka belum bangun untuk menyiapkan sarapan, dan kembali saat mereka sudah bangun. Begitupun malam hari, ia akan mempersiapkan makan malam, setelah selesai, ia masuk kembali kedalam kamarnya. Jangan lupakan badannya yang terlihat semakin kurus, kehamilannya menyebabkan menurunnya daya nafsu makan untuk Resti. Sore ini ia duduk sendiri ditaman samping dekat kolam renang rumahnya, pandangannya menatap pada satu pohon mangga dihalaman belakang, yang tidak jauh dari tempat ia duduk saat ini. Kemudian ia menatap perutnya yang sudah sedikit membuncit, dielus dan diusap-usap perutnya. Rasa-rasanya air liurnya seperti ingin menetes saat membayangkan ia menggigit mangga muda tersebut, tapi ia hanya bisa diam dan terus menatap mangga muda yang menggelantung di pohon itu. Tanpa disadarinya, ada seseorang yang sedang memperhatikan ia dari kejauhan. Richard berdiri dipinggiran balkon kamar dengan berpegangan di sela-sela pembatasnya, laki-laki itu memejamkan matanya lalu menghembuskan napasnya dengan perlahan. Tanpa ragu ia turun dari lantai atas, menuju arah halaman samping dekat kolam renang, di mana ada Resti sedang duduk seorang diri. Ia menghampiri istrinya, yang tengah duduk sendirian. "Ehem, lagi apa?" tanya Richard tanpa direspon oleh Resti. Perempuan itu malah berdiri. Berlalu, ingin pergi dari hadapan laki-laki itu. Lbih baik menghindarinya dari pada harus berdebat. Ia sudah cukup lelah menghadapi semuanya. Saat akan melangkah pergi, tiba-tiba tangannya dicekal oleh Richard. "Mau kemana?" tanya Richard masih tidak direspon oleh Resti. Mata Resti turun menatap tangannya yang dipegang oleh Richard. Dengan gerakan cepat dan refleks laki-laki itu melepasnya. "Sorry. Kamu tunggu di sini!" Richard berjalan menghampiri pohon mangga, lalu ia naik ke atas pohon tersebut, dengan menggunakan tangga yang memang sengaja ditaruh oleh tukang kebun tidak jauh dari pohon itu. Kemudian ia memetiknya, untuk ia berikan ke Resti. "Segini cukup?" tanya laki-laki itu saat sudah turun dari atas pohon mangga tersebut, Richard mengulurkan buah itu ke arah Resti. Mata Resti menatap dua buah mangga yang diulurkan suaminya, tanpa basa-basi ia langsung mengambilnya dan pergi begitu saja meninggalkan Richard tanpa sepatah katapun hanya untuk sekedar berterima kasih terhadap laki-laki itu. Resti berjalan dengan menenteng mangga tersebut menuju arah dapur. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah istrinya, tapi ia tetap mengekori langkah kaki Resti. Saat ia sudah sampai di dapur, Richard hanya memperhatikan saja apa yang dilakukan istrinya. Ia menelan selavina dengan susah payah saat melihat Resti menggigit mangga muda tanpa rasa asam. "Enak?" Resti tersentak kaget, saat menyadari kalau suaminya dari tadi memperhatikan makannya yang rakus. "Ayo, lanjutkan. Apa tidak asam?" tanya Richard dan dijawab gelengan oleh Resti. Dua buah mangga muda sudah ludes dalam seketika, ia bergegas membersihkan sisa-sisanya. Kemudian ia berdiri meninggalkan laki-laki itu, untuk masuk kembali ke dalam kamar miliknya. Tanpa mengucapkan satu patah kata, bahkan hanya sekedar basa basi untuk berterima kasih. *** Hari-hari terus berlalu, kini kehamilan Sisilia sudah terlihat. Perempuan itu semakin manja, shoping menjadi kegemarannya dengan alasan keinginan si jabang bayi. "Heh, babu!" panggil Sisilia ke arah Resti, yang saat itu baru saja mandi dan keluar dari dalam kamarnya. Resti berhenti sejenak, kemudian kembali berjalan tanpa menoleh ataupun menjawab ucapan Sisilia. Ia melangkah ke arah taman belakang. "Kurang ajar tuh perempuan sialan, awas aja. Gue akan balas dia nanti," seringai licik terbit dari senyum tipisnya, matanya memancarkan ketidak sukaannya pada Resti. Sore hari menjadi waktu yang dinantikan oleh Resti, selepas seharian ia mengerjakan pekerjaan rumah. Entah kenapa, Sisilia seperti mengerjainya. Perempuan itu akan menyuruhnya dengan pekerjaan yang tidak masuk akal, akan tetapi perempuan itu menurutinya. Bukan karena rasa takut, hanya saja ia malas untuk berdebat. Jadi ia lebih memilih mengalah saja pikirnya. Saat Resti melangkah menuju gazebo yang berada di halaman belakang, Richard dari balkon kamarnya sedang memperhatikan perempuan itu. Ia yakin sekali, bahwa Resti mengandung anaknya. Seulas senyum tipis keluar dari bibirnya saat menatap pantulan cahaya senja disore hari mengenai sebagian wajah cantik istri pertamanya. Hingga bisa ia lihat kecantikan natural pembawaan sang bayi yang sedang ia kandung. "Sayang, kamu ngapain?" tanya Sisilia, saat masuk ke dalam kamar milik ia dan Richard. "Kamu dari mana?" Richard malah balik bertanya tanpa mau menjawab pertanyaan Sisilia. Perempuan itu menaruh piring di atas meja kecil, berisikan buah segar untuk ia nikmati bersama Richard. Sisilia menghampiri laki-laki itu dan langsung memeluknya dengan manja. "Aku bawain buah, rasanya sangat segar" jawab Sisilia manja, kedua tangannya melingkar diperut suaminya. "Besok jadwal kontrol kan?" tanya Richard sembari mengelus halus rambut Sisilia, sesekali laki-laki itu mengecupnya dengan perasaan sayang. "Sudah, yuk. Masuk," ajaknya kemudian. Tanpa mereka sadari, dari arah tempat Resti duduk, ia melihat semuanya. Interaksi keduanya, di mana laki-laki itu selalu memanjakan dan memperhatikan Sisilia. Sedangkan ia? tanpa disadari air matanya menetes, saat ia mengelus perutnya yang sudah membuncit. Resti menarik napasnya yang terasa menyesakkan d**a, kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Ia mulai merajut beberapa baju, topi dan sweater bayi, untuk ia pakaikan saat anaknya lahir nanti. "Kita berjuang sama-sama, sampai di mana kita akan pergi, jika saatnya tiba nanti. Hanya ada bunda dan kamu," batin Resti berkata sembari menghapus air mata menggunakan punggung tangannya. *** "Menantu kesayangan Mama," ucap Elsa, sembari merentangkan tangannya untuk memeluk Sisilia. "Eh, mama sudah datang?" "Sudah dong, mama mau ikut. Sengaja datang pagi-pagi sekali." Jawab Elsa, dengan mata berbinar mamancarkan kebahagiaan. "Mah!" panggil Resti menghampiri Elsa. "Mama enggak bilang dulu akan datang-" "Memangnya, Mama harus bilang yah. Kalau mau kerumah anak sendiri?" tanya Elsa ke arah Resti dengan tatapan tidak sukanya. "Bukan begitu Mah-" "Sudah-sudah," sela Elsa. Walaupun ia diperlakukan semena-mena oleh Elsa--Mama mertuanya, Resti tetap sopan dan hormat. Ia mencium punggung tangan perempuan yang sudah melahirkan suaminya itu, dengan penuh takjim. Elsa kemudian beralih ke arah Sisilia yang berada disampingnya, ia mengelus perut Sisilia yang semakin membuncit. Mata perempuan paruh baya itu sesekali melirik perut dan perubahan pisik Resti. "Kamu lagi hamil Res?" tanya Elsa menatap tajam ke arah perut Resti. "hamil sama siapa kamu?" tanyanya curiga. "Hah-" Sisilia terkejut dengan pertanyaan Elsa, kemudian ia menatap Resti dengan intens ke arah perut Resti. Seketika Richard berdiri mematung, saat ia baru saja akan melangkah ikut bergabung diantara ketiga perempuan itu. Ia memijit pelipisnya yang tiba-tiba saja berdenyut nyeri mendengar ucapan Mamanya, selama ini ia menutupi kehamilan Resti, tapi sekarang mereka sudah mengetahuinya. "Yang-" ucapan Sisilia menggantung, seketika saat itu juga ia sudah tidak sadarkan diri. Untung saja posisi ia saat itu berada di samping Elsa, dengan gerakan cepat perempuan paruh baya itu menahannya agar tubuh Sisilia tidak terbentur lantai. Richard berlari sedikit mendorong tubuh Resti ke samping, untung saja perempuan itu masih bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Laki-laki itu langsung membopongnya berlari menuju arah mobilnya. Elsa menghampiri Resti, kemudian ia menapar perempuan itu dan berkata. "Awas saja, kalau sampai, terjadi sesuatu yang tidak baik dengan menantu kesayangku," ancamnya kemudian
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD