Episode 4

5072 Words
  Leon tengah duduk di kursi ke besaran di bengkel miliknya sambil memainkan pulpen di tangannya.  'Apa yang terjadi sama gue, kenapa wajah cewek itu terus terbayang-bayang? Apa yang spesial dalam dirinya?' batin Leon saat bayangan wanita itu memeluk pria lain. Ada rasa kesal yang tak Leon pahami. Bruk Leon terperanjat saat mendengar sesuatu yang jatuh dan terlihat manusia paling menyebalkan tengah nyengir di depannya.  Dan manusia paling menyebalkan keturunan buaya itu malah duduk di kursi di hadapan Leon dengan kekehannya. "Ngelamun di siang bolong. Kesambet tau rasa loe," ujar Datan. "Ngapain loe ke sini?" tanya Leon dengan nada tidak bersahabat. "Gue pengen modif mobil gue. Loe modifin deh," ujar Datan. "Kasihin saja ke si Heru, biar dia yang urus," jawab Leon. "Loe kenapa, es Batu? tidak seperti biasanya loe melamun kayak gini?" Leon tak menjawabnya, hanya helaan nafas yang keluar dari mulutnya.”Entahlah, gue gak paham dengan apa yang gue alamin. Beberapa hari lalu gue di kalahkan oleh seorang wanita saat balapan. Dan wajah wanita itu seakan tidak ingin hilang dari benak gue.” "Bhuaaahahahaha, kiamat sudah dekat nih, seorang Ice King mau bahas cewek!" tawa Datan pecah. “Tidak perlu berlebihan,” ucap Leon semakin sebal. "Apa cewek itu cantik? Atau seksi?" tanya Datan. "Tidak, dia kelihatannya tomboy," ujar Leon. “Tapi entah kenapa gue begitu penasaran padanya.” "Ya elah loe malah ke cantol sama cewek yang setengah setengah," ujar Datan asal. "Gue gak ke cantol sama dia, gue cuma merasa penasaran saja sama dia," ujar Leon. "Ngeles aja kayak bajaj, Bang." Leon mencibir Datan. Tetapi ia merasa yakin kalau ini hanya karena wanita itu begitu misterius dan Leon merasa penasaran padanya. Tidak lebih,, "Pusing gue, gak Kakaknya gak Adeknya, sama-sama b**o," celetuk Datan. "Ngomong apa loe?”   "Ngomongin angin yang berhembus sepoy-sepoy," jawab Datan asal membuat Leon mendengus. Ia memilih keluar dari ruangannya untuk menemui montir yang akan memodif mobil Datan. "Heh es Batu." Datan sudah berdiri di sampingnya. "Loe mau ikut gak sekarang ke party-nya si Angelia?" tanya Datan. "Kagak, males gue sama tuh cewek bar bar." "Ayolah es Batu, gue kagak ada temen. Si lonceng gereja sama si Ona kagak bisa ikut," rengek Datan. "Gue kagak mau Kunyuk. Maksa banget!" ujar Leon dan kembali berbincang dengan Heru. "Kunyuk ini mau di kayak gimanain?" "Terserah loe, gue percaya sama loe," ujar Datan dan memikirkan bagaimana caranya biar Leon ikut ke acara party itu. ♠♠♠ Leon terpaksa ikut Datan ke party Angelia, karena mobilnya di sabotase Datan. Dengan masih merengut, ia berjalan mengikuti Datan. Mereka berdua memasuki sebuah club malam. Hingar bingar dan suara berisik dari musik, mengganggu pendengaran mereka. Apalagi pencahayaan di sini begitu minim. "Ini baru party," ucap Datan bersemangat. "Balik aja yuk, Kunyuk." ucap Leon terlihat malas. "Oh ayolah es Batu, jangan menghancurkan kebahagiaan gue," ucap Datan sebal, membuat Leon mencibir. "Hai Datan," sapa seorang wanita cantik. "Hai Angel," sapa Datan semanis mungkin kepada sang pemilik pesta. "L-leon,? kamu juga datang?" pekik Angelia kesenengan. Leon hanya memasang wajah datarnya sedatar jalan tol seperti biasa. Ekspresinya terbatas kalau kata Datan. Angelina tanpa malu merengkuh lengan Leon dengan manja. "Makasih yah karena sudah mau datang ke partyku." "Ya," jawabnya singkat seraya melepaskan rengkuhan Angel dari lengannya. "Kunyuk, gue ke toilet dulu." Leonpun berlalu meninggalkan mereka berdua. "Awas nyasar," teriak Datan dan Leon hanya mengangkat sebelah tangannya ke udara. Leon baru saja keluar dari kamar mandi, dengan masih membenarkan jaket yang ia pakai. Ia memang tidak ada persiapan apapun ke party ini. Tetapi walaupun hanya memakai pakaian casual-nya, Leon tetaplah sempurna dan paling bersinar di antara yang lain. Bruk “Aduh!” Seorang wanita baru saja menabraknya, membuat wanita itu terjatuh ke lantai. "Sorry-" Deg Ucapan Leon tergantung di udara saat menatap wajah wanita yang baru saja dia tabrak. Wanita yang sama, yang sudah membuatnya hampir gila selama seminggu ini memikirkannya.  Wanita itu berdiri dari duduknya, dan sedikit merapihkan pakaiannya. Wanita dengan wajah natural tanpa make upnya, sang pemilik mata polos sepolos mata bayi, ia terlihat hanya memakai celana jeans hitam dan t-shirtnya. "Hei tunggu!" teriakan seseorang menyadarkan mereka berdua yang tengah mematung saling menatap. "Oh sial! k*****t itu masih mengejarku," keluh wanita itu dengan ketakutan. 3 orang pria berbadan besar berlari ke arah mereka. Tanpa pikir panjang, Leon menarik pergelangan tangan wanita itu dan berlari menghindari ketiga pria itu.  Keduanya berlari menyusuri lorong club yang sepi, hingga mereka menemukan jalan buntu. "Gimana ini?" ucap wanita itu yang sudah kelihatan ketakutan. Leon mencari cara untuk bisa keluar dari sini. Hingga mereka menemukan jendela yang terbuka. "Kita loncat," ucap Leon. Keduanya berjalan mendekati jendela itu, saat melihat ke bawah, ternyata cukup tinggi untuk mencapai ke tanah. “Ini-“ “Hanya ini jalan yang bisa kita lalui,” ucap Leon menatap manik mata wanita itu yang terlihat ketakutan. "O-oke," ucapnya sedikit ketakutan. Leon lebih dulu meloncat keluar jendela dan mendarat dengan tepat.  "Ayo loncat," ucap Leon menatap ke atas, dimana wanita itu berdiri.  Wanita itu seakan menerka-nerka, dan ia kembali menoleh ke sampingnya dimana ketiga pria tadi masih saja mengejarnya. Akhirnya wanita itupun melocat ke bawah. Hap ... Leon berhasil menangkap tubuh wanita itu dalam gendongannya, membuat keduanya bertatapan cukup lama. Mata bulat milik wanita itu menusuk ke mata tajam milik Leon. "Itu di sana!" teriakan seseorang menyadarkan keduanya. Leon segera menurunkan tubuh wanita itu ke tanah. "Aku harus pergi." wanita itu bergegas menuju mogenya. Leon masih berdiri di tempatnya dengan tatapan yang masih terarah ke wanita itu. "Terima kasih, gue Azzura," ucap wanita yang mengaku bernama Azzura itu melambaikan tangannya ke udara dan segera memakai helmnya. Brrmm brmm Azzura menjalankan motornya meninggalkan Leon sendiri di sana. "Azzura," gumam Leon masih menatap ke arah motor yang di tumpangi Azzura. Leon mengusap wajahnya, dan memikirkan apa yang terjadi padanya. Kenapa dia kembali seperti orang bodoh saat di hadapan wanita itu. Drrt drrtt "Hallo," jawab Leon. "Ice King loe dimana? Gue puyeng nyariin loe di toilet. Loe kagak masuk toilet cewek kan?" pekik Datan dari sebrang sana.     "Gue balik," ucap Leon berjalan menuju keluar area parkir club. "Eh kenapa gitu? Loe dimana? Loe sengaja kabur dari gue!" pekik Datan kesal. "Berisik Kunyuk, suara loe cempreng bener mirip banget sama nenek lampir," ucap Leon. "Itu kan memang emak gue. Sekarang loe dimana? Awas loe sedikit saja melangkahkan kaki keluar area club. Habis loe!" ancam Datan. "Gue kagak takut sama buaya kunyuk model loe. Cepetan turun, gue di parkiran. Kalau kagak turun dalam waktu 5 menit, gue balik duluan!" ucap Leon seraya memutuskan sambungan telponnya. Leon bersandar ke mobil miliknya sendiri yang kuncinya masih di sabotase Datan. Pikirannya melayang ke kejadian tadi dan wajah Azzura kembali terbayang dan memenuhi otaknya. "Siapa wanita itu, kenapa dia seakan menghipnotis gue?" "Dasar k*****t loe main kabur-kabur saja!" celetuk Datan menyadarkan Leon. "Gue gak suka tempat kayak gitu. Ayo balik," ucap Leon dan menaiki mobilnya di kursi penumpang. Di dalam mobil, Datan fokus menyetir dan sesekali melirik ke arah Leon yang duduk bersandar sambil memijit pangkal hidungnya. "Kenapa loe?" tanya Datan. "Tidak apa-apa," jawab Leon dan memejamkan matanya. Seketika bayangan wajah cantik Azzura kembali memenuhi pikirannya. Membuat Leon mendesah pelan. ♠♠♠ Leon tengah termenung sendiri, rumah sangat sepi apalagi Leonna sudah tinggal di rumah Daniel. Adrian tengah ada acara bersama teman-temannya. Kedua orangtua Leon, jangan di tanya, mereka selalu menghabiskan waktu berdua saat weekend seperti ini. Seketika, bayangan Azzura kembali memenuhi kepalanya. Wanita misterius yang membuat Leon terpaku dan bahkan tidak bisa hidup tenang karena bayangannya terus menghantui. "Siapa gadis itu sebenarnya? Kenapa gue sulit sekali menghilangkan bayangannya?" gumam Leon. "Dia benar-benar misterius." ia meneguk minuman miliknya. Ia terus memikirkan gadis yang beberapa hari ini ia temui. Ini pertama kalinya dirinya di buat kalut karena memikirkan seorang wanita yang sangat misterius. "Apa gue coba mendatangi kembali club malam itu yah. Siapa tau gue kembali bertemu dengannya," gumam Leon dan segera beranjak mengambil jaket dan kunci mobilnya. Leon beranjak menuruni tangga dan kebetulan berpapasan dengan Adrian yang baru pulang.   "Mau kemana, Kak?" tanya Adrian. "Mau keluar," jawab Leon. "eh Rian, pinjem motor loe dong." "Memang mobil Kakak kemana?" tanya Adrian. "Ada, lagi males bawa mobil. Mana sini kunci motornya." "Nih Kak, sekalian isi bensin yah. Tadi Rian belum isi bensin," ucap Adrian dengan cengirannya. "Kebiasaan! Ya sudah ntar gue isiin," ujar Leon. "Kalau Mama dan Papa nanya, bilang saja gue ke bengkel," ujar Leon yang di angguki Adrian. Leon menaiki moge putih milik Adrian yang membuatnya terlihat semakin gagah. Setelah memakai helm putihnya, Iapun menjalankan motornya keluar dari area rumah. Ia pergi menuju club malam yang saat itu bertemu dengan wanita misterius bernama Azzura. Sesampainya di sana, ia langsung memarkirkan motornya di area parkir club yang masih terlihat sepi karena ini masih sore. Entah memang feeling Leon yang sangat kuat dan peka seperti sang Papa, Leon berjalan menuju ke pintu belakang club. Langkahnya terhenti saat melihat wanita yang selama ini mengusik pikirannya tengah mencuci beberapa botol dan gelas. 'Apa dia bekerja disini?' batinnya. "Azzura, kamu di panggil bos." Seorang wanita berpakaian minim datang menghampiri Azzura. "Ada apa lagi sih dia, bilang ke dia, Naya. Gue nolak tawarannya," jawab Azzura dengan sinis. "Ayolah Az, kenapa loe keras kepala banget sih. Ini lumayan buat tambahan uang saku loe," ucap Wanita yang di panggil Naya itu. "Gue bilang nggak ya nggak, gue kerja di sini hanya sebagai pencuci piring kotor. Jadi gue gak mau tawaran itu," ujar Azzura terlihat geram. "Bukannya adek loe sakit?" tanya Naya masih berusaha. "Dia butuh uang yang halal untuk bisa sembuh," jawab Azzura. "Sudahlah, kerjaan gue udah selesai. Gue mau balik, gue gak mau kayak kemarin lagi pulang malem malah di kejar pelanggan dan bikin heboh club," ujar Azzura beranjak menyambar tas ranselnya dan berjalan keluar ruangan membuat Leon segera beranjak meninggalkan tempat itu dan bersembunyi di sudut lain. Azzura berjalan menuju motornya dan sempat melirik ke arah motor yang di gunakan Leon. Ia beranjak pergi dengan sangat ngebut membuat Leon sulit untuk mengejar. "Dia benar-benar misterius," gumam Leon. "Tapi setidaknya gue tau kalau dia kerja di sini dan setiap hari ke sini," ucap Leon dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu. ♠♠♠ Malam itu, entah dorongan dari mana. Leon kembali datang ke club tempat Azzura bekerja. Tadi sore Leon sempat datang, tetapi tak menemukan keberadaan Azzura jadi Leon memutuskan untuk kembali datang malam harinya. Suara bising dan hingar bingar memenuhi gendang telinganya, kerlap kerlip lampu memenuhi area ini dengan penerangan yang minim. Ia terus berjalan menuju sebuah meja kosong dengan pandangannya yang terus menyisir ke setiap penjuru ruangan mencari sosok wanita incarannya. Beberapa w*************a, sengaja menggoda Leon. Tetapi tak di respon olehnya, karena ia memilih menjauhi mereka semua. Leon duduk di atas kursi yang berada di pojok ruangan cukup jauh dari lantai dansa. Ia memesan segelas cocktail Martini. Pandangannya masih menyisir ke seluruh ruangan yang sangat ramai dan itu membuat Leon sedikit kesulitan mencari target, apalagi pencahayaan yang begitu minim. Ia menyesap minumannya dengan pandangan yang masih menyisir seluruh ruangan. Brak Leonard menengok saat mendengar sesuatu yang terjatuh tak jauh dari tempatnya duduk. Ia sedikit kaget saat melihat Azzura dengan pakaian sangat minim sedang di tarik oleh lima orang pria. Kelima pria itu menarik Azzura dan memaksanya pergi meninggalkan club. Itu mampu membuat darah Leon mendidih seketika.  Tanpa pikir panjang, ia langsung mengikuti mereka. Azzura masih di tarik oleh mereka menuju salah satu hotel yang ada di sebrang club. “Lepasin gue!” teriak Azzura terus memberontak. “Jangan sok jual mahal kau, Jalang!” ejek salah seorang dari mereka seraya menoyor kepala Azzura, dan itu semakin menyulutkan emosi Leon. Leonard masih mengikuti mereka dan mencari cara untuk menolong Azzura hingga area parkir club yang cukup sepi. Tanpa di sangka-sangka, Azzura menendang salah seorang dari mereka dan meninju mereka satu-persatu. Leon terpekik kaget saat melihat Azzura berkelahi melawan kelima pria itu dengan gesit. “Kalian pikir gue Jalang seperti mereka?” ucap Azzura tersenyum sinis. “Gue bukan wanita lemah!” melihat itu sudut bibir Leon tertarik ke atas. Azzura memang berbeda,, Azzura berlari saat mereka lengah, dan Leon mengejarnya. “Tunggu!” panggil Leon, Azzura pikir itu adalah suara salah satu penjahat tadi dan Azzura semakin mempercepat larinya. Leon berhasil meraih lengan Azzura dan siapa sangka kalau Azzura mengacungkan tinjunya dengan tangan yang tak di sentuh Leon. Hampir saja tinju itu mengenai wajah tampan Leon kalau saja Leon tak ahli dalam hal berkelahi. Leon mampu menghindar dan mencekal tangan Azzura dan memelintirnya ke belakang punggung Azzura membuat punggungnya menabrak d**a bidang Leon, membuat Azzura menoleh ke sampingnya hingga tatapan mereka berdua beradu. “Kamu-” ucap Azzura. “sedang apa kamu di sini, lepaskan tanganmu!” pekik Azzura berontak ingin melepaskan cekalan Leon. “Ikut denganku, di sini tak aman,” ujar Leon. “Tidak, aku tidak mau!” tolak Azzura dan segera memutar tubuhnya dan hendak menendang Leon tetapi terlambat, karena Leon lebih dulu mengunci langkah Azzura dengan kakinya membuat tubuh Azzura kini jatuh ke pelukannya. Azzura menengadahkan kepalanya dan tatapan mereka beradu, tatapan keduanya terkunci. Leon mampu menatap mata indah dan bening milik Azzura di depannya. Tak ada yang membuka suara, selain tatapan dan detak jantung yang berdetak dengan begitu cepat. “Wah wah, dasar jalang. Kita sudah bayar dia mahal, malah enak-enakan melayani pria lain!” ucapan salah satu dari lima pria tadi mampu membuat keduanya tersadar. Leon melepaskan pelukannya dengan emosi dan kesal karena mendengar penghinaan pria itu barusan. Azzura dapat melihat pancaran amarah dari mata tajam seperti elang milik Leon, dan juga gertakan giginya. Leon tak terima Azzura di hina sebagai w***********g, karena yang Leon lihat. Azzura buka wanita seperti itu.  “Ada apa? kau tidak ingin melepaskan jalang itu? Kami sudah membayarnya dengan harga yang sangat tinggi. Jadi ayolah lepaskan dia,” ujar salah satu dari mereka. “Jalang?” tanya Leon dengan sinis, aura menyeramkan keluar dari dirinya. Bahkan tatapan mata coklatnya mulai menggelap. Seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya. “Mau apa loe? mau jadi pahlawan?” ucap salah satu dari mereka dan langsung menyerang Leon. Leon menangani mereka dengan mudah tanpa kesulitan sedikitpun dan Azzura masih berdiri di belakang Leon dengan terus memperhatikannya.        Leon berkelahi melawan mereka satu persatu hingga tumbang dan sebagian kabur. Ia masih mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal. Setelahnya ia menarik tangan Azzura menuju motornya yang dia pinjam dari Adrian. Tanpa berkata apapun, Azzura naik ke atas motor Leon. Dan Leon langsung menjalankan motornya setelah memakai helmnya. Ia menjalankan motornya dengan kecepatan standar, dengan Azzura yang duduk di belakangnya dengan canggung. Baik Leon maupun Azzura tak ada yang mengeluarkan suara mereka. Hembusan angin menerpa wajah dan tubuh mereka berdua. Leon sesekali melirik Azzura dari kaca spion motor. Tangan Azzura mencengkram kuat jaket yang Leon pakai, ia terlihat kedinginan di belakang Leon. Entah dorongan darimana Leon menarik tangan Azzura dan menggenggamnya erat di perut Leon membuat Azzura terpekik kaget dan melirik ke arah Leon yang masih menatap lurus ke depan. Sebenarnya ini pertama kalinya Leon menyentuh tangan seorang wanita yang statusnya oranglain bukan Mamanya ataupun saudara kembarnya. Dan jantung Leon rasanya berdetak begitu cepat. Membuatnya sedikit salting, tetapi Leon mencoba untuk tetap stay cool. Azzura hanya bisa diam membeku dengan tangannya yang di genggam Leon. Telapak tangan Leon yang besar dan terasa begitu hangat. “Dimana rumah kamu?” tanya Leon menyentakkan lamunan Azzura. “Aku tidak bisa pulang ke rumah untuk saat ini,” jawab Azzura membuat Leon mengernyitkan dahinya bingung. Azzura begitu misterius bagi Leon. “Sekarang kita akan kemana?” tanya Leon. “Terserah kamu,” cicit Azzura membuat Leon mengangguk. Leon membawa Azzura ke sebuah Apartement yang cukup mewah. Ini adalah Apartement milik Leon yang baru-baru ini dia beli tanpa sepengetahuan sang Papa dan Mamanya, kecuali Datan. Leon membeli sebuah apartement khusus untuk dirinya sendiri saat ingin menyendiri dan saat menginap di bengkel karena apartement itu sangat dekat dengan bengkel dan showroom mobil miliknya. “Silahkan masuk,” ucap Leon saat mereka sudah sampai di depan pintu apartement milik Leon. Azzura beranjak memasuki kamar apartement itu seraya menatap sekeliling apartement yang cukup mewah dengan beberapa perlengkapan. Walau tak banyak proferty di sana, tetapi apartement ini tergolong mewah. “Ada apa?” tanya Leon saat melihat Azzura masih terpaku di tempatnya. “Tidak apa-apa,” jawab Azzura dan meneruskan langkahnya menuju sofa putih yang ada di sana. Azzura adalah wanita pertama yang menginjakkan kaki di apartementnya, sebelumnya belum pernah ada yang datang ke sini. Baik itu kembarannya sendiri. “Sebentar, aku buatkan minum,” ujar Leon beranjak meninggalkan Azzura yang masih menatap sekeliling ruangan di sana. Tak lama Leon kembali muncul dengan membawa dua kaleng minuman dingin  dan meletakkannya tepat di hadapan Azzura. “Minumanlah, maaf tak ada yang special di sini,” ujar Leon sedikit kaku saat berbicara karena bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya dia mengobrol dengan seorang wanita yang tidak memiliki status keluarga dengannya. “Tidak perlu basa basi, kita langsung mulai saja sekarang,” ujar Azzura beranjak dari duduknya membuat Leon mengernyitkan dahinya bingung. “Kita akan mulai dimana? Di sini apa di kamar?” tanya Azzura sekali lagi membuat Leon semakin bingung. “A-apa maksudmu?” tanya Leon semakin bingung. “Jangan berpura-pura tak tau, aku tau kamu juga menyewaku malam ini kan. Jadi jangan sok berlaga tak tau apa-apa,” ujar Azzura membuka tali bagian atas gaunnya.  “Aku tau kamu menolongku bukan karena apa-apa, tapi karena kamupun menyewaku. Si pria alay itu berhasil mempromosikanku,” kekeh Azzura mentertawakan dirinya sendiri yang kini merasa hina. Ia melepaskan gaun bagian atasnya hingga memperlihatkan bra berwarna hitam brendanya dan perut ratanya membuat Leon memalingkan wajahnya ke arah lain untuk tidak terpancing. Walau tak pernah berhubungan dengan seorang wanita, tetapi Leon adalah seorang pria normal dan dewasa. Bagaimanapun juga hasrat prianya akan terpancing saat di sodorkan seperti ini. Ia menghembuskan nafasnya berat dan melepaskan jaketnya. Azzura yang awalnya berani dan berusaha menguatkan hatinya untuk menyerahkan keperawanannya pada Leon hanya untuk uang senilai 500 juta rupiah. Melihat Leon yang saat ini melepaskan jaketnya, mampu membuat Azzura berjalan mundur, mendadak hatinya takut. Apalagi Azzura tak mengenal Leon walau sudah beberapa kali bertemu. Azzura mematung saat mata bulatnya beradu dengan mata coklat tajam milik Leon. Leon berjalan mendekati Azzura membuat Azzura semakin takut dan gelisah. ‘Ini pilihanmu Az, sekarang ikhlaskanlah.’ Azzura memejamkan matanya saat Leon sudah berada di hadapannya. “Eh?” Azzura terpaku saat merasakan tubuhnya di selimuti sesuatu. Ia membuka matanya dan ternyata Leon memasangkan jaketnya di tubuhnya yang terbuka.  “Kamu-?” Azzura menatap Leon yang berada di hadapannya. “Sepertinya kamu sangat lelah, tidurlah. Kamu boleh meninggalkan apartement ini sesukamu,” ujar Leon seraya beranjak menuju pintu keluar. “Tunggu-” panggil Azzura membuat Leon menghentikan langkahnya. “Bukankah kamu menyewaku dari club itu?” “Aku tidak menyewa siapapun,” jawab Leon. “Lalu kenapa kamu menolongku lagi? kenapa kamu menolakku?” tanya Azzura kebingungan. “Karena bagiku seorang wanita itu perlu di hargai dan di lindungi. Jadi beristirahatlah, kamu akan aman di sini,” ujar Leon membuat Azzura terharu, baru kali ini ada seorang pria yang menilainya berharga. Bahkan untuk seorang wanita yang bekerja di club malam, orang bahkan selalu menyela Azzura sebagai seorang p*****r walau dia tidak pernah menjual keperawanannya. Leon tersenyum manis dan itu membuat Azzura semakin terpaku. Ternyata Leon memiliki senyuman yang sangat menawan dan mampu meluluhkan hati para setiap wanita yang melihatnya. Sayangnya Leon selalu menyembunyikan senyum menawannya itu. “Good night,” ujar Leon hendak beranjak. “Tunggu Tuan-” tanya Azzura menggantung di udara. “Namaku Leonard, panggil saja Leon.” ujar Leon kembali tersenyum manis membuat Azzura semakin meleleh di buatnya. Leon beranjak keluar dari apartement, suara pintu menyadarkan Azzura dari keterpakuannya. “Makasih Leon,” ucap Azzura tersenyum senang. “Ya Tuhan, ternyata masih ada pria baik di dunia ini.” Entah kenapa ia merasa begitu bahagia. “Di dunia yang begitu kejam bagi orang-orang sepertiku,” gumam Azzura tersenyum senang dan memeluk jaket Leon dengan erat. Aroma maskulin dari tubuh Leonard tercium oleh indera penciumannya. “Leonard,” gumamnya terkekeh kecil, entah kenapa hatinya begitu bahagia malam ini. Ia pikir malam ini, dia akan menangis karena menjual keperawanannya tetapi ternyata tidak. Dia malah tertawa bahagia karena bertemu dengan sosok pria yang begitu sempurna. Dia bagaimana malaikat tanpa sayap,,, Bukan hanya Azzura, tetapi juga Leon yang tak berhenti tersenyum seraya menjalankan motornya. Wajah Azzura yang sangat cantik terus memenuhi pikirannya. Leon tak pernah berpikir akan merasakan perasaan aneh seperti ini. ‘Dia sungguh istimewa,’ batin Leonard tersenyum dan sesekali menggelengkan kepalanya karena merasa menjadi orang bodoh. ♠♠♠ Leon tengah sibuk dengan beberapa berkas dan laporan penjualan bengkel dan showroom-nya. Saat tengah sibuk tiba-tiba saja Asep, salah satu montir di bengkelnya datang mengetuk pintu ruangan Leon. "Maaf pak Leon," ucap Asep menjulurkan kepalanya dari balik pintu. "Iya Sep, ada apa?" tanya Leon menghentikan pekerjaannya. "Ada tamu di luar Pak," ucap Asep. "Siapa?" tanya Leon mengernyitkan dahinya bingung. "Dia berkata namanya Azzura," tambah Asep menyentakkan Leonard. "Baiklah, suruh dia masuk," ucap Leon. Ini sudah seminggu dari kejadian dia menolong Azzura, saat itu Azzura pergi begitu saja dan menitipkan kunci apartement ke Asep karena saat itu Leon sedang tak di bengkel. "Permisi, apa aku mengganggu?" suara lembut Azzura menyadarkan Leon. Leon menatap Azzura yang berdiri di ambang pintu. Dia hanya memakai celana jeans biru dan t-shirt berwarna putih di padu dengan jaket kulit hitamnya. Rambutnya di ikat kuda, walau terlihat simple tetapi kecantikan naturalnya begitu terpancar dalam dirinya. Khas dari seorang Azzura, "Masuklah," ucap Leon. Azzura berjalan mendekati meja kerja Leon seraya menatap sekeliling ruangan yang terlihat rapi dan bersih. Dulu saat pertama kali ke sini, ia tak sempat melihat sekelilingnya, karena situasinya sedang urgent saat itu. "Duduklah," ucap Leon dan Azzura menurutinya. "Tuan Leon." "Panggil Leon saja, aku masih muda. Santai saja," ucap Leonard dengan santai, berusaha mengatur detak jantungnya yang berdetak sangat kencang. "Baiklah Leon, aku mau mengucapkan terima kasih banyak dan juga maaf karena saat itu aku pergi begitu saja tanpa menemuimu. Kebetulan adikku sedang sakit saat itu, jadi aku cepat-cepat untuk pulang," ucap Azzura. "Tidak masalah santai saja, tunggu sebentar." Leon berjalan menuju lemari es, dan mengambil dua kaleng minuman dingin.  "Minumlah," ucapnya menyodorkan minuman ke Azzura dan iapun kembali duduk di kursi kebesarannya. "Aku sempat khawatir, karena kamu tidak ada di apartement. Aku kembali datang ke club malam itu, tetapi tak menemukanmu," ucap Leonard. "Aku berhenti bekerja di club itu, aku rasa aku tak pantas untuk terus bekerja di sana," ucap Azzura dan Leonard sangat senang mendengarnya. "Itu ide yang bagus," ucap Leon terdengar semangat, tetapi seketika Langsung mengubah raut wajah dan nada bicaranya karena Azzura terlihat mengernyitkan dahinya. "Lalu sekarang kamu bekerja dimana?" "Aku membuat berbagai kue dan snack, aku mencoba memasukkannya ke toko toko dan kantin," ucap Azzura. Leon teringat kalau dulu waktu kuliah, sang Mama juga suka membuat kue kue basah dan menjualnya di bantu para brotherhood. "Ini aku bawakan untukmu, sekalian ucapan terima kasih. Dan ingin tau bagaimana rasanya," ucap Azzura menyimpannya di atas meja. Leon semakin menyukai Azzura, Leon melihat sosok sang Mama, dalam diri Azzura. "Terima kasih, aku coba yah," ucap Leon membuka kardus kue itu, Azzura terlihat harap-harap cemas menunggu Leon memakan kue buatannya dan ingin tahu apa komentarnya. Ia menatap Leon yang tengah menikmatinya dengan meremas kedua tangannya di bawah meja karena tak sabar. "Bagaimana?" tanya Azzura. "Ini enak, tetapi ada kurang sedikit sih," ucap Leon membuat Azzura menggigit bibir bawahnya. "Hei jangan sedih, ini bukan masalah kok. Kue kamu enak," ucap Leon. Leon memang tak berpengalaman dalam hal menyenangkan hati seorang perempuan, Leon terlalu jujur dalam berkata. "Aku memang belum berpengalaman dalam membuat kue, soalnya aku menirunya dari internet," ujar Azzura. "Pantas saja di toko-toko kuenya kurang laku," ucap Azzura merasa sedih. "Ini enak, hanya tidak ada sesuatu yang menarik dan beda dari yang lain," ucap Leon dengan lembut. "Aku akan memperbaikinya," ucap Azzura merasa malu sekali, dengan bangganya dia menyuguhkan hasil karyanya pada Leon dan berharap Leon sangat menyukainya. Kau bodoh, Azzura.. "Begini saja, Mamaku dulu juga seorang penjual kue basah. Bagaimana kalau kamu, aku kenalkan ke Mamaku dan kamu bisa belajar banyak darinya," ujar Leon. "Tapi apa tidak berlebihan? Aku malu, aku kan-" "Tidak perlu malu dan takut, Mamaku akan dengan senang hati membantumu," ucap Leon membuat Azzura tersenyum. "Bagaimana?" "Kalau tidak merepotkan," ucap Azzura tersenyum kecil. Leon menatap Azzura yang juga tengah menatapnya, mata beningnya sungguh mampu membuat jantungnya ingin meloncat dari tempat. "Aku akan berbicara dengan Mamaku. Kira-kira nanti aku menghubungimu kemana?" tanya Leon. "Ba-baiklah, i-ini nomorku." Azzura menyodorkan hp nokia kunonya ke Leon dengan sangat malu. Leon hanya tersenyum saja dan memindahkan nomor Azzura ke handphonenya. "Oke, aku akan menghubungimu. Jangan sungkan, kita sudah berkali-kali bertemu, bukan? Kita bisa anggap ini adalah awal pertemanan kita," ucap Leon yang di angguki Azzura. Keduanya mulai berbincang dengan akrab dan ada sedikit candaan, mereka akrab membicarakan masalah otomotive terutama sepeda motor. Mereka baru menyadari kalau ternyata mereka banyak kesamaan. ♠♠♠ Sesuai rencana, hari ini Leon membawa Azzura ke rumahnya untuk bertemu dengan Thalita. Ia menuntun Azzura yang terlihat takut menuruni mobilnya. "Tenanglah, Mama dan Papaku baik kok." ucap Leon mengajak Azzura memasuki rumahnya. "Assalamu'alaikum," teriak Leon dengan semangat. "Wa'alaikumsalam," jawab Thalita berjalan menuju Leon dan Azzura. "Hallo cantik, ini yah yang namanya Azzura?" "Selamat siang Tante," sapa Azzura mencium tangan Thalita. "Siang Sayang, ayo masuk ke dalam," ucap Thalita membawa Azzura ke dalam rumah dimana Dhika dan Adrian tengah bermain PS.  "Sayang, Leon datang bersama temannya," ucap Lita membuat Dhika menengok dan tersenyum manis ke arah Azzura. Azzura tau sekarang dari mana asalnya wajah tampan Leon, karena Papanya pun terlihat masih gagah dan tampan walau sudah lebih dari setengah abad usianya. "Selamat siang Om," sapa Azzura dan mencium tangan Dhika. "Halo kak Azzura, aku Adrian." ucap Adrian menyodorkan tangannya. "Halo Adrian," sapa Azzura. "Kakak pacarnya kak Leon yah?" ucapan menyebalkan Adrian membuat Azzura dan Leon mematung kaku. "Kamu senang sekali menggoda Kakakmu," cibir Lita membuat Adrian terkekeh. "Ayo duduk, biar Tante buatkan minuman," ucap Lita beranjak menuju dapur. "Siapa namamu?" tanya Dhika saat sudah duduk di sofa di hadapan mereka. "A-azzura Om," cicit Azzura. "Jangan tegang, tenang saja," ucap Dhika dengan senyuman menawannya. 'Ternyata Leon mirip dengan Papanya, sama-sama tampan dan juga baik.' batin Azzura. "Silahkan di minum." Thalita membawa 5 gelas orange jus dan menyimpannya di atas meja. "Kata Leon, kamu ingin belajar membuat kue yah," ucap Lita membuat Azzura menatap Leon. "I-iya Tante, kalau tidak merepotkan dan mengganggu waktu Tante," cicit Azzura membuat Dhika dan Lita terkekeh. "Jangan formal begitu, santai saja Sayang." ucap Lita.  Ia mengingat saat dulu ia di ajak Dhika bertemu kedua orangtuanya dulu. "Kamu santai saja, Mamaku ini adalah Mama terbaik yang pernah ada," puji Leon. "Berlebihan kamu, Le." ucap Lita. "Itu beneran Mama, walau terkadang cerewet," timpal Adrian membuat yang lain terkekeh. "Kamu yang nakal bukan Mama yang cerewet," ucap Lita. "Tapi kecerewetan Mama ngangenin." kekeh Adrian. "Cukup kamu menggombali istri Papa, Rian." ucap Dhika membuat yang lain terkekeh. Azzura berkaca-kaca melihat kehidupan keluarga bahagia ini. Andai saja dia bisa merasakan kehangatan ini semua. Mungkin hidupnya tidak akan serapuh ini. "Kamu tinggal dimana, Sayang?" tanya Lita. "Di Jl. Moh. Hatta, Tante," jawab Azzura yang di angguki Lita. "Kamu sekola?" pertanyaan Dhika membuat Azzura merenung sedih, melihat itu Lita menyenggol lengan Dhika. "Ah lupakan saja." "Sa-saya hanya lulusan SD, Om Tante." cicit Azzura membuat Dhika dan Lita saling pandang, Leon dan Adrianpun terpekik kaget. "Jangan malu Sayang, kamu lulusan SD, tapi sikapmu begitu terpelajar," ucap Lita. "Benar apa yang di katakan Istri saya," timpal Dhika membuat Azzura tersenyum kecil. Entah kenapa, Azzura merasa senang dengan keluarga Leon. Mereka semua begitu baik padanya. Setelah berbincang-bincang, Lita mulai mengajari Azzura membuat kue di dapur miliknya. Leon memperhatikan mereka di ambang pintu. Bahkan Azzura dengan cepat bisa akrab dengan Thalita. Leon tersenyum memperhatikan kekompakan mereka. "Khem," deheman seseorang menyadarkan Leon dan membuatnya mendadak salting. "Eh Papa," ucap Leon terlihat salting. "Dapur Mama kamu tidak akan di curi orang, gak perlu kamu jagain terus," sindiran Dhika membuat Leon semakin salting. "Ng-nggak Pa, i-itu." ucap Leon bingung. "Jatuh cinta padanya?" tanya Dhika tepat sasaran membuat Leon merasa malu dan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Akhirnya kamu mau membuka hati kamu juga, Papa takutnya kamu menyukai Datan karena terlalu sering bersamanya," kekeh Dhika. "Papa ini, masa iya Leon suka sama si kunyuk Datan," gerutu Leon membuat Dhika tersenyum. Dhika menatap Thalita dan Azzura, mereka terlihat kompak membuat adonan kue. "Dulu juga Papa seperti kamu saat jatuh cinta sama Mama kamu. Tapi Papa terlalu gengsi untuk mengakuinya, Papa terkenal dingin pada setiap wanita, bahkan wanitalah yang mengungkapkan perasaannya ke Papa. Tetapi dengan Mamamu, saat kami berkenalan dulu. Hati Papa merasa bergetar dan jantung Papa berdetak cepat. Bahkan Papa dengan sengaja nebeng pulang ke om Daniel yang waktu itu mau menjemput tante Serli ke sekolanya hanya untuk melihat Mama kamu. Papa hanya berani menatapnya dari kejauhan," ucap Dhika menatap Thalita yang sedang menjelaskan sesuatu ke Azzura, ia masih terlihat cantik seperti dulu, dan itu membuat Dhika semakin jatuh cinta padanya. "Sepertinya Leon juga merasakan itu Pa," ucap Leon menatap Azzura yang terlihat tersenyum mendengarkan arahan Thalita. "Kalau begitu berjuanglah untuk mendapatkan hatinya," ucap Dhika. "Apa Papa mendukung dan merestui Leon?" tanya Leon. "Kenapa enggak, tidak ada alasan untuk Papa tidak merestui kalian. Dan jujur saja, Azzura mirip dengan Mamamu," ucap Dhika membuat Leon tersenyum senang. "Kalau kamu tidak mau memperjuangkannya, jangan salahkan Papa kalau Papa yang mendekatinya terlebih dulu," goda Dhika. "Tidak Pa, ini bagiannya Leon. Leon akan memperjuangkannya," ucap Leon bersemangat membuat Dhika menepuk pundak Leon dan beranjak pergi. 30 menit kemudian, Thalita dan Azzura menunjukkan hasil karya mereka ke Dhika, Leon dan Adrian. "Ini enak banget, Adrian selalu suka masakan Mama," kekeh Adrian dengan antusias. "Itu buatan kak Azzura, Rian." ucap Lita. "Ti-tidak, Aku cuma membantu saja," kilah Azzura merasa malu. "Ini enak lho, pasti banyak yang mau beli," ucap Dhika. "Dengarkan Sayang," ucap Lita. Azzura menatap Leon yang masih belum berkomentar. "Gimana, Leon?" tanya Lita yang paham kalau Azzura mengharapkan komentarnya. "Maaf, aku keasikan makan kuenya," kekeh Leon. "Ini sempurna, sungguh rasanya sangat enak," puji Leon membuat Azzura tersenyum senang. "Dengarkan, nah jadi jangan malu lagi untuk menjualnya," ujar Lita membuat Azzura mengangguk. "Nanti aku akan membantu menjualkannya di kampus," ucap Leon. "Tapikan-" "Tidak apa-apa," Leon memotong pembicaraan Azzura. "Jadi inget masa lalu," kekeh Lita yang di angguki Dhika. “Kamu juga nanti kirim saja ke kantin AMI Hospital,” ucap Dhika. “Benarkah, Om?” “Yah, kenapa tidak. Kamu kirimkan nanti kesana yah, Om jamin pasti banyak yang akan beli.” Azzura tersenyum bahagia mendengarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD