Humaira menghela nafas sambil membuang wajahnya. Kali ini Hafiz tidak datang bersama Ibrahim yang mana pasti akan menimbulkan dampak lain jika diketahui sang suami. “Minggir,” titah Humaira, malas menanggapi. “Humaira.” Suara lembut itu seakan membuai dirinya. Humaira lupa batasan-batasan yang telah diajarkan oleh ibunya. “Kenapa kamu seperti ini?” Kali ini Humaira memberanikan diri menatap lawan bicaranya lalu mengambil langkah mundur untuk sedikit memberi jarak di antara mereka. Beruntung wanita itu mengenakan masker demi menutup lebam di pipi dan luka sobek bibirnya. Jika tidak, entah cecaran apa yang akan Hafiz tembaki padanya. “Aku mau melindungi kamu.” “Terlambat.” Tatapan itu berubah tajam, menghunus netra Hafiz yang justru terlihat sebaliknya. Sangat teduh hingga membua

