“Kalian sekongkol mau sudutkan aku di makan malam ini, ‘kan?” Tak lama kemudian, Haydar samar-samar mendengar langkah kaki yang mendekat lalu diikuti suara pria yang tak asing di telinga. “Humai—ra ….” Haydar langsung menarik Humaira, menciumnya secara paksa. Bukan tanpa alasan. Haydar hanya ingin menunjukkan bahwa Humaira kini ada dalam genggamannya dan tak akan mudah ia lepaskan begitu saja. “Hmmmmmph!” Awalnya ciuman itu terasa kasar, namun lambat laun melunak. Haydar sengaja memberikan pemandangan yang mungkin tak diinginkan oleh pria yang baru saja datang. “Maaf, saya nggak tahu….” Saat itu pula, Humaira mendorong dadaa suaminya dengan kencang lalu memandang Hafiz sudah berbalik badan. “Lain kali harus lebih peka kalau ada suami istri lagi berdua di sudut rumah,” sindir Hayda

