“Kamu rencanakan apa?” “Apa maksud, Mas?” Hafiz dan Ibrahim sudah meninggalkan ruangan beberapa menit lalu setelah kedatangan Haydar. Dengan tatapan mencekam, Humaira tak bisa menghindari luapan emosi yang mungkin akan meledak-ledak. Lihat saja sekarang posisinya terhimpit di bibir meja, sementara tubuh Haydar sudah mengikis jarak. “Jangan pura-pura bodoh, Humaira!” pekik Haydar. Humaira bisa menebak bahwa suara pria itu sudah terdengar ke telinga Lula. “Pelankan suara kamu, Mas! Ini lingkungan akademisi, kamu tahu?” “Tsk! Persetan dengan itu!” Tatapan Haydar menggelap, Humaira bisa merasakannya dari deru nafas dan tangan yang bercokol di dagunya. Sangat kuat hingga membuatnya meringis pelan. “Mas …,” lirih Humaira. “Diam! Aku tanya kamu, apa yang kalian rencanakan?” “Aku ma

