“Antar kakak ke kantor Mas Haydar.” “Oke.” Ibrahim langsung menarik perseneling dan menginjak pedal gas hingga mobil melaju sangat cepat. Dalam hening, Ibrahim sesekali memastikan ekspresi sang kakak. Tak ada guratan senyum dan yang tersisa hanya kesedihan di matanya. Ketika ada telepon dari Hafiz pun, sang kakak hanya bergeming seakan tak peduli dengan sekitarnya. Lima belas menit berlalu, Ibrahim menurunkan sang kakak di lobi Kartawijaya Tbk. Humaira hendak menarik handles pintu, tapi tertahan. “Mau ditemani, Kak?” “Kamu disini aja, Kakak nggak akan lama.” “Yakin?” “Hmmmm.” Ibrahim menurut saja daripada harus masuk ke dalam bertemu sang ayah lalu membuat keributan. Setelah kepergian sang kakak, ia lantas keluar untuk menghirup udara segar sekaligus mengamati langkah kakaknya y

