>> ~~~~~ Pagi sekali Daniyal sudah datang ke kosanku dengan ekspresi sulit ditebak. Dia tersenyum tapi seolah berusaha keras menyembunyikan senyum penuh misterinya itu. "Ngapain kamu senyum-senyum sendiri gitu? Lagi bahagia kayaknya," tebakku asal. Daniyal mengangkat kedua bola matanya ke arah atas sambil mencebikkan bibirnya. "Emang kalau mau senyum mesti nunggu bahagia dulu? Klasik!" jawabnya. "Ya terus ada berita apa? Jam enam pagi kamu sudah nongol di tempat tinggal orang? Kebiasaan." Daniyal hanya melirikku sambil menggeleng lalu duduk santai di kursi teras. Dia hanya menengok sekilas ke dalam kamar. "Tehnya buat aku ya," ujarnya, menunjuk ke arah cangkir berisi teh yang baru saja aku seduh. Kepulan asapnya masih menari-nari di atas cangkir, menandakan bahwa teh terse
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


