Dua hari setelah hari paling melelahkan dalam hidupku, aku menunggu kedatangan Tita di bandara Juanda. Iya, dia benar-benar mengunjungiku dan aku tidak mau terlambat semenit pun bertemu dengan gadis pengeluh itu. Sambil menunggu Tita aku ingin membagi kebahagianku ini dengan para mahasiswaku. Aku memberi tambahan waktu untuk pengumpulan tugas paper yang semestinya dikumpulkan siang ini. Group obrolan yang biasanya aktif oleh lima hingga enam mahasiswa saja, mendadak ramai. Mahasiswa-mahasiswa yang jarang banget nongol namanya di ruang obrolan mendadak muncul hanya untuk sekadar menjawab dengan emoticon jempol. Aku berdecak sambil menatap ponsel di tanganku. Giliran ada yang menguntungkan saja nongol berjamaah. Coba giliran dikasih tugas, menghilang berjamaah. Mahasiswa oh mahasiswa. Jadi

