\3/ The Starter

1374 Words
Jika kalian menanyakan, sebenarnya apa cikal bakal seorang Gilda Safara bisa menikah dengan Alan Sandika Restu, dimana perbedaan umur mereka berdua itu terpaut cukup jauh yaitu sepuluh tahun. Jika sosok tampan Alan selama ini selalu menjadi pujaan semua guru dan wanita di lingkungannya, kenapa dia mau menikahi seorang gadis remaja yang bahkan belum tahu tentang masalah ini dan itu? Patut dipertanyakan? Apakah Gilda menggunakan santet mujarab sehingga Alan bisa jatuh cinta pada gadis itu? Oh, bukan-bukan, Gilda tidak selevel jika dia harus menggunakan pelet dan santet. Kalau dengan pesona indahnya saja, Alan pasti akan klepek-klepek. Kita coba mundurkan waktu beberapa bulan lalu-ah bukan bagaimana kalau kita mundurkan secara ekstrim. Mengungkap aib Gilda terbuka tanpa kebohongan. *** Flashback On Sepuluh tahun lalu “Menikahlah denganku!!” Suara cempreng itu berteriak kencang, memegang setangkai bunga dan berlutut dengan gaya pangeran dan mata berbinar. Wajah manisnya seolah menampakkan wajah serius, di usia yang belum melewati angka sepuluh. Ingus setengah meler di hidung karena baru sembuh dari pileknya beberapa hari lalu. Tidak memperhatikan kondisi mereka, keteguhan gadis kecil itu tidak ada yang bisa menghalangi. Menatap sosok pemuda remaja berusia tujuh belas tahun, bagaimana tubuh tegap itu perlahan teralih menatap sang gadis kecil, dengan kedua manik tajam dan wajah tertekuk kesal. “Kau tidak bisa membaca situasi ya?” Suara pemuda remaja itu seolah tersinggung, sementara gadis kecil di seberang sana hanya mengerjap polos. “Situasi apa, kak?” Bertanya balik, membuat sang pemuda tampan mengernyit makin kesal. Salah satu tangannya yang masih menggenggam sesuatu makin mencengkram keras, “Uagh!! Leherku sakit!” Suara erang kesakitan seseorang menyadarkan gadis kecil tadi. Manik itu mengerjap dan bibirnya menganga sedetik kemudian. “U-uwa?” Setengah tak percaya, bukan takut ataupun pucat pasi. Gadis itu malah menganga kagum, maniknya berbinar. Menatap sosok remaja tampan yang Ia sukai sekarang tengah berdiri gagah, salah satu tangan terangkat mencengkram kerah baju pemuda lain. Beberapa orang bahkan sudah jatuh pingsan di sekitar laki-laki itu. Wajah mereka babak belur, “Kh, lepaskan tanganmu, sialan!!” Mengalihkan perhatian sang pemuda, menatap mangsanya sekali lagi, dengan seringai lebar, “Oh, maaf aku melupakanmu.” Kali ini mengepalkan tangan sekuat mungkin, satu pukulan melayang cepat. Mengenai tepat ke arah pipi laki-laki di depannya, efek slowmotion bagaimana wajah itu nampak menikmati setiap pukulan. Alan Sandika Restu menyeringai puas. “Baiklah, semua selesai.” Melepaskan cengkramannya, berdiri diantara remaja-remaja sekolah lain yang berani menyerang dia sepulang sekolah. Sangat pengecut karena mengajak banyak orang sementara dia sendiri di sini. Tapi lihatlah hasilnya sekarang? Siapa yang kalah dan siapa yang menang? Alan mendengus bangga. Merenggangkan anggota tubuh yang sedikit kaku, berjalan melewati tumpukan badan di sekitarnya. Tepat ke arah Gilda Safara. Gadis kecil dengan binar dan senyuman kagum, mereka saling berhadapan. Alan menekuk kedua tangan di depan d**a, menaikkan alis bingung. Aneh, bagaimana mungkin Gilda tidak pernah takut melihatnya dalam kondisi seperti ini? Jika semua teman perempuan sebaya dengan Alan akan menangis kencang dan ketakutan jika bertemu dengannya. ‘Hm, apa karena dia belum tahu apa-apa tentang hal seperti ini?’ Pikir laki-laki itu bingung. “Coba kau katakan lagi, aku tidak dengar tadi.” Sengaja menajamkan suara agar Gilda takut, tapi gadis tujuh tahun itu seolah makin semangat. Menunjukkan satu tangkai bunga lagi, “Menikahlah dengan Gilda, kak Alan!!” Hanya karena kedua orangtua mereka dekat dan Alan sudah sering diminta menjaga Gilda sejak kecil. Mendengar kata menikah dari Gilda, membuat Alan pusing. Dia bukan seorang p*****l yang suka dengan anak-anak. “Siapa yang mengajarimu bahasa seperti itu?” Menaikkan alis kesal. Gilda menatap polos. “Kata teman-teman kalau kita suka dengan seseorang, kita harus mengajaknya menikah! Seperti ayah dan ibu!” ujarnya polos. Alan melengos, mengendikkan bahu berjalan melewati Gilda. “Kau terlalu bodoh,” dengusnya pelan. Membiarkan Gilda berbalik dan mengikuti di belakang. “Kak Alan, nikah sama Gilda yuk? Nanti Gilda buatkan rumah yang besar!” Ucapan yang sangat polos, hampir membuat Alan jatuh tersandung batu. Hampir saja tertawa, melihat matahari mulai turun, sebentar lagi malam datang. “Hh, darimana kau dapat uang kalau sampai sekarang saja masih suka merengek kalau tidak dibelikan es krim?” Gilda mendengus bangga, berlari tepat sejajar dengan Alan, “Tenang saja! Gilda, akan tanggung jawab dan kumpulin uang yang banyak!” Kali ini makin berlari mendahului Alan. Kembali berdiri memberikan bunga lagi. “Karena itu menikah-lah dengan Gilda! Akan Gilda rawat anak-anak kita!” Nyaris tersedak, alis Alan mengkerut, “Ajaran siapa lagi itu?! Memang kau tahu anak keluarnya darimana?!” Gilda diam, bengong memikirkan kalimat Alan. Sok pintar, sampai akhirnya Ia mengangguk yakin. Menunjukkan jempolnya pada Alan, “Karena melahirkan kata teman-teman itu sakit sekali, jadi semua kuserahkan pada, Kak Alan! Biar Kak Alan saja yang melahirkan, oke?!” Bangga menjawab pertanyaan Alan. Alan sudah tidak bisa menahan tawanya lagi, wajah garang dan kesalnya hilang begitu saja. Digantikan tawa keras, membungkukkan tubuh, “Khahaha! Kau benar-benar tidak tahu, tapi sudah asal minta menikah!” Tertawa selama beberapa menit, Gilda menatap bingung, “Kak Alan, mau 'kan menikah dengan Gilda?” tanya gadis kecil itu lagi. Alan hanya bisa tertawa dan mengangguk kecil, menegapkan tubuh kembali, “Kita lihat dulu,” Mengambil bunga di tangan Gilda, mencium aroma semerbak setiap helainya. Sosok dengan sebutan monster merah sekolah Angkasa itu tersenyum tipis. Mengacak rambut Gilda gemas. “Kalau Gilda sudah besar nanti, jika kakak kalah. Kakak tidak akan segan-segan melamarmu,” Tidak mengerti perkataan Alan, Gilda berlari mengikuti langkah pemuda itu. “Itu artinya kakak mau menikah ‘kan dengan Gilda?!” Tersenyum bahagia, hampir berjingkrak. Alan mendengus sekilas. “Tentu saja, tapi kita lihat umurmu nanti,”Alan menatap Gilda, manik polos yang mengerjap bingung, “Umur, Gilda?” Menatap ke depan, dengan helaan napas panjang, “Kalau umurmu 40 tahun nanti dan kakak baru merasakan cemburu, mungkin kakak akan melamarmu. Yah, kita lihat saja. Semoga saja kau bisa berhasil membuat kakak tampanmu ini cemburu,” Merasa yakin bahwa Alan tidak mungkin bisa menyukai Gilda. Secara gadis dengan ingus meler ini sama sekali tidak membuatnya jatuh cinta. Apalagi umur mereka terpaut jauh. Pesona Gilda jauh beda dengan semua perempuan yang Ia temui. Level mereka berbeda. “Kalau kakak sudah terlanjur menikah dengan orang lain nanti dan tidak bisa jatuh cinta pada Gilda juga, jangan salahkan kakak, oke?” lanjut Alan setengah jahil. “Ha??” Gilda tidak paham sama sekali. Bibirnya melongo bingung. Apa maksudnya? Flashback End *** Mei- Beberapa bulan lalu sebelum pernikahan Bagaikan termakan omongannya sendiri, Alan melihat sosok Gilda di belakang taman sekolah, tidak hanya sendiri melainkan bersama seorang laki-laki seusia gadis itu. Mereka berdua saja, melihat pipi memerah di pipi sang Safara. “E-eh?! Pak Alan?!” Menundukkan wajah, dan menatap laki-laki di depannya, “Maaf, nanti saja kujawab pernyataanmu, oke? Beri aku kesempatan berpikir dulu.” Melirik sekilas ke arah Alan. Wajah Gilda memerah. Menundukkan tubuh sekilas saat berpapasan dengan Alan, “Sa-saya permisi dulu, Pak!” Berlari secepat mungkin dengan wajah memerah, Alan melihat jelas bagaimana wajah yang ditujukan Gilda. Meninggalkan dia bersama remaja laki-laki. Sosok itu mendecih kesal, menggaruk kepala sekilas sebelum pergi akhirnya pergi dari sana. Kalau sampai Gilda berhasil membuatnya cemburu? Maka saat itu juga Alan akan mengambil waktu yang tepat untuk melancarkan keinginannya. Satu kecemburuan besar untuk pertama kali. Tidak sudi melihat wajah Gilda memerah di depan orang lain selain dirinya. Untuk pertama kalinya, kedua tangan Alan mengepal keras, kemarahan laki-laki itu meluap. Manik menatap tajam, dia tidak akan pernah rela. *** Tidak perlu menunggu beberapa hari Gilda menganga, menatap sosok Alan datang bersama ayah dan sang ibunya. Bertiga ke rumah Gilda, lengkap dengan pakaian formal dan wajah tampan maskulin hampir membuat Gilda menjerit pingsan. Tubuh gadis itu hampir jatuh, berkumpul di ruang keluarga, kata-kata sakral yang dulu sempat Gilda ucapkan di depan Alan kini terucap serius di hadapan semua keluarganya. “Tolong ijinkan saya menikahi, Gilda,” Hanya selang beberapa hari setelah kejadian, karena kecemburan buta Alan. Laki-laki itu mengambil tindakan tegas, tidak ada yang boleh menyentuh ataupun memiliki Gilda selain dirinya. “Saya akan bertanggung jawab dengan semua kehidupan, Gilda.” Gilda menjerit bahagia, antara ingin pingsan dan nyawanya setengah melayang. Pernikahan rahasia mereka dimulai dari hari itu. 'Ampun, akhirnya Alan kalah sama pesonaku!' batin Gilda bangga. *** OH YA, KALIAN BISA TEMUKAN GILDA DAN ALAN DI PF BAAKISAHH ya ( Penname MKaraaa)

Great novels start here

Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD