Rafka menghentikan laju mobilnya di depan pintu gerbang komplek rumah Dara. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, tapi Dara menolak untuk diantar sampai ke dalam komplek. Rafka membantu Dara melepaskan seat belt, mata Dara masih sembab karena baru saja menangis dan perempuan itu benar-benar terlihat lesu sekarang. "Yakin lo, gue anter sampe sini doang?" "Iya, Nggak usah sampe dalem, deket kok." ucap Dara. Padahal dari pintu gerbang komplek ia harus berjalan sekitar lima puluh meter lagi untuk sampai ke rumah. Rafka hanya mengangguk, ia juga tidak bisa memaksa. Dara menatap Rafka sekali lagi sebelum membuka pintu mobil. "Eh, Dar. Bentar," Rafka menginterupsi. Laki-laki itu segera membuka hoodie hitam yang tadi ia kenakan, lalu menyerahkannya pada Dara. "Nih. Pake." Dara

