Kembali dari pantai, keceriaan Gadis menguap. Entah kenapa suara yang diduga sebagai Ivan mengganggu pikirannya. Dia pikir selama dua tahun berlalu, kenangan tentang Ivan terlupakan. Nyatanya masih tersimpan utuh. Dia duduk di balkon, memperhatikan langit sore yang mulai berubah warna. Sebentar lagi azan Magrib, tapi pemandangan matahari tenggelam membuatnya bertahan untuk menikmatinya hingga azan selesai dikumandangkan. "Salat, Dis! Kamu kenapa? Kok, mukanya sedih gitu?" Gadis merapikan rambut sambil menyunggingkan senyum kaku. Ada bentuk kepaksaan dalam senyuman itu. Dia gelagapan. "Enggak apa-apa, Mbak. Sakit perut saja. Mungkin bentar lagi haid," jawabnya sambil melangkah masuk ke kamar mandi, wudhu, lalu salat. Dalam munajatnya, Gadis memohon petunjuk. Jika Aksa yang terbaik untuk

