Bab 12 - Perlawanan yang Terlambat

630 Words
Malam berganti pagi dengan cepat. Naya menatap pantulan wajahnya yang pucat di cermin kamar. Mata bengkak, rambut acak-acakan, bibir pecah-pecah karena tangisan semalaman. Ia merasa seperti boneka yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Di bawah, Arman mondar-mandir penuh kecemasan. Ia tahu Naya tak tidur semalam. Dan ia tahu, gadis itu memendam semua luka sendirian. Akhirnya, Arman memberanikan diri mengetuk pintu kamar Naya. "Naya... ayo kita bicara." Naya membuka pintu perlahan, tubuhnya lemah. "Aku sudah memikirkannya, Arman..." bisiknya lirih. Arman menatapnya tajam. "Jangan bilang kau akan menyerah pada permainan kotor Adrian." Naya menggigit bibir. Ia ingin berkata tidak, tapi kenyataan terlalu pahit. "Arman... aku nggak punya pilihan lain. Kalau aku menolak, kedai ini... hidupmu... semuanya akan hancur." Arman memegang bahu Naya kuat. "Dengar aku, Naya. Kita masih bisa lawan dia. Aku nggak peduli kalau kedai ini hancur. Tapi aku nggak akan biarkan kau hancur hanya demi menyelamatkan sesuatu yang bisa kita bangun kembali." Air mata Naya jatuh. Kata-kata Arman menembus hatinya. Tapi di sisi lain, bayangan wajah Adrian yang dingin dan penuh ancaman masih menghantui pikirannya. "Kamu nggak tahu siapa Adrian, Arman... dia bisa menghancurkan lebih dari yang kamu bayangkan." "Aku nggak peduli, Naya. Aku akan melindungimu. Sekalipun harus kehilangan semua yang aku punya." Kalimat Arman membuat hati Naya runtuh. Ia menangis keras dalam pelukan pria itu, merasa kecil, rapuh, dan tak berdaya. Namun tanpa mereka sadari, di luar sana, Adrian sudah mempersiapkan langkah berikutnya. Ia menyebar foto Naya dan Arman yang sedang berpelukan ke media sosial gosip kota, memunculkan isu murahan tentang skandal antara pelayan dan pemilik kedai. Berita itu viral dalam hitungan jam. Kedai Arman dibanjiri wartawan. Reputasi yang ia bangun selama bertahun-tahun hancur seketika. "Dia... benar-benar gila..." gumam Arman sambil menutup tirai kedai. Naya merasa bersalah. Semua ini karena dirinya. Di malam yang mencekam itu, Arman akhirnya mengambil keputusan yang berbahaya. Ia memutuskan menemui Adrian secara langsung. Di depan rumah megah keluarga Wicaksana, Arman berdiri dengan penuh emosi. Ia menekan bel berkali-kali, hingga Adrian sendiri yang keluar. "Arman? Luar biasa. Aku tidak menyangka kau punya nyali berdiri di sini," sindir Adrian dengan senyum licik. Arman mengepalkan tinju. "Aku datang untuk memperingatkanmu, Adrian. Hentikan semua ini. Lepaskan Naya." Adrian tertawa meremehkan. "Lepaskan? Kau pikir aku mainan, Arman? Aku sudah jauh melangkah untuk mendapatkan Naya kembali. Kau cuma debu di sepatuku." Arman menatap mata Adrian tanpa takut. "Aku nggak takut padamu, Adrian. Sekali lagi kau ganggu Naya, aku yang akan jadi musuhmu." Adrian mendekat, menepuk bahu Arman seperti meremehkan. "Arman... dunia ini milik orang kuat, dan aku... lebih kuat dari siapa pun." Arman menepis tangan Adrian kasar. "Mungkin kau punya kekuatan, tapi kau nggak punya hati." Arman berbalik pergi dengan d**a membara. Ia tahu pertarungan ini tidak akan mudah. Tapi ia tidak akan menyerah. Sementara itu, Naya yang ditinggal sendirian mulai menyusun keberanian. Ia mengumpulkan semua surat, bukti ancaman, dan data tentang keluarga Wicaksana yang pernah ia dengar semasa bekerja di rumah itu. Ia tahu, satu-satunya cara untuk melawan Adrian adalah menyerangnya dari sisi yang paling lemah... reputasi keluarganya. Ia tahu, keluarga Adrian sangat menjaga nama baik mereka. Jika ia bisa membongkar rahasia kelam keluarga itu ke publik, mungkin... hanya mungkin, Adrian akan mundur. Namun Naya sadar, langkah itu berisiko. Bisa saja justru membuat hidupnya semakin terancam. Tapi ia sudah lelah menjadi boneka. Ia ingin mengendalikan hidupnya sendiri. Kali ini... ia yang akan memulai pertempuran. Malam itu, ia menghubungi seorang jurnalis yang dulu pernah tinggal di dekat rumah majikannya. "Aku punya cerita besar... tentang keluarga Wicaksana. Dan aku butuh bantuanmu untuk menyebarkannya," kata Naya dengan suara yang kini penuh ketegasan. Jurnalis itu tertawa kecil. "Kamu tahu risikonya, Naya?" "Aku tahu... dan aku siap." Naya menatap langit gelap di atas kota. Hujan kembali turun. Tapi hatinya tak lagi selemah kemarin. Kali ini, ia yang akan mengatur permainan. Perang baru saja dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD