Pukul tujuh tiga puluh malam, Omar sudah sampai di alamat yang tertera di kartu nama Mala. Omar mematikan mesin motor maticnya, memandang takjub rumah besar bercat putih tulang. Beberapa kali memencet bel yang ada di tembok samping pagar. Tak lama keluarlah seorang wanita paruh baya, mengenakan daster khas ibu-ibu. Keluar dari pintu samping dan menghampiri Omar. "Mas cari siapa ya?" tanyanya. "Saya Omar, mencari Bu Rania Fatmala," ucap Omar sambil tersenyum ramah. "Oh ya silahkan masuk, Mas. Ibu sudah menunggu." wanita tersebut membuka pagar teralis tinggi lalu mempersilakan Omar memarkirkan motornya di samping mobil Mala. "Mari masuk, Mas." Omar melangkah ragu, memilih duduk di teras depan. Dengan membawa dua bungkusan. "Maaf, Bu. Saya cuma bawa ini buat Bu Mala," ucap Omar memberika

