Setelah dari seminar, Ray dan Ara tampak pulang diantar oleh Bima. Kebetulan Bima saat itu tak ada kegiatan lain lagi, jadi dia bisa mengantar kedua orang ini. Bima juga banyak mendapat informasi dari Ara mengenai kejadian di gedung tadi.
"Terima kasih karena sudah mengantar kami," ucap Ara pada Bima dan teman kerjanya.
"Sama-sama. Jangan sungkan untuk menghubungiku jika butuh bantuan," balas Bima. "Ray. Jagalah kakakmu. Kamu sudah sangat berani sekali tadi," puji Bima di mana tadinya Ara menceritakan segala hal yang terjadi di dalam sana termasuk menceritakan keberanian Ray.
Ray hanya mengangguk saja sebagai tanggapannya. Bersama dengan Ara, pemuda ini keluar dari mobil. Keduanya sekali lagi mengucapkan banyak terima kasih pada pria itu. Setelah mengantar Ara dan Ray, Bima beserta teman kerjanya pun langsung pergi. Ara mengambil kunci rumahnya. Oh iya, mengenai ponsel, benda itu juga dikembalikan oleh polisi. Awalnya ponsel yang ada tadi akan dijadikan barang bukti, tapi polisi hanya mengambil beberapa dan ponsel Ara tidak termasuk.
Sesampainya di dalam rumah, Ara langsung merebahkan tubuhnya di kursi ruang tamu. Hal yang sama dilakukan oleh Ray juga.
"Hari yang panjang dan menegangkan," ucap Ara. Ray mengangguk setuju sebagai tanggapan di sana.
“Tadi Bima menanyakan perihal kebaradaanmu yang ada di gedung itu. Aku hanya menjawab seadanya dan tentu saja sedikit berbohong,” cerita Ara. Dia baru sekarang memiliki kesempatan bercerita mengenai apa saja yang dia dan Bima bicarakan.
“Apa yang kamu katakana padanya?”
“Aku mengatakan jika kamu sedang libur kuliah, jadi kamu ikut bersamaku hadir di sana. Dan untungnya Bima percaya dengan apa yang aku katakan,” jelas Ara. Ray tak perlu meragukan kemampuan wanita ini untuk membuat sebuah cerita bohong.
“Ray. Jika begini terus apa mungkin Bima tak curiga pada kita? Aku takut dia diam-diam menyelidiki hubungan kita sebenarnya. Dan kalaupun aku dan Bima menjalin hubungan nantinya, bukankah hubungan yang baik adalah berlandaskan kejujuran?” tutur Ara sepertinya mulai ragu dengan dirinya sendiri sekarang.
Ray mengembuskan napas lelahnya. Dia mengambil sebuah buku yang tiba-tiba saja sudah ada di tangannya. Buku yang sama seperti dulu saat Ray memperlihatkan potret Gara kepada Ara.
“Kamu harus tau satu hal. Misi temanku adalah menyatukan Bima dan ayahnya. Dari sini aku mulai menyelidiki juga bagaimana sifat Bima sebenarnya. Sejauh ini aku percaya dengan pria itu. Yang aku ragukan malah bukan Bima sekarang, melainkan Nino.”
Perkataan Ray tentu membuat Ara bingung apalagi satu nama teman kantornya disebut di sini. “Aku belum memiliki bukti sekarang. Tapi, aku menyarankan padamu untuk hati-hati dengan Nino. Firasatku mengatakan jika ada yang tak beres dengan pria itu,” nasihat Ray. Ara tentu tak langsung percaya, dia juga perlu bukti di sini.
Kemudian Ray memperlihatkan satu halaman buku di mana di dalamnya terdapat foto seorang wanita. “Aku baru ingat. Dulu aku pernah memiliki tugas. Dan targetku adalah seorang wanita. Wanita ini ternyata masih ada hubungannya dengan Nino. Yang jelas wanita ini sudah meninggal sejak lama.”
Bola mata Ara pun membulat sempurna. Ara tentu tak mengenal wanita yang ada di dalam buku itu. “Bisa saja mereka hanya saling kenal. Sejauh aku mengenal Nino, dia terlihat normal seperti orang lainnya, dia juga baik, dan dia tak menunjukkan gelagat aneh. Info sedikit saja Ray, aku lebih dulu mengenal dia dibandingkan kamu.”
Perkataan yang seperti sebuah pembelaan dari Ara tentu membuat Ray tersenyum tipis. Dia menutup bukunya dan dalam sekejap buku itu telah hilang dari pandangan. Kemudian Ray berdiri dari tempatnya. Sebelum pergi dia menatap Ara kembali. “Aku tidak menuduhnya, aku hanya meminta dirimu untuk lebih hati-hati lagi. Walau bagaimana pun tugasku di sini adalah menjagamu sebelum kamu menemukan pasangan. Dan tentu saja waktuku sudah tak banyak lagi.”
Ray pergi dari sana dan masuk ke dalam kamar. Mendengar Ray yang mengingatkan lagi jika pemuda itu tak memiliki waktu banyak pun membuat Ara menjadi bimbang sekarang. Kalau saja dia tau siapa jodohnya, mungkin Ray sudah bisa kembali ke tempat asal pemuda itu.
***
Hari-hari Ara coba jalani seperti biasanya. Dia mengingat lagi bagaimana Ray membantunya dalam segala hal dan bagaimana ajaibnya pemuda itu menyelesaikan masalah yang ada. Ara kembali mengingat perkataan Ray kemarin mengenai Nino. Ray bukanlah makhluk sembarang. Ara harusnya percaya, tapi entah mengapa sebagian diri wanita mengatakan untuk jangan menelan mentah-mentah segala fakta yang Ray katakan.
Tanpa sengaja mata wanita ini bertubrukan dengan Nino yang tiba-tiba menoleh ke tempat duduk Ara. Nino hanya menampilkan senyum hangatnya seperti biasa. Ara membalas senyum itu dan kembali menghadap ke depan. Meskipun demikian, ada satu waktu di mana Ara merasakan hal aneh pada senyum Nino itu. Dengan segera Ara mengenyahkan pikirannya, dia tetap harus berpikir positif.
Seperti biasa, ketika jam istirahat tiba, Ara dan teman-temannya akan pergi ke kantin. Di sini Ara selalu bersama dengan teman semejanya. Dan seperti biasa dia akan memesan mi ayam sebagai makan siangnya kali ini. Namun, kali ini ada yang berbeda. Nino duduk tak jauh dari tempat Ara duduk. Tentu saja pria itu bersama dengan teman-temannya. Ada beberapa kesempatan di mana Ara memergoki Nino menatap dirinya, namun dengan cepat juga pria itu mengalihkan pandangan. Tentu saja hal ini jarang terjadi dan membuat Ara bingung.
“Aku dengar kemarin kamu berada di gedung itu juga, Ra. Sudah aku katakan untuk tak usah datang. Untung saja penjahatnya bisa ditangkap.”
Perhatian Ara teralihkan karena temannya berbicara. Membahas soal kejadian kemarin, tentu Ara masih tak percaya jika Nino pergi duluan dan tak mencarinya. Padahal Ara juga mengkhawatirkan temannya itu.
“Tapi aku bersyukur semuanya baik-baik saja. Meskipun satu orang tewas. Itu adalah pengalaman yang tak akan pernah aku lupakan,” tutur Ara. Tentu saja dia tak akan melupakan momen menegangkan tersebut.
“Aku dengar temanmu sangatlah pemberani. Dan dari gosip yang beredar, dia telah membuat si penjahat mati kutu. Apakah itu benar?”
Ara meringis di sana. Dia tak menyangka jika kelakukan Ray akan menimbulkan gosip di antara teman kantornya. Ara menyeruput es jeruk miliknya.
“Ini hanyalah sebuah kebetulan dan keberuntungan. Keberuntungan bagi temanku karena dia tidak dihajar oleh para penjahat itu,” sahut Ara. Tentu saja dia tak boleh dicurigai.
“Iya juga. Ah iya, aku dengar Nino juga membantu di sana. Bukankah dia terlihat keren?” puji teman dari Ara itu sembari melirik meja yang Nino dan teman-temannya gunakan. Terlihat dari sana jika Nino nampak akrab sekali dengan teman kantornya.
Ara mengernyit. “Membantu? Ketika penjahat itu beraksi aku tak melihat Nino sama sekali. Terakhir aku bersamanya sebelum memasuki aula itu. Setelahnya aku sudah tak melihatnya,” kata Ara. Bahkan ia sempat menanyakan keberadaan Nino dan teman-temannya pada Ray. Dan Ray berkata jika mereka sudah keluar lebih dulu.
“Benarkah? Entahlah, aku hanya dengar dari teman-teman. Yang pasti kita harus bersyukur seluruh pekerja di kantor kita yang hadir semuanya selamat.”
Ara mengangguk. Sangat disayangkan pria yang tewas itu harus meregang nyawa. Bahkan Ara mengingat benar bagaimana kematian datang pada pria itu. Kematian yang direnggut secara paksa.
Setelah makan di kantin, Ara dan temannya hendak kembali ke ruangan mereka. Namun, Ara membiarkan temannya pergi duluan karena dia akan ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi Ara langsung memasuki salah satu bilik yang kosong. Samar-samar dia mendengar suara langkah kaki yang baru masuk ke kamar mandi juga.
“Nino? Sudah aku duga. Dia pasti pelakunya.”
Ara mengernyit ketika satu nama itu disebut oleh salah satu wanita di luar sana. Ara tetap diam pada posisinya dan ingin mendengar lebih di sini.
“Tapi wajahnya sama sekali tak menunjukkan jika dia pelakunya. Tapi, pengakuan Bella tentu membuatku terkejut.”
“Haha. Kamu jangan terlalu percaya hanya dari muka saja. Wajah sekarang bisa dimanipulasi. Orang yang kelihatannya baik belum tentu baik. Kita lihat saja siapa sebentar lagi yang akan menjadi target dia. Aku rasa dia ingin mencicipi seluruh wanita di kantor ini.”
“Sungguh menjijikkan. Jika aku menjadi wanita-wanita itu, maka aku tak akan mau terperangkap ke dalam rencananya.”
“Untuk itu sebaiknya kita hati-hati. Ya sudah ayo kita pergi, aku lupa menyalin file tadi.”
Samar-sama langkah kaki itu terdengar menjauh dan menghilang. Ara mengintip dari balik pintu, ternyata keadaan sepi. Dia pun keluar dari bilik kamar mandi. Sembari mencuci tangannya, dia mencoba mencerna obrolan dua wanita tadi yang sama sekali tak ia pahami. Di dalam percakapan itu menjelaskan jika terjadi hal buruk yang melibatkan Nino. Namun, Ara belum tau hal buruk apa itu.
Tak ingin berpikir terlalu jauh, Ara memutuskan untuk keluar. Namun, baru saja ia keluar, dirinya sudah berpapasan dengan Nino. Ini sebuah kebetulan yang tak terduga.
“Ara? Kamu mau kembali ke ruangan?” tanya Nino basa-basi. Sepertinya Nino juga baru selesai dari kamar mandi di mana kamar mandi pria dan wanita memang saling bersebelahan. Ara mengangguk sebagai jawabannya. Kedua orang ini berjalan bersisian menuju ke ruangan mereka.
“Kemarin aku mencarimu di gedung itu. Ke mana kamu pergi?” tanya Nino yang mengingatkan kembali insiden kemarin.
“Aku ada di sana. Setelah keluar dari aula itu aku menemui temanku yang kebetulan dia adalah reporter. Dia menanyakan perihal kejadian kemarin.”
Pria ini pun mengangguk paham. “Oh iya, aku dengar dari temanku kemarin kamu ikut membantu. Apakah itu benar?” tanya Ara.
Terlihat jelas jika Nino sedikit salah tingkah di sana. “Aku hanya membantu sebisaku. Tapi, Ra. Aku senang kamu baik-baik saja. Bagaimana dengan temanmu? Dia baik-baik saja kan? Aku sempat gelisah ketika dia menghampiri penjahat itu. Untung saja tak terjadi hal buruk padanya.”
Ara tersenyum kecil. Tentu saja tak akan terjadi apa pun pada Ray. Semua orang tak tau apa yang sudah pemuda itu lakukan pada si penjahat. “Oh iya, Ra. Jika kamu butuh bantuan, kamu bisa menghubungiku. Aku akan siap membantu dirimu,” kata Ray.
“Terima kasih, Nino. Tapi untuk sekarang aku baik-baik saja,” jawab Ara.
Kedua orang ini pun kembali ke meja mereka masing-masing di mana Nino masih nampak sesekali melirik tempat Ara berada. Tentu setelah obrolan singkat mereka ini Ara sepertinya mulai terpengaruh dengan perkataan Ray kemarin. Dia sepertinya tak boleh mengabaikan peringatan yang pemuda itu berikan.
---
Kira-kira ada apa dengan Nino nih?