Ara sekarang duduk berhadapan dengan Bima. Jika kalian bertanya kenapa dia bisa berada di sini, itu semua karena ide dari Ray. Lebih tepatnya Ray mengajak Bima untuk ketemu, tetapi Ara lah yang akan datang. Ray sendiri sebenarnya sampai di tempat itu juga, tetapi dia duduk di tempat yang tak bisa mereka ketahui. Ini memudahkan Ray sendiri untuk mengamati keduanya.
"Jadi Ray tidak datang?" tanya Bima. Ini weekend, dia sengaja mengambil libur untuk menenangkan diri. Rencananya dia akan mengobrol dengan pemuda bernama Ray itu. Karena menurut pandangan Bima sendiri, Ray terlihat seperti anak muda yang memiliki jiwa positif. Dan juga Bima merasa jika pemuda ini sedikit berbeda dari kebanyakan pemuda lainnya.
Namun, bukannya Ray yang ia temui malah Ara. Yang notabenya Bima belum mengenal wanita ini. Yang hanya diketahui oleh Bima adalah Ara berperan untuk membujuk ayahnya.
"Ya. Dia menitipkan pesan mungkin akan terlambat datang karena memiliki kepentingan di luar. Jika kepentingannya telah selesai, dia akan usahakan datang. Dia memintaku datang untuk menggantikannya dan menemanimu lebih dulu," terang wanita tersebut. Bima pun mencoba menerima keadaan hari ini. Ray atau Ara menurutnya tak ada bedanya, setidaknya ia memiliki teman untuk mengobrol.
"Oh iya, bagaimana keadaan ayahmu?" tanya Ara mencoba mencari topik dengan memulai bertanya tentang pria tua tersebut.
"Ayah baik. Di rumah sekarang dia memiliki hobi baru. Selain bermain dengan kucingku, dia juga hobi menanam beberapa tanaman. Aku sudah menyiapkan bahan yang ia butuhkan untuk ini," jawab Bima.
Ara pun nampak senang jika hubungan ayah dan anak ini membaik. Mengingat Ara yang sudah lama ditinggal oleh ayahnya, itu membuat wanita ini tak ingin orang lain merasa bersalah karena tak bisa membahagiakan orang tua mereka sebelum pergi.
Pelayan datang membawakan pesanan mereka. Karena ia pikir Ray yang akan datang, jadi Bima hanya memesan minuman saja kali ini.
"Apakah kamu mau memesan makanan juga? Pesanlah jika ada yang ingin kamu makan," kata Bima. Ara ragu-ragu untuk menerimanya.
"Saya pesan kentang goreng ya, Mbak," ucap Ara kepada si pelayan. Setelah itu pelayan tersebut pun pergi.
"Kamu dan Ray apakah kakak beradik?" tanya Bima. Ara terdiam, haruskah ia jujur? Tetapi itu tidak mungkin. Identitas Ray tidak boleh diketahui banyak orang. Dan juga Bima akan berpikir aneh ketika tau bila Ray dan Ara tak memiliki hubungan kerabat namun tinggal satu rumah.
"Ya, dia adalah adikku," jawab Ara akhirnya. Terpaksa ia harus berbohong demi keselamatan Ray.
"Sungguh menyenangkan sepertinya memiliki saudara di dalam keluarga," sahut Bima. Yang Ara tau adalah Bima menjadi anak satu-satunya di dalam keluarganya itu. Jadi, mungkin saja pria ini sedikit iri ketika melihat orang lain memiliki seorang adik atau kakak di rumah.
"Aku dengar dari Ray jika kamu bekerja sebagai reporter. Apakah itu benar?" tanya wanita tersebut. Bima pun membenarkan. "Pasti pekerjaan itu sangatlah melelahkan," komentar Ara yang tak bisa membayangkan jika dirinya berada di posisi pria tersebut.
"Pekerjaan di dunia ini pasti semuanya akan melelahkan, Ra. Bahkan seorang bos sekalipun juga bisa merasakan lelah. Itu semua tergantung bagaimana kita menjalani pekerjaan yang ada. Jika kita menyukai pekerjaan itu, maka semuanya terasa menyenangkan."
Perkataan pria ini dibenarkan oleh Ara sendiri. "Sudah berapa lama kamu bekerja sebagai reporter?" tanya Ara lagi.
"Hampir sepuluh tahun lamanya. Ya, lumayan lama juga. Tapi, aku berpindah-pindah tempat pekerjaan tetapi dengan bidang yang masih sama," jelas Bima. Ara pun paham, perusahaan yang berbeda-beda tetapi dalam konteks masih sebagai reporter.
"Sepertinya kamu nyaman di pekerjaan ini," kata Ara.
Bima mengangguk. "Dulunya aku sedikit ragu apalagi ketika Ayah tak ingin aku mengambil bidang ini. Tetapi, di usia yang bisa dibilang aku harus bisa mengambil keputusan sendiri itu, aku memutuskan untuk mengikuti keinginanku untuk menjadi reporter. Meskipun aku harus menentang Ayah dan membuat hubungan kami memburuk."
Ara akhirnya tau jika profesi reporter tak disetujui oleh pria paru baya itu.
"Orang tua dulu bilang kita harus nurut apa yang mereka katakan karena bisa jadi yang mereka sebutkan adalah sebuah kebenaran. Tetapi, terkadang sebagai anak kita harus bisa memiliki pendirian sendiri. Meskipun pilihan kita mungkin menentang mereka. Dan semoga saja apa yang kita pilih memiliki hasil yang positif. Sepertinya itu terjadi padamu."
"Kamu benar, Ra. Awal menjalani pekerjaan ini aku sedikit ragu apalagi meninggalkan rumah di mana Ayah hanya tinggal sendirian. Aku ingin pulang, tapi aku malu untuk bertemu dengan Ayah. Jadi, aku putuskan dan yakinkan pada diriku bahwa aku akan melakukan pekerjaan ini sampai akhir."
"Mendengar ceritamu ini membuatku benar-benar takjub. Beberapa orang bahkan takut untuk melangkah dan menuruti kata hati mereka. Karena keragu-raguan biasanya menyebabkan kegagalan itu benar-benar nyata," tutur Ara. Bima cukup berbangga dengan apa yang dia putuskan sejak dulu. Setidaknya masa depannya benar-benar menjadi lebih baik.
"Pembicaraan ini sungguh menyenangkan untukku. Terima kasih sudah menemaniku mengobrol. Aku pikir ini menjadi libur burukku. Ternyata aku tidak sia-sia mengambil cuti hari ini," seloroh Bima.
Ara tersenyum kecil. Dia menenggak minumannya. "Aku awalnya ragu untuk datang. Takut pembicaraan kita membosankan apalagi kita belum mengenal juga. Tapi, mengingat kamu adalah seorang reporter, jadi aku berpikir jika mungkin kamulah yang bisa berperan membangun pembicaraan di sini," ujar Ara dengan sedikit malu-malu. Bima pun tertawa ringan di sana.
Tepat selanjutnya adalah pelayan membawakan pesanan Ara yakni kentang goreng. Melihat hanya dirinya yang memesan makanan, hal ini membuat Ara menjadi ragu.
"Ada apa?" tanya Bima yang melihat ketidakberesan pada wanita di depannya.
"Kamu beneran nggak pesan makanan?" tanya Ara. Dia malu jika hanya dirinya yang makan di sini. Oh s**l, harusnya ia tak memesan apa pun tadi.
Mendengar pertanyaan wanita ini membuat pria di depan sana merasa terhibur dan berpikir jika Ara masih saja mempertanyakan hal itu. "Tidak. Aku sudah kenyang. Makanlah."
Ara terlihat lesu. Sungguh tidak etis sekali jika dia seorang diri saja yang makan. Melihat wanita tersebut tak bereaksi apa pun membuat Bima menjadi gemas sendiri. Bima inisiatif mengambil satu kentang goreng dan mengoleskan ke saos kemudian memasukkan ke dalam mulutnya.
"Makanlah," kata Bima sekali lagi. Ara mengangguk dan memulai makannya sembari ditemani Bima tentu saja. Melihat tingkah lucu wanita ini membuat Bima tanpa sadar tersenyum di sana.
Ray yang melihat kedekatan mereka sejak tadi dari jauh nampak tak bereaksi apa pun. Yang dia tahu adalah Bima dan Ara sepertinya sudah saling mengenal satu sama lain atau mereka telah saling nyaman dengan keadaan mereka sekarang? Sepertinya rencana Ray untuk mendekatkan mereka akan benar-benar cepat.
Bima dan Ara menghabiskan obrolan itu dengan banyak hal. Saling tertawa satu sama lain seperti seorang teman yang sudah kenal lama. Pembawaan Bima yang santai serta mudah membangun percakapan ditambah obrolan mereka yang tidak membosankan membuat Ara lupa akan waktu jika hari sudah siang. Untungnya Bima mengingatkan akan waktu saat itu.
"Sepertinya kita terlalu asyik bercerita," kata Bima diselingi tawa kecil di sana. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ara.
Kedua orang ini keluar dari tempat yang mereka habiskan untuk mengobrol sejak tadi. "Kamu naik apa, Ra?" tanya Bima.
"Bus."
"Oh, tidak usah. Mending aku antar sekalian," tawar Bima yang sudah menuju ke sepeda motornya.
"Memang tidak apa-apa? Takut ngerepotin," kata Ara yang sedikit berat untuk menerima kebaikan pria ini.
"Rumahmu memang jauh ya?"
Ara menggeleng, "tidak juga. Mungkin hampir setengah jam dari sini," jelasnya.
Bima pun mengangguk. "Itu cukup jauh. Ya sudah ayo biar aku antar. Aku tidak enak jika kamu nolak karena akulah yang mengajak ketemuan di sini," ujar Bima.
Ara memilih menerima tawaran pria ini dari pada Bima terus memaksa dirinya. Untungnya Bima selalu membawa helm cadangan yang memang ia taruh di jok. "Ini pakai. Demi keselamatan," ungkapnya. Ara menerima helm itu dan memasangkan di kepalanya.
Bima menunggu Ara naik lebih dulu agar wanita itu tak jatuh. "Ada apa?" tanya Bima yang tak merasakan jok belakang ada beban.
Ara menggeleng dan buru-buru naik. "Tunggu," cegah Bima lebih dulu. "Itu di kaitkan dulu biar aman," katanya sembari menunjuk helm yang Ara pakai. Masalahnya adalah sejak tadi wanita ini sudah berusaha tapi tak kunjung bisa.
"Susah Bima. Udah nggak apa-apa begini saja," kata Ara dengan senyum penuh paksa. Mungkin di jalan nanti dia akan memegang tali helm nya biar tak jatuh.
Bima yang gemas pun langsung turun tangan dan mengambil alih pengait di helm itu. Ara pun terkejut karena posisi kedekatan mereka ini. Karena Bima adalah pemilik motor sekaligus helm, jadi dengan mudah bunyi 'klik' terdengar di sana.
"Jangan remehkan hal kecil seperti ini. Kita tidak tau apa yang terjadi di depan nanti," nasihat Bima. Ara pun mengangguk paham. "Ya sudah kita berangkat sekarang," putus pria itu.
Motor Bima pun melaju meninggalkan tempat pertemuan mereka di mana ada sosok Ray yang lagi-lagi mengamati mereka sejak tadi. Kali ini Ray memilih pulang karena Bima juga mengantar Ara pulang.
Mungkin ini terdengar norak, tapi Ara sungguh menikmati perjalanan pulang naik motor. Bisa dikatakan keseharian Ara setiap hari adalah naik bus. Jadi, ketika sekarang ia naik motor, itu membuat kebahagiaan tersendiri bagi wanita tersebut ditambah lagi angin menerpa wajahnya.
Bima yang tanpa sengaja melihat Ara dari spion pun tersenyum kecil. Menurutnya Ara adalah wanita yang lucu dan terkadang terlihat seperti anak-anak.
"Kamu biasanya bekerja naik apa?" tanya Bima sedikit berteriak agar suaranya mampu didengar oleh wanita tersebut.
"Naik bus," jawab wanita itu.
"Kenapa nggak naik motor aja? Lebih cepat juga kan."
"Aku nggak punya motor dan nggak bisa naik motor. Jadi ya satu-satunya pilihan naik bus," jawab Ara kembali.
Keduanya berhenti di lampu merah. "Aku setiap hari menggunakan motor karena harus mengejar berita jadi kalau kena macet sedikit menyulitkanku," kata Bima yang mencoba menjelaskan pada Ara alasan dia naik motor.
"Iya juga. Sebenarnya naik bus sering banget kena macet. Kadang pulang jadi telat banget. Belum lagi kalau bus penuh. Lagi capek-capeknya pulang kerja malah berdiri sepanjang jalan. Menyedihkan sekali," cerita Ara yang kelihatan menyedihkan memang.
"Apalagi pekerjaan jaman sekarang susah untuk dicari. Jadi ya mau tidak mau meskipun berat ya kita jalani aja. Hidup memang banyak rintangannya."
Bima kembali melajukan motornya. "Bagaimana dengan Ray? Sekarang dia sedang sekolah atau kuliah?"
Ara terdiam. Tentu saja Ray tak melakukan dua hal itu. "Itu ... dia kuliah tapi masih mahasiswa baru." Dan lagi-lagi Ara harus berbohong kembali.
"Apakah dia berkeinginan untuk menjadi reporter?" tanya pria ini kemudian.
"Eh? Sepertinya tidak," jawab Ara.
"Soalnya saat pertama kali kami bertemu, dia berada di lokasi tempat aku menyiarkan berita. Aku pikir dia berminat ke bidang ini." Ara memaksakan tawanya di sana. Ray memang benar-benar memiliki tingkah ajaib. "Menjadi reporter, pelayan, direktur atau lainnya pun tidak apa-apa. Yang penting pekerjaan itu adalah yang memang dia mau dan juga bukan pekerjaan yang merugikan orang lain." Ara mengangguk setuju.
Ternyata untuk sampai ke rumah Ara bagi Bima hanya butuh 15 menit saja. Ini malah lebih cepat dibanding jika Ara naik bus. Ara turun dari motor dan tak lupa mengembalikan helm milik Bima. "Terima kasih untuk tumpangannya," ucap Ara.
"Sama-sama. Sekali lagi terima kasih karena sudah mau menemaniku mengobrol. Next time semoga kita bisa bertemu lagi dan mengobrol lebih banyak."
Ara menganggung sembari menampilkan senyum manisnya. Bima kembali menghidupkan mesin motornya. "Aku pulang dulu. Titip salam untuk Ray. Kapan-kapan kita juga boleh mengobrol bertiga."
"Aku akan sampaikan padanya," balas Ara.
Motor pria itu perlahan menjauhi rumah Ara. Ara masih pada tempatnya sembari memperhatikan punggung Bima sampai tak terlihat.
"Sepertinya hubungan kalian mengalami kemajuan dalam setengah hari ini," celetuk sebuah suara yang berada di belakang wanita tersebut. Ara pun sedikit terkejut di sana karena keberadaan Ray baru ia ketahui.
"Kamu mengagetkanku saja, Ray," ucap Ara sembari berjalan masuk ke dalam rumah. "Kita nggak ada hubungan apa-apa selain berteman, Ray. Oh iya, terima kasih karena sudah mempercayakanku kali ini. Setelah hari ini aku mengobrol dengan Bima, aku rasa dia teman mengobrol yang menyenangkan," ungkap Ara di mana wajahnya terlihat berseri-seri. Ray tau jika wanita ini tengah bahagia.
"Oh iya aku ingin memberitahu satu hal. Dia bertanya apa hubunganku denganmu. Karena kamu sudah terlanjur mengatakan jika kita tinggal serumah, maka aku memberitahu dia jika kamu adalah adikku," seloroh Ara yang hampir membuat Ray menyemburkan air yang tengah ia minum.
"What? Adik?"
Ara mengangguk. "Dan aku juga bilang kalau kamu sedang kuliah," imbuh Ara. Ray pun terlihat kurang suka dengan ide Ara ini. "Sorry, aku terpaksa berbohong karena kalau jujur nanti identitasmu diketahui semua orang. Lagi pula kita berdua baru mengenal Bima." Penjelasan yang Ara berikan masuk akal juga. Jadi Ray setuju dengan keputusan wanita ini.