Ray langsung menghampiri Ara yang berjalan berlainan arah dengan Gara. Gara mengatakan pada gadis itu akan mulai memperjuangkan sosok Gladis kembali. Untuk itulah Ara membiarkan pemuda itu melakukan hal yang harus dilakukan.
"Ke mana dia pergi?"
Ara melirik sosok Ray yang berjalan di sampingnya. "Kelas Gladis," jawabnya singkat. Ray memang sejak tadi memperhatikan Ara dan Gara dari jauh. Namun, dia tak mendengar apa yang sedang mereka obrolkan. Dia juga sempat melihat bagaimana Gara dan Ara saling tersenyum bersama. Dia pikir Gara sudah mengungkapkan perasaannya pada gadis ini.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?" Tentu Ray merasa kepo di sini. Sebenarnya dia bisa saja tadi sembunyi-sembunyi untuk mencuri dengan obrolan mereka, namun pemuda ini tak ingin Ara marah kepadanya.
"Dia menceritakan pertemuan kemarin dengan Gladis. Ternyata Gladis belum menjawab perasaan Gara. Untuk itulah Gara membutuhkan solusi dariku," terang gadis ini. Ray pun mengangguk paham. Keduanya menuju ke kantin bersama. Ray dan Ara mengambil minuman masing-masing. Ara sendiri memilih untuk makan hari ini, sedangkan Ray tampak tak berminat sama sekali makan. Jadi, dia hanya menemani Ara.
"Jadi intinya Gladis dan Gara belum jadian?"
Ara mengangguk sebagai jawabannya. "Dan kamu memberikan dia solusi untuk hubungan mereka?"
Lagi-lagi gadis itu mengangguk. Ray tampak tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh Ara yang mana gadis ini memiliki kesempatan yang lebih besar sebenarnya di sini untuk mempengaruhi Gara agar tak berfokus pada Gladis seorang.
"Jika kamu terus membiarkannya dengan orang lain, maka kamu akan merasakan sakit hati lagi," nasihat Ray kembali.
Ara tertawa pelan, dia menenggak sedikit minumannya setelah menelan makanannya. "Kamu ingin mempercepat sakit hatiku, Ray? Tenang saja, aku sudah kebal dengan itu. Lagi pula ada sakit hati yang lebih parah dari pada sekedar melihat mereka jadian. Kamu pasti tidak tau bagaimana rasanya ketika nama wanita lain disebutkan dalam ijab kabul yang Gara lakukan. Itu jauh lebih sakit dari pada ini. Tapi, kembali lagi kepada kebahagiaan Gara. Aku tau dia jauh lebih bahagia bersama Gladis."
"Bagaimana kamu menyakini itu? Bahkan kamu pergi dari kota ini semenjak umur 20 tahun bukan? Bagaimana caranya kamu tau jika Gara akan bahagia bersama Gladis?" kata Ray mempertanyakan hal yang mungkin hanya sebuah keyakinan semata bagi Ara.
"Aku hanya meyakini dan merasakan itu saja. Ya, meskipun aku pergi dari kehidupan mereka di usia 20 tahun, tapi aku yakin Gara dan Gladis hidup bahagia. Hanya saja Gladis sepertinya harus mengikhlaskan kepergian Gara suatu hari nanti."
Kembali lagi ke memori di mana Gara tiada. Ara mengingat betul bagaimana sedihnya Gladis dan keluarganya saat itu. Bahkan anak mereka masih kecil, ini semakin membuat Ara tak tega jika harus mengganggu hubungan kedua insan itu.
Ara menyantap mie ayam miliknya. "Apakah makanan favoritmu sejak dulu adalah mi ayam?" tanya Ray. Karena seingatnya dia bertemu pertama kali dengan Ara di Kedai Mie Ayam itu.
Ara pun tersenyum kikuk, kemudian dia mengangguk membenarkan. "Oh iya aku ingin bertanya lagi mengenai dirimu," ungkap gadis ini sembari menyeruput minumnya.
"Lagi? Seperti sebuah wawancara yang tak kunjung usai," keluh Ray yang mana membuat Ara menahan tawanya. Bukan salahnya jika ingin lebih mengenal Ray. Toh, pemuda ini yang membuat Ara terjebak di masa lalu.
"Di masa lalu atau masa sebelumnya apakah kamu sama sepertiku? Seorang manusia misalnya? Atau mungkin sejak lahir kamu memang diciptakan dan ditugaskan seperti ini?" tanya Ara. Ray tak tahu bagaimana pikiran random gadis ini mempengaruhi otaknya.
"Apakah kamu sering menontin film yang bersangkutan dengan seperti ini sehingga kamu bertanya hal konyol seperti itu?"
Lagi dan lagi Ara tersenyum kikuk, dia hanya penasaran. Apa salahnya? "Ya, aku hanya ingin tau, Ray. Lagi pula aku sudah menganggapmu teman. Jadi apa salahnya jika aku mengetahui lebih jauh kehidupan temanku?"
Ray mengembuskan napas lelahnya. "Sejak lahir dan ada, aku sudah seperti ini. Wujudku tidak pernah berubah dan selalu seperti ini. Untuk itulah ketika kita bertemu pertama kali dan bertemu di masa ini pun wajahku tetap sama."
"Jadi ... kamu tidak pernah merasakan masa kanak-kanak dan masa tua?"
Ray mengiyakan pertanyaan gadis ini. Ara menganga, ini sungguh menakjubkan dan tentu hal seperti ini tak mungkin terjadi di dunia nyata. Tetapi, dia benar-benar bertemu orang seperti Ray sekarang. Jika dunia tau, pasti dia akan dikejar-kejar.
"Apakah enak hidup seperti ini? Menjadi manusia jauh lebih menyenangkan bagiku. Kita merasakan tumbuh mulai dari kecil hingga tua nanti. Apakah kamu tidak pernah ingin hidup seperti manusia, Ray?"
Pemuda ini menggeleng. "Aku belum pernah memikirkannya. Karena menurutku hidup para manusia itu sedikit rumit. Dan alangkah lebih baik jika aku mengusahakan peranku di sini untuk membantu para manusia," tutur Ray. Ara memandang pemuda ini dengan takjub, bahkan pemikiran Ray sangatlah bagus dari pada apa yang Ara pikirkan.
"Kenapa? Apakah kamu sekarang berminat untuk menjadi seperti diriku?" tanya Ray diakhiri dengan tawa kecil di sana.
"Sudah aku katakan jika kehidupan manusia jauh lebih menyenangkan," balas Ara. Ray mengangguk, dia tak memaksanya. Ara kembali melanjutkan acara makannya di sana.
"Ah iya, Ray. Aku lihat kamu bisa melihat masa depan. Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Ara dengan ragu. Ray memicing curiga.
"Ada beberapa hal yang tidak bisa aku katakan padamu, Ra. Terutama tentang masa depan. Tuhan akan menghukumku jika aku mengatakan jujur padamu," jelas pemuda ini. Ara mengangguk paham. "Jadi ... apa yang ingin kamu tanyakan?"
Ara lantas menggeleng di sana. Dia tak ingin Ray mendapat hukuman. Lagi pula Ray tak akan semudah itu memberitahu pada dirinya perihal masa depan.
"Tidak perlu, Gara. Biar aku kerjakan sendiri tugas ini," tolak Gladis lembut. Dia mengambil alih buku matematika miliknya. Gara pun tak memaksa dan membiarkan gadis ini mengerjakan tugasnya sendiri.
Gara sengaja menemani Gladis di jam istirahat ini. Sebenarnya dia tanpa sengaja melihat gadis ini memasuki area perpustakaan. Dan Gara diam-diam mengikutinya dan berpura-pura jika sedang mencari buku. Untuk itulah keduanya berakhir di meja perpustakaan dengan Gladis yang mencoba memecahkan soal-soal di bukunya.
"Ara mana?" tanya gadis ini. Gara tak tau ke mana perginya temannya itu. Sebenarnya dialah yang keluar kelas lebih dulu tadinya.
Gara mengedikkan bahunya. Mungkin Ara sedang bersama Ray sekarang. Lagi-lagi Ray membuat pemuda ini kepikiran. Entah mengapa Gara sedikit merasakan gelisah ketika Ara lebih banyak menghabiskan waktu bersama murid baru itu. Bukan karena cemburu, lebih kepada khawatir jika Ray membawa pengaruh buruk pada Ara. Karena Ray tentu menjadi penghuni asing yang belum Gara percayai sepenuhnya di sini.
"Menurutmu, bagaimana dengan Ara?" tanya Gladis tiba-tiba.
"Ara? Emm ... dia gadis yang ceroboh, pelupa, namun sangat menyenangkan ketika diajak mengobrol," jelas Gara singkat. "Kenapa kamu menanyakan Ara?" tanyanya balik.
"Tidak ada. Hanya saja aku senang berteman dengannya. Menurutku Ara gadis yang unik, ceria dan lucu."
Gara mengangguk membenarkan. "Itu hanya sebagian hal yang kamu tau tentangnya. Aku dan Ara sudah berteman sejak kecil. Untuk itulah aku tau bagaimana sifat dia sebenarnya. Terkadang dia bersikap kekanak-kanakan dan menjahili orang-orang. Namun, terkadang juga dia terlihat dewasa."
Gara menceritakan perihal Ara kepada Gladis saat itu. Meskipun mata dan tangannya bergerak di atas kertas untuk mengerjakan soal-soal, tetapi telinga Gladis berfokus pada cerita Gara. Seberapa leluasanya pemuda ini bercerita membuat Gladis paham akan kedekatan yang terjalin antar keduanya.
"Gara," panggil Gladis yang mana membuat pemuda itu berhenti berbicara. Gladis tersenyum kecil, dia menutup bukunya dan membereskan peralatan belajarnya saat itu. "Aku sudah selesai," ungkapnya.
"Oh. Baiklah. Apa rencanamu sebentar lagi? Kelas? Kantin?" tanya Gara yang ikut berdiri dan melangkah keluar pepustakaan bersama gadis ini. Gladis menggeleng, dia hanya ingin berjalan-jalan di sekitar sekolah.
"Aku masih ingat perkenalan pertama kita dulu. Kamu kebingungan membawa buku paket yang cukup banyak ke kelasmu," ujar Gladis mencoba mengingat ulang pertemuan keduanya dulu. Gadis itu sedikit tertawa mengingat betapa malangnya Gara kala itu.
Gara tampak salah tingkah jika mengingat hal memalukan itu. "Ya, ternyata kamu masih mengingatnya. Itu semua salah Ara. Kalau saja dia mau membantuku dan tidak mencoba kabur, maka kejadiannya tidak memalukan seperti itu," jelas Gara kembali.
"Berarti bisa dipastikan jika Ara lah yang membuat kita berdua bertemu, bukan?"
Gara mengangguk setuju. Mungkin takdir ketiganya memang begini. Dan sepertinya Gara harus mengingat jasa teman dekatnya itu.
"Sebenarnya itu tidaklah memalukan. Jujur aku kurang nyaman berteman dengan siswa dari kelas lain. Bukan karena egois, hanya saja aku takut salah menempatkan diri dan selalu khawatir apakah mereka nyaman berteman denganku. Tapi, melihatmu dan Ara membuatku berpikir jika aku bisa berteman dengan siapa saja jika aku mau," cerita Gladis.
Gara mencoba menyimak segala cerita gadis ini di mana itu artinya jika Gladis sudah memiliki kepercayaan kepada Gara sendiri. Bukankah barusan Gladis mengatakan jika dia kurang nyaman berteman dengan siswa dari kelas lain? Itu artinya Gara salah satu siswa yang spesial saat itu. Gara patut berbangga hati untuk fakta ini.
"Kamu harus membuka pertemanan. Mungkin sifatmu dengan Ara hampir mirip. Tetapi, kamu lebih baik di sini. Ara jauh lebih menyendiri dibandingkan dirimu. Sejak kecil, dia selalu berada di dekatku. Bisa dikatakan kami benar-benar sangat dekat bagai sahabat dan saudara. Dan dia juga sama sekali tidak mau berbaur dengan teman lainnya. Baginya aku sudah cukup. Itu perkataan yang dia ucapkan padaku."
"Namun, Ara lupa akan satu hal jika aku tidak selamanya berada di dekat dia suatu hari nanti. Di mana kami akan menjalani hidup masing-masing dengan keluarga masing-masing."
"Tapi ... saat ini Ara sepertinya mulai mau berteman dengan orang lain. Contohnya saja Ray. Mereka sangat akrab dan Ara tampak lebih leluasa mengobrol dengannya," kata Gladis.
"Ya aku tau itu. Untuk itulah aku membiarkan Ara mengeksplore pertemanannya. Itu akan jauh lebih bagi dirinya untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan."
"Apakah sedikit pun kamu tidak merasa kehilangan jika dia terlalu dekat dan akrab dengan orang lain?" tanya gadis ini memandang Gara penuh.
Pemuda itu terdiam, kemudian kepalanya bergerak membuat sebuah gelengan kepala. "Aku sudah menganggap Ara seperti saudaraku sendiri. Aku senang melihat dia mampu untuk membuat pertemanan dengan orang lain. Jujur, yang aku takutkan sejak lama adalah dia selalu bergantung padaku. Tapi, sepertinya itu tak mungkin terjadi sekarang," balas Gara. Gladis pun diam dan tak bertanya lagi. Keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Tanpa keduanya sadari, Ara mendengar segala percakapan kedua insan itu bersama dengan Ray. Sebenarnya keduanya baru saja selesai dari kamar mandi dan hendak ke kelas, namun mendengar suara Gara dan Gladis yang mengobrol membuat keduanya mengurungkan niat untuk ke kelas.
Ray menyentuh bahu Ara pelan, gadis itu menoleh padanya. Pandangannya kali ini berbeda. Ara menampilkan senyum terbaiknya. "Ayo ke kelas," ajak gadis ini dengan suara yang agak berbeda di telinga Ray.