Pagi itu udara di rumah keluarga Adrian terasa menyesakkan.
Suara Ratna dan Mischa terdengar riang dari ruang tengah, seolah tidak ada tragedi yang sedang terjadi di keluarga mereka. Sementara Winona, dengan wajah datar dan mata sembab karena semalam tak tidur, berjalan menuruni tangga dengan langkah pelan.
"Lihat, Ma," ujar Mischa dengan nada mengejek sambil menatap Winona dari ujung sofa. "Calon pengantin kita sudah turun juga akhirnya. Calon pengantin yang mau menikah dengan petani miskin."
Tawa kecil Ratna langsung mengikuti ucapan putrinya itu. "Sst, jangan keras-keras, Sayang. Nanti kakakmu tersinggung. Lagipula, tidak semua orang punya keberanian buat hidup susah, kan?"
Nada suaranya terdengar lembut, tapi penuh sindiran yang menusuk.
Winona berhenti di anak tangga terakhir, menatap keduanya dengan wajah datar.
"Aku tidak peduli kalian bicara apa. Setidaknya aku bukan pengecut yang kabur dari tanggung jawab seperti Mischa."
Mischa langsung berdiri, menatap kakaknya dengan tatapan sinis. "Tanggung jawab? Aku tidak pernah minta pernikahan itu. Itu ide kakekku, bukan aku. Coba pikir, siapa yang lebih cocok menikah dengan petani? Aku atau kamu?"
Winona tersenyum sinis menatap Mischa.
"Suatu hari nanti, kalian akan menuai karma atas apa yang sudah kalian lakukan. Lihat saja nanti."
Ratna yang duduk di sofa hanya tersenyum tipis, menyesap tehnya dengan santai.
"Sudah, sudah. Tidak usah ribut pagi-pagi. Bagaimanapun juga, Papamu sudah memutuskan. Kamu harus terima, Winona. Kamu harus berkorban untuk adik kamu yang masih muda."
Winona tertawa sinis. "Berkorban? Lucu. Dari dulu aku yang selalu berkorban. Waktu Papa lebih pilih menemani kalian liburan ke Eropa, aku di rumah sendirian. Waktu aku sakit, Papa sibuk urus urusan kalian. Sekarang, aku disuruh menikah dengan orang yang bahkan tidak aku kenal."
Mischa melipat tangan di d**a, wajahnya penuh kemenangan. "Terserah kamu mau ngomong apa, tapi yang jelas, Papa lebih sayang aku daripada kamu. Kalau tidak, kamu tidak mungkin disuruh nikah sama petani. Papa tidak akan tega kalau itu terjadi sama aku."
Kata-kata itu seperti belati yang menancap dalam ke d**a Winona.
Ia menatap adik tirinya itu lama. "Kamu bangga dengan itu, Mischa? Bangga karena punya ibu yang bisa menguasai Papa sampai lupa anak kandungnya sendiri?"
Mischa memutar bola mata dan tersenyum sinis. "Bukan salah aku kalau Mama lebih pintar dari almarhum mamamu yang--"
Tamparan keras melayang sebelum kalimat itu sempat selesai.
Mischa memegang pipinya yang memerah, menatap Winona tak percaya. "Kamu berani menampar aku?"
Winona menggertakkan gigi. "Kamu pantas mendapatkan lebih dari itu."
"Cukup!" Ratna berdiri, menahan Mischa yang hendak membalas. "Kamu keterlaluan, Winona. Kalau kamu bukan anak Papa, aku sudah usir kamu dari rumah ini."
Winona menatap keduanya, tubuhnya bergetar menahan amarah. "Kalian pikir aku masih mau tinggal di rumah ini? Rumah yang sudah tidak punya cinta sejak Mama meninggal? Kalian boleh ambil semuanya, Papa, rumah ini, hartanya. Aku tidak peduli."
Winona berbalik dan berjalan ke arah pintu, meninggalkan pasangan ibu dan anak itu dengan amarah di dadanya.
Ratna menatap punggungnya sambil berbisik pada Mischa. "Munafik sekali," ujarnya pada Mischa.
Mischa terkekeh, menepuk pipinya yang masih perih. "Biar saja. Toh, sebentar lagi dia jadi istri petani. Kasihan, dari rumah mewah ke rumah kayu."
Udara luar terasa panas ketika Winona keluar rumah. Ia masuk ke mobilnya dengan tangan gemetar, menyalakan mesin tanpa arah tujuan. Air mata menetes tanpa henti, pandangannya kabur.
Kata-kata Mischa terus terngiang di kepalanya tentang Papa yang lebih menyayangi adik tirinya. Tentang Ratna yang seolah menjadi ratu di rumah yang dulu seharusnya milik mamanya. Tangannya menggenggam kemudi kuat-kuat.
"Aku benci Ratna, Aku benci Mischa, dan aku benci papa."
Mobil melaju kencang di jalan raya. Lalu lintas siang itu cukup ramai, tapi Winona seperti tak peduli. Ia menginjak pedal gas lebih dalam, seolah ingin lari dari semua yang menghimpit dadanya.
Sebuah truk besar keluar dari tikungan. Winona yang melamun tak sempat memperlambat laju mobil. Klakson keras terdengar. Dalam sepersekian detik, ia membanting setir ke kiri. Ban berdecit keras, mobil berputar dan hampir menabrak tiang listrik di pinggir jalan.
BRAK!
Suara benturan kecil terdengar saat mobil menghantam pagar besi.
Winona terpaku, napasnya terengah. Tangannya gemetar hebat, jantungnya berdegup tak karuan.
Gadis itu menunduk, mencoba menarik napas dalam-dalam. Air matanya pecah seketika.
"Ya Tuhan, aku hampir mati."
Mobil berhenti di pinggir jalan dengan bodi depan penyok ringan. Orang-orang berkerumun, tapi Winona keluar dan berkata lirih bahwa ia baik-baik saja. Seorang satpam membantunya menepi ke trotoar.
Sambil duduk di kursi taman dekat rumah sakit terdekat, Winona menatap tangannya yang masih bergetar.
Dalam kondisi syok, ia mengeluarkan ponsel dan menelepon satu-satunya orang yang ada dalam pikirannya.
"Cil," panggilnya parau.
"Win? Kamu kenapa? Suara kamu seperti habis menangis."
"Aku hampir kecelakaan. Sekarang aku di depan rumah sakit Saint Helena."
Cecil langsung panik. "APA? Kamu gila, Win? Tunggu di situ, aku ke sana sekarang."
Tak sampai dua puluh menit, Cecil muncul dengan napas terengah. Ia berlari ke arah Winona yang duduk di bangku taman dengan wajah pucat.
"Winona Pradellisa." Cecil menatapnya tajam. "Kamu masih punya otak tidak sih? Kamu mau mati, hah?"
Winona menunduk. "Aku, Aku tidak tahu, Cil."
Cecil menarik Winona masuk ke dalam pelukannya, menenangkan sahabat yang mungkin masih di landa shock.
Sementara Winona meneteskan air matanya, menangis dengan keras, demi melampiaskan amarah dan juga sesak di d**a yang tidak bisa dilampiaskan olehnya.
Sementara itu rombongan Abimanyu dan keluarganya sudah menuju kota besar dan bermalam di hotel yang sudah disiapkan oleh Adrian Hartono, selaku dari orang tua gadis yang akan dinikahi oleh Abimanyu.
"Besok kamu akan bertemu dengan calon istri kamu. Menurut informasi yang bapak dengar kalau calon istri kamu sangat cantik." Pak Arman berkata sambil menepuk pundak putranya. "Setelah kamu mengucapkan ijab Kabul, itu tandanya kamu harus bertanggung jawab atas kehidupan perempuan yang kamu nikahi."
Abimanyu yang mengenakan kemeja putih lengan pendek menganggukkan kepalanya. Pria itu menatap langit malam yang begitu dingin dan gelap di atas langit, hanya lampu-lampu dari gedung-gedung tinggi yang menerangi.
Suasana kota yang begitu meriah tentu berbeda dengan desa tempat mereka tinggal. Abimanyu tidak tahu apakah ini adalah langkah yang tepat menerima perjodohan yang sudah disiapkan oleh almarhum kakeknya. Semoga saja ini menjadi pernikahan pertama dan terakhirnya meskipun Abimanyu tidak tahu apakah ia kuat menghadapi calon istri yang berasal dari kota.