Bab 7. Rumah Baru

1290 Words
Perjalanan menuju desa memakan waktu hampir 4 jam dari kota dengan jalur darat. Winona hanya diam sepanjang jalan. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya, hanya sesekali ia memandang keluar jendela melihat pemandangan yang semakin asing, sawah hijau yang terbentang luas, pepohonan tinggi, dan jalan kecil berbatu yang sesekali membuat mobil berguncang keras. Abimanyu beberapa kali melirik lewat kaca spion, ingin bicara tapi ragu. Ia tahu perempuan di belakangnya sedang berusaha keras menahan gejolak di hati. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam dalam keheningan. "Sebentar lagi sampai," ucap Abimanyu pelan, hampir seperti bisikan. Winona tidak menjawab, hanya mengangguk tanpa menoleh. Rasanya masih tidak menyangka jika pernikahannya akan digelar secepat ini dan bahkan tubuhnya sudah tidak ada lagi di kota. Ketika mobil berhenti di depan rumah kayu sederhana, Winona sempat terpaku. Rumah itu tidak besar, dindingnya terbuat dari papan kayu, atapnya dari genteng tanah liat yang sebagian sudah berlumut. Di halaman depan, ada pohon mangga besar dan sebuah tempat duduk yang terbuat dari kayu dan bambu. Beberapa orang desa sudah berkumpul di depan rumah, tampak tersenyum hangat menyambut kedatangan pengantin baru. Seorang perempuan paruh baya dengan wajah ramah berjalan mendekat dengan langkah cepat. "Ini pasti Winona, ya?" ucapnya penuh semangat sambil menepuk tangan. "Aduh, cantiknya pengantin baru ini, seperti bidadari." Abimanyu segera turun dari mobil, membuka pintu untuk Winona. "Iya, Bu. Ini Winona," katanya sopan. Perempuan itu adalah Bu Neneng, tetangga Abimanyu yang menyambut dengan pelukan lembut. "Selamat datang, Nak. Mulai sekarang, anggap rumah ini rumah kamu sendiri, ya. Maaf kalau tempatnya sederhana." Winona sempat kaku, tapi akhirnya membalas pelukan itu dengan kikuk. "Terima kasih, Bu," jawabnya pelan. Suaranya nyaris tak terdengar, namun Bu Neneng tersenyum lembut, seolah bisa mengerti Winona. Mereka kemudian dibawa masuk ke dalam rumah, baru kemudian seorang pria paruh baya dan juga seorang wanita paruh baya yang memang hadir di acara akad nikah dan Winona mengetahui jika itu adalah orang tua Abimanyu, mulai memperkenalkan diri. "Kamu panggil saya dengan sebutan bapak saja. Saya bapaknya Abimanyu, kita tadi belum kenalan secara langsung karena memang agak sibuk. Mulai sekarang anggap saja rumah ini seperti di rumah kamu sendiri," ujar Pak Arman sambil menatap Winona. "Ini ibu mertua kamu, Bu Lastri. Kalau ada apa-apa nanti kamu bisa minta tolong sama ibumu saja," kata Pak Arman. Winona menatap pria itu sejenak sebelum akhirnya menjabat tangan yang terasa kasar. "Senang bertemu, Pak," katanya dengan sopan. Pak Arman terkekeh. "Wah, tidak usah segan begitu, Nak. Di sini tidak ada yang formal-formal. Kita keluarga biasa saja, yang penting saling menghormati." Suasana terasa sedikit cair. Beberapa tetangga yang datang membawa nasi tumpeng dan jajanan desa tampak tersenyum melihat pasangan baru itu. Namun, di antara kerumunan, seorang gadis muda bersuara nyaring memotong suasana. "Ih, Mas Abim beneran nikah sama orang kota? Pasti nanti bakal merepotkan kita karena tidak biasa hidup miskin di sini." Lastri segera menoleh tajam. "Rara, jangan bicara sembarangan." Gadis bernama Rara itu hanya mengerucut bibir, lalu menyilangkan tangan di d**a. Ia jelas tidak menyukai Winona sejak pandangan pertama. Rara tidak ikut ke kota untuk menyaksikan kakaknya menikah. Gadis itu juga tidak setuju kakaknya menikah dengan perempuan kota yang pasti akan menyusahkan keluarga mereka. Sayangnya, protesnya tidak didengar oleh keluarganya. Berbeda dengan Radit, adik laki-laki Abimanyu yang tampak bersemangat. Ia menghampiri Winona sambil tersenyum lebar. "Halo, Mbak. Aku Radit. Selamat datang di keluarga kecil kami. Kalau Mbak butuh apa-apa, bilang saja ya. Aku siap bantuin." Sikap ramah Radit membuat Winona sedikit lega, meski hatinya masih terasa berat. Dia tersenyum tipis. "Terima kasih, Radit." Mata Winona langsung menelusuri seisi ruangan. Ruang tamu kecil dengan perabotan sederhana berupa satu sofa rotan, meja kayu dengan taplak rajutan, dan foto keluarga yang tergantung di dinding. Lantai rumah masih dari dari semen biasa yang dihaluskan, bukan granit seperti tempat tinggal Winona. Lastri menatap Winona dengan wajah penuh kasih. "Kamar kamu di sebelah kanan, Nak. Sudah kami bersihkan dan siapkan sejak kemarin. Abim bantu antar, ya." Abimanyu mengangguk dan berjalan mendahului, membuka pintu kamar mereka. Kamar itu kecil, hanya ada tempat tidur kayu dengan sprei putih, lemari sederhana, dan jendela yang menghadap ke sawah belakang rumah. Udara masuk dengan bebas lewat jendela terbuka, membawa aroma tanah basah dan angin lembut pedesaan. Winona berdiri di ambang pintu, memandang sekeliling. Ia tidak tahu harus berkata apa. Kamar itu bersih dan rapi, tapi terlalu sederhana dibandingkan kamar pribadinya di rumah kota yang mewah. Satu hal yang paling membuatnya terpukul adalah kenyataan bahwa tidak ada ruang pribadi lagi. Semua terasa sempit. Abimanyu memerhatikan ekspresinya. "Maaf kalau kamarnya kecil, Winona. Ibu dan bapak ingin kamu nyaman di sini. Aku juga sudah rapikan tempat tidur itu sendiri." "Tidak apa-apa. Terima kasih," ungkap Winona. Setidaknya mereka sudah berbaik hati dengan berusaha memberikan kamar yang baik untuknya, meskipun ini jauh dari kata cukup. Abimanyu tersenyum. "Kalau kamu butuh waktu buat sendiri, aku mengerti. Aku juga sedang belajar dan beradaptasi untuk menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab untuk kamu." Winona hanya mengangguk. Ia menatap keluar jendela, melihat hamparan sawah luas di kejauhan. Hatinya terasa asing, seolah dibawa ke dunia yang sama sekali berbeda. Sore itu, keluarga Abimanyu mengadakan makan bersama kecil-kecilan sebagai ucapan syukur. Di meja makan kayu panjang, tersaji nasi liwet, sayur asem, sambal terasi, dan ikan bakar. Winona duduk di antara mereka, masih canggung, tapi mencoba bersikap sopan. Lastri terus berusaha membuat suasana hangat. "Winona, kamu suka sayur asem tidak? Ini Ibu yang masak sendiri." Winona tersenyum lembut. "Suka, Bu. Terima kasih." Di sisi lain meja, Rara kembali berkomentar sinis. "Mungkin Kakak ipar belum pernah makan sambal kayak gini ya. Pedasnya beda sama restoran kota." Radit menegur cepat. "Kak Rara, sudah. Mbak Winona itu juga manusia, bukan boneka kaca. Jangan ngomong seenaknya." Lastri melotot ke arah putrinya. "Rara, kalau kamu tidak bisa jaga mulut, Ibu suruh kamu bantu Bapak di sawah besok." Rara langsung diam, tapi pandangannya tetap menusuk ke arah Winona. Suasana sempat hening beberapa detik sebelum Abimanyu membuka pembicaraan. "Winona, jangan dengarkan ocehan Rara. Kalau kamu merasa tidak senang, kamu langsung tegur saja dia karena kamu adalah kakak dan dia adalah adik," kata Abimanyu menatap Winona. Mulut Rara memang tidak bisa direm, makanya Abimanyu takut jika Winona semakin tidak nyaman untuk tinggal bersama mereka. Ucapan itu membuat Winona sedikit tersenyum menanggapi ucapan Abimanyu. Dirinya juga bukan karung tinju yang bisa diam saja saat dipukul. Winona masih baru, tidak mau memulai pertengkaran. Malam harinya, setelah semua orang tidur, Winona duduk di tepi tempat tidur, memandang keluar jendela. Lampu kuning menggantung di atas, memantulkan cahaya oranye di wajahnya. Dari luar terdengar suara jangkrik dan sesekali lolongan anjing jauh di ujung desa. Suara itu asing tapi entah kenapa terasa menenangkan. Abimanyu baru saja masuk dan melihat Winona masih terjaga. "Belum bisa tidur?" tanyanya pelan. Winona menggeleng. "Belum. Masih belum terbiasa." Abimanyu duduk di kursi kecil. "Aku mengerti kamu mungkin belum terbiasa. Aku tidak akan memaksa kamu untuk segera menerima keadaan kita seperti ini." Winona menatapnya. "Kamu tidak marah, Mas Abi?" Abimanyu tersenyum kecil. "Aku tahu kamu tidak ingin pernikahan ini terjadi. Tapi aku janji, aku tidak akan memaksa kamu untuk melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai." Kata-kata itu sederhana, tapi menancap dalam di hati Winona. Ia tidak menyangka akan mendengar kalimat sebaik itu dari pria yang dipaksa menikah dengannya. "Terima kasih," katanya pelan. "Aku hargai itu." Abimanyu berdiri, menutup jendela perlahan. "Tidurlah, Winona. Besok matahari desa lebih terang dan sejuk daripada di kota. Siapa tahu kamu suka." Winona mengangguk kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang terasa keras. Di tengah kegelapan, ia menatap langit-langit kamar kayu itu dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian tapi entah kenapa, jauh di dalam hatinya, ada secercah rasa tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sementara Abimanyu ikut berbaring di sebelahnya, tentunya masih menjaga jarak aman karena ia tidak ingin Winona tidak nyaman dengan kehadirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD