Bab 9. Belajar bersama

1090 Words
Udara pagi di desa terasa lebih dingin dari biasanya. Embun masih menempel di dedaunan, dan suara ayam jantan baru saja berhenti berkokok. Winona berdiri di depan rumah papan kayu yang menjadi tempat tinggal barunya sambil mengenakan daster bunga-bunga pemberian Bu Lastri, yang baginya terasa begitu asing. Semua di rumah itu terasa asing, lantainya yang terasa kasar, aroma kayu tua yang lembap, hingga suara ayam yang mondar-mandir di halaman belakang. Sudah seminggu sejak hari pernikahannya dengan Abimanyu, dan Winona masih berusaha keras beradaptasi dengan kehidupan yang jauh dari kata nyaman. Di rumah besar papanya, semua hal dilakukan oleh para pelayan di mulai dari mencuci, memasak, hingga menyiapkan pakaian. Tapi di rumah ini, semua dilakukan dengan tangan sendiri. Pagi itu, Winona duduk di pinggir sumur sambil menatap ember besar berisi pakaian kotor. Gadis itu menggigit bibirnya, bingung harus memulai dari mana. "Ya ampun, gimana caranya mereka mencuci semua ini?" gumamnya lirih, memandangi celana, kaos, dan kain sarung yang sudah dicelupkan ke air. Winona mencoba mencari cara agar bisa mencuci pakaian ini namun ia benar-benar tidak bisa. Abimanyu yang baru pulang dari sawah memerhatikan dari kejauhan. Pria itu tersenyum kecil, lalu menghampirinya dengan langkah tenang. "Ngapain, Non?" tanyanya lembut. Winona menoleh cepat. "Ada tumpukan baju, tapi aku tidak tahu cara mencucinya. Biasanya di rumah ada pelayan ataupun laundry kalau aku tinggal di apartemen. Aku belum pernah mencuci pakaian," jawab Winona merasa malu. Dirinya benar-benar tidak berguna dan bahkan hanya untuk mencuci pakaian yang menurut sebagian orang sangat mudah dilakukan, namun dia tidak tahu caranya. Abi menahan tawa. "Aku bantu kamu cuci baju." Abimanyu duduk di sebelah Winona, lalu mengambil salah satu baju kotor dari ember dan dengan gerakan cekatan, Abimanyu mengucek pakaian itu di atas papan cuci. Tangannya kuat, tapi gerakannya halus. Winona memerhatikan dengan seksama, sedikit terpesona dengan cara laki-laki itu bekerja. "Terus kalau sudah, diperas gini. Jangan terlalu keras, nanti kainnya bisa robek," jelas Abi sabar. Winona menatapnya, lalu mencoba meniru. Namun, karena kurang hati-hati, air sabun justru muncrat ke wajahnya sendiri. Abi spontan tertawa pelan. "Sulit sekali." Winona cemberut, mengusap wajahnya yang basah. Abi menggeleng sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, namanya juga lagi pertama kali mencoba. Nanti lama-lama juga pasti bakalan terbiasa." Winona menatap gerakan lincah Abi yang begitu cekatan untuk mencuci dan menggilas baju yang sudah dipastikan bersih dan harum. Winona menatap Abi. "Aku sepertinya akan menjadi beban berat kamu," kata Winona dengan suara pelan. "Tidak ada beban. Namanya suami istri memang harus saling membantu. Saling gotong royong di dalam rumah tangga, memang wajib. Pekerjaan perempuan juga bisa dilakukan oleh laki-laki." Abi menoleh dan melempar senyum manisnya pada Winona, membuat perempuan itu sadar jika Abimanyu memang bukan tipe pria yang paling tampan yang pernah dilihat olehnya, namun pria itu memiliki sisi lembut yang membuat Winona nyaman. Winona menatap tangan Abi yang kasar karena kerja keras, dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar sadar betapa berbeda dunia mereka. Keesokan harinya, Winona bangun lebih pagi dari biasanya. Ia sudah berniat untuk belajar mencuci pakaian tanpa bantuan Abi. Saat keluar kamar, ia mendapati Abi sedang duduk di teras, siap berangkat ke sawah. "Mas," panggilnya pelan. "Nanti pulang kerja, mas ajarin aku nyuci, ya? Aku benar-benar serius mau belajar. Tidak enak kalau harus merepotkan Mas dan ibu karena mencuci pakaianku." Abi menatapnya lembut. "Baik aku dan ibu tidak merasa direpotkan sama sekali. Tidak apa-apa, nanti aku bakalan jadi guru kamu." "Siap, Pak Guru," jawab Winona dengan senyum kecil. Seminggu belakangan ini ia sudah mulai bisa sedikit demi sedikit menerima takdir hidupnya. Mau meraung pada langit pun, jika memang takdirnya tetap tinggal di sini, maks Winona tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih lagi, papanya pasti puas membuat ia bisa jauh darinya. Siang harinya, setelah Abi pulang dari sawah, keduanya duduk di belakang rumah. Ember, papan cuci, dan sabun sudah disiapkan. Abi mengajarinya dengan sabar bagaimana cara merendam pakaian, mengucek bagian kotor, sampai cara menjemur agar cepat kering. "Kalau kain tipis jangan dijemur langsung di bawah matahari terik, nanti rusak," ujar Abi sambil menunjukkan caranya. Winona memerhatikan dengan seksama, kemudian menirukan gerakannya. Meskipun tangannya mulai lecet, kali ini ia merasa puas karena berhasil menyelesaikan semuanya tanpa bantuan penuh dari Abi. "Eh, lumayan juga hasilnya," serunya bangga. Abi tertawa kecil. "Aku bilang juga apa, tidak ada yang tidak mungkin kalau memang niatnya mau belajar." Saat mereka sedang menjemur pakaian bersama, tiba-tiba terdengar suara menggoda dari arah pagar bambu. "Wah, wah, wah. Pengantin baru kerja bareng." Suara itu milik Bu Neneng, tetangga sebelah yang dikenal cerewet tapi baik hati. Orang pertama yang menyambut ramah Winona saat baru tiba di rumah ini. Winona langsung tersipu, sementara Abi hanya terkekeh. "Iya, Bu. Lagi ngajarin istri buat cuci pakaian. Katanya dia mau belajar," sahut Abi. "Ngajarin sambil mesraan juga tidak apa-apa. Udah sah ini. Tidak usah malu-malu," goda Bu Neneng sambil tertawa lepas. Wajah Winona langsung memerah. Gadis itu cepat-cepat berbalik, pura-pura sibuk menjemur baju. Abi hanya menggeleng kecil, tertawa geli melihat istrinya yang salah tingkah. "Sudah, jangan digodain terus, Bu," kata Abi. Bu Neneng masih tertawa. "Ya sudah kalau begitu ibu pergi dulu. Ibu tidak mau menjadi orang ketiga di saat kalian lagi mau mesra-mesraan." Bu Neneng mengedipkan matanya dan pergi begitu saja, meninggalkan keduanya yang masih berada di area belakang rumah. Setelah Bu Neneng pergi, Winona menatap Abi dengan wajah setengah malu. "Aku malu sekali digoda sama Bu Neneng." Abi tersenyum menenangkan. "Santai aja, di sini orangnya kemang suka bercanda. Tanda mereka udah terima kamu." Winona menghela napas lega. Meskipun sedikit malu, hatinya hangat mendengar kalimat itu. Mungkin, sedikit demi sedikit, ia mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya, terutama keramahan orang-orang yang membuat Winona agak canggung karena terhitung ia masih sangat baru di sini. Saat sore tiba, Winona menatap hasil cucian yang yang sudah diambil dan siap untuk dilipat. Pakaian itu bersih dan wangi sabun. Tangannya memang perih, tapi ada kepuasan tersendiri di hatinya. Abi keluar dari kamar, membawa segelas air. "Tanganmu lecet?" "Sedikit. Tapi tidak apa-apa, aku senang kok. Ini pertama kalinya aku nyuci sendiri." "Kalau kamu merasa tidak nyaman untuk mencuci, nanti pakaian kotor kamu disimpan saja di dalam keranjang yang ada di kamar. Biar aku yang mencucikan baju untuk kamu juga." Winona menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak usah, Mas. Apa gunanya aku kalau semua pekerjaan rumah harus Mas yang mengerjakannya." "Ya sudah kalau kamu tidak apa-apa. Pokoknya kalau ada apa-apa langsung bilang aja sama aku." Winona mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak pindah ke desa, ia merasa sedikit bahagia bukan karena kenyamanan, tapi karena ada seseorang yang dengan sabar menggandeng tangannya menapaki hidup yang baru. Seseorang yang dengan dewasanya berusaha untuk membuatnya nyaman hidup di tempat yang teramat sangat baru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD