Joshua mengantarkan Tarzia pulang dengan mobilnya sampai ke depan pintu gerbang rumah Ahmad. "Sampai jumpa besok di studio musik." Ahmad tersenyum pada Tarzia. Tarzia segera turun dan Security membuka pintu gerbang. "Pacar kamu anak gedongan juga ya." Pria itu mengira Joshua adalah pacarnya Ijah. Tarzia tak menjawab dan memilih segera berlari ke dalam rumah. "Cie... Takut ketuaan ya. Eh, ketauan..." Security itu menggodanya karena dikira Ijah. Padahal Ijah yang asli sedang tertidur lelap di dalam kamar. "Asik banget dah tidur di kamar mewah, kasur empuk." Ijah terjaga oleh suara ketukan pintu. "Tapi cuma bentaran." Dia lalu membukakan pintu. "Masih buka tokonya Non?" Tanyanya ramah. Tarzia mengangguk dan buru-buru masuk ke kamar. "Makasih ya Ijah." Setelah bertukar pakaian kembali, Ijah keluar dari kamar Tarzia.
Stelah sarapan pagi Tarzia kembali mencari alasan untuk pergi. "Nona sakit atau tak enak badan?" Bibi Lorenza tampak khawatir melihat Tarzia terus menggoyangkan kaki. Ijahpun tersenyum. "Gak papa kok Bik. Nona cuma butuh udara segar. Betul kan Nona?" Ijah masih saja beranggapan kalau Tarzia hamil. Sungguh konyol. "Iya, saya mau belanja. Ijah akan nemenin saya." Tarzia justru memanfaatkan Ijah. "Sama saya Non? Ke mall?" Ijah terkejut sekaligus senang. "Mau kan?" Bujuk Tarzia. "Kalau ke mall saya harus ganti baju dulu." Ijah begitu bersemangat.
Ijah, gadis itu terlihat berbeda dengan pakaian casual saat pergi bersama Tarzia ke mall. "Kita mau beli apa Non? Baju, sepatu, tas?" Tanya Ijah. "Semuanya. Tapi kamu yang pilihkan ya. Sesuai selera kamu. Saya nunggu di mobil aja." Tarzia malah keluar dari mall. "Tapi Non, kalau ukurannya gak pas gimana?" Ijah menjadi bingung. "Ambil untuk kamu semua." Jawab Tarzia. "Beneran Non?" Ijah sumringah. Tarzia segera pergi mencari taxi menuju ke studio musik karena Joshua sudah menunggu.
Wanita penjaga studio itu tersenyum melihat Tarzia. "Akhirnya kalian ketemu." Dia turut senang. "Aku udah denger banyak tentang kamu. Kamu pasti kesusahan nyari aku ya?" Joshua terharu melihat Tarzia. Tarzia tersenyum pada mereka. "Jadi, kita mau ngapain di sini?" Tanyanya kemudian. "Kita akan bernyanyi bersama." Joshua mengangkat kedua tangannya seolah dia mau terbang saja membuat Tarzia tertawa. Mereka masuk ke ruang karaoke dan mulai memilih lagu yang akan dinyanyikan. Joshua juga berjoget menghibur Tarzia saat menyanyikan lagu dangdut.
Tak terasa sudah 2 jam kami di tempat karoeke, Ijah sudah selesai berbelanja dan dia kembali ke mobil menemui sopir. "Nona mana?" Tanya Ijah. "Loh, kan tadi masuk sama kamu belanja ke dalam." Jawab sopir. "Nona bilang capek dan mau nunggu di mobil aja. Nona minta aku yang beliin baju, sepatu dan tas untuk dia." Ijah mulai panik. "Kalau Nyonya tau bisa gawat. Kita harus cari Nona. Ayo lapor ke petugas mall." Ajak sopir. Mereka lalu bertanya pada petugas keamanan di mall. "Saya kira Nona kalian itu anak kecil, wajar kalau kesasar dan terpisah dari orang tuanya di mall. Tapi ini sudah dewasa. Mungkin dia butuh privasi." Kata petugas keamanan di mall. "Kamu tau gak kalau Nona kami itu adalah istri salah satu pemilik mall ini?" Ijah mulai marah. "Kalau sampai Tuan muda tau istrinya hilang. Kamu bakal dipecat." Ancam Ijah. "Jangan dong. Kita cek CCTV aja ya." Ternyata ide itu berhasil menakut-nakuti petugas keamanan di mall tersebut. Ijah dan sopir mengikuti petugas keamanan mall ke sebuah ruangan. "Emang bener ya Tuan Ahmad pemilik mall ini?" Sopir berbisik pada Ijah. "Aku cuma ngarang aja kok." Ijahpun tertawa kecil. "Aku harus balik ke mall sekarang, sebelum ada yang curiga." Tarzia mengingatkan Joshua. "Ayo, aku antar kamu." Joshua lalu mengantarkannya kembali ke mall. "Gimana kalau besok kita ke kampus? Sebelum mulai kuliah, kamu harus survey tempatnya dulu kan?" Kata-kata Joshua membuat Tarzia terharu. "Sampai jumpa besok." Joshua melambaikan tangan dan segera berlalu. Tarzia segera menuju ke mobil untuk menemui sopir. "Dimana dia?" Namun sopir pribadinya tak ada di sana.
Ijah dan sopir pribadinya sedang berada di ruang pengawasan bersama petugas keamanan mall dan seorang operator. "Kira-kira jam berapa Nona kamu menghilang?" Tanya operator pada Ijah. Baru saja Ijah hendak menjawab, sopir melihat Ijah sedang ada di dekat mobil dan berdiri di tengah panas terik matahari. "Itu Nona." Tunjuknya ke layar komputer. "Nona?" Ijah juga merasa senang. "Syukur deh, gak jadi hilang. Saya bilang juga apa." Petugas keamananpun merasa lega. Ijah tersipu malu atas segala ucapannya pada petugas keamanan mall yang masih muda itu. "Maaf ya?" Ucapnya kini. Petugas keamananpun merasa kesal. "Yaudah, tunggu apalagi, sana samperin Nona kalian. Nanti kalian bisa dipecat." Kini gantian petugas keamanan yang menakut-nakuti Ijah.
Sambil berlari dan terlihat kelelahan, Ijah dan sopir menghampiri Tarzia. "Nona darimana saja? Kami khawatir mencari Nona." Ujar Ijah. Sementara itu sopir membukakan pintu mobil. "Ayo masuk Non, di luar panas." Tarzia masuk ke mobil begitupun Ijah yang duduk di depan. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Ijah kembali bertanya. "Nona gak papa kan? Oya, saya udah beliin 3 pasang baju model terbaru untuk Nona, pasti ukurannya pas. Ada tas branded juga Non, produk dalam Negeri yang berkualitas tinggi." Ijah juga terus bercerita.
Tak tau berapa lama Ijah terus mengoceh. "Terakhir saya singgah ke toko sepatu Non, sama seperti di toko pakaian dan tas, saya jadi bingung mau pilih yang mana. Karena saya gak tau ukuran kaki Nona. Jadi saya pilih ukuran kaki saya saja. Tapi tenang Non, kata pemilik tokonya, kalau ukurannya gak pas dengan kaki Nona, sepatunya bisa ditukar." Pasti telinga sang sopir sudah sakit mendengarnya. "Kita udah sampai." Tarzia lega telah tiba di rumah.
Ijah membawa semua belanjaan ke kamar Tarzia. "Makasih ya." Ucap Tarzia. Melihat beberapa kantong belanjaan di atas meja, dia menjadi penasaran dan membukanya. Semuanya terlihat bagus namun tak ada yang sesuai dengan seleranya. Tarzia membiarkannya begitu saja dan memilih beristirahat.
Setelah 3 hari bersama Joshua dengan berbagai alasan, hari berikutnya Tarzia harus punya alasan lain lagi untuk pergi. "Kamu mau kemana lagi Zia? Ibuk perhatikan akhir-akhir ini kamu sering keluar rumah."
"Zia mau nukar sepatu ke mall Buk, ukurannya gak ada yang pas." Benda itu menjadi alasan. "Mau Ibuk temenin?" Tanya Ibuk. "Gak papa kok buk, Zia cuma sebentar." Tarzia menolaknya. "Hati-hati ya." Ibukpun tersenyum.
Sopir mengantarkan Tarzia ke mall. "Kamu tunggu di mobil aja ya. Saya mungkin lama karena kemarin pilihan Ijah gak ada yang cocok sama saya." Tarzia memintanya untuk tak pergi kemana-mana sedangkan dia sendiri diam-diam pergi dengan Joshua. Mereka menuju ke kampus tempat Joshua berkuliah. Tarzia agak ragu keluar dari mobil. Tapi Joshua berdiri di hadapannya dan mengulurkan tangan. "Ayo." Dia meyakinkan Tarzia agar berani menghadapi banyak orang.
Tarzia berjalan di samping Joshua dengan kepala sedikit tertunduk. Dia merasa malu karena dulu pernah datang ke kampus untuk mencari Joshua dengan bertanya pada beberapa mahasiswa. Bagaimana jika salah satu dari mereka melihatnya. Mereka melewati ruang bidang akademik dimana Tarzia dan Ahmad pernah bertanya tentang Joshua. Pria itu ada di dalam ruangan dan dia sedang memeriksa berkas yang ada di atas mejanya. "Syukurlah dia gak ngelihat aku." Bisik hati Tarzia.
Joshua menunjukkan perpustakaan kampus yang cukup luas padanya. Dia juga menunjukkan aula pertemuan di kampus serta beberapa ruangan belajar. "Kampus ini yang terbaik di Kota ini. Kamu harus masuk ke sini.".Tutur Joshua. Tarzia mengangguk. "Joe? Kok kamu sama Zia lagi sih?" Tiba-tiba Andi datang. "Zia mau daftar kuliah di sini, jadi aku mau ajak dia keliling kampus." Jawab Joshua. "Setelah apa yang dia lakuin ke kamu, kamu masih baik sama dia?" Rupanya Andi tak senang melihat Tarzia ada di sana. "Setelah apa yang aku lakuin ke Zia. Bukan sebaliknya. Ingat waktu dia datang ke ruang seni dan minta aku pulang ke kampung demi Ayahnya? Ayahnya sedang sakit, sekarat. Seharusnya aku datang dan Zia gak nikah sama Ahmad." Joshua membela Tarzia dengan tegas tanpa ragu di depan Andi dan beberapa mahasiswa yang sedang melintas. "Jojo, udah. Jangan keras-keras." Tarzia merasa malu karena beberapa mahasiswa yang melintas itu mulai memperhatikan mereka bertiga. "Bagus kalau kamu tau malu, kamu inget kalau udah punya suami." Andi malah menertawai Tarzia. Para mahasiswa yang mendengarnya terkejut lalu saling bicara satu sama lain. "Kok dia gak malu sih jalan sama cowok lain padahal udah nikah." Merasa geram, Joshua meninju wajah Andi dengan keras sampai hidung temannya itu berdarah. Tarzia terkejut begitupun semua mahasiswa yang menyaksikannya.
Andi menghapus darah di hidungnya dan menatap Joshua dengan sinis. "Jadi sampai di sini persahabatan kita Joe?" Andi merasa kecewa atas sikap Joshua dan memilih pergi. "Andi?!" Joshuapun merasa bersalah. "Susul Andi jojo. Jangan sampai kesalah pahaman ini ngerusak persahabatan kalian." PintaTarzia. Joshua terdiam sejenak. Dia bingung memilih antara sahabat atau cinta. Mahasiswa yang lain sudah bubar. Tarzia memegang pundak Joshua dan berusaha meyakinkannya. "Sana pergi. Aku tunggu kamu di depan ya." Tarzia harus meninggalkan Joshua di Kampus. Dia menuju ke halte yang ada tak jauh dari Kampus.
Tarzia duduk diantara kerumunan orang namun larut dalam pikirannya sendiri. Tarzia terkenang masa SMA dulu bersama Jojo. Mereka bersahabat baik sejak kecil hingga remaja. Benih cintapun mulai muncul begitu saja dan berlanjut. "Kalau aja Ayah gak melarang dan memisahkan kami..." Air matanya menetes. Sama seperti tetesan keringat sopir yang kelelahan menunggunya di mall. "Nona masih lama gak ya? Aku haus nih." Dia melihat jam tangannya. Sudah 30 menit Tarzia pergi dan belum kembali. Sopirnya lalu membeli air mineral di sebuah kios yang ada di seberang mall.
Joshua menyusul Andi lalu meminta maaf. "Sorry Di. Aku tadi kebawa perasaan aja. Kamu tau kan kalau aku tuh cinta mati sama Zia." Di depan anggota bandnya yang lain dia memberanikan diri bicara. Beno memegang pundak Joshua. "Maafin kami juga Joe. Mulai sekarang kami akan dukung apapun keputusan kamu. Kalau perlu kita culik Zia supaya kalian bisa kawin lari." Dia berusaha menghibur Joshua. Kini Joshua dapat tertawa lagi bersama teman-temannya itu. "Makasih ya." Ucap Joshua. "Ngomong-ngomong Zia mana? Kami harus minta maaf sama dia." Tanya Chiko. "Ayo kita temuin dia." Ajak Joshua.
Joshua mengira Tarzia menunggunya di depan Kampus, padahal tidak. "Zia kemana? Apa dia marah?" Andi merasa khawatir. Joshua menggelengkan kepalanya. "Zia bukan tipe yang mudah marah, tapi mudah sedih. Dia pasti belum jauh dari sini." Kata Joshua. Maka Joshua bersama ketiga temannya berangkat dengan mobil untuk mencari Tarzia. "Itu Zia." Tunjuk Chiko. Joshua menghentikan mobilnya. Dia segera menghampiri Tarzia. "Maaf, aku gak bawa tisue." Joshua mengagetkannya. Tarzia langsung menghapus air matanya. "Tapi aku punya pundak untuk kamu bersandar." Kalimat Joshua kali inipun membuat Tarzia merasa dejavu. "Ada yang mau ketemu sama kamu." Joshua menarik tangan Tarzia dan mengajaknya pergi. "Siapa?" Tanya Tarzia penasaran. Joshua membawanya ke mobil. Teman-temannya membuka pintu mobil. "Surprize...!" Mereka kembali membuat Tarzia terkejut. "Maafin aku ya Zia?" Ucap Andi. "Maafin kami juga." Begitupun dengan Beno dan Chiko. Rasa terharu sekaligus senang melihat Joshua kembali kompak bersama teman-temannya. "Gimana kalau kamu ikut kami ketemu produser?" Usul Andi. "Iya, kami akan tanda tangan kontrak kerja dengan label musik supaya bisa rilis album." Sahut Chiko. "Kalian mau bikin album?" Tarzia ikut senang mendengarnya. "Kamu mau ikut kan?" Tanya Beno. Awalnya Tarzia merasa ragu. "Kamu harus ikut Zia. Ini hari paling bersejarah dalam hidup aku. Aku bisa sama kamu lagi dan band kami bisa dikenal banyak orang." Joshua berusaha meyakinkannya untuk ikut bersama mereka. Tarziapun menganggukkan kepala. "Iya." Semuanya terlihat senang.
Bersama-sama mereka menuju ke sebuah kantor label rekaman. Tarzia duduk di depan bersama Joshua yang mengemudikan mobil sedangkan ketiga temannya duduk di belakang. Setelah tiba di kantor tersebut. Mereka semua turun kecuali Tarzia. "Ayo Zia." Ajak Joshua. "Aku tunggu di mobil aja, aku takut ada yang kenal sama aku." Dia menolak. "Aku gak peduli kalau ada yang kenal sama kamu, kita gak buat salah sama mereka kan? Kita hanya saling mencintai." Kembali Joshua meyakinkannya.
Mereka masuk ke kantor itu dan seorang staff di sana yang ternyata sekretaris sang Produser mengajak kami ke ruang produser. "Pak Vero sudah menunggu kalian." Dia lalu membukakan pintu ruangan tersebut. "Makasih Mbak." Ucap Joshua pada sekretaris itu. "Davinci, wellcome." Ternyata Pak Vero itu tak setua yang dia bayangkan, usianya baru 40 tahunan. Dia sangat ramah dan langsung menyambut mereka. "Saya Joe Pak, ini teman-teman saya, Andi, Beno dan Chiko." Joshua memperkenalkan personel bandnya. Lalu Pak Vero melihat Tarzia dan tersenyum. "Siapa gadis cantik ini? Pacar?" Tanyanya. "Tarzia Pak, dia..." Sebelum Joshua sempat menjawab, Tarzia memotong pembicaraannya. "Manager mereka Pak." Tarzia takut kalau sampai ada yang mengenalinya sebagai istri Ahmad. Joshua dan teman-temannya heran mendengarnya berbohong. "Silahkan duduk." Pak Vero mempersilahkan mereka duduk. Sekretaris Pak Vero kembali datang membawa sebuah dokumen. "Ini kontrak kerjanya Pak." Dia menyerahkan dokumen itu pada Pak Vero lalu kembali keluar dari ruangan itu. "Silahkan dibaca dulu." Pak Vero menyerahkan dokumen itu pada Tarzia karena pengakuannya sebagai manager band Davinci. "Saya menyerahkan semuanya sama mereka Pak. Saya hanya membantu saja." Lalu dokumen itu diberikan Tarzia pada Joshua. Joshua membagikan salinannya pada teman-temannya dan mereka membacanya dengan seksama. "Kami setuju Pak. Bagaimanapun ini awal karir kami, kami mau yang terbaik." Jawab Joshua.
Staff perempuan tadi kembali ke ruangan dan membawakan teh untuk mereka. "Silahkan." Dia meletakkannya di atas meja. "Makasih." Ucap Tarzia mewakili semua orang di ruangan itu. Joshua dan ketiga personel band Davinci menandatangani kontrak tersebut disusul Pak Vero. "Semoga kerja sama kita berjalan lancar." Tutur Pak Vero. "Terimakasih Pak." Joshua berjabat tangan dengan Pak Vero. Tarzia mengambil gambar mereka dengan camera yang dibawa oleh sekretaris Pak Vero.
Kilauan cahaya camera seperti halnya cahaya matahari yang menyengat tubuh sopir Tarzia. Dia masih menunggu Tarzia di depan mall, di luar mobil. "Udah 1 jam lebih, Nona mana ya? Katanya cuma tukar sepatu." Dia menatap ke pintu mall dan berharap Tarzia segera keluar dari sana. Padahal saat itu Tarzia baru keluar dari kantor pak Vero. "Jangan lupa syuting video klip perdana kalian itu besok ya." Sekali lagi Pak Vero mengingatkan band Davinci.
Sepanjang perjalanan dalam kendaraan, teman-teman Joshua terlihat senang. "Kita bakal terkenal." Hal yang wajar bagi pekerja seni yang baru memulai karir mereka. "Selamat ya." Ucap Tarzia. Joshua tersenyum sambil melirik. "Oya, aku harus balik ke mall. Supirku pasti curiga kalau aku gak ada di sana." Tarzia menyadari hal itu. Kecepatan mobilpun ditambah oleh Joshua agar mereka segera sampai di sana. Terlihat sopir berjalan memasuki mall. "Aku coba cari aja deh." Wajahnya begitu cemas.
Tanpa berpamitan pada Joshua dan teman-temannya, Tarzia berlari menuju ke mobil dengan menenteng paper bag sepatu yang sebenarnya tak pernah dia tukar. "Mas Supri!" Teriak Tarzia. Sopir yang bernama Supri itupun menoleh ke belakang. "Non Zia? Non darimana saja?" Dia terlihat sedikit lega. "Tadi saya beli air mineral. Di dalam mahal." Tarzia menujukkan botol air mineral bekas Joshua minum tadi di mobil. "Ayo Non kita pulang. Nyonya pasti khawatir." Supri membukakan pintu. Untung saja dia tidak curiga melihatnya kelelahan dengan nafas yang tak beraturan akibat berlari tadi.
Sampai hari itu tak ada yang curiga padanya. "Tapi bagaimana dengan besok?" Dia menjadi khawatir. "Aku mau kamu yang jadi model video klipnya." Apalagi tadi sore Joshua menelpon dan memintanya menjadi model video klip. "Itu gak mungkin Jojo, semua orang bakal tau dengan hubungan kita." Tarzia menolak permintaan Joshua. "Aku akan nemenin kamu aja ya." Ujar Tarzia. "Terserah kamu." Joshua marah, dia langsung mengakhiri obrolan. "Kali ini aku harus jujur sama Ibuk." Lalu Tarzia segera pergi ke kamar Ibuk. Untungnya Ibuk juga belum tidur. "Tuk, tuk, tuk." Tarzia mengetuk pintu kamar Ibuk yang terbuka. "Kesem. Masuk." Kesem adalah panggilan sayang dalam bahasa Turki. Tarzia masuk ke kamar Ibuk lalu duduk di sampingnya. Ibuk melihat wajah Tarzia yang murung dan mulai bertanya. "Ada apa? Toko sepatunya tutup? Atau kamu mau jalan-jalan kemana lagi?"
"Gimana jelasinnya ke Ibuk ya?" Pikir Tarzia. "Buk, ini tentang Jojo." Mendengar nama Joshua Ibuk mulai serius. "Kamu ketemu dia? Kapan, dimana?"
"Iya Buk, dan Jojo juga tau kalau Zia udah nikah. Jojo maklum kok Buk. Dia udah banyak berubah sekarang. Dia jadi anak band." Tarzia mulai bercerita. "Jojo minta tolong Zia jadi model video klipnya. Sekali...saja." Dan Tarzia mulai membujuk Ibuk. Ibuk tersenyum, apakah itu pertanda baik. "Ibuk sih gak masalah... Ibuk tau kamu dan Jojo bersahabat sejak kecil. Kalian teman baik." Ibuk menggenggam kedua tangan Tarzia. "Tapi sekarang kamu udah jadi istri Ahmad. Dia yang lebih berhak kasih kamu izin atau gak." Ternyata akhir kalimat Ibuk begitu menyeramkan. Jika sudah begini tentu saja keinginannya tidak akan terpenuhi.
Karena tak ada pilihan lain, Tarzia nekad pergi menemui Joshua di taman dengan memakai baju Ijah yang dia ambil tanpa izin. "Zia." Joshua memeluk Tarzia, dia terlihat bahagia dengan kedatangan Tarzia. "Aku yakin kamu pasti datang. Tapi gimana caranya?" Tanya Joshua. "Tadi malam aku lihat Ijah masuk ke ruang ganti. Setelah dia pergi, aku masuk ke sana dan ternyata ada beberapa pasang seragam kerja di rumah Ahmad. Kalau aku ambil satu gak bakal ketahuan." Jawab Tarzia. Joshuapun tertawa. "Cinta memang gila kan?" Ujarnya. Mereka tertawa.
Mereka berdua berangkat menuju ke lokasi syuting di pantai. Teman-teman Joshua sudah tiba lebih awal begitupun dengan sutradara dan crew. Saat Tarzia turun dari mobil Joshua dengan mengenakan gaun putih yang cantik, semua mata tertuju padanya. "Wow... Kamu cantik banget." Mereka terpukau bahkan Chiko tak ragu memuji Tarzia di depan semua orang.
Syuting akan segera dimulai. "Nanti kalian saling berhadapan, Joe pegang rambutnya Zia, romantis aja gitu, happy aja kalian udah lama gak pernah ketemu sekarang ketemu. Peluk juga boleh gitu ya." Sutradara memberi arahan. "Gak ada yang lebih tau rasa sakitnya perpisahan dengan orang yang dicintai selain aku. Dan sekarang aku seneng banget bisa ketemu dan bersama kamu lagi." Hati Joshua turut bersuka cita. Untuk take pertama di tepi pantai, mereka mampu beradaptasi dengan baik. Apalagi saat adegan berlarian dan bermain air di pantai, ekspresi bahagia mereka begitu terpancar. Sutradara dan semua crew memberi tepuk tangan melihat acting Tarzia dan Jojo. "Luar biasa temen-temen. Kalian harus bikin film deh." Puji sutradara.
Sudah pukul 9 pagi dan Tarzia belum keluar dari kamar. "Ijah, tolong panggil Non Zia. Dia belum sarapan." Ibuk mulai mencariku. "Tadi subuh Non Zia bilang mau puasa hari ini dan tiduran aja di kamar." Sebelumnya Tarzia sudah mengatur rencana untuk hal itu. "Puasa?" Ibuk sedikit heran tapi tak terlalu ambil pusing. "Next, kita pindah lokasi ke penginapan." Mereka kembali melanjutkan syuting video klip di sebuah penginapan yang ada di dekat pantai. Tak lupa Tarzia dan Joe berganti pakaian karena kebasahan bermain air tadi. Take kedua kali ini difokuskan pada Joe yang berada di sebuah kamar dan fokus menulis lirik lagu serta bermain gitar. Kemudian Joe berganti pakaian lagi untuk pengambilan gambar bersama band Davinci. Kali ini Tarziapun ikut terlibat sebagai satu-satunya penonton dalam video klip tersebut.
Ibuk mulai cemas saat melihat jam dinding di ruang tamu. "Udah jam 3 tapi Zia gak kelihatan. Setidaknya dia keluar kamar." Ibuk memutuskan menuju ke kamar Putrinya. "Zia?!" Ibuk memanggilnya dari depan pintu kamar sambil mengetuk pintu. "Kamu gak papa kan?" Tanyanya. Karena pintu tak kunjung terbuka, Ibuk memegang gagang pintu dan mencoba untuk masuk. Tapi pintu terkunci. "Kesem?" Ibuk semakin khawatir saja. Ibuk turun ke lantai 1 dan mencari Bibi Lorenza. "Zia gak keluar dari kamarnya, pintunya juga dikunci." Lapor Ibuk. Lalu Bibi Lorenza mengambil kunci cadangan di ruang penyimpanan untuk membuka pintu kamar.
Sebelum pergi, Tarzia telah meletakkan guling di atas tempat tidur dan menyelimutinya hingga terlihat seperti orang yang sedang tidur. "Mungkin Non Zia kelelahan Nyonya." Ujar Bibi Lorenza. Ibukpun mengangguk. "Ayo kita keluar." Ajaknya pada Bibi Lorenza dan Ibuk kembali menutup pintu kamar. Mungkin keberuntungan sedang berpihak pada Tarzia sehingga dia bisa menikmati jagung bakar di tepi pantai bersama seluruh crew di sore hari itu. "Zia punya aura selebritis. Dia pasti bakal terkenal." Puji Sutradara. "Kamu juga hebat Joe, kalian punya chemistry yang kuat. Sepertinya kisah ini memang pernah kalian alami." Mendengar pernyataan itu, personel band Davinci menjadi salah tingkah. "Untuk single kedua nanti, kita ajak Zia lagi. Kamu gak keberatan kan?" Sutradara bertanya pada Tarzia. Tarzia mengangguk sambil memberikan senyuman palsu. Kebohongan yang sama juga dilakukan Ibuk demi melindungi Tarzia di depan semua pekerja rumah Ahmad. "Ibuk tau kamu kemana Zia." Firasat seorang Ibu selalu benar.
Saat itu telepon selululer Tarzia berdering. "Ibuk?" Tarzia terkejut melihat layar ponselnya. Dia bingung harus menjawab atau menolak panggilan itu. "Ayo kita pulang." Tiba-tiba Joshua menghampirinya sambil mengulurkan tangan dia mengajak Tarzia untuk kembali. Tarzia tak jadi menjawab panggilan Ibuk dan menyimpan ponsel kembali ke dalam tas agar dapat pergi bersama Joshua. Tarzia masih gelisah padahal Joshua akan mengantarkannya pulang malam itu. "Makasih ya untuk hari yang indah ini?" Ucap Joshua sambil tersenyum, dia nampak begitu bahagia saat menyetir. Anehnya saat itu Tarzia malah teringat pada Ahmad, pria itu selalu ada untuknya di saat-saat susah bukan hanya di saat bahagia. "Zia." Joshua memanggil namanya. "Iya Mas." Dan spontan reaksi Tarzia kaget karena mengira Ahmadlah yang sejak tadi ada di sampingnya. Joshuapun terkejut. "Mas? Sejak kapan kamu manggil aku Mas? Ini Jojo." Diapun tertawa. Tarzia harus tersenyum di hadapannya, berpura-pura itu hanya lelucon. "Aku rasa setelah kita nikah nanti, kamu harus panggil aku Mas. Bagus juga." Joshua menganggukkan kepalanya. Miris rasanya melihat Joshua menghayalkan pernikahan padahal Tarzia sudah menjadi istri orang lain. Saat itu Ibunya sedang marah besar. "Dimana kamu Zia?" Ibuk medumal sendiri di kamarnya dengan bahasa Turki.
Setelah berganti pakaian seragam pekerja, Tarzia berjalan kaki menuju ke gerbang rumah Ahmad. Security membukakan gerbang dan Tarzia segera berlari masuk ke dalam rumah. "Ijah kenapa?" Securitypun heran. Ijah membukakan pintu depan dan Tarzia langsung berlari ke toilet tamu yang ada di lantai 1. "Siapa dia? Pembantu baru?" Tanya Ijah yang akan membuang sampah ke tempat pembuangan di depan rumah. Melihat Ijah keluar, Security tadi segera menggelengkan kepalanya. "Ternyata mau buang sampah, pantas buru-buru."
Tarzia menyimpan pakaian ganti di dalam tas. Setelah berganti pakaian dia segera membuka pintu kamar mandi untuk keluar. "Ikut Ibuk." Tapi Ibuk berdiri tepat di depan pintu, membuat Tarzia kaget bukan kepalang. Ibuk menarik tangannya dan membawanya ke kamarnya. Bibi Lorenza bahkan menyaksikannya. "Non Zia belum buka puasa kan? Tapi kenapa Nyonya malah ajak ke atas?"
Ibuk mengunci pintu kamar dan mulai memarahi Tarzia. "Apa yang kamu lakukan sudah keterlaluan Zia, kamu selingkuh dengan mantan pacar kamu, padahal kamu sudah menikah."
"Jojo bukan mantan pacar Zia Buk, kami dipaksa untuk berpisah padahal kami masih saling mencintai." Tarzia memberi pembelaan. Ibuk lalu mengambil sepucuk surat yang ada di dalam kotak penyimpanan lemarinya. "Tapi dia udah memutuskan berpisah dari kamu!" Ibuk meletakkan surat itu di telapak tangan Tarzia. Bibir Tarzia bergetar. "Darimana Ibuk dapat surat ini?" Matanya berkaca-kaca saat membuka lipatan surat itu. Ibuk memegang wajah Tarzia dan membelai rambutnya. "Lupakan Jojo Nak. Dia bukan jodohmu." Ibuk menangis di depan Tarzia.
Joshua menulis surat itu dengan berat hati demi kebaikan keluarganya. Dia terdesak karena Ayahnya diancam oleh Ayah Tarzia. "Kamu tidak akan saya pecat, asalkan kamu suruh anakmu memutuskan hubungannya dengan anak saya." Terpaksa surat itu diirim pada Tarzia. Air mata Tarzia menetes. Ibuk mendekapnya. "Sekarang kamu istri Ahmad Nak. Semua yang kamu lakukan ini salah dan dosa." Tarziapun terisak mendengar kalimat itu. Ahmad sedang bekerja di Kalimantan, menyiapkan usaha baru yang siap dikembangkan bahkan diinvestasikan atas namanya. "Saya ingin menamakan salah satu toko untuk mainan anak-anak ini dengan nama Tarzia." Beberapa kliennya malah tersenyum, merasa terheran-heran mendengar nama itu. "Kenapa tidak menamai dengan nama Bapak saja, atau nama Davinci, band itu sedang populer kan?" Tanya salah satu dari mereka. "Tarzia itu nama istri saya, Tokonya Zia." Jawab Ahmad dengan bangga. Kliennya merasa malu atas omongan mereka tadi.
Tarzia telah mengkhianati kerja keras Ahmad itu karena telah berselingkuh dengan orang lain. Malam itu Tarzia larut dalam tangis. Di atas sajadah dengan masih mengenakan mukenah dia merasa sangat berdosa. "Non Zia?" Bibi Lorenza mengetuk pintu kamar Tarzia. Tarzia langsung menghapus air mata. "Masuk Bik." Jawabnya dari dalam kamar. Bibi Lorenza mengantarkan makanan ke dalam kamar. "Buka puasa dulu Non." Wanita itu sangat baik dan perhatian. "Bibik pasti kecewa kalau tau aku gak puasa." Jadi Tarzia memutuskan tidak memberi tau yang sebenarnya. "Makasih ya Bik. Zia lapar banget." Tarzia mengelus perut saat Bibi Lorenza meletakkan makanan itu di atas meja. "Kenapa memaksakan diri kalau Nona lagi kurang sehat." Bibi menasehati Tarzia dengan lembut. Tarzia melipat mukenah dan meletakkan di atas tempat tidur kemudian segera duduk di depan meja untuk menikmati makan malam. "Supnya pasti enak banget Bik." Dia mengalihkan pembicaraan. Bibi Lorenza mengambil mukenah tadi dan merapikannya ke hanger. "Apalagi Non sedang hamil muda." Kali ini kalimatnya membuat Tarzia terbatuk. "Minum dulu Non." Bibi Lorenza mengelus punggung Tarzia saat Tarzia sedang minum air putih. "Aku harus jujur sama Bibik." Pikirnya. "Bik, sebenarnya saya gak hamil." Pernyataan itu membuatnya sedikit terkejut. "Gak papa Non, kalian baru menikah." Bibi Lorenza berusaha menghibur Tarzia. "Bukan itu Bik. Kami bukan seperti pasangan lain yang menikah karena cinta. Mungkin ada seseorang yang dicintai dalam hidup Mas Ahmad dan sayapun..." Tarzia berhenti bicara. "Tuan mencintai Nona. Tuan gak pernah ajak perempuan manapun ke rumah ini, hari itu Non datang, Bibik melihat cinta di mata Tuan Ahmad, cinta yang lama hilang. Dia butuh Nona ada di sampingnya, menyembuhkan luka hatinya, luka batinnya." Tarzia tertegun mendengar cerita darinya. "Tapi gimana caranya Bik?" Tanya Tarzia. "Jangan pernah tinggalkan Tuan dalam kesedihannya, jangan pernah menyerah Non." Jawaban Bibi Lorenza yang singkat telah mampu menjelaskan segalanya. "Makasih Bik." Tarzia memeluknya dengan erat.
Keesokan harinya, Tarzia menemui Ibuk yang masih kesal padanya. "Buk, Zia izin pergi sebentar. Zia harus menyelesaikan masalah yang Zia buat." Tarzia meraih tangan Ibuk untuk bersalaman. "Assalamu'alaikum." Ucapnya sebelum pergi. "Waalaikumsalam..." Meski bingung namun Ibuk tak mencegah langkahnya, seakan dia sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan anaknya kali ini. Sopir membukakan pintu mobil dan Tarzia segera masuk. "Kita mau kemana Non?" Tanya Sopir yang sudah siap untuk menyetir. "Vero music." Jawab Tarzia. Lalu Tarzia mengambil ponsel dari dalam tas dan mengetik nama. "Sutradara musik." Untuk menelponnya.
Setelah obrolan panjang lewat telepon, Tarzia tiba di depan label rekaman milik Pak Vero. Tarzia kembali disambut ramah oleh sekretarisnya. "Kamu managernya Davinci kan? Ayo masuk." Dia segera mengajak Tarzia ke ruangan Pak Vero. Rupanya Pak Vero sedang memutar klip musik Davinci band di komputernya. "Tarzia, selamat datang. Silahkan duduk." Kelihatannya dia sangat mengagumi Tarzia. Mereka duduk di sofa. Lagu yang dinyanyikan Joshua masih terdengar dari speaker komputer milik Pak Vero. "Saya akan siapkan teh." Sekretaris Pak Vero meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan. "Karena penasaran, saya minta sedikit bocoran video klipnya dari sutradara." Pak Vero menjelaskannya. "Video klip itu gak boleh dirilis Pak." Tapi Tarzia malah membuat tawa Pak Vero lenyap seketika. "Kenapa? Acting kamu bagus banget. Saya rasa kamu punya bakat terpendam dan harus kamu kembangkan." Kata Pak Vero. "Karena saya tidak beracting Pak, itu adalah kenyataan, kisah masa lalu saya dan Joshua 3 tahun lalu."
Kini Pak Vero terkejut mendengarnya. Saat itu surat kabar pagi sampai ke kantor label musik Pak Vero dan diterima oleh sekretarisnya langsung. "Makasih Mas." Sekretaris Pak Vero membuka gulungan koran tersebut. "Ini kan?" Dia terkejut melihat foto Tarzia dan Ahmad ada di sana, foto itu diambil saat resepsi pernikahan mereka yang begitu mewah di hotel. "Saya minta maaf Pak. Seharusnya dari awal saya tidak berbohong." Kata Tarzia. Pria itupun terkejut. "Oke, saya paham. Lantas apa masalahnya? Ini lebih bagus kan? Kalian memang pasangan dan video klip ini bakal dirilis minggu ini." Wajar jika Pak Vero berkata demikian karena dia tak mengetahui cerita yang sesungguhnya. "Ini salah Pak, karena Tarzia adalah istri Pak Ahmad Tanzu." Hingga Sekretaris Pak Vero datang membawa surat kabar itu. Mata Pak Vero melotot, dia mengambil surat kabar itu dari tangan Sekretarisnya lalu membaca judul berita itu. "Pemilik hotel ternama akhirnya melepas masa lajang." Dan Pak Vero melihat wajah Tarzia terpampang di sana dengan senyum bahagia. "Saya akan mengganti rugi semuanya Pak." Tarzia memelas di depan Pak Vero.
Meski kecewa, namun Pak Vero bersikap profesional. "Video ini tidak akan pernah dirilis, nama baik label musik ini harus terjaga." Ujarnya. "Hubungi sutradara." Perintahnya pada sang sekretaris. "Saya sudah menelponnya Pak. Sutradara mau mengerti kondisi saya dan saya juga sudah menyelesaikan biaya kerugian syuting mereka." Tutur Tarzia. Mereka berdua kaget mendengarnya. Tarzia menceritakan kembali apa yang dikatakan sutradara tadi. "Jangan cemas Zia. Klip ini akan kami singkirkan dan syuting ini gak pernah terjadi. Saya minta maaf karena memaksa kamu beradegan mesra dengan Joshua. Semua demi profesionalisme pekerjaan." Pria itu mampu memahami kondisinya. "Saya sudah transfer uang ke rekening Mas. Saya betul-betul minta maaf ya Mas?" Ucap Tarzia.
Sebagai gantinya Tarzia meminta sutradara menghubungi Patricia. "Ada seseorang yang lebih pantas dalam video klip ini, namanya Patricia."
"Maksud kamu Sisi? Saya tau dia, dia model kan?" Ujar Sutradara. "Iya Mas. Dia adalah orang yang sangat mencintai Joshua, dia pantas mendapatkan cinta Joshua." Jawab Tarzia. "Baik. Saya akan mengusahan dia dalam klip ini." Sutradara setuju. Hari itu Patricia yang sedang bersiap di belakang pagelaran acara fashion showpun mendapat panggilan telepon. "Halo."
"Sisy, saya Mas Tomy, masih ingat?" Sapa Sutradara beken itu. Raut wajah Patricia begitu bahagia. "Iya Mas, saya pasti ingat dengan wejangan Mas agar saya tetus berlatih untuk casting selanjutnya. Saya sudah berlatih Mas." Patricia begitu antusias. "Kali ini kamu gak perlu latihan jadi figuran lagi. Saya kasih kamu peran utama." Sungguh berita yang mengejutkan. Mulut Patricia sampai menganga lebar. "Saya tunggu kamu sore ini di pantai." Nampaknya Sutradara akan mengulang klip ini kembali.
Pak Vero menganggukkan kepala. "Darimana kamu tau tentang Patricia?" Tanyanya kemudian. "Panjang ceritanya Pak. Intinya saya sangat berterimakasih atas pengertian Bapak. Saya permisi." Tarzia berpamitan pada Pak Vero dan sekretarisnya.